Bontang Kuala, terletak di pesisir Kota Bontang, Kalimantan Timur, menjadi tempat tinggal dari seorang gadis SMA yang memiliki kehidupan seperti remaja pada umumnya. Ia merupakan murid yang cukup pintar di kelasnya. Ia bercita-cita menjadi seorang perawat, alasannya adalah karena ia ingin menyembuhkan orang yang sakit dan ingin menjadi seperti ibunya yang seorang perawat di rumah sakit ternama di kota nya.
Kala itu, di pagi yang berawan, ia sedang buru-buru menyiaplan segala perlengkapan sekolahnya dikarenakan bangun telat. Waktu itu dia bangun pukul 6.30 pagi. Setelah mandi dan mengemasi segala yang diperlukan, ia segera berpamitan ke ibunya, lalu pergi berlari keluar rumah. Jarak antar rumah dan sekolahnya cukup dekat, jadi dia bisa menempuhnya dengan berjalan kaki saja.
Saat mendekati pintu gerbang sekolahnya, gadis itu tak sengaja menabrak seorang lelaki misterius itu dan terjatuh. Lelaki itu segera menolongnya dan mengucapkan minta maaf, lalu pergi begitu saja. Syukurlah gadis itu tak apa-apa, mungkin...
Untung saja dia tak terlambat masuk kesekolah, tepat pukul 6.58 pagi.
Setiba nya ia di kelas, gadis itu menenangkan diri lalu guru mulai masuk kelas dan pelajaran dimulai seperti biasa.
"Selamat pagi, anak-anak."
"Selamat pagi, pak!"
"Baiklah, bapak harap kalian semua sehat-saja.
Ngomong-ngomong, ayo kumpulkan tugas minggu lalu yang bapak kasih ke kalian."
Beberapa murid mulai mengeluarkan buku tugasnya dan siap mengumpulkan, sementara itu...
"Woy, Chika! Ayo kumpul, sekalian aku nitip sama lu, hehe"
Ucap seorang temannya yang duduk di belakangnya, Darell. Tapi nampaknya, muka Chika sedikit tegang, khawatir dan ketakutan. Ia pun terdiam sambil sedikit menganga.
"Alamak, Rel! Aku lupa ngerjain tugasku!!"
"Duh, gimane si lu, pake lupa ngerjain segala."
Ternyata Chika lupa mengerjakan tugasnya. Ia pun mulai panik tak terkira, mengetahui guru itu adalah guru yang galak, alias guru killer. Seperti perkiraannya, Chika dihukum oleh guru itu sebab tak mengerjakan tugas. Chika disuruh untuk berdiri di depan kelas lalu berposisi hormat hingga selesai jam pelajaran.
Beruntung saja, guru itu harus pergi di tengah-tengah jam pelajaran dikarenakan ia harus menghadiri sebuah rapat guru. Saa guru itu pergi, Chika mengandalkan kesempatan ini untuk kembali ke tempat duduknya. Ya, siapa juga yang sanggup berdiri lama-lama, kan?
~*~*~
Chika pun akhirnya duduk dan sambil mengisi jam kosong, Chika dan teman-temannya mulai memakan bekalnya walaupun tidak langsung dihabisi. Mereka mulai bercanda sambil memakan bekalnya. Tapi Chika mengeluh ada rasa yang tak nyaman di dirinya, namun mereka hanya menganggap itu adalah hal biasa, bahkan sampai membuat candaan, mereka pun tertawa sambil menikmati bekal masing-masing.
Tak lama kemudian, langit yang berawan itu perlahan meneteskan air hujan. Semua orang menikmati hujan itu melalui jendela kelasnya. Chika suka hujan, dia pun melihat ke luar jendela untuk melihat hujan itu. Namun, pemandangan ini bukanlah seperti yang Chika harapkan... Ia ternganga dan kaget.
"Gaes... k-kalian lihat.. itu g-gak??"
"Hah apaan? Mana?"
"I..itu di la..ngit.."
"Mana?? Awan hitam doang kok?"
Melihat temannya kebingungan, tidak melihat apa yang ia lihat juga, disitulah Chika kaget dan tersadar bahwa hanya dialah yang bisa melihat hal itu.
Chika melihat ada sesuatu yang mengitari langit, ia berpikir bisa melihat hal ini terjadi karena ia tak sengaja menabrak lelaki misterius tadi pagi.
Tanpa berpikir panjang, Chika segera lari dari keluar kelas dengan rasa takut yang menyelimutinya. Dia mengambil payung yang ia bawa dari rumah, lalu mencari lelaki misterius itu. Setelah berlari cukup jauh dari sekolahnya, ia memasuki area Kampung Bontang Kuala, dimana rumah berdiri diatas air. Chika mulai berlari ke segala jalan besar dan gang kecil untuk mencari lelaki itu. Chika kemudian mendengar suara gemuruh di dekatnya dan mencari sumber suara itu. Chika sampai di pinggir Kampung tersebut dan ia tidak percaya apa yang baru saja ia temukan. Lelaki misterius itu sedang berusaha melawan Makhluk Langit yang ia lihat dari sekolah sebelumnya.
~*~*~
Terlihat lelaki itu berusaha keras seperti akan menangkap Makhluk Langit itu dengan sebuah jaring raksasa yang ia lemparkan ke Makhluk itu, nampaknya itu adalah sebuah Naga yang besar, besar sekali. Lelaki itu menyadari akan keberadaan dirinya.
"HEI, KAU BOCAH! NGAPAIN LO KESINI??!! PERGI SONO! BAHAYA INI!"
"A-aku.. HANYA BINGUNG DENGAN SEMUA INI!"
"KAU SEBAIKNYA JANGAN BANYAK TANY—"
Naas, lelaki itu terpental jauh karena Naga-nya mulai memperkuat diri dan Chika yang menganggunya. Chika menghampiri lelaki yang terpental itu.
"WADUH, OM GAPAPA?"
"Aduhh.... s-sakit.."
"Ayo bangun, Om! Cepat!"
Naga itu mengeluarkan semua kekuatannya dan hujan bertambah deras, air laut mulai menaik dengan cepat karena derasnya hujan.
"Wah, gawat nih! Kalau kita ga cepat menangkapnya, airnya akan mulai naik ke permukaan dan bisa-bisa menenggelamkan seluruh kota!"
"Hah?! Yang bener, Om?! Waduh... kita harus gimana ini?"
"Tolong bantu aku menangkap Naga itu!"
"Eh..?! N-nangkep Naga????"
"Sudahlah, ikuti saja aku. Ayo, cepat!"
"B-baiklah."
Chika dan lelaki itu bekerja sama untuk menangkap Naga itu. Mereka berusaha sekuat mungkin untuk melawan derasnya hujan dan kekuatan Naga yang semakin lama semakin kuat.
"Oy, bocah! Cepat, ambil mainan kura-kura, pisau mainan dan gong kecil di dalam tasku!"
"Eh? Mau mainan di situasi kayak gini?"
"SUDAH CEPAT AMBIL SAJA!"
"I- IYA! LALU APA?"
"Angkat mainannya keatas dan arahkan pisau ke arah mainannya, dan tunggu beberapa saat"
Lelaki itu menyuruh Chika untuk mengambil barang-barang tersebut dan membawanya kemari, entah apa yang akan dilakukan olehnya.
Setelah lama mengitari langit, Naga itu menyadari keberadaan Chika yang menggenggam sebuah pisau dan kura-kura. Naga itu mulai marah besar dan mulai datang menuju Chika.
"LOH LOH LOH, NAGANYA KOK KESINI?!"
"Ini saat yang tepat,
"Kusebut nama-Mu dengan lantang, wahai Naga Puspa, sang Dewa Hujan. Engkaulah yang telah lama melindungi kami dari generasi ke generasi, mengendalikan hujan, dan memberikan keberkahan kepada kami semua. Semua danau, sungai, dan lautanmu.. yang telah lama kita sebut milik kita sendiri.. wahai Dewa.. wahai Dewa.. Ini adalah permohonan terakhirku.. Aku memohon, agar kembali ke SEDIA KALA!!!"
"A.. apa yang baru saja..." Chika berbisik sembari kaget apa yang ia baru saja dengar dari mulut lelaki itu. Nampaknya ia baru saja membacakan sebuah mantra.
Selepas membaca mantra dengan sepenuh hatinya, jaring yang lelaki pegang itu mulai bersinar dan ia bersiap untuk melemparnya untuk menangkap Naga itu.
"HIYAAAAHHH!!" Naga itu akhirnya terjerat jaring raksasanya.
"AYO BUNYIKAN GONG NYA SEBANYAK 3 kali!"
*DUNG... DUNG.... DUNG....*
Terlihat seperti Naga itu meraung-raung kesakitan lalu perlahan tubuhnya mengecil dan menghilang, lelaki itu segera menarik jaringnya dan memasukannya kedalam kantung kecil yang ia sudah siapkan.
"Terimakasih atas jasamu, aku akan mengembalikanmu ke Danau tempat tinggalmu."
~*~*~
Hujan pun perlahan mereda, awan hitam pekat yang mengelilingi langit pun perlahan memudar dan memancarkan cahaya matahari melalui celah-celah awan. Nampaklah biru langit yang memanjakan mata. Terlihat juga ada pelangi di atas lautan itu. Perlahan air mulai surut dan semuanya kembalu seperti biasa.
Mereka melihat semuanya kembali normal, mereka sangat senang.
"Terimakasih ya dek, udah nolongin menangkap Naga Puspa."
"Eh, sama-sama Om, hehe. Wah, ternyata namanya Naga Puspa toh?"
"Jangan panggil aku Om, aku masih remaja! Apakah mukaku kelihatan kayak om-om?!"
"Oalah, hehe, kirain.. maaf. Ngomong-ngomong nama Abang siapa?" Dan kayaknya Abang bukan orang sini?"
"Haha, kenalin nama abang Mizuki, dan ya, abang memang bukan orang asli sini. Orang tua abang masih ada keturunan jepangnya, jadi namaku juga masih ada unsur-unsur jepangnya. Nama lengkapku Mizuki Shizenkai. (洪水 自然界) ”
"Hah? Namanya ribet amat, bang. Tapi keren loh, keturunan jepang!"
"Hahaha, memang bagi orang awam agak ribet. Kalau kamu namanya siapa dan tinggal deket sini?"
"Aku Chika, bang. Tinggal deket sini aja kok."
"Ngomong-ngomong mau ikut abang balikin Naga ini ke Danau nya gak?"
"Waaahh, boleh banget!"
"Yaudah, ayok ikut abang."
Chika pun mengikuti Mizuki ke sebuah tempat dimana danau misterius tersembunyi. Terlihat banyak sekali tanaman cantik yang tumbuh diatas danau itu. Mizuki pun perlahan melepas Naga yang ada di dalam kantungnya itu. Naga itu berenang bebas tetapi menatap Mizuki dengan sedikit kesal. Chika terpesona dengan apa yang baru saja ia lihat.
"Baiklah, Naga nya sudah aman!"
"Yeay!!"
"Chika, tapi terimakasih sudah membantuku sejauh ini. Tapi, kau tahu, kalau aku harus pergi sekarang, ke tempat yang jauh untuk menangkap Makhluk-makhluk lain yang masih berkeliaran."
"Loh? T-tapi kita baru ketemu, aku bahkan belum sempat mengajakmu menjadi temanku, dan berpetualan bersama seperti ini..."
Chika berbicara dengan nada yang agak sedih, mengetahui ia harus berpisah secepat ini dengan teman barunya.
"Iya, aku paham kok, kau sudah menjadi temanku sedari tadi saat kau membantuku untuk menjebak Naga itu, hahaha!!"
"Wah, benarkah?? Hahaha!
Tapi kalau memang itu tujuanmu untuk menyelamatkan orang lain... baiklah.. tapi ku harap kita masih bisa bertemu suatu hari nanti! Janji?"
Chika mengatakannya dengan penuh semangat dan harapan agar bisa bertemu lagi.
"Maaf ya aku harus pergi secepat ini, tapi aku janji kalau aku akan melakukan semua yang aku bisa untuk mewujudkan keinginanmu. Aku tahu bahwa kita tidak dapat mengendalikan masa depan, tetapi aku harap kita akan melakukannya, dan dapat bertemu dan terhubung kembali ketika waktunya telah tiba."
Mizuki menawarkan senyum meyakinkan dan pergi untuk mengejar misi berikutnya, dengan harapan mereka akan bertemu lagi di masa depan.
Setelah menghabiskan waktu bersama, keduanya akhirnya berpisah. Saat mereka mengucapkan selamat tinggal, mereka saling tersenyum dan mengingatkan satu sama lain bahwa meskipun mereka mungkin berpisah, mereka tidak akan pernah melupakan satu sama lain. Mereka berdua baru saja menciptakan suatu kenangan bersama dan tahu bahwa persahabatan mereka akan tetap berlangsung meskipun dalam kondisi seperti ini.
Bagi Mizuki, ini adalah pertama kalinya ia dibantu oleh seseorang untuk menangkap Makhluk tersebut, jadi ini sungguh momen yang spesial bagi dirinya. Begitu juga dengan Chika. Gadis itu diliputi kesedihan, tetapi lelaki itu menghiburnya, mengatakan kepadanya bahwa mereka akan selalu memiliki kenangan bersama. Meski tidak bisa bersama secara fisik, keduanya berjanji untuk tetap berhubungan dan berbagi kehidupan melalui pesan dan panggilan telepon. Gadis itu berjanji bahwa dia tidak akan pernah melupakannya, dan lelaki itu berjanji bahwa dia akan selalu menjadi teman baiknya.
Perjalanan mereka pun, akhirnya berhenti sampai sini dan mereka mulai menjalani hidup yang seperti biasanya.
Akankah mereka dapat bertemu kembali di masa depan dan kembali menaklukan Makhluk-makhluk mistis itu bersama-sama?
***Cerpen ini sangat terinspirasi dari cerita Anime-Movie berjudul 'Suzume no Tojimari' yang membawakan cerita makhluk-makhluk mitologi Jepang pembawa bencana.***