Io melihat dengan tatapan hampa kepada dua anak yang tampak berada di kisaran seumuran dengan dirinya atau mungkin lebih muda di hadapannya. Mereka bersembunyi di antara lorong sempit nan gelap, menghindari tatapan merendahkan dari orang dewasa yang berlalu lalang di bibir jalan dengan pakaian mewah. Sangat jauh berbeda dengan pakaian mereka, kumal dan lusuh, wajah mereka pun tertutupi oleh debu dan tanah. Siapapun yang melihat mereka dapat menebak mereka adalah anak jalanan yang mungkin di tinggal orang tua mereka dengan sengaja atau anak yatim piatu yang tidak memiliki tempat tinggal untuk meneduh.
Sesuatu menarik perhatian Io di antara mereka. Io melangkahkan kakinya ke depan. Reaksi satu anak yang duduk sambil memeluk seorang anak lainnya di kedua tangannya seakan tidak menyukai kedatangan Io. Anak laki-laki itu membalas pandangan Io dengan tajam lebih terkesan marah. Seakan mengatakan untuk pergi menjauh dari mereka.
"Apa dia telah meninggal?" Dengan nada monoton, Io menunjuk kearah anak laki-laki yang berada di pelukan anak tersebut. Io berjongkok untuk memastikannya tanpa mempeduli anak itu terus memasang wajah tidak suka. Semakin dekat Io ingin melihat sosok tersebut, anak laki-laki itu mendorong Io untuk menjauh dari mereka tanpa berbicara.
Io tampak bingung. Ia tengah memikirkan apa kesalahannya hingga membuat anak laki-laki tersebut marah padahal ia belum melakukan apapun. Apakah ia juga tidak di izinkan untuk bertanya di dunia ini?
"IONE HYACINTH!!" Suara lantang dari seorang pria bertopi tinggi di tepi jalan menarik perhatian orang di sekitarnya. Pria itu dengan kasar menarik lengan Io untuk menyuruhnya segera berdiri dan tanpa peringatan apapun sebuah tamparan keras mendarat di wajah polos Io hingga menimbulkan ruam merah di pipi sebelah kirinya.
Orang-orang sekitar hanya melihat kejadian itu dengan simpati tanpa menolong ataupun menegur tindakan pria yang tidak bermartabat seperti itu. Menampar seorang anak perempuan di depan umum sangat jelas tidak mencirikan seseorang yang berkelas walau dengan pakaian mahalnya.
"Sudah ku katakan untuk tidak pergi sesuka mu!"
Io tidak membalas apapun yang di katakan pria itu dengan perkataan kasarnya. Ia hanya mengelus pipinya yang terasa panas setelah di tampar oleh pria tersebut.
"Ayo cepat kita kembali. Kau hanya memperlambat pekerjaanku saja." Pria itu membalikan badannya dari arah dia datang.
"Dia telah meninggal..." suara halus Io menghentikan gerak pria itu yang akan melangkah pergi. Pria itu lalu menoleh untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan Io.
Melihat reaksi Pria itu, Io menunjuk ke arah lorong sempit gelap dimana kedua anak laki-laki itu bersembunyi di balik bayangan. Pria yang penasaran itu akhirnya mencoba mengintip dan benar saja di sana seorang anak laki-laki tengah memeluk anak laki‐laki lainnya yang sudah tidak bergerak. Pria itu seketika merubah ekspresinya menjadi masam.
"Kita tidak memiliki waktu untuk mereka." Pria itu menarik tangan Io, "Mereka membutuhkan uang untuk sekedar menguburkannya saja. Jika mereka tidak punya, jangankan berpikir untuk mengunakan jasa kita, lahan pemakaman saja belum tentu akan menerima mereka."
Pria itu menyeret Io untuk segera pergi meninggalkan anak-anak itu. Io masih saja sesekali menoleh ke belakang untuk melihat ke arah lorong yang mulai menjauhinya. Di sana ada anak tidak berdaya bersama saudaranya yang telah meninggal. Io tidak bisa menghilangkan pikiran itu dari kepalanya.
"Berjalan dengan matamu ke depan Ione!!" Bentak sekali lagi Pria itu yang merasa langkahnya melambat dengan gerak langkah lambat Io.
.
.
.
Bulan mulai memperlihatkan keindahannya di antara langit bertabur bintang. Menjadi latar bagi kota yang telah terlelap di tengah panjangnya malam. Menantikan hari yang lebih baik saat mentari kembali muncul.
Io muncul kembali di tempat anak terlantar bersama saudaranya yang telah tiada itu. Namun, saat Io melihat ke sana anak laki-laki dan tubuh saudaranya itu telah tidak ada. Io yang penasaran kemana perginya mereka akhirnya mencari di sekitar tempat tersebut. Mereka tidak akan pergi jauh dengan tubuh saudaranya yang telah kaku itu.
Benar saja, di tanah kosong tertutup lumpur dan lumut terlihat seorang anak laki-laki mengais-gais tanah becek dengan tangan dan kayu kecil seadanya sebagai alat bantu. Tak jauh dari posisi anak laki-laki itu tergeletak sesuatu ditutupi kain bekas nan kotor. Io dapat menebak itu pasti tubuh saudara anak laki-laki yang sejak ia menemukan mereka, anak laki-laki itu terus memeluk tubuh kaku tersebut.
Io tidak menegur anak laki-laki yang sibuk menggali tersebut. Ia langsung saja menuju tubuh anak lainnya yang telah meninggal. Ia menarik kain yang menutupi tubuh anak tersebut, bau amis seperti daging dingin mulai membusuk yang khas samar-samar tercium dari tubuh anak laki-laki dengan posisi kaki dan tangan yang sudah kaku membentuk postur meringkuk seperti seorang yang kedinginan.
Merasakan sesuatu dibelakangnya, anak laki-laki yang tampak mulai kelelahan itu di buat terkejut dengan ke datangan gadis tadi siang yang kini sedang melakukan sesuatu pada tubuh saudaranya.
Segera saat melihat hal itu, anak laki-laki tersebut meninggalkan lubang galian yang dalamnya tidak lebih dari tiga puluh senti dengan panjang kisaran satu meter dan lebar setengah meter lebih. Ia sampai tersandung gundukan tanah bekas galiannya sendiri saking paniknya dan terjerambab dengan dagu yang mendarat pertama di atas tanah becek.
Rasanya sangat sakit dengan gigi yang saling beradu mengenai gusi. Ia dapat merasakan darah bercampur tanah di dalam mulutnya. Ia tidak sempat untuk meratapi rasa sakit di wajahnya saat melihat orang lain tengah melakukan sesuatu pada tubuh saudaranya.
Anak laki-laki itu segera menahan tangan Io yang tengah menyuntikan sesuatu pada brberapa bagian tubuh saudaranya itu. Merampas alat suntik di tangan Io, melemparnya jauh dan mendorong dengan kasar tubuh Io untuk menjauh.
Ekspresi anak laki-laki itu sangat marah hingga wajahnya merah padam menatap Io. Sangat jelas kebencian tercermin dari mata anak laki-laki itu saat melihat Io.
"Dia tidak akan bisa beristirahat dengan tenang dengan posisi seperti itu."ucap Io seraya berdiri.
Io tidak menunjukan ekspresi apapun saat menghadapi anak laki-laki yang tengah murka di hadapannya. Malah Io masih saja bingung kenapa anak itu harus marah kepadanya padahal ia tidak melakukan apapun yang dapat membuat orang marah. Karena yang dilakukannya ini adalah tugasnya.
"Aku dapat membuat posisi tubuhnya kembali 'normal' seperti seseorang yang sedang tertidur." Io mencoba kembali berbicara dengan anak laki-laki tersebut, "Aku menyuntikan larutan untuknya agar tidak segera membusuk. Jika aku membersihkan isi perutnya, ia juga tidak akan membusuk lebih cepat."
Ekspresi anak laki-laki itu semakin tidak karuan bercampur dengan perasaan ngeri, jijik dan kesal saat mendengar perkataan Io yang di katakan dengan datar tanpa menunjukan perasaan apapun bahkan ekspresi di wajahnya saja tidak ada.
"Aku tidak akan memperburuk kondisi tubuhnya saat ini. Aku hanya ingin dia dapat beristirahat dengan tenang. Kau tidak berniat untuk memakamkannya dengan kondisi seperti itu bukan? Bukankah tidak sopan menguburnya hanya seperti ini?" Tatapan mata Io tidak memancarkan sebuah kehidupan. Ia berbicara seperti boneka kosong yang di kendalikan oleh tali. seakan perkataannya hanyalah dialog yang telah di rencanakan sebelumnya, "Namaku Ione Hyacinth, seorang perias jenazah pemula. Tugasku memperbaiki kondisi tubuh orang yang telah meninggal, membalsem mereka agar tidak cepat membusuk dan mengembalikan kondisi mereka seperti saat mereka masih hidup agar mereka dapat beristirahat dengan tenang dengan tubuh 'normal' mereka."
Io berpikir ketidaktahuan identitas mereka satu sama lain membuat pembicaraan mereka tidak berjalan dengan baik. Ia memperkenalkan diri terlebih dulu, memberitahu siapa sebenarnya Io mungkin saja anak laki-laki ini akan mengerti. Seperti yang biasa di katakan oleh orang dewasa kepadanya, ketidaktahuan akan menyebabkan kesalahpahaman. Jika anak laki-laki ini tahu siapa dirinya, mungkin ia akan menerima Io untuk 'memperbaiki' saudaranya.
Io memberanikan diri untuk melangkah mendekati anak laki-laki dan saudaranya itu. Karena ia telah memperkenalkan diri, anak laki-laki itu pasti mengerti yang akan di lakukan Io. Profesi sebagai perias jenazah memang jarang namun cukup di kenal masyarakat, pengunaan jasa ini cukup sering dan bayarannya menjanjikan namun tidak banyak orang yang mau bekerja di bidang ini. Jika anak laki-laki ini menjadikan kota ini sebagai tanah kelahirannya tidak mungkin ia tidak tau profesi satu ini di kotanya.
Akan tetapi anak laki-laki itu malah merespon sebaliknya. Ia malah melempari Io dengan batu seukuran kepalan tangannya hingga mengenai bagian kepala Io. Io yang tidak tau pelemparan batu itu kearahnya, tidak sempat menghindar dan berakhir mengenai bagian dahi dekat pelipisnya yang mulai mengeluarkan warna merah ke biruan dan tetesan darah mengalir dari bagian kulit kepala yang sobek akibat permukaan batu yang kasar.
Anak laki-laki itu tampak terkejut melihat Io yang tidak menghindar. Darah dari dahi Io mengalir turun di wajahnya seperti garis merah lurus. Seketika ekspresi anak laki-laki itu menjadi ketakutan dan mulai memucat. Ia tidak memikirkan posisinya sebagai anak jalanan miskin telah melukai anak perempuan seorang penduduk sipil dengan pakaian yang terlihat mahal itu. Terlebih anak laki-laki itu telah melihat orang tua dari gadis ini yang mengenakan jas mantel berbahan tebal dan topi tinggi yang pernah di lihatnya, di jual di toko buatan tangan yang cukup terkenal. Jika anak perempuan ini mengadu pada orang tuanya soal kejadian ini, ia di pastikan akan di penjarakan karena telah melukai putrinya.
Namun Io menyikapinya dengan tenang luka di dahinya itu. Ia mengelap darah yang mengelitik pipinya dengan lengan bajunya. Ekspresinya tetap datar seperti tidak merasakan sakit apapun, yang di rasakannya hanya sedikit pusing. Tapi baginya tidak masalah, ia dapat menahannya.
Io tidak bisa berlama-lama di tempat ini. Jika pria itu menyadari dirinya tidak berada di kamar ia pasti akan di hukum saat pulang nanti. Berharap sekali lagi anak laki-laki itu untuk mengerti, Io kembali melangkahkan kakinya mendekat kepada tubuh saudara laki-laki anak tersebut. Secara mengejutkan anak laki-laki itu tidak lagi mengusir Io saat berada di depan tubuh saudaranya, Io malah menjadi sedikit penasaran kenapa kali ini ia tidak di usir. Apa karena kecelakaan kecil tadi dapat merubah sikap seseorang?
Tapi Io mengurung rasa penasaran itu untuk sementara waktu hingga ia selesai 'memperbaiki' kondisi tubuh saudara dari anak laki-laki tersebut.
"Bisakah aku meminta tolong sedikit kepadamu?" Tanya Io seperti tidak terjadi apapun. Anak laki-laki yang masih terdiam membeku di belakangnya hanya bisa melonggo memandangi Io.
.
.
.
Bersama dengan anak laki-laki itu. Io meminta bantuan untuk mengangkut tubuh saudaranya dengan gerobak jerami yang segaja di bawa Io saat ingin menemui anak laki-laki tersebut. Io telah mempersiapkan segalanya untuk dapat membawa tubuh anak itu menuju ke kediamannya yang tidak jauh dari tempat mereka ditemukan, sebuah bangunan di komplek pemakaman kecil yang berada di pinggiran kota.
Io mendorong gerobak jerami ukuran kecil yang biasa dibawa oleh wanita kota untuk membawa barang dagangan mereka ke pasar. Ia mendorong masuk ke dalam sebuah gudang tua, di bantu oleh anak laki-laki itu yang menariknya dari depan. Sesampai mereka di dalam gudang tersebut, Io telah mempersiapkan meja bedah darurat yang ia susun dari kotak-kotak kayu berjejer memanjang lalu di tutupi oleh kain putih di atasnya. Io bersama anak laki-laki itu meletakan tubuh saudaranya di atas.
Io menyuntikan di beberapa bagian tubuh anak kurus ini dengan larutan khusus. Lalu memaksakan dengan hati-hati tulang-tulang sendi pada tubuh anak tersebut untuk kembali lurus dan menekuk sesuai keinginannya. Io juga melakukan operasi kecil untuk menyempurnakan postur tubuhnya. Membuang organ yang telah membusuk dan menjahit kembali bagian yang masih dianggap bisa menjadi satu bagian dari dalam tubuhnya. Io membersihkan kulit anak tersebut dari lumpur dan tanah mengering maupun basah. Menyisir rambutnya yang mulai rontok dengan pelan, memberi polesan bedak dan riasan wajah yang membuatnya terlihat seperti seorang anak yang masih hidup dan sehat. Memakaikannya pakaian yang bersih dan juga sepatu layaknya anak-anak yang siap untuk bermain di luar. Io terlihat sangat puas dengan hasil 'polesannya' terhadap tubuh anak tersebut. Anak itu seperti terlihat tengah tertidur setelah kelelahan bermain, menutupi kebenaran dari penyebab sebenarnya kematian anak tersebut.
Io lalu pergi sejenak dari tubuh anak tersebut untuk mempersiapkan hal lainnya. Anak laki-laki yang sendari tadi duduk meringkuk menundukan wajahnya dengan muram di antara tumpukan jerami menyadari kepergian Io yang tidak lagi berada di dekat tubuh saudaranya. Penasaran dengan yang di kerjakan Io, anak laki-laki itu kemudian melihat kondisi saudara laki-lakinya.
Saat melihat tubuh saudaranya yang telah bersih dan tidak semenyedihkan sebelumnya. Air mata tiba-tiba keluar dengan derasnya dari sela bola mata anak laki-laki tersebut. Ia terisak cukup keras, meratapi kepergian saudaranya yang mengenaskan atas ketidak berdayaan mereka. Melihatnya kini seperti berbaring saat masih hidup, membuat anak laki-laki itu ingin meneriakan penyesalannya yang mendalam. Ia hampir saja mengubur saudaranya seperti bangkai hewan mati di tanah kosong yang becek dan kotor.
Di saat anak laki-laki itu meratapi kesedihan dan penyesalannya, ia mendengar suara benda yang di dorong kasar oleh seseorang memasuki gudang tersebut. Io tampak tengah bersusah payah membawa peti mati seukuran anak-anak dengan bahan kayu ringan. Ia tidak mungkin membawa peti dengan kualitas kayu yang bagus karena beban yang harus di bawanya akan berat untuk dirinya membawa sendiri. Terlebih lagi Io akan di introgasi jika satu peti dengan kualitas bagus menghilang dari gudang penyimpanan ini.
Mata Io dan anak laki-laki itu saling bertemu, Io tampaknya sudah mencapai batas untuk menyeret peti kayu ini ke tempat mereka. Ia jadi berharap tidak pingsan saat prosesi pemakaman nanti.
"Bisakah kau menolongku lagi?"
Anak laki-laki itu menghapus air matanya dan segera membantu Io untuk membawa peti tersebut. Tidak berhenti untuk istirahat, Io meletakan kain putih di dalam peti mati tersebut, lalu menaburkannya dengan berbagai macam bunga. Tidak masalah persediaan bunga segar di gudang ini menghilang, Io hanya tinggal beralasan bahwa bunga tersebut telah layu.
Dibantu lagi oleh anak laki-laki itu bersama Io, mereka memasukan tubuh saudara laki-laki anak tersebut kedalam peti, lalu menyisipkan rangkaian bunga berwarna orange di sekitar tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki lalu meletakan rangakain bunga tersebut di dekapan tangan anak tersebut. Prosesi memasukan tubuh jenazah ke dalam peti telah selesai, biasanya jika ini adalah prosesi upacara pemakaman asli pihak keluarga akan memberi rangkaian bunga dan doa terakhir mereka untuk yang meninggal. Tetapi sepertinya anak laki-laki ini telah melakukannya bahkan sebelum Io menemukan mereka sepertinya.
"Ada lubang makam yang kosong. Tuan August selalu membiarkan satu lubang kosong untuk sewaktu-waktu ada pemakaman di malam hari. Kita bisa mengunakannya, aku yang akan mengurusnya."
Anak laki-laki itu tidak lagi menentang apa yang di katakan Io. Ia hanya mengangguk siap membantu apapun yang di butuhkan Io untuk memakamkan saudara laki-lakinya.
Peti mati tersebut kemudian di angkat kembali menggunakan gerobak jerami dan membawanya ke tengah halaman pemakaman yang tertutupi kabut tebal menandakan sebentar lagi fajar akan menyingsi kalau mereka tidak segera memakamkan peti mati tersebut. Io tidak menyarankan untuk mengunakan lentera ataupun lilin agar tidak ada orang lain yang melihat mereka dan curiga dengan pemakaman ini. Dengan mengunakan kemampuan ingatan yang dimiliki Io yang menghafal tata letak lokasi pemakaman ini. Anak laki-laki itu mempercayakan Io menuntunnya di depan.
Setelah mendorong gerobak jerami dengan peti mati di atasnya hingga ke ujung pemakaman, akhirnya Io menemukan lubang yang di gali oleh sang pengali kuburan di pemakaman ini. Segera Io mempersiapkan tali untuk menuruni peti tersebut dengan bantuan pohon untuk mengikat ujung dari sisi lain tali tambang yang seharusnya di perlukan empat orang untuk menurunkan peti. Tapi saat ini hanya ada dua anak kisaran umur 12 dan 14 tahun yang melakukan prosesi pemakaman. Berharap ikatannya tidak lepas Io dan anak laki-laki itu perlahan menurunkan peti mati tersebut ke liang lahat, tempat peristirahatan saudara laki-laki anak itu yang terakhir.
Io kembali melempari kelopak bunga yang tersisa. Lalu memberikan sekop yang di siapkannya juga kepada anak laki-laki itu untuk menutupi peti dengan gundukan tanah. Butuh waktu hampir tiga puluh menit mereka melakukan penutupan galian tanah. Anak laki-laki itu melihat sebuah batu nisan polos yang telah hancur di bagian ujung sisi-sisinya. Ia tidak peduli apakah layak atau tidak batu tersebut untuk di gunakan, ia tetap menancapkannya di atas gundukan tanah yang masih basah. Tanpa sebuah nama yang tertulis di sana.
"Aku bisa meminjamkanmu alat ukir atau tinta jika kau ingin menuliskan namanya." Ucap Io menawarkan. Namun anak laki-laki itu mengeleng, wajahnya menjawab semuanya. Telah cukup hanya dengan ini ia memakamkan saudaranya dengan layak. Kini saudaranya tidak lagi menderita di jalanan yang kotor, ia dapat beristirahat dengan tenang di alamnya sekarang bersama belas kasih sang pencipta disisinya.
Anak laki-laki itu kemudian mengangkat tangan Io dengan sangat lembut seakan ia tidak berani menyentuh Io dengan tangan kotornya. Ia mengerakan jari telunjuknya di atas telapak tangan Io membentuk sebuah huruf.
T-E-R-I-M-A-K-A-S-I-H
M-A-A-F
D-I-A-A-D-A-L-A-H-A-D-I-K-K-E-M-B-A-R-A-N-K-U
kalimat itu yang di tuliskan oleh anak laki-laki itu di telapak tangan Io.
"Ini sudah tugasku." Jawab Io tidak mempermasalahkan apa yang telah terjadi.
Anak laki-laki itu kembali menuliskan sesuatu di tangan Io.
B-U-N-G-A-Y-A-N-G-K-A-U-B-E-R-I-K-A-N-U-N-T-U-K-N-Y-A-J-U-G-A-W-A-R-N-A-K-E-S-U-K-A-A-N-Y-A
Io sedikit bingung, "Warna?"
Anak laki-laki itu kembali menuliskan sesuatu.
N-A-M-A-K-U-A-R-D-E-N
S-E-M-O-G-A-K-A-U-S-E-L-A-L-U-D-I-L-I-N-D-U-N-G-I-D-A-N-P-E-K-E-R-J-A-A-N-M-U
Arden lalu tersenyum, sebelum pergi meninggalkan tempat ini, ia kembali berlutut menyentuh gundukan tanah makam kembarannya kemudian berdiri lalu menundukan kepalanya hingga akhirnya ia pergi meninggalkan Io dan tempat pemakaman ini.
Ini pertama kalinya Io mendapatkan ucapan terima kasih atas apa yang telah di lakukannya. Selama ini ia hanya membantu dan jika tidak sesuai keinginan Pria itu yang berprofesi sebagai perias jenazah, guru bagi Io, ia akan di pukul atau di tampar dengan kasar.
Io telah merasakannya sejak dirinya di tinggalkan oleh ibunya di depan pintu rumah seorang penjaga makam saat bayi, lalu di umur 7 tahun ia di rawat oleh seorang perias jenazah yang memiliki tempramen yang tinggi. Kekerasan, makian dan hinaan telah menjadi makanannya sehari-hari, terkadang ia telah kenyang dengan makannya itu tetapi mereka selalu memaksa Io untuk terus menerimanya.
Ia ingin merasakan perasaan yang sama seperti saat Arden mengucapkan terima kasih atas tugas yang di kerjakannya. Perasaan yang asing baginya tetapi menyenangkan. Io ingin merasakannya sekali lagi, jika ia bisa di akui sebagai perias jenazah profesional seperti pria yang mengasuhnya, apakah ucapan itu akan datang kepadanya lagi? Io menjadi tidak sabar saat membayangkan ekspresi orang-orang yang akan berterima kasih padanya. Ia ingin segera mengambil profesi perias jenazah itu sebagai penganti pria tersebut dan merasakan perasaan itu sekali lagi.
__[]__[]__[]__