Aku, Kirana Larasati harus menerima kenyataan bahwa aku harus dijodohkan dengan orang yang dianggap kakak oleh adik ipar ku,ya karena kesalahan adikku maka aku harus ikut serta,bukan aku ingin sekali menikah karena umurku sudah cukup untuk menikah bahkan sudah lebih dari cukup, tapi kenapa harus dengan kesalahan dulu baru bersiap menikah.
Akhirnya keputusan tetap dilanjutkan pernikahan adikku terkesan lebih terbuka dan pernikahan ku hanya dihadiri keluarga saja tanpa mengundang banyak orang seakan memang tidak ada yang mengetahui nya.
Suamiku bernama Akbar Wijaya,dia juga mengalami kelumpuhan pada kakinya dimana dia kecelakaan hingga menyebabkan kaki nya lumpuh,tapi bukan lumpuh total.
"Aku hanya tidak ingin kamu menyesal saat mengenalku,karena aku bukan orang yang dapat membuatmu bahagia" katanya setelah berada didalam kamar karena hari sudah mulai malam
"Aku bersyukur karena masih dapat merasakan apa yang dirasakan oleh seluruh wanita,menikah, walaupun sederhana tapi aku yakin kalau nanti ada akan ada kebahagiaan yang kita buat bersama" balasku sambil menatap nya
"Aku berterima kasih karena sudah mau menerima kekurangan ku badan ku yang besar ini mungkin kalau orang lain bilang aku tidak pantas mendapatkan karena badanku,tapi tidak mengapa aku sudah cukup bahagia" sambung ku dengan seulas senyuman di wajah dan dia juga tersenyum.
Hari terus berlalu aku selalu bercerita denganya mau itu masalah kecil sekali pun dan dia mendengarkan tapi mungkin namanya menikah banyak masalah yang terjadi dan aku merasakan,
Hari itu,
aku sedang duduk setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah dan aku ingin keluar untuk membeli bahan masakan aku pun mengajak suami ku ,Akbar untuk menemani ku
"Kak, nanti temenin aku ke supermarket ya" Pintaku
"Tapi kamu gak malu dengan keadaan kakak seperti ini nantinya kamu diejek" jawabnya sedih
"Yah gak mau ya udah gak usah makan lagi" kataku pura-pura ngambek dan dia cukup mengerti dengan sifat ku yang hanya pura-pura.
"Ayo katanya mau pergi" ajaknya kemudian dan aku segera bergegas
"Pakai baju ini aja lah biar bagus" monolog ku sendiri saat memilih baju
"Ayok Kak,kita pergi" ajak ku sambil ku panggil Pak Abdi dan Bu Nina mereka sudah berumur tapi mereka masih bekerja di rumah tempat kau tinggal bersama suamiku,tapi aku larang palingan aku mengajak mereka juga karena aku menganggap mereka keluarga ku juga.
"Bik,Pak pergi ke mall tuk jalan bareng" ajakku dan mereka juga ikut dengan Pak Abdi mengemudikan mobil.
Dimobil selalu ada yang membuatku tertawa karena pada dasarnya Pak Abdi dan Bu Nina sepasang suami istri jadi sering membuat lelucon agar mencarikan suasana , apalagi Pak Abdi yang suka sekali menggoda Bu Nina tapi dibalas lagi
"Bu nanti kalau jalan jangan cepet-cepet ya" katanya
"Kenapa" balas Bu Nina
"Nanti Bapak susah gandengan sama Ibu kan jalan nya cepet" lanjutnya dengan tawa yang mulai bersuara
"Ih... dah tua juga palingan biar encok pinggangnya kan Pak" balas Bu Nina mengundang tawa ,ya begitulah seperti keluarga sendiri.
Hingga kami pun tiba di Mall, dan aku mengajak mereka berjalan-jalan
Saat aku ingin melihat sekeliling ada seorang perempuan yang menghampiri kami ber empat
"Hai Bar,gimana kabarnya udah punya istri ya mana istrinya" ejeknya
"Ada apa Sya, ada yang mau ditanyakan" balas suamiku
"Oh gak kenapa tuh tapi cocok sih kalian yang satu lumpuh yang satu besar" ejeknya lagi dengan senyuman uang terselip.
Aku melihat suamiku seperti nya dia orang yang membuat suami ku begini,aku hembuskan nafas pelan kemudian lanjut berjalan tapi ditahan oleh perempuan itu
"Eh mau kemana gak sopan loh ninggalin orang gitu aja" katanya
"Kami mau belanja dulu Mbak permisi" kataku tapi masih ditahan juga
"Yah kita ngobrol-ngobrol aja dulu" katanya dengan nada mengejek
"Maaf Mbak saya mau pergi belanja dulu , permisi" kataku kembali dan dia coba berekting dengan pura pura terjatuh membuatku melotot dibuatnya
"Yah kalau gak suka jangan dorong dong kan sakit ya udah maaf" katanya mulai menangis
Aku hanya diam dan kulihat orang mulai berkumpul membicarakan ku ,huh sungguh tak jauh beda dengan keadaan saat sekolah yang selalu dibully
"Mbak saya mau belanja dengan suami dan keluarga saya salah ya"
" Saya udah minta maaf dari tadi kalau saya mau belanja,kok malah Mbaknya jatuh abis itu nangis"
"Saya gak dorong log Mbak,tapi kok jatuh"
kataku mencoba membela diri sendiri
"Kan kamu yang udah ngerebut pacarku kamu benci kan" dramanya membuatku melotot hingga
"Mbak e tolong toh kalau ngomong yang betul nih video nya saya rekam loh nanti saya kasih tahu ya, lah wong yang salah sendiri malah orang lain yang dituduh" kata Bu Nina dengan campur kata Jawa di setiap katanya membuat orang yang berakting menangis itu melihatnya terkejut
"Yah saya yang diajak Mbak Kira,tadi lagi main HP tapi ada yang manggil jadi tak tahu ke pencet apa jadi video kata Den Akbar,nih" lanjutnya sambil memperlihatkan video tadi kemudian terdengar orang sekitar berbisik saat tahu yang benar dan dia pergi cepat.
"Bik kok bisa setahu saya bibi gak pegang HP tadi" tanyaku
"Hehehe Maaf Mbak tadi hp nya bibi simpan dulu kan mau belanja" jawabnya sambil menggaruk kepalanya
" Oh gitu toh bik" kekehku ,aku paling kan kepala melihat Kak Akbar dia terlihat menunduk aku pun segera menghampirinya
"Kak,kakak kenapa" tanyaku
"Aku ngerasa gak pantas sama kamu Dek,kamu baik,aku bahkan gak bisa jalan cuman ngerepotin aja bisanya" katanya padaku,aku pun kesal dengan sikap nya itu kemudian aku lihat dia menggerakkan kursi rodanya ingin pergi
"Yah udah kalau gak pantes aku pergi ya" kataku padanya membuat kursi yang bergerak tadi berhenti
"Bik , Pak aku pergi ya jaga Kak Akbar ya" kataku kemudian pergi keluar dari dalam situ,
aku keluar dan di diluar setetes air mata pun keluar tapi segera aku hapus,entahlah aku juga tak tahu tapi rasanya aku yang terlalu emosional,karena tamu bulanan mungkin.
Saat aku berjalan-jalan di luar aku didatangi oleh sahabatku dan juga teman sekelas ku dulu aku hanya diam saja hingga
"Kirana sini dari mana" panggil Marsya sahabat ku
"Oh jalan aja,hai" sapaku balik tapi tak ada tanggapan
"Mar aku duluan aja ya suamiku nunggu" alasanku dan mengundang tawa dari setiap mulut
"Kapan kamu nikahnya? sama siapa? orang cacat ya mau sama kamu" ejek semua teman sekelas ku itu
"Jan...."
kataku terputus saat ada yang memanggil ku
"Dek disini ketemu juga" katanya,
"Eh kakak disini tunggu ya" kataku ,
"Nah bener kan orang cacat mau sama kamu" ejek semua orang semakin menjadi aku pun menjawab dengan nada mulai meninggi
"Kak Akbar memang lumpuh tapi hatinya masih bisa baik dengan orang bukan seperti kalian mengejek menjelekkan orang semaunya"
"Kak Akbar masih bisa berjalan seperti orang lain bukan, dia memang lumpuh tapi dia baik bukan membicarakan orang lain tapi mencoba menjadi lebih baik" bentak ku membuat perhatian semua orang teralihkan begitupun Kak Akbar yang terkejut mendengar nada suaraku
Aku kemudian memberikan kartu nama kemudian pergi dengan mendorong kursi roda Kak Akbar dan setelah mereka berdua pergi semua teman itu melihat kartu nama yang diberikan
"Akbar Wijaya, PT Bratajaya" gumam mereka
"PT Bratajaya itu perusahaan besar" kata mereka panik
sedangkan Kirana sedang mendorong kursi roda Akbar
"Dek, kakak minta maaf" katanya
"Untuk apa"jawabku cuek
"Untuk yang tadi" balasnya
"Kak walaupun begitu aku tetap ingin kakak sembuh dan aku lihat ada rumah sakit tapi diluar negeri mau ya berobat disana" pintaku padanya
"Tapi"
"Kalau udah menyerah dari awal bukan cowok namanya" kataku membuatnya diam
"Yah udah mau tapi kapan" tanyanya membuatku senang bukan main
"Belanja dulu Bu Nina kasihan nanti aja waktu pulang" kataku kemudian kembali kedalam Mall itu
Aku belanja kebutuhan yang akan di gunakan nanti dan tak terasa aku pun sudah sampai dirumah dengan berbagai macam belanjaan
"Bik, tolongin bikin kue brownies ya bahannya udah ada" pintaku pada Bu Nina dan dijawab acungan jempol tanda setuju,Bu Nina sungguh pandai membuat kue dan aku juga hobi dan sama lah kami berdua dengan hobi kami.
Aku pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri begitupun Kak Akbar yang aku bantu dalam memandikan nya awalnya aku malu tapi dengan segala cara aku lakukan dan akhirnya berhasil.
Di kasur aku duduk sambil bercerita tentang pengobatan yang akan dijalankan dan kudengar jika lumpuh kaki sudah dalam waktu lama harus lama juga pengobatan nya karena sendi nya yang kaku dan tak terbiasa biasanya memakan waktu 6 bulan dan ya karena aku ingin Kak Akbar sembuh jadi aku mendaftarkan nya.
"Kak nanti ditemani atau tidak disana" tanyaku
"Hmm sendiri aja Dek nanti ngerepotin kan Adek ada jualan online juga" katanya dan aku hanya mengangguk pelan mengiyakan
3 hari kemudian Kak Akbar pun pergi dengan orang kepercayaan nya , Kak Akbar itu juga pemimpin perusahaan tapi tidak langsung di kantor tapi di rumah.
Aku pun mengantar nya sampai di bandara dan ya setelahnya kadang aku sering menanyakan kabarnya disana tak terasa sudah 6 bulan lamanya dia disana tapi juga berkata kalau dia masih dalam proses menyembuhkan kakinya.
Tapi aku merasa firasat yang buruk entahlah namun aku memesan tiket untuk pergi ke Singapura,tempat dimana Kak Akbar berada aku menunju ke arah rumah sakit dimana tempat Kak Akbar berobat hingga aku mendengar suara orang berbicara dengan nada yang aku kenali
"Kak nanti kalau Kirana tahu gimana, Kakak kan sudah sembuh dari bulan lalu"
"Sudahlah nanti akan Kakak urus"
Ya orang itu Kak Akbar dan Sahabat nya Marsya,
Aku pun melangkah menuju ke arah mereka yang masih sibuk dengan memegang perutnya hingga
"Kak,aku K.. Ki.. Kirana" lirihnya kemudian terbata-bata dan Kak Akbar pun menoleh ,melotot terkejut
Aku hanya diam mencoba menahan air mata yang ingin menetes
"Kak, Selamat ya udah sembuh dan juga terima kasih sudah jelas semua aku izin pergi" kataku dengan mata memerah kemudian aku pergi dan yang ku lihat dia hendak mengejar tapi Marsya kemudian memegang perutnya yang kesakitan.
Aku tidak peduli lagi dengan semuanya ternyata sahabat itu hanya sebatas kertas saja yang kemudian akan menjadi sebilah pisau tajam, menghancurkan semua yang dia inginkan,
Ntahlah namun aku kecewa dengan semuanya dengan diriku yang masih beranggapan bahwa ada orang yang akan menerimaku namun nyatanya tidak,semua bahkan seolah tak peduli.
Aku mencoba pergi dari Singapura dengan memesan tiket pesawat di bandara nya,kemudian aku menunggu beberapa lamanya hingga pesawat yang akan kutumpangi datang,masuk kedalam nya berapa jam kemudian aku terkejut saat mendapatkan pesawat itu bergoyang-goyang layaknya ingin jatuh dan aku masih bisa menyelamatkan diri dengan memakai baju renang dan parasut yang ada di dalam pesawat nya, mencoba untuk mendarat dengan selamat,dan menurut perkiraan ku wilayahnya sudah masuk ke dalam bagian Indonesia tapi bagian mana aku tak tahu.
Aku melihat ditempat aku mendarat banyak orang yang sudah bersikap siap membantu mungkin diketahui oleh pihak bandara nya kemudian menyuruh bersiap siap,
tibalah aku sudah mendarat di tanah lalu di tahan oleh orang sekitar ,mencoba berjalan dengan kaki gemetaran dan duduk di tempat yang ada dengan sigap saat semua sudah selesai langsung diminta keterangan biodata ,aku menunjukkan tas yang aku letakkan disamping dan seperti mengerti langsung di periksa, dari semua orang yang ku lihat semuanya sudah pingsan tapi masih tersisa beberapa orang yang menarik nafas dalam termasuk aku.
Mencoba untuk tenang dibawa ke RS terdekat dan diberi perawatan,aku dibaringkan ke atas ranjang dengan tenang tapi saat aku melihat siluet putih memancar terang terbuka lebar tapi bukan di ruangan tersebut tapi dimata ku,aku mulai menyadari sesuatu hingga ku panggilkan suster yang masih mengecek keadaan ku
"S..s..suster" lirihku
Suster itu pun menoleh dengan muka cemasnya,dapat membuatku tersenyum mungkin orang lain dan tak dikenal akan merasa kasihan bukan orang terdekat
"Iya Mbak,mbak tenang dulu saya akan periksa" katanya kembali memeriksa keadaan ku
Aku hembuskan nafas mencoba bisa bicara
"Boleh pinjam HP nya" kataku kemudian dengan nada berat
"Tapi Mbak" katanya tak dilanjutkan karena melihatku menatapnya memohon kemudian dia memberikan barang yang ku minta tadi
Di hp itu ku tulis pesan
"Untuk semuanya Terima kasih sudah menerimaku ,memberiku tempat tinggal dan memberikan namanya rasa sakit tapi semuanya sudah aku lewati dan sekarang waktu nya untukku menjadi bintang yang menghibur semua orang,terima kasih untuk semuanya mungkin hanya itu dan untuk Kak Akbar aku tidak ingin mengingat nya lagi baik di kehidupan sebelumnya atau setelah ini aku harap kalian melupakan ku saat aku berada di sana karena pada dasarnya aku memang tidak ada di kehidupan nyata ini, mungkin memang tidak ada bahagia di sini tapi ada seorang disana yang sudah menunggu ku dengan cahaya yang ingin dilihat olehku, Rivan ya dia sudah menunggu ku dengan cahaya nya anak gendut yang kalian bilang dan kalian sanjung saat dia sudah baik tapi juga harus pergi karena kalian,tolong letakkan di tempat pemakaman Indah di samping Rivanno Sanjaya,dan jangan berikan nama kami berdua pada kehidupan baru yang ada karena kami berdua bukan bagian dari keluarga kalian lagi, terima kasih.
Untuk suster tolong tetap merawat dengan baik dan tolong tuliskan ini di kertas beserta di tempat pemakaman Indah dan berikan dengan orang yang mencari atas nama Kirana Larasati,tetap rawat semua orang dengan baik,Aku Pamit tidur" tulis ku kemudian
aku menutup mata dengan HP yang masih ku pegang.
"Mbak apa ,mbak astaga dokter,dokter" teriak suster sambil mengecek semua nya
Suster itu mengambil HP yang ada di pegangan tangan Kirana saat suara nyaring panjang itu terus berbunyi ,membacanya sambil menahan air mata saat membaca setiap kata yang tertera,
Author POV
"Saya akan terus merawat dengan baik dan akan saya serahkan" lirih suster itu pelan kemudian mencabut semua alat yang menempel di badan Kirana dan terakhir menutup nya dengan kain selimut kemudian menyalin di sebuah kertas.
Saat sudah selesai pintu ruangan terbuka dengan masuknya seluruh keluarga yang memanggil nama Kirana
"Sus apa ada korban bernama Kirana Larasati" tanya seorang Pria, Akbar
"Ada Pak sudah kembali ke tempat nya" kata suster itu
"Tempat mana sus saya ingin bertemu dengan istri saya" nada bicaranya mulai meninggi
"Kembali ke ilahi, Ibu Kirana sudah meninggal siang hari pukul 13.36 tadi" kata suster itu sambil menyerahkan surat yang ditulisnya tadi
"Gak..gak sus anak saya belum meninggal,anak saya masih hidup" histeris Ibunya Kirana
"Gak sus,aku bukan ibu yang baik aku tidak mempedulikan anakku sendiri" lirihnya sambil menangis
Akbar hanya terdiam setelah membaca surat itu seolah waktunya berhenti
"Maaf Dek,maaf sudah membuatmu menderita" lirihnya terduduk di didinding ruang sakit memikirkan apa yang sudah di lakukan selama ini
"Saya boleh melihat anak saya sus" tanya sang ibu pada suster dan diangguki pelan kemudian ibu itu berlari menuju tempat Kirana berada
Suasana kesedihan dapat terlihat sedari tadi hingga pemakaman selesai pada sore hari tepatnya saat jam 17.00 WIB, hingga malam suasana kesedihan dan penyesalan sangat terasa
Akbar POV
"Kakak minta maaf mungkin tidak berarti lagi kata maaf dari ku dek,tapi kakak sungguh tidak dapat menerima kepergian mu begitu saja Dek,dengan semua yang Kakak lakukan padamu hingga merebut kebahagiaan yang harusnya kamu dapatkan, Maaf"
END POV author and Akbar
Ditempat lain berbeda dengan alam kehidupan nyata
"Kak Rivan, Kak, Kakak kemana? Jangan tinggalkan aku lagi Kak" kataku tertunduk menangis
"Dek kenapa nangis,Hem?" suara lembut itu aku tahu siapa
"Kak, Kak Rivan kemana" kataku sambil memeluk tubuhnya dengan erat
"Gak kemana-mana disini aja dari tadi" jawabnya
"Jangan pergi disini aja, Maaf" lirihku pelan
"Maaf? untuk"
"Karena sudah menempatkan orang lain di hati Adek" kataku pelan
"Hati mu kan seutuhnya milik Kakak" katanya kemudian
"Tapi aku sudah memberikan hatiku pada yang lain Kak" kataku pelan dengan air mata yang kembali menetes
"Kamu hanya merasa itu tanggung jawab tapi hati mu masih ada Kakak percaya ya" hiburnya
"Bener Kak?" tanyaku
"Iya bener ayo kita pergi" ajaknya ke arah cahaya lain sembari menggandeng tanganku
Hargailah setiap orang yang ada di sekitarmu karena kehadiran seorang akan berarti saat tidak ada.
~End~
~Tamat~