Tik tik tik. Suara detik jarum jam menjadi satu-satunya suara yang terdengar. Aku sudah berbaring di ranjang tapi belum sedikit pun mengantuk. Padahal tubuh dan pikiranku sangat lelah. Seolah kecemasanku tanpa alasan mencegahku untuk terlelap.
Mataku terus terpaku pada jam kecil di meja. Sudah jam 11 malam lewat 10 menit.
Putaran terakhir! Seruku dalam hati sambil memeluk bantal di dadaku erat-erat. Suara detik jam berpacu dengan suara detak jantungku saling berlomba.
Tik! Jarum jam terhenti di menit ke 11. Aku menunggu beberapa saat namun jarum jam itu tidak bergerak lagi.
Aku bangkit dan meraih jam meja itu. Menggoyang-goyangkannya dengan harapan jam itu akan jalan lagi tapi tidak. Jam itu benar-benar terhenti di waktu 11.11.
Sementara itu aku melihat bayangan seseorang dari celah bawah pintu kamarku. Mondar-mandir beberapa kali. Aku menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya membuka pintu. Tapi tidak ada seorang pun di sana.
Duk! Duk! Duk!
Terdengar suara benda menggelinding di tangga. Aku bergegas ke tangga. Samar-samar aku melihat sesuatu tergeletak meringkuk di ujung anak tangga. Aku menyalakan lampu untuk memastikan apa itu. Tapi lampunya tidak menyala.
Aku terpaksa menuruni tangga untuk memeriksanya. Namun, belum sampai ke bawah, aku dikejutkan suara pintu kamar yang dibanting keras. Dan itu dari kamarku. Aku berjalan ke kamar lagi.
Aku membuka pintu dan mengamati seluruh isi kamar sampai sudut ruangan. Tidak ada apapun.
Sebenarnya apa yang ku takutkan. Ini rumahku sendiri dan aku sudah tinggal di sini bertahun-tahun lamanya.
Tapi baru-baru ini aku diganggu oleh sesuatu yang tidak jelas wujudnya. Dan kejadian itu terjadi berulang-ulang dalam seminggu ini.
Di awali dari jam yang berhenti di pukul 11.11, orang yang lalu-lalang di depan kamar, suara benda jatuh menggelinding di tangga, sampai suara pintu dibanting. Dan yang terakhir suara gemericik air dari bak mandi.
Biasanya aku mengabaikan suara itu. Tapi kali ini aku sudah lelah dengan semua gangguan ini. Aku ingin mengakhirinya. Aku melangkah masuk ke kamar mandi untuk memastikan sumber suara itu.
Aku menyalakan lampu kamar mandi, sesuatu berwarna hitam terapung di air. Aku mencoba meraihnya.
Seketika itu juga sesuatu menarik tanganku dan menenggelamkan wajahku ke dalam air. Sesak. Aku tidak bisa bernafas. Aku meronta mencoba memberikan perlawanan.
"Kak?!" Terdengar suara adik perempuanku memanggil. Dia menarik lenganku ke atas.
"Kakak ngapain sih? Main air malem-malem?" Wini, adikku, memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan cemas.
"Tadi - di sana - ada- sesuatu." Kataku terbata-bata. nafasku terengah-engah tak beraturan. Aku menunjuk ke kamar mandi . Tak ada apapun kecuali air yang jernih. Aku menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan diri.
Wini memberikanku handuk untuk mengeringkan kepalaku yang basah kuyup. Bajuku juga ikut basah.
"Kamu belum tidur?" Tanyaku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk.
"Aku terbangun mendengar suara kakak berlari di koridor." Dia membawakan ku piyama baru.
"Aku melihat kakak mondar-mandir lalu lari ke kamar lagi. Karena khawatir aku mengikuti kakak ke kamar. Tadinya ku kira kakak mau cuci muka, tapi malah menyeburkan kepala kakak ke bak." Ujar adikku bercerita.
"Kakak kenapa sih? Beberapa hari ini kakak bertingkah aneh. Kalau ada masalah bilang kakak. Jangan seperti ini. Aku kan takut kalau kakak jadi seperti ibu."
"Kamu pikir kakakmu ini gila ?!"
"Bukan begitu. Maksudku kakak mirip seperti ibu. Selalu memendam masalah sendirian. Akhirnya stress sendiri." Ekspresinya nampak sedih.
Wini selalu seperti itu kalau mengingat ibu kami. Ibu kami bunuh diri karena depresi.
Aku mengelus kepalanya. Aku mengajaknya duduk di sisi tempat tidur dan mengajaknya bicara. Sudah lama kami tidak bicara seperti ini. Kami selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku yang sibuk kerja dan wini yang sibuk dengan kuliahnya padahal kami hanya tinggal berdua saja.
"Kakak masih memikirkan ayah ya?"
"Hah! Mana mungkin!" Sanggah ku.
Sedetikpun aku tak pernah memikirkan ayah kami yang tinggal di luar negeri. Sudah bertahun-tahun dia tidak pulang menjenguk anaknya. Entah dia hidup atau mati aku sudah tak perduli.
Setelah ibu kami meninggal dia menikah lagi dan memiliki keluarga lain di luar negeri. Dia juga sudah tak pernah mengirimi kami uang. Tapi itu bukan masalah karena gajiku sudah cukup membiayai hidup kami dan kuliah wini.
"Jadi apa?" Tanya wini menyelidik melihatku melamun sejak tadi. Aku terpaksa menceritakan semuanya yang terjadi padaku belakanga ini.
"Menurutku kakak cuma kelelahan. Karena itu kakak jadi berhalusinasi. Beberapa hari ini 'kan kakak lembur terus pulang malem." Ujar wini menarik kesimpulan dari ceritaku.
"Yah. Kamu mungkin benar." Ucapku sependapat sambil melirik ke jam kecil di mejaku. Jarum jamnya sudah bergerak normal kembali.
Keesokan harinya aku bersiap untuk perjalanan luar kota.
"Kali ini tidak akan lama. Aku usahakan kembali besok. Kamu jaga rumah baik-baik. Jangan lupa kunci pintu." Ujarku mengingatkan. Wini seringkali ceroboh lupa mengunci pintu.
"Siap bos." Sahutnya sambil nyengir.
"Oh ya, kamar kakak bau bangkai. Kadang ngengat banget. Mumpung libur kuliah kamu bantu kakak bersihin loteng gih! Siapa tahu bangkainya ada disitu." Ujarku lagi.
"Uh, nanti ku suruh orang aja deh cari bangkainya." Tolaknya. "Udah sana kakak cepat pergi. Aku akan jaga rumah baik-baik. Jangan lupa oleh-olehnya ya kak."
Aku hanya tersenyum mendengar ocehannya.
Di kantor aku bertemu dengan seorang rekan kerjaku yang katanya bisa melihat hantu. Aku menceritakan padanya apa yang ku alami belakangan ini. Dia nampak serius mendengarkan.
"Apa menurutmu ada hantu di rumahku?" Tanyaku mengakhiri cerita.
"Aku tidak bisa memastikannya karena tidak melihat langsung kondisi rumahmu. Tapi dari ceritamu, kau bilang sudah tinggal lama di rumah itu dari sebelum ibumu meninggal?"
"Benar, aku sudah tinggal di rumah itu sejak kecil. Banyak kenangan bersama ibuku di rumah itu. Karena itu aku tidak ingin pindah. Lagipula selama ini tidak pernah terjadi hal yang aneh. Baru kali ini saja aku mengalaminya."
"Rumah yang dimasuki hantu biasanya rumah yang ditinggalkan. Sedangkan rumah yang di rawat baik-baik dan disayangi pemiliknya akan sulit dimasuki roh jahat. Rumah itu sendiri akan menolak." Dia menjelaskan padaku.
"Kalau bukan hantu, lalu apa?" Tanyaku lagi.
"Bisa jadi itu sebuah pertanda akan terjadi sesuatu yang buruk pada rumah itu." Mendengar penjelasan dari rekanku kekhawatiranku semakin memuncak.
Begitu aku merampungkan pekerjaanku aku segera memesan tiket pesawat untuk pulang. Dalam perjalanan kata-kata rekanku itu terus terngiang di kepalaku.
"Ada mitos yang mengatakan rumah adalah bagian dari keluarga. Apalagi jika rumah itu sudah ditempati sangat lama. Rumah yang dicintai pemiliknya akan melindungi pemiliknya juga."
"Karena itu saat ada bahaya yang akan datang biasanya mereka memberikan isyarat kepada pemiliknya. Sayangnya tak semua bisa memahami isyarat itu."
"Yang kau alami termasuk langka tapi pernah ada yang mengalaminya juga. Dimana pemilik rumah diperlihatkan kejadian yang akan terjadi di rumah itu."
"Bisa jadi alasanmu mengalami ini, karena ingin membuatmu pergi, karena ada bahaya yang akan datang jika kau tetap di sana."
Aku mengusap wajahku berkali-kali. Firasat buruk menghinggapiku. Aku terus berdoa. Namun adakalanya manusia diletakkan dalam keadaan tak berdaya di hadapan takdir.
Aku tiba jam 3 dini hari. Pintu rumah tidak terkunci dan suasana di dalam rumah gelap dan sunyi. Aku memanggil nama adikku berkali-kali tapi tidak ada sahutan. Aku berjalan ke kamarnya dan mendapati kamar itu kosong. Aku melangkah menuju kamarku yang pintunya terbuka.
Barang-barang di dalam kamar berantakan. Jam mejaku jatuh ke lantai. Aku memungutnya. Baterai nya terlepas dan kacanya pecah. Ada sedikit noda darah di ujungnya.
Aku melihat jarum jamnya terhenti di jam 11.11. ada jejak noda darah di lantai menuju kamar mandi. Aku membuka pintu kamar mandi dengan perasaan kalut.
Air mataku mengalir dan isak tangisku pecah. Aku jatuh lemas di pintu kamar mandi tak percaya dengan apa yang kulihat. Di dalam bak mandi aku melihat tubuh adikku terapung.
* * *
Tak lama kasus itu dilaporkan polisi segera menangkap pelaku perampokan itu. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana keadaan kakaknya setelah kematian adiknya. Sang kakak terus mengurung diri di dalam rumah.
Beberapa hari kemudian, pria yang mengaku sebagai ayah mereka memasuki rumah itu. Dia terkejut mendapati putri sulungnya dalam keadaan tak bernyawa lagi. Dokter yang memeriksanya mengatakan dia tewas terjatuh dari tangga. Tapi isu yang terdengar mengatakan si kakak bunuh diri menyusul adiknya.
Rumah itu pun berganti pemilik. Namun di hari naas itu, tepat jam.11.11, pemilik rumah akan mengalami kejadian aneh. Mulai dari jam yang berhenti di waktu 11.11, suara orang terjatuh dari tangga, sampai suara gemericik air di bak mandi.
Seolah rumah itu menunjukkan kedukaannya atas kehilangan pemilik lamanya.