Mereka tidak melihat pembenarannya, semua hanya sibuk dengan hujatan dan cibiran bahkan umpatan-umpatan kasar yang mereka lontarkan, tanpa memikirkan perasaan korbannya, lalu bagaimana jika mereka akhirnya tau bahwa kabar berita itu bohong? apa mereka akan minta maaf?huh, memang mudah untuk meminta maaf tapi bagaimana dengan luka yang mereka tinggalkan...?
"Lihat-lihat itu dia si pembunuh nya"
"mana-mana...?"
"itu loh, cowok yang pake jaket item"
"eh iya..iya bener itu dia"
"pembunuh? emang dia bunuh apa? kucing"
"bukan g*bl*k, dia itu yang bunuh pacar temen nya itu"
"iiiih takut gue, gak mau deket-deket"
"terus kenapa gak di penjara"
"kata orang-orang sih polisi nya di sogok jadi dia bebas"
"oooh main sogok ternyata, cih mentang-mentang orang tua nya kaya, bisa seena-"
"suuttt diem dia liat ke sini anjir, yuk pergi-pergi!"
"dasar pembunuh"
"Psikopat"
Itulah cacian dan omongan yang selalu ku dengar semenjak kejadian itu, aku tak pernah menyangka bahwa ini akan terjadi.
Mereka hanya salah paham, mereka tak tau kejadian sebenarnya, mereka tak tau kebenarannya mereka hanya sibuk mencaci dan memaki tanpa mau tau tentang kejadian sesungguh nya.
Aku benci dia, sangat-sangat membencinya, dia melemparkan semua kesalahannya padaku, dia pecundang, dia menghilang setelah kejadiaan itu, kejadian kelam yang takan pernah ku lupakan.
Harusnya aku membeberkan kebenarannya tapi aku tak punya bukti, bukti itu ada padanya, dan kini aku tak tau harus bagaimana, hanya bisa menerima semuanya cacian, sumpahan, makian.
Aku harus sabar sebentar lagi akan ku buktikan bahwa aku tak bersalah, sebentar lagi....sebentar lagi aku harus bersabar.
***
"hey pembunuh kau harus nya tak berada di sekolah melainkan di penjara"
"hhhhhaaa...hhaaa"
"menyedihkan sekali kau tak bisa mendapatkan pacar sahabatmu kau malah membunuh nya, memalukan sekali kau sebagai laki-laki"
"aaahh aku tau kenapa kau tidak di penjara, kau menyogok polisi bukan, berapa banyak orang tua tersayang mu mengeluarkan duit untuk pembunuh seperti mu"
"aku yakin mereka malu sekali, apa ini yang di ajarkan orang tua mu ketika tak mendapatkan apa yang kau ing-"
"diamlah kau bedebah, tutupi mulut sampah mu itu, kelakuan mu seperti pengecut datang dengan segerombolan otak kosong"
" KAU, tutup mulut mu itu!"
"kenapa harus aku yang tutup mulut kenapa bukan kau dan kalian sekumpulan otak udang?"
BUGHH!!
"cuma ini kekuatan lo hah?, BANCI"
bughh!
bughh!
aaaaaah
Kreekk
aaaaaaaaahhhhh
"bagaimana? sakit bukan, pulanglah kau minta ibu dan ayah mu untuk mengajari mulut sampah mu itu"
***
"bagaimana kau sudah menemukan nya?"
"sudah tuan"
"bagus bawa dia ke rumah ku!"
"baik, tuan"
tit
***
byuuur
"bangun brengsek!"
"eughh"
"tidur mu nyenyak?"
"shit, kau!!"
"terkejut sobat? bagaimana pelarian mu selama ini menyenangkan? apa kau tidur nyenyak, setelah membunuh dan memfitnah"
"kau!! dimana ini? lepaskan aku brengsek!"
"hhaaahhhaaa melepaskan mu, setelah apa yang kau perbuat pada ku dan pada dia, jangan mimpi"
"apa yang kau ingin kan dari ku, hah rekaman itu? HaHAAaaa rekaman itu telah ku musnahkan"
" hoo hooo aku tak perlu rekam itu sudah tak berguna lagi bagiku kini, tapi yang ku butuhkan itu dirimu untuk kejelasan, dan meyerahkan diri kepolisi"
"hah itu takan pernah terjadi, kau tak punya bukti untuk menjebloskan ku penjara"
"percaya diri sekali kau ini, aku memang tak punya bukti tapi polisi sudah mengantongi identitas pembunuh sebenarnya, dan mereka memintaku mancing dia keluar agar mudah di tangkap, karena dia adalah sabahat ku ah ralat dia adalah pengkhianat"
"sekarang ku tanya kenapa kau membunuh dia? bukankah dia orang yang kau cinta"
"kenapa kau bungkam, tak ingin memberi penjelasan sebelum masuk ke jeruji besi?"
"semua karena kau brengsek, karena kau aku tak sengaja membunuhnya, dia mencintai mu bukan diriku, dia selalu mengkhawatirkan mu bukan diriku, kau yang selalu ada di hatinya bukan aku, walau aku yang selalu bersamanya, aku yang selalu ada di dekat nya, akuuu yang selalu mencintainya bukan kauuu, hiks...hiks tapi diaa mencintai mu bukan dirikuu"
"lalu bagaimana bisa kau membunuh nya?"
"saat malam itu dia memutuskan hubungan nya dengan ku, aku tak terima dan meminta penjelasan dia bilang bahwa dia tak pernah mencintai ku melainkan dirimu, kami bertengkar aku mengguncang bahunya dan tak sengaja mendorongnya hingga dia jatuh dan terbentur batu, ketika ku lihat dia sudah bersimbah darah dan tak lama meregang nyawa, ak-aku takut di salahkan dan memutuskan untuk menjebak mu, dengan menggunakan handphone dia mengirim pesan untu menemuinya di tempat kejadian, lalu menelpon polisi, setelah kau datang tak lama polisi datang disitu aku bersandiwara melihat kau membunuhnya"
"ahhh ini sudah cukup, penjelasan mu barusan bisa membuat mereka malu akan tuduhan, cacian yang mereka layangkan padaku walau rasa sakit nya takan hilang dengan mudah dan akan berbekas dalam ingatanku setidaknya mereka takan menghina orang tua ku bahwa mereka mempunyai seorang anak pembunuh dan bahkan membela seorang pembunuh"
"bawa dia ke polisi!"
"baik, tuan"
"ken! maafkan aku sampaikan maaf ku juga pada dia jika kau jarah ke makam nya"
"heem tentu! semoga kau mendapat pencerahan di penjara nanti, hiduplah lebih baik jika sudah keluar, dan datanglah padaku jika kau butuh bantuan, besok video ini akan tersebar, maka publik akan mencap mu sebagai pembunuh, mereka akan sulit mengerti dengan apa alasan di balik kejadian ini, semoga kau bisa kuat, aku telah menanggung itu selama beberapa bulan ini menggantikan mu"
***
Besok nya kebenaran terungkap mereka meminta maaf pada kenzo, atas semua tuduhan tak berdasar itu.
kenzo hanya mengiyakan saja sulit memang menerimanya setelah di kucilkan, dihina, dicaci, dimaki, dengan enteng nya mereka meminta maaf bahkan ada yang cuek dan diam saja walau mereka tau kebenaran nya mereka tak meminta maaf.
yah sudahlah luka fisik memang sakit tapi luka batin tak bisa di definisikan bahkan dengan kata perih saja
~tamat~
jangan lupa baca cerpen aku yang lain nya😊