Namaku Airi gadis berusia 15 tahun tinggi 145cm, aku memiliki kakak perempuan yang bernama Aura dia lebih tua 2 tahun dariku kami agak mirip atau mungkin sangat mirip mulai dari segi rambut, mata, hidung, mulut termasuk seluruh wajah. Kami seperti replika ibu dan anak atau mungkin saudara kembar
Namun hanya saja bentuk tubuh dan sifat kami benar benar berbeda 180drjt
Kami memiliki sifat bertolak belakang tapi menurutku kami berdua tetap bisa selalu bersama walau tak saling menyukai
Jika aku yang merupakan gadis ceria sama seperti ibu maka dia adalah gadis dingin seperti ayah, aku lebih suka menghabiskan waktuku dengan hal hal yang berguna ataupun hal yang membuatku bahagia apapun itu selama aku menyukainya aku selalu melakukan itu dengan sepenuh hati
Berbeda dengan Aura yang lebih pendiam dan tak suka melakukan apapun yang mengeluarkan banyak ekspresi dia juga lebih suka menyendiri dibanding bergaul dengan orang luar, sejak awal dia sudah seperti itu bahkan sampai ibu dan ayah meninggal dia tetap dingin terlebih padaku dia selalu tak pernah menganggapku ada.
Aku tak menyukainya karena mungkin aku merasa iri padanya, sejak kecil dia selalu mendapat pujian dan juga selalu di bangga banggakan oleh keluargaku lebih dari diriku dia selalu jadi pusat perhatian dan juga kesayangan keluarga
Walau ayah dan ibu tidak sedikit pun membedakan kami tapi aku tetap merasa perbedaan kami jelas adanya aku tidak tau ada apa dengannya dia selalu seperti itu dia bahkan tidak pernah memperhatikanku lebih dari semenit, itulah alasanku benar benar membencinya
Aku menyukai dia karena kagum padanya setiap saat aku mencoba seperti dirinya dan selalu menunjukkan hasil usahaku padanya tapi dia tetaplah dingin sedikit pun dia tak meperhatikanku dia bahkan tak pernah berbicara padaku, tatapan matanya seolah mengatakan kalau ia jijik karena ku selalu menggangu dia dan berharap aku enyah saja
Walau tak dia tunjukkan secara nyata namun ekspresi nya lah yang mengatakan semua itu
........
Saat sebelumnya aku pernah melihat dia mengeluarkan ekspresi wajah tersenyum dia terlihat cukup bahagia saat itu, senyumnya yang lebar dan juga sangat manis membuatku merasa senang dia sangat cantik
Namun saat aku melihat siapa orang yang membuatnya tersenyum aku malah menjadi hancur, baru pertama kali aku melihatnya seperti ini tapi malah karena hal sepele terlebih hanya karena orang lain yang tak penting dibanding kedua orang tuaku yang terus berusaha membuatnya berubah namun dia tak berkutib sedikit pun.
Aku sejak kecil sangat suka mendapat perhatian dari siapapun aku sangat suka mendapat kasih sayang dari siapapun, walau tak pernah di bandingkan tapi rasanya mereka tetap tidak adil karena mereka lebih tertarik dengan Aura kakak perempuan ku yang sangat dingin ini.
Saat usiaku 13 tahun penyakit yang ku derita kembali muncul penyakit yang cukup parah dimana kondisiku begitu lemah dokter mengatakan kalau keadaanku lebih buruk dari ini bisa saja aku mengalami kelumpuhan badan maupun ingatan karena itu aku harus lebih bisa menjaga diri, penyakitku ini muncul saat aku baru lahir
Karena penyakit ini aku kembali mendapat perhatian lebih dari keluarga bahkan Aura saat ini sudah mulai dekat denganku kata kata yang selalu ku dengar ejekan bahwa aku ini lemah dan tak berguna kini hilang dari mulutnya, tatapan nya selalu tertuju padaku walau dengan wajah datarnya setidaknya dia selalu berusaha terlihat baik dihadapan ku
Setelah sembuh aku mwnjalani kehidupan seperti biasanya, disekolah kami layaknya bukanlah saudara karena kami tidak pernah saling berbicara bahkan sekedar menyapa.
Aku selalu berfikir apa aku dan Aura benar benar saudara? maksudku walau kami hampir seperti saudara kembar namun sejak kecil aku tidak pernah bersentuhan dengannya bahkan kami berdua belum pernah makan bersama dalam satu meja, itu cukup membuatku merasa aneh sekaligus tertekan karena jika ini berlanjut sampai kami dewasa bukankah aku bisa saja membencinya suatu saat dan tak ingin melihatnya sepanjang hidupku?
Aku selalu memikirkan hal itu.
.........
Suatu hari kedua orang tua kami mengalami kecelakaan mobil saat melakukan perjalanan jauh untuk pekerjaan, saat itu aku merasa sangat terpukul karna kepergian mereka setiap jam menit bahkan detiknya aku tak berhenti menangis sampai aku bertemu dengan ayah ibuku untuk terakhir kalinya
Pikiranku saat itu kacau aku hanya ingin melihat mereka berdua, mereka benar benar pergi kali ini dan tak akan kembali lagi
Hari hariku berlanjut aku masih terpukul dan selalu mengurung diri di dalam kamar, aku merasa takut saat hariku tanpa ayah dan ibu aku selalu merasa mereka masih ada disini
Suatu hari Aura mengajakku keluar kamar untuk berbicara tapi aku selalu menolak sampai pada akhirnya kami berkelahi
Tok tok..
"Aira apa kita bisa bicara sebentar?" Tanya nya sesekali untuk terus memintaku keluar kamar, suaranya terdengar seperti biasa masih dengan nada datar tak begitu banyak tekanan darinya
"Aira keluarlah, makanlah sesuatu agar kau tidak sakit" pintanya lagi kini sudah berapa jam lamanya dia dibalik pintu kamarku apa dia tidak lelah, menggangu, aku saja sudah lelah mendengarnya aku tidak tahan lagi
"PERGILAH APA PEDULIMU MAU AKU SAKIT ATAU TIDAK TAK PERLU SOK PEDULI PADAKU" Teriakku yang kemudian kembali menangis tak tahan dengan semuanya dia tidak mengerti diriku sedikitpun tidak
"Tubuhmu saat ini sangat lemah jika kau tidak makan kau akan sakit lagi" lagi lagi suara datar nya kembali terdengar, aku muak aku seperti frustasi begitu saja. Aku bangkit dari tidurku lalu berjalan ke arah pintu kamar dengan membawa salah satu bantalku
Aku kemudian memukul mukul pintu dengan bantal itu dengan terus menangis berteriak meminta agar Aura menjauhiku aku ingin dia pergi tidak peduli dirumah ini hanya tinggal kami berdua aku benar benar tidak tahan dengan dirinya, aku berteriak memintanya pergi tapi sepertinya dia tidak mendengar dan tetap disana
"PERGILAH, jangan menggangguku kumohon" pintaku berhenti memukul pintu namun tetap menangis
"Aku perduli padamu" ucapnya lagi
"TIDAK bohong kau pasti bohong" bantahku setengah teriak
"Aku tidak ingin kau sakit, aku perduli padamu aku tidak ingin kau kenapa napa kau adikku" jawabnya lagi tanpa mendengar perkataanku
"Perduli? Haha kau perduli padaku? Apa kau perduli pada kedua orang tua kita hah?" Tanyaku dengan menahan tangis aku rasanya ingin marah dan langsung mendorongnya menjauh
"Tentu saja ak..." Jawabnya cepat
"Bohong, kau bohong. Kalau memang kau syg dan perduli kepada ayah dan ibu pasti saat itu kau sudah menangis saat mereka pergi, kau pasti menangis.." ucapku terpatah patah
"Kau pasti merasa sedih, INI TIDAK, KAU ADALAH MANUSIA TERBURUK KAU MANUSIA TERDINGIN YANG TIDAK MEMILIKI HATI JADI PERGILAH DARI SINI" teriakku kali ini aku seperti gadis gila aku melempar semua barang yang ada di kamarku
Bagai mana bisa aku hidup dengan manusia sepertinya dia tidak memiliki hati dan juga perasaan dia tidak perduli pada siapapun, bahkan saat kedua orang tua kami meninggal dia tidak sedih sedikit pun, bagaimana bisa manusia sepertinya bisa menjadi kakakku.
.......
Tahun tahun berikutnya pun datang, waktu begitu cepat berlalu dan sejak kejadian hari itu kami benar benar tidak pernah berbicara lagi, kami tumbuh dewasa dalam waktu singkat tak terasa kini kami benar benar berpisah, saat ini aku sudah tak lagi melihat nya tak lagi mendengar suaranya aku bahkan tak lagi mendengar suara langkah nya di rumah ini.
"Tunggu sampai kau dewasa... Aku akan pergi, aku janji" mungkin hanya itu ucapan terakhir darinya yang selalu ku ingat
Aku sedikit menyesal atas hari itu jika bisa aku ingin mengulang semuanya dan meminta maaf padanya, dunia benar benar jahat aku sangat rindu padanya aku ingin melihat dirinya lagi aku ingin seperti dulu lagi tapi kenyataan hidup ini menolak semuanya
Benar kataku apapun itu suatu saat aku pasti akan terus membencinya sampai dewasa, kenapa mereka berbohong kenapa tidak ada yang memberitahukan nya padak, mereka semua melakukan permainan ini tanpa sepengetahuan ku. Aku membenci kenyataan ini aku benci kalau kita harus berpisah aku benci saat tahu bahwa kau tidaklah nyata.
Benar kau tidak nyata tapi kenapa kau terlibat di hidupku, kenapa?
ya maap kalo ada kesalahan.
moga terhibur