Pagi hari yang terasa sangat melelahkan, Widiya terpaksa menuju ke kampus. Tahun ini ia memasuki semester awal di universitas pilihannya. Gadis itu belajar mengubah sikap dan sifatnya secara perlahan-lahan. Karena saat di bangku sekolah menengah ia terkenal sangat nakal, apalagi dia seorang ketua club motor terkenal.
Walaupun dia seorang gadis, dia tetap tidak bisa diatur oleh siapapun. Semua itu disebabkan oleh masa lalunya karena pernah disakiti oleh kekasihnya yang hanya memanfaatkan ketenaran Widiya dan kedudukan di suatu club motor tersebut. Semua orang takut dan tidak ingin mencari masalah apapun terhadapnya.
“Bos gawat, pacar Tita selingkuh di dekat markas kita.” Lapor Aji kepada Widiya melalui panggilan telepon ponsel.
“Awasi aja dulu, nanti gue akan kesitu secepatnya. Gue lagi kumpul sama teman kampus gue. Bahaya kalau identitas gue terbongkar di kalangan mereka.”
“Baik,Bos kita akan awasi dia.”
“Bagus” Jawab Widiya dan menutup panggilan secara sepihak.
“Widiya ada apa, kok ekspresi muka kamu jadi berubah gitu.” Tanya Dewi penasaran dengan perubahan mimik wajah teman barunya setelah menerima panggilan telepon dari seseorang.
“Gak ada apa-apa, eh udah jam segini. Ayo pulang, badanku capek nih.” Widiya segera mengajak pulang kepada kelima teman barunya karena sudah tidak sabar ingin menghabisi seseorang,
“Aku duluan ya, nanti kalau udah sampai rumah kita kabar-kabar lagi berenam”
“Oke Widiya,” jawab mereka serempak.
Widiya langsung bergegas menuju tempat yang di tunjukan Aji kepadanya. Namun di tengah perjalanan, ia menghubungi Tita terlebih dahulu untuk menuju lokasi dimana kekasihnya selingkuh dengan cewek lain.
Sampai di tempat kejadian ternyata Tita sudah di lokasi dan menatap pacarnya dengan geram. Dengan emosi yang meluap, gadis itu menghampiri kekasihnya. Melampiaskan amarahnya dengan sangat histeris. Dia tidak menyangka pria yang dicintainya tega mengkhianati dirinya. Widiya dan kedua anak buahnya hanya melihat dari arah belakang.
Namun, Widiya tidak menyangka bahwa kekasih Tita menampar pipi dengan begitu kerasnya. Melihat respon yang diberikan, gadis it berlari kearah sahabatnya. Tidak lupa ia memanggil salah satu anak buahnya yang sudah menjadi tangan kanannya.
“Aji! Bawa Tita ke markas, tempat ini terlalu kotor dan menjijikan untuknya,” kata Widiya sambil menatap kekasih sahabatnya dengan tidak bersahabat.
Setelah Tita pergi, saat itu juga Widiya menarik paksa kerah baju kekasih sahabatnya kasar. Hingga beberapa kali pria di hadapannya mencoba melepaskan genggaman tangan Widiya yang terasa sangat kuat.
“Lo! Lepasin tangan, Lo! Jangan jadi cewek sok jagoan!” bentak kekasih Tita kepada Widiya.
Tidak kenal kata ampun, Widiya melemparkan beberapa pukulan keras pada muka pria tersebut. Sedangkan seorang gadis yang menjadi selingkuhan hanya diam menangis tersedu-sedu menantap perkelahian di matanya.
“Jangan macam-macam sama gue, Tita sahabat gue dari kecil. Jika Lo macem-macem sama dia, akan berurusan sama gue,” kata Widiya dengan kerasnya tepat di muka cowok tersebut.
“Ingat baik-baik siapa gue, gue bukan sembarang cewek. Gue ketua The Dark Black.” Suara lirih Widiya membuat wajah pria itu terkejut.
Memang Club motor The Dark Black sangat terkenal sekali di telinga semua orang. Bahkan beberapa orang tidak mengetahui siapa ketuanya. Beruntunglah kepada pria it, karena bertemu langsung dengan Widiya.
Dengan langkah tergesa-gesa pria itu meninggalkan tempat tersebut dan lupa akan gadis yang ia bawa. Widiya yang masih sangat marah melihat kearah gadis yang menjadi korban pria brengsek. Ia menghela napas dengan berat dan memijat keningnya.
“Dani anter tuh cewek kerumahnya. Jangan sampa, Lo berhenti ditengah jalan. Kalau Lo berhenti atau cewek itu belum sampai rumah, Lo berurusan sama gue,” kata Widiya dengan tegas.
“Astaga, Bos gak bakalan gue anter nih cewek ke tempat-tempat aneh atau berhenti di jalan,” jawab Dani dengan gelak tawanya karena peringatan ketuanya yang sangat tahu dengan sifatnya.
Widiya menghampiri Tita yang masih menagis tersedu-sedu di markasnya. Ia menyodorkan sebotol minuman untuk membuat sahabatnya tenang.
“Ta … kamu harus bisa lupain tuh cowok. Aku gak mau air matamu terkuras habis sama dia, masih ada aku dan Ratna yang selalu ada jika kamu butuh. Udah yuk, aku anterin pulang aja ya.” Ajak Widiya kepada sahabatnya itu.
“Kalian tunggu di markas aja, nanti gue langsung balik kesini.”
Selama dalam perjalanan Tita sangat heran dengan apa yang sudah dilakukan Widiya. Gadis itu mengetahui sisi lain dari sosok sahabatnya. Ia merasa Widiya seperti sosok berbeda di kala menghadapi masalahnya.
Seakan tahu apa yang di pikirkan Tita, Widiya menarik napas dalam-dalam dan menceritakan semuanya kepada sahabatnya tanpa ada yang ia sembunyikan.
“Aku ketua The Dark Black tetapi, kamu tenang saja. Aku bisa memposisikan dan menjaga diriku sendiri. Jadi jangan takut denganku yang seperti ini, dan aku minta tolong sembunyikan hal ini kepada siapapun. Aku juga ingin kembali ke diriku yang dulu" kata Widiya kepada Tita yang hanya menganggukan kepalanya pelan.
Sesuai dengan pembicaraan dengan sahabatnya, Widiya perlahan kembali ke sifat aslinya yang sangat baik dan dikagumi semua orang. Berbeda dengan saat ia sedang mengalami patah hati dan dendam dengan seseorang.
Di kampus ada salah satu pria yang sangat dekat dengan Widiya yaitu Farel. Ia tidak mengetahui diri lain dari temannya, yang hanya dia tahu adalah sosok dihadapannya saat ini. Saat di kampus mereka seperti anjing dan kucing yang setiap hari selalu berdebat. Terkadang, mereka meenjahili satu sama lain sampai dimana salah satu dari keduanya mengalah.
“Wid makan yuk, gue laper nih. Temenin gue ke kantin ya.” Ajak Farel kepada teman sebangkunya.
“Tumben ngajakin gue ke kantin. Ya udah yuk, nanti malah nangis," kata Widiya sambil meledek temannya.
Widiya dan Farel makan berdua di kantin, mereka juga bercerita tentang hal apapun agar suasana tidak terasa membosankan. Apalagi keduanya akan mengikuti lomba mewakili kampusnya. Dari situlah hubungan dua manusia menjadi akrab hingga mereka lulus dari kampus.
Setelah acara wisuda Widiya merasakan sesuatu yang aneh terhadap Farel. Gadis itu akan merasakan bahagia saat bersamanya dan merasakan rindu saat berjauhan.
Tetapi perasaan itu hanya bisa ia pendam sedalam-dalamnya. Widiya masih sedikit trauma menjalin hubungan dengan pria. Hingga dia menjauh dari Farel hingga pria itu bingung akan sikap teman sebangkunya.
Namun tiba-tiba saja Widiya mendapatkan sebuah notifikasi dari ponselnya dan ternyata dari Farel. Ia sangat terkejut saat membuka pesan dari temannya yang ternyata Farel tau tentang perasaanya. Tetapi sangat disayangkan, Farel hanya ingin Widiya sebagai sahabatnya. Dari pesan it gadis itu mengetahui akan jawaban perasaanya selama ini.
Beberapa bulan kemudian, Widiya bertemu seseorang yang mampu mengisi kekosongan hatinya, ia bernama Dion. Pria itu lebih tua darinya, maka dari itu Widiya brharap Dion menjadi panutan yang terbaik seperti Farel yang bisa merubah seutuhnya.
Widiya menjalani kebersaamaanya bersama Dion dan mencoba untuk mencintai pria itu seutuhnya. Walau sebenarnya berat dan batinya tersiksa. Karena dari hati yang paling dalam, ia masih menyimpan perasaan untuk Farel. Gadis it mencoba menghapus semua tentang diri. Tetapi itu semua tidak bisa secepat dilakukan seperti membalikkan telapak tangan.
Ia menjalani hubungan kekasih dengan Dion selama kurang lebih satu tahun. Disisi lain, selama ini Farel masih penasaran terhadap Widiya. Ia mencari tahu apakah benar selama ini gadis it memendam perasaan untuknya.
“Yusuf, kamu kenal dekat dengan Widiya kan?” tanya Farel.
“Memangnya kenapa?”
“Ya gak sih, aku cuma tanya aja. Aku mengira kamu mengetahui sesuatu hal yang dia sembunyikan. Contohnya kamu tahu siapa yang dia suka."
“Owh begitu, aku sih taunya kalau dia itu sebenarnya naksir kamu, udah lama kayaknya. Wajar aja sih menurutku, karena kalian menghabiskan masa kuliah bersama-sama. Gak diragukan lagi dari itu semua bisa mengetahui karakter masing-masing kan. Ingat cinta tumbuh dengan sendirnya."
Dengan begitu Farel sadar tentang perasaanya sendiri. Ia juga menyimpan perasaan yang sama untuk Widiya tetapi dia takut jika suatu saat hubungannya mengalami masalah dan mengakibatkan ia bepisah dengan gadis itu.
Farel mencoba mencari cara untuk berkomunikasi tehadap Widiya. Pada saat itu juga, gadis yang dia pikirkan sedang online di sosial media. Tanpa pikir panjang, ia mengirimkan pesan untuk Widiya dan saat itu juga dia merasa lega. Ia juga ingin menjalin hubungan yang serius dengan Widiya.
Tetapi sangat disayangngkan Widiya sudah memiliki seorang kekasih. Seakan patah hati, Farel menerima kenyataan it. Ia tetap mendukung apapun pilihan Widiya, bahkan ia menjadi tempat berkeluh kesah gadis pujaannya.
Widiya tidak bisa terus-terusan menyembunyikan tentang Farel terhadap Dion. Dengan rasa percaya diri, ia memberitahu semua hal tentang Farel di kehidupannya. Sangat disayangkan, usaha keterbukaan Widiya membuat kesalahpahaman terhadap kekasihnya, sehingga Dion sangat marah.
“Selama ini aku bagimu itu siapa, hah!” teriak Dion.
“Maaf aku gak bermaksud begitu. Aku cuma mau bilang gitu aja. Emang dulu aku pernah mempunyai perasaan dengan Farel. Tapi sekarang aku juga mencoba menjalin hubungan denganmu.”
“Cukup kamu itu cewek gak bener, yang udah mainin hati cowok. Semua perkataanmu itu bohong!.Kamu teganya bermain di belakangku.”
Tanpa penjelasan apapun, ditingalkanya Widiya sendiri yang sedang termenung dan bingung mencerna perkataan kekasihnya. Apalagi semua perasaan yang dulu pernah ada untuk Farel, kini sudah tidak ada lagi. Widiya sangat sedih hingga dia tersadar, luka dimasa lalunya terulang kembali. Luka yang sangat pedih dan sakit hingga membuatnya frustasi.
“Fitri tolong beliin gue minuman bersoda.” Perintah Widiya ke salah satu teman yang tahu akan identitas Widiya.
“Tumben kamu minum kaya gitu. Apa kamu sedang frustasi?” tanyanya.
“Itu kamu tahu. Cepetan beliin gue juga mau pulang ini."
“Wid jangan deh kasihan badanmu, perutmu tidak akan kuat dengan minuman bersoda."
“Percuma gue jaga kesehatan, kalau ujung-ujungnya bakalan sakit hati sampai stres terus mati deh.”
“Gak ah, aku gak mau beliin."
"Kamu gak mau beli, jangan berharap pulang bisa sampai rumah.”
Fitri hanya bisa diam terpaku dan segera saja ia lari ke kantin untuk membeli minuman soda untuk Widiya. Gadis itu sangat mengerti semua tentang sosok Widiya. Maka dari itu Fitri tidak mau menolak perintah Widiya. Jika dia menolak tamatlah riwayatnya.
Setelah waktunya pulang kerja, Widiya bergegas keluar dari kantornya. Ia ditemani oleh salah satu rekanya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi.
“Sialan, Lo! Gue udah bilang jangan telfon gue duluan."
“Maaf bos, bos beneran mau datang ke markas? kebetulan temen-temen ada acara barbeque."
“Ya gue mau kesana, bagus kalau ada acara. Kebetulan gue sedang frustasi. Hari ini siapkan beberapa bir juga."
“Baik bos!” Jawab Aji dari seberang panggilan.
Rekan Widiya sangat terkejut melihat perubahan drastis gadis di sampingnya. Seakan acuh, Widiya hanya diam saja dan bergegas pergi ke markasnya.
Setelah sampai disana mereka berpesta dengan riang. Semua orang tahu, ketua mereka sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik. Widiya sudah merasa pusing akibat terlalu banyak minum.
Sedangkan disisi lain Dion merasa bersalah dan mencoba menghubungi nomor Widiya, tetapi ternyata tidak aktif. Pria itu sangat bingung dan terpaksa ia menghubungi Farel orang yang membuatnya frustasi. Untung saja Dion berhasil merebut nomor Farel dàri ponsel kekasihnya.
Namun Farel juga tidak mengetahui keberadaan Widiya, mereka sangat mengkhawatirkan gadis yang dicintainya.
“Bos, kita antar pulang aja ya. Bahaya bos bawa kendaraan saat mabuk berat," kata Aji.
“Lo jangan bawel ya gue bikin bonyok mau!” gertak Widiya dan ia langsung menghidupkan motornya.
Tetapi kedua anggotanya tidak tega dan terpaksa membuntuti Widiya dari belakang menggunakan mobil. Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil yang melintas dan seketika menabrak motor Widiya.
Bagaikan disambar petir kedua rekanya terkejut dan bergegas turun dari mobil. Mereka segera membawa Widiya ke rumah sakit terdekat.
Dengan panik, Aji menghubungi Fitri tentang keadaan ketuanya. Tanpa menunggu waktu lama, Fitri dan kedua orang asing tiba di rumah sakit.
Orang tersebut tak lain ialah Farel dan Dion. Farel menjatuhkan air matanya, melihat orang yang ia sayang terbaring di rumah sakit. Sedangkan Dion hanya frustasi dan selalu menyalahkan Farel.
Tiba-tiba saja, Widiya membuka matanya dan mendapati Farel disisinya.
“Rel ... aku sayang kamu, aku cinta kamu dari dulu. Maafin aku gara-gara aku, kamu menjadi berkelahi dengan Dion," kata Widiya terbata-bata.
“Aku juga sayang sama kamu, Wid. Tapi cintaku datang disaat waktu yang tidak tepat maafin aku." Farel menggenggam erat tangan Widiya hingga terisak-isak.
Widiya berbalik mentap kearah Dion.
“Dion cukup aku saja yang kamu kasarin. Jangan pernah seperti ini ke cewek-cewek yang lain. Aku emang cewek gak bener dan gak pantas untuk tidak ada disini ....”
Setelah mengucapkan kata-kata itu Widiya menutup mata untuk selamanya meninggalkan orang yang ia cintai dan kedua orang yang mencintainya.
Memang cinta tak bisa dipaksakan dan juga tidak bisa selalu dipendam. Cinta juga tak mengenal waktu untuk bisa datang dan kapan seseorang menyadari akan datangnya cinta.