Sebelum menemukan pedang tua tersebut Randu bukanlah siapa-siapa. Dia cuma seorang pekerja magang di sebuah rumah pandai besi yang khusus memproduksi berbagai macam alat-alat pertanian. Pedang tua yang telah karatan itu dia dapat dari setumpukan senjata tua, yang oleh pemiliknya, hendak dijual secara borongan.
Sebelumnya, tumpukan senjata-senjata tua adalah milik dari seorang saudagar kain yang kaya raya di kota.
Saudagar kain yang sepekan sebelumnya berpulang menghadap ke sang penciptanya. Iya, sesungguhnya senjata-senjata tua itu adalah barang koleksi yang telah dikumpulkan bertahun-tahun lamanya oleh si saudagar kain yang kaya raya tersebut. Tapi oleh para ahli warisnya, barang-barang tersebut dianggap tak lebih dari sekedar barang rongsokan belaka.
Randu adalah petugas yang ditunjuk untuk mengambil barang tersebut; Yang oleh pembeli, yang tak lain adalah tuan tempat dimana Randu bekerja.
Kelak adapun muara dari semua senjata-senjata tua yang dianggap sebagai barang rongsokan itu adalah tungku peleburan. Kesemua benda tua akan dilebur terlebih dahulu untuk kemudian dibentuk kembali menjadi berbagai macam alat-alat produksi pertanian, semisal : cangkul.
Kala beristirahat di tepi jalan, berdiang di satu pohon Jati yang dahan dan rantingya terlihat menjulur ke sana-kemari, hingga membentuk kesan rindan; di siang yang terik, sehabis melahap habis jatah makan siangnya, iseng Randu pun memperhatikan satu dua senjata-senjata tua tersebut.
Adapun jumlah dari senjata-senjata tua itu banyaknya hampir memenuhi gerobak dorongnya. Hingga tak heran Randu menjadi agak kelelahan. Akhir kata, tempo-tempo perhatiannya, lumayan tersita lama pada pedang tua tersebut.
Sebuah pedang yang penampakannya memang benar-benar sudah tidak ada bedanya lagi dengan selempengan besi tua; yang sudah tidak memiliki warangka sama sekali; yang seluruh permukaan hingga tajam mata pedang itu pun sudah disesaki dengan karat besi; kepala gagang yang terbuat dari bahan kuningan, yang semestinya membentuk kepala burung pun sudah tak berbentuk lagi--benar-benar menyedihkan!
Randu pun tersenyum miris, pedang tua tersebut sempat pula ia usap-usap, sebelum akhirnya ia jatuh terlelap bersama dengan sebuah pedang tua yang menempel di dadanya.
***
Nun jauh di bawah kedalaman tanah, di sebuah lokasi, sesuatu tampak sedang berusaha untuk bergerak keluar. Akibat dari pergerakan itu membuat tanah di permukaan menjadi berguncang. Mencipta longsoran disekitarnya. Yang bergerak turun dengan kecepatan tinggi. Untungnya tidak ada orang yang tinggal disekitaran daerah tersebut-- lalu selang beberapa detik kemudian, sesuatu yang dari kedalaman tanah tersebut akhirnya melesat keluar bersama percikan nyala sinar kebiruan, yang dengan lambat laun melingkupi seluruh tubuh dari sesuatu tersebut-- sekian detik ia menggantung di angkasa-- ternyata ia adalah sebuah benda. Lalu yang dengan kecepatan tinggi melesat terbang bersama nyala sinar kebiruan yang telah sempurna melingkupi seluruh tubuhnya.
***
Randu seketika terbangun, kaget, benda tua yang menempel di dadanya, mengaurkan hawa dingin yang teramat sangat, hampir-hampir ia menjadi sesosok patung beku-- untung saja masih tersisa sekian detik, tak ayal benda tersebut ia lemparkan menjauh-- terdapat seberkas nyala sinar kebiruan ketika benda tersebut mendarat di rerumputan-- nyala sinar kebiruan yang lambat laun menjalari seluruh permukaan pedang tua tersebut-- pun rerumputan hijau disekitaran pedang tua tersebut perlahan-lahan memutih kemudian menghitam legam tak ubahnya seperti terbakar habis.
Randu takut, sekonyong-sekonyong bergegas menjauh, namun setelah sekian langkah berlari, ia buru-buru berbalik kanan, apakah ia hendak berlari balik ke arah...
Tidak, tidak, Randu tidak berlari ke arah pedang tua yang tergeletak di rerumputan yang telah terbakar habis itu. Akan tetapi ia berlari balik ke arah gerobak dorongnya.
Randu bergegas menjangkau gerobak dorong tersebut dan berlari bersamanya, meninggalkan pedang tua yang menggeletak begitu saja di bekas rerumputan.
***
Malam tiba-- Randu telah jatuh terkantuk-kantuk, terlihat dari belakang kepalanya yang beberapa kali menghantam dinding tepas kamarnya-- padahal malam belum lagi jatuh larut, masih diawal. Sebelum-sebelumnya Randu tak pernah mengalami kantuk yang seperti ini.
Di jam-jam begini, Randu biasanya sedang berada di pekarangan, sedang giat-giatnya berlatih satu dua kan uragan yang diajarkan; Bukan, bukan, sebenarnya bukan diajarkan, melainkan dari mencuri-curi. Iya, Randu mencuri-curi lihat dari satu padepokan yang tak jauh dari tempatnya bekerja.
Randu mengintip dari sebuah celah kecil di sudut tembok, setiap kuda-kuda dan gerakan ia hafal mati, dari awal hingga akhir, sesampainya di rumah ia praktekkan kemudian.
Kantuk itu sungguh tak tertahankan lagi, Randu pun merebahkan tubuh, sejenak matanya terbenam kemudian.
***
Seekor burung api melesat terbang, dengan kaki yang seraya menerjang ke sana-kemari, segala sesuatu yang terkena oleh terjangan kakinya pupus hangus tak sampai hitungan menit. Sebentar kemudian, dari paruhnya yang tajam, suara lolong terdengar melengking tinggi bersama bola-bola api yang meloncat keluar, membakar segala sesuatu yang ada dibawahnya. Sungguh ia tengah ganas-ganasnya memuntahkan bara lidah-lidah api yang membakar galak seluruh persada, tentulah ini harus dihentikan, jika tidak...
Dunia akan berakhir!
Bagaimana menghentikan amuk si burung api tersebut!? Tidak ada lain, seseorang yang harus menghentikan semua amuk ini!! Seseorang!? Siapa!? Siapa pula yang bisa menghentikannya? Tentu saja ia yang telah membebaskannya. Iya, dia yang telah membebaskan si burung api tersebut dari penjara keabadiannya, dialah yang harus menghentikan semua ini. Karena sekarang, si pembebas itulah yang menjadi tuannya, si burung api tersebut pasti akan mematuhi segala perintahnya, tapi, itu juga kalau ia tahu caranya.
Nun, di satu lapangan terbuka, seseorang berdiri dengan bertelanjang dada bersama sebuah pedang yang terjulur lurus ke angkasa... Sekonyong-sekonyong si burung api melesat terbang ke arahnya.
Randu terlempar dari ranjangnya, terlempar cukup jauh, menghantam tembok kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Hal tersebut tak pelak membuat kawan yang rebah disebelahnya bangun dan terkaget. Dan ia bertambah kaget, manakala ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana tubuh Randu yang sekian detik kemudian tengah bermandikan nyala api. Benar, sekujur tubuh Randu tengah bermandikan nyala api.
***
Beberapa tahun sebelumnya...
"Bunuh semua! Jangan sampai ada yang tersisa!" Tuding seseorang dari atas pelana kuda. Perintah tersebut ia serukan dengan begitu pongahnya. Dan sebentar saja, suara pedang menancap ke tubuh-tubuh yang tengah berjejer di bawah seseorang yang duduk di atas pelana kuda tersebut. Suara pedang yang tertancap terdengar begitu memilukan hati. "Semua pemberontak kerajaan harus dihabisi! Itu titah Baginda raja!" Begitu seseorang tersebut mengingatkan para prajurit yang giat menikamkan pedang dan golok mereka.
Seseorang dengan perawakan tinggi tegap dan rupawan; Dia berbusana layaknya seorang pembesar kerajaan. Sungguh ia memang seorang bangsawan kerajaan, ini terbukti dari mahkota yang melingkar di kepalanya; Dia adalah seorang panglima perang kerajaan. Seseorang panglima kerajaan yang diperintahkan untuk memusnahkan pemberontakan di sisi Utara kerajaan.
Sepasang mata belia mengintip dari sebuah celah batu karang, yang mana sebagian dari tubuhnya sengaja ia tenggelamkan ke dalam asinnya air laut. Dia memekik lirih, tangannya mencengkeram geram, sedetik kemudian pipinya basah oleh karena airmata yang jatuh tanpa permisi.
"Suatu hari kelak aku akan membalaskan semua ini! Aku, Randu Gumilang, akan membalaskan semua dendam ini! Langit dan samudera ini menjadi saksinya!" Seru sepasang mata belia yang tengah menyeka airmatanya. Kemudian ia menenggelamkan seluruh tubuhnya, lalu menghilang bersama buih ombak samudera yang kehitam-hitaman.
***
Nyala api di tubuh Randu perlahan-lahan surut. Si kawan bergerak, ia berinisiatif untuk... Tapi ketika dilihatnya tubuh Randu yang berwarna hitam legam secara keseluruhan, seperti benda yang hangus terbakar, seketika itu juga nyalinya pun surut, ia balik kanan, berlari ketakutan, berteriak meminta pertolongan.
Sebentar saja orang-orang berkerumun, bertanya; Yang ditanya hanya bisa menuding-nuding seraya menyerukan sebuah nama dengan terbata-bata; Orang-orang pun berlarian, tapi seketika langkah mereka tertahan... Sebuah ledakan dan jilatan api menghanguskan kamar tersebut. Sebentar saja segala sesuatu lenyap tak bersisa...!
***