Gw gabut, jadi gw bikin cerpen ini tentang perang🗿
Squadronku
Suatu hari di langit biru yang luas, terdapat squadron pesawat tempur yang berhasil memata-matai musuhnya. Mereka adalah squadron pengintai dari Kekaisaran yang bertujuan untuk mengintai armada laut milik Republik. Kekaisaran ingin menyerang pulau yang diduduki oleh Republik.
Squadron pengintai tersebut berisikan 3 pesawat kelas pencegat. Mereka adalah Ramiel, Erwin, dan Ivan
Mereka berkomunikasi menggunakan radio
Ramiel : "Cepatlah, kita harus mengantarkan informasi tersebut ke markas pusat"
Erwin : "Siap kapten. Dengan ini pasukan kita akan menyerang dari belakang dengan serangan yang masif"
Ivan : "Apakah dengan ini perang akan berakhir?"
Ramiel : "Hahahaha, aku harap begitu:)."
Ivan : "Saya tidak sabar untuk bertemu dengan kedua orang tua saya..."
Di tengah perbincangan mereka, radar dari ketiga pesawat tersebut mendeteksi bahwa ada satuan armada kapal tempur lain di depan mereka. Satuan kapal tersebut berisikan berbagai jenis kapal seperti kelas battleship, kelas aircraft, dan kapal perang kelas pendukung lainnya.
Armada tersebut adalah milik Republik. Hal tersebut seharusnya tidak mungkin terjadi karena tidak ada data yang mengatakan bahwa ada satuan armada lain yang menghampiri pulau tujuan kekaisaran.
Erwin : "Apa apaan dengan satuan armada tersebut? Bukankah tim pengintai yang lain sudah memperoleh seluruh informasi Armada repblik?"
Ivan : "Apakah kita akan memutar dan mencari jalan yang lebih aman kapten?"
Ramiel : "Tidak! Markas pusat membutuhkan informasi kita, jika kita memutar maka akan membutuhkan waktu sekitar 30 menit."
Erwin : "Apakah kita akan menerobos mereka? Berikan perintah mu kapten"
Ramiel : "Persiapkan nyawa kalian letnan. Kita harus menerobos satuan armada itu"
Erwin/Ivan : Siap pak!
Mereka membentuk formasi sayap dan berinisiatif untuk menerobos satuan armada tersebut.
Ramiel : Pertahankan formasi! Kita akan menerobos, jangan sampai ada yang mati!
Armada satuan milik republik
Kru kapal : "Pak, kami mendeteksi 3 pesawat pencegat mendekat, apa yang harus kita lakukan?"
Kapten kapal : Kerahkan squadron pencegat kita, dan aktifkan artileri anti udara! Jangan biarkan mereka lolos!
Squadron milik Ramiel
Ivan : "Mereka sudah merespon. Beberapa pesawat pencegat mengejar kita."
Ramiel : "Jangan pedulikan mereka, pesawat mereka membutuhkan waktu untuk mencapai pesawat kita. Naikkan kecepatan dan jangan terlalu banyak membuang peluru."
Artileri anti udara mulai menembakkan pelurunya. Suara meriam bersautan dan meledak di atas langit. Dan suatu kemudian....
*BOOM*
Ramiel : "!?"
Erwin : "Kapten!!?"
Ivan : "Mohon laporkan kondisi kapten!!"
Ramiel : "Sepertinya sayap ku hancur, kecepatanku semakin berkurang dan bahan bakar ku bocor, aku tidak bisa meneruskannya sampai ke markas pusat"
Ivan : "Bagaimana dengan istrimu Elaina?? Istrimu menunggu mu dirumah"
Erwin : "Kami mohon, jangan tinggalkan kami"
Ramiel : "Lanjutkan misi tanpa ku, Ivan, kau yang memimpin. Apabila istriku Elaina menjadi janda karena aku, jangan dari kalian menikahinya ya. Hahahaha"
Ivan : "INI BUKAN WAKTU YANG PAS UNTUK BERCANDA KAPTEN!!"
Ramiel : "Aku tau:) pergilah tanpa ku. Selesaikan misi tersebut. Letnan, semoga kalian mendapatkan keberuntungan. Jayalah Kekaisaran...." *Radio komunikasi terputus*
Erwin : "KAPTEN?"
Ditengah dentuman Artileri, mereka berdua pergi meninggalkan Ramiel
Ivan : "Saya harap perang ini akan segara berakhir"
Erwin : "Saya setuju dengan mu Letnan. Kita sudah berhasil melewati armada tersebut, dan tidak ada satupun pesawat pencegat yang mengejar kita"
Ivan : "Baiklah Letnan 40 menit lagi kita akan sampai ke markas pusat!"
Beralih ke Ramiel, pesawat ramiel perlahan turun ke permukaan. Darah mengucuri tubuhnya akibat serpihan amunisi artileri. Ia sangat sedih karena sudah berjanji dengan Elaina agar kembali pulang.
Ramiel kemudian melihat foto yang disimpan di kalungnya, Terdapat foto wanita cantik bermata biru dan berambut putih. Ia menangis karena tidak bisa menempati janjinya
Ramiel : "Maafkan aku Elaina, aku tidak bisa menempati janji mu"
Ia memukuli kontrol di pesawatnya dan berteriak
Ramiel : "MENGAPA PERANG TIDAK BERGUNA INI TERJADI? APA YANG AKU DAPAT DARI PERANG INI!? HANYA PERTUMPAHAN DARAH YANG TIDAK MEMILIKI ARTI!"
Ramiel : "Mungkin ajalku telah dekat, maaf Elaina...."
[FLASHBACK]
Bel berbunyi
Seorang petugas pengantar surat mengantarkan surat ke rumah Ramiel
Elaina : "Oh iya pak, terimakasih. Sayang~ sepertinya ada surat dari markas pusat untuk mu"
Ramiel : "Mana sini, biar aku buka"
Ia membuka sepucuk surat terebut. Kemudian ekspresi Ramiel berubah seketika, Ramiel sangat panik, namun ia berusaha untuk tenang.
Ramiel : "Sepertinya sudah dimulai. Elaina, aku sepertinya akan meninggalkan mu selama beberapa bulan. Aku ditugaskan di garis depan"
Elaina : "Ke-kenapa? Kenapa harus kamu yang ditugaskan disana?"
Wajah elaina berubah menjadi pucat. Ia sangat khawatir kalau suaminya tidak akan kembali
Ramiel : "Maaf, tetapi ini adalah surat dari markas pu-"
Seketika Elaina memeluk Ramiel dan berkata
Elaina : "Berjanjilah padaku untuk kembali dengan selamat. Aku akan menunggumu disini"
Ramiel : "Terimakasih, aku berjanji agar kembali dengan selamat"
Elaina tak kuasa menahan tangis, ia menangis di dada Ramiel...
Elaina : "Janji ya? Kamu akan pulang. Kamu bahkan belum memberiku anak"
Ramiel : "Me-mengapa kamu bilang seperti itu, aku akan berjanji akan kembali kesini. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku akan 'memberikan' mu anak setelah aku pulang dari tugas"
Elaina dengan tersipu malu mengatakan ///
Elaina : "Baiklah, aku akan menunggu mu"
[Masa Sekarang]
Disaat pesawat Ramiel terjatuh, ada sesuatu yang misterius membisikkan
Unknown Object : "Keberuntungan akan menyertai mu. Tapi kamu harus menghadapi keberuntungan itu dengan baik, kalau tidak itu akan berubah menjadi siklus lingkaran setan yang berulang..."
Ramiel : "Apa ini!?"
Ketika pesawat Ramiel ingin menabrak laut, cahaya putih menyinari matanya sehingga ia tidak bisa melihat apa apa. Dan kemudian ia tersadar di tempat tidurnya.
Ramiel : "Apakah tadi hanyalah mimpi?"
Ramiel tampak kebingungan dengan peristiwa itu. Hal tersebut tampak nyata, dan ia yakin bahwa itu pernah terjadi. Kemudian Elaina memanggil Ramiel....
Elaina : "Sayang~ sepertinya ada surat dari markas pusat untuk mu"
Ramiel : "Apa ini??" *Ramiel tampak kebingungan*
Ramiel : "Apakah aku mengulang kehidupan?" *Wajah ramiel berubah menjadi pucat*
Dengan berusaha untuk tenang, Ramiel kemudian menghampiri Elaina. Banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Apakah Ramiel benar benar mengulang takdirnya? Apa benar ia menghadapi peristiwa yang ia 'mimpikan'?
Ramiel : "iya, sebentar aku akan kesana..."
[Tamat?]
/halo, aku bikin cerpen ini karena gabut. Ini juga pertama kalinya aku bikin cerpen disini. Kedepannya aku juga mau bikin novel dengan tema perang. Jadi buat kalian yang punya saran atau kritik bisa ngomong. Buat para sepuh, mohon bimbingannya, karena aku butuh bimbingan kalian:). Tutorin bikin novel sama cerpen yang bener dong. Aku pengen nyari hobi baru, dari pada ngenolep gajelas🗿/