Sudah tak terhitung Kenez bolak-balik ke tempat penerbit buku untuk mempublis karyanya. Seolah-olah Dewi Keberuntungan enggan untuk menaburkan sedikit keberuntungan, Kenez pun harus menerima kenyataan bahwa karyanya yang kesekian ini tidak dapat diterbitkan.
Gak usah ditanya bagaimana perasaan Kenez waktu itu! Sudah jelas pasti rasanya stres tak tertolong. Sebagai sesama penulis aku pun tahu betapa perihnya :v
Jika biasanya Kenez selalu menerima keputusan dari pihak penerbit, namun untuk kali ini Kenez mencoba untuk protes sebagai lambang tindakan karena tak terima karyanya ditolak.
"Kenapa ditolak lagi!? Bukannya kemarin anda bilang mau memberi kesempatan padaku jika aku menulis cerita lain?" Kata Kenez dengan nada ngotot sampai urat di lehernya tercetak jelas dipandang mata.
"Pakai nanya segala! Harusnya kau peka kenapa karyamu tidak bisa terbit!"
"Perasaan tulisanku tidak jelek-jelek amat! Bahkan aku pernah menang lomba menulis cerpen, tapi kenapa karyaku tidak bisa terbit?!"
"Jangan kau samakan dunia lomba dengan dunia penerbitan! Keduanya adalah konteks yang berbeda. Jika di dalam lomba menulis cerpen bebas, maka apa pun genre cerita yang kau tulis akan diterima dan tetap dinilai berdasarkan kriteria yang sudah ditentukan. Namun untuk masalah penerbitan, maka kami tidak asal-asalan. Kami perlu menyeleksi karya yang pantas karena kami menerbitkan buku untuk bisnis agar buku yang kami terbitkan bisa mendapatkan untung. Jika kami menerbitkan karyamu yang gak jelas itu, maka yang rugi adalah kami. Jujur saja, cerita buatanmu itu tidak akan laku dipasaran."
Selain terasa pedas didengar, rasa ingin menghantamkan tinju maut ke orang tersebut juga meningkat. Lalu terjadilah sebuah perkelahian antara mereka. Untung saja salah satu karyawan di penerbit buku itu segera memanggil satpam untuk menceraikan pertarungan tersebut.
Kenez diseret oleh dua satpam hingga dirinya berada di depan gerbang masuk tempat penerbitan buku. Dari situlah kata-kata penuh kutukan Kenez tujukan pada seluruh orang yang berkerja di situ. Sayangnya hal itu akan merubah keadaan. Yang ada Kenez hanya jadi bahan ejekan oleh satpam dan beberapa pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Setelah puas melempari kata-kata binatang pada pihak penerbit, Kenez pun mencoba menjauh dari situ. Baru satu langkah kaki dia bergerak, tiba-tiba dia kejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah tak asing di mata.
"Rinai! Lagi-lagi kita berjumpa di tempat seperti ini. Jika dilihat dari arah dia berjalan, sepertinya dia mau datang ke penerbit ini." Kata Kenez dalam hati.
Ini bukanlah pertama kali Kenez bertemu Rinai teman TK sampai sampai kuliah Kenez. Walau mereka sering bertemu saat di sekolah hingga kuliah, namun mereka belum pernah sekali pun bicara. Mereka cuma pernah tegur-sapa saja, namun tidak ada yang berani memulai pembicaraan.
Setelah menjawab sapaan dari Rinai pun Kenez langsung bergegas menjauh dari tempat tersebut. Sebenarnya Kenez penasaran dengan kehadiran Rinai di situ, namun karena saat itu rasa kesal dalam hatinya belum hilang, maka dia memilih untuk segera pulang.
Sebelum sampai di kosan, Kenez sempat mampir ke warung untuk membeli minuman ringan. Satu liter botol Coca-cola pun telah ia beli. Cuma merek minuman itu saja obat penyemangat dan penetral depresi.
Ketika sedang menunggu bus di halte, Kenez melihat seorang nenek-nenek yang kesulitan untuk memyeberang jalan. Tentunya bagi nenek-nenek setua itu sangat tidak mudah untuk menyeberang, apalagi kondisi jalan tiap detiknya selalu ada kendaraan yang lewat.
Merasa kasihan Kenez pun mencoba untuk menolong nenek itu. Kenez telah meninggalkan halte dan mendekati nenek tersebut.
"Butuh bantuan nek?"
"Oh boleh kalau cucu tidak keberatan."
Tanpa ba bi bu dituntunlah nenek itu menyeberang jalan. Hal ini di luar prediksi Kenez. Kenez pikir si nenek ini bisa berjalan secara normal. Namun nyatanya cara berjalan si nenek ini begitu lambat. Mungkin ini karena faktor usia yang menjadi penyebab.
Kenez yakin dia tidak akan segera sampai ke seberang jalan jika kecepatan berjalan nenek itu selambat ini. Maka dari itu terlintaslah niat Kenez untuk menggendong nenek itu agar mereka bisa ke seberang jalan dengan cepat. Tapi masalah belum berakhir sampai di situ. Timbulah masalah lain yang berupa pengendara motor dan mobil yang egois. Mereka para pengendara tidak memberi kesempatan Kenez untuk menyeberang.
Keadaan semakin memburuk setelah salah satu pengendara motor menyerempet Kenez hingga membuat Kenez dan nenek terjatuh. Ironisnya tak satu pun dari orang-orang di sekitar yang peduli.
"Woi tolongin woi!" Teriak Kenez.
"......"
Tak seorang pun yang peduli.
Mengharapkan rasa simpati pada orang-orang sampah seperti mereka murpakan sebuah pembodohan. Kenez-lah yang mengurus nenek itu sampai tuntas.
Mereka pun menepi ke sebuah kios yang sedang tutup. Di sana mereka beristirahat sambil memeriksa luka yang dialami nenek.
"Nenek terluka?"
"Nenek baik-baik saja cu. Terimakasih telah menolong nenek."
"Nenek yakin tidak terluka?" Nenek itu hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala untuk memastikan bahwa dirinya tidak terluka.
Merupakan sebuah keajaiban si nenek bisa lolos dari maut tanpa luka sedikit pun. Padahal mereka tadi hampir mati disambar kencangnya lajunya motor. Salah bergerak sedikit saja pasti mereka sudah tertabrak.
"Karena cucu adalah orang baik, maka nenek punya hadiah spesial untuk kamu cu." Kata si nenek sambil merogoh tasnya.
"Gak usah nek, aku ikhlas kok. Nenek gak perlu ngasih uang padaku!"
"Yee GR! Siapa juga yang mau ngasih uang? Kalau pun nenek punya uang, mending uangnya buat ke panti pijat aja hehe."
"Dih nenek bisa aja." Kata Kenez dengan senyuman yang dipaksakan.
Ternyata hadiah itu berupa sebuah buku berwarna hitam polos tanpa judul. Buku itu terlihat baru bagaikan baru lahir dari pabriknya.
"Nenek ingin kamu menerima ini."
"Ha buku? Ini buku tulis... Terimakasih nek."
"Tulislah seribu kebaikan di buku itu, maka hatimu akan melayang-layang di langit surga!"
Kenez pun tak paham apa yang dikatakan si nenek. Mereka pun harus terpisah karena jalan takdir masing-masing. Bagaikan tidak mau menyibukan lagi di jalanan, maka segeralah sampai ke kosan tempat Kenez tinggal.
Dengan perasaan lesu dan hampir putus asa Kenez menjatuhlan dirinya di atas kasur matras tempat biasa dia tidur. Tiada yang bisa dilakukan saat itu kecuali bermalas-malasan hingga berganti hari.
Malam harinya pukul 23.49 Kenez terbangun dari tidurnya. Kenez pikir hari sudah subuh ketika bangun, tapi setelah melihat jam di smartphone ternyata masing tengah malam.
Tidur sorenya tadi bagaikan telah mendapat energi alam untuk bangkit. Kenez yang tadinya berputus asa dan hampir menyerah untuk menulis cerita lagi, kini hal itu telah sirna oleh cahaya harapan yang menerangi penulis amatir itu.
Hanya saja kesialan Kenez di hari itu belumlah berakhir. Ketika Kenez mencoba membuka laptop untuk menulis cerita, tiba-tiba layar laptop miliknya menjadi hitam dan tidak bisa digunakan. Padahal dalam laptop tersebut ada banyak file tugas kuliah yang belum diprint.
Dan ketika Kenez mau beralih ke menulis di smartphone, ternyata daya baterai di smartphone itu tinggal 7% jadi sangat tidak mungkin Kenez menggunakan smartphone sambil mengisi daya.
Lalu kedua mata Kenez tertuju pada buku hitam yang tergeletak di atas meja belajarnya. Itu adalah buku yang tadi ia terima dari nenek. Dan terlintaslah pikiran untuk menulis cerita di buku itu. Lagipula saat itu Kenez sangat sedang bersemangat untuk menulis.
"Jika pihak penerbit selalu memandang buruk karya fantasi ciptaanku, maka aku akan menulis cerita fiksi berdasarkan kehidupan sehari-hari."
Proses penulisan telah berlangsung selama 27 menit. Waktu yang terbuang pun telah menghasilkan tulisan sebanyak 9 lembar. Bagi Kenez ini lebih cepat dari biasanya. Merasa belum puas, Kenez pun melanjutkan karyanya hingga dia benar-benar puas.
Berbeda dengan karya sebelumnya yang cenderung ke genre fantasi, kini Kenez mencoba menulis genre kehidupan sehari-hari yang latar tempat dan tokohnya berdasarkan dari kehidupan nyata.
Tak terasa sang mentari telah memancarkan sinarnya secara malu-malu. Sinar tersebut sedikit masuk dari celah ventilasi.
"Oh sudah pagi."
Kenez beralih dari meja belajarnya untuk membuka pintu agar udara pagi yang segar mengisi ruang hampa itu.
"Padahal aku memberimu buku itu agar dirimu menuliskan kebaikan dan harapan. Eh ternyata kau malah menulis cerita panjang." Tiba-tiba terdengar suara misterius.
"Eh siapa itu?!" Kenez pun kaget. Sontak saja Kenez berbalik badan dan mencari sumber suara tersebut. Dan betapa terkejutnya Kenez setelah Kenez tahu sumber suara itu berasal dari siapa.
"Eh nenek! Kenapa nenek bisa ada di sini? Dan nenek lewat dari mana? Cuma ada satu pintu masuk di ruangan ini."
"Sepertinya sudah saatnya untuk mengakhiri penyamaran ini." Kata nenek itu sambil bangkit berdiri dari kursi yang sebelumnya dipakai Kenez.
Mulai detik itu juga seluruh tubuh Kenez merasa merinding seperti melihat hantu. Dari situ Kenez mulai sadar jika nenek-nenek ini bukanlah manusia.
Sebuah cahaya hitam secara samar terlihat di sekeliling nenek itu. Tiap detiknya cahaya hitam yang samar itu berubah makin pekat hingga membungkus seluruh tubuh si nenek.
Dari cahaya hitam itulah si nenek merubah wujudnya menjadi lebih muda yang cantik. Meskipun terlihat cantik, namun berasa ada unsur horor tersendiri di balik wajah cantiknya.
Nenek itu terlihat lebih muda seperti wanita berumur 28 tahun. Wanita itu melayang di udara dengan sepasang sayap hitam yang menempel di belakang punggungnya.
Semua yang menempel di tubuhnya berwarna hitam seolah-olah melambangkan sebuah gelapnya takdir dunia.
"Kau... Siapa...?" Kata Kenez dengan kedua kakinya yang gemetaran. Kenez ingin lari sejauh mungkin dari situ, hanya saja kedua kakinya bagaikan membatu menyatu dengan bumi dan tak bisa digerakan. Keberadaanya Kenez di situ pun karena terpaksaan.
"Namaku Lozerta. Aku adalah Dewi Penentang Takdir."
"Ada perlu apa kau denganku? Jangan ganggu aku!!"
Dewi Lozerta pun tersenyum kecil melihat rasa takut Kenez yang berlebihan. Lalu Lozerta pun menghilangkan sayapnya dan turun menyentuh lantai selayaknya manusia pada umumnya.
"Karena kau telah menerima dan menggunakan buku takdir pemberianku, maka mulai hari ini aku adalah rekanmu."
"Rekan? Apa maksudnya?"
"Buku yang kuberikan tadi siang bukanlah buku biasa. Itu adalah buku takdir milik para dewa-dewi. Dengan buku tersebut kau bisa menulis takdir seseorang sesuka hatimu....."
"Maksudmu apa pun yang kutulis bisa menjadi nyata gitu? Hm yang benar saja!? Mana ada hal seperti itu di dunia ini!? Sesuatu yang indah tak mungkin dengan gampang didapatkan tanpa adanya pengorbanan."
"Kau ini sama saha dengan manusia lain yang selalu meragukan perkataanku. Baiklah kalau tidak percaya. Sekarang aku akan lihat apa yang kau tulis di sini." Lozerta sedang membaca cerita yang ditulis Kenez. Setelah membaca beberapa lembar, lalu berkatalah Lozerta, "di sini kau menulis bahwa seseorang gadis bernama Lessy telah mati bunuh diri akibat frustrasi karena dipecat dari tempat kerja kan?"
"Memang kenapa?"
"Maka hal ini akan terjadi sesuai dengan cerita yang kau tulis."
"Itu mustahil! Gadis bernama Lessy itu cuma tokoh fiksi. Walaupun aku menulis setting tempat itu berdasarkan dunia nyata, tapi tidak semua tokohnya adalah tokoh nyata. Beberapa tokoh fiksi sengaja kubuat untuk meramaikan cerita."
"Cepat atau lambat kau akan menyadari jika yang ditulis di buku ini akan menjadi nyata."
"Meskipun kau seorang dewi atau mahluk gaip apa pun itu, aku tidak akan mudah percaya.
Siang harinya ketika Kenez mencoba pergi ke tempat penerbitan buku lain, secara kebetulan dia melewati tempat penerbitan yang kemarin Kenez di tolak. Langkah kaki kenez terhenti seketika begitu melihat seorang gadis yang beridiri di depan gedung percetakan itu.
Wajah gadis itu nampak sedih dipenuhi rasa putus asa yang mendalam. Dia mengeluarkan air mata sambil memandangi gedung percetakan itu. Kenez kira gadis itu baru saja ditolak naskahnya seperti dirinya kemarin. Namun dugaan itu ternyata salah.
"Hei kau nampak tidak baik. Ada masalah apa?" Tanya Kenez.
"Tahukah kamu bahwa takdir kejam ini tidak bisa dipatahkan? Seolah-olah seperti mata rantai yang akan terus terhubung tanpa ada ujungnya."
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan."
"Sangat konyol jika aku dipecat karena tidak sengaja menumpahkan secangkir kopi pada atasanku...."
"Oh jadi kamu sebelumnya pernah bekerja di sini dan... "
"Dan aku dipecat! Mereka bilang aku tidak berguna. Mereka bilang aku ini beban seperti Haruno Sakura. Sewaktu kerja aku juga sering dibully hanya karena dulu aku keterima kerja di sini karena orang dalam."
"Bukan masalah kau keterima karena orang dalam. Asalkan kau memang mempunyai keahlian di bidang tersebut dan serius bekerja, bagiku itu tidak masalah."
"Begitukah menurutmu? Tapi fakta telah berkata lain. Aku memang tidak berguna. Jika aku tahu kalau aku akan diperlakukan seburuk ini, maka dari awal aku memilih untuk tidak dilahirkan."
"Jangan bodoh! Hidup itu tak selamanya buruk. Harapan itu akan selalu ada dan ada selama kita mengharapkan."
"Kata-kata seperti itu terdengar membosankan. Pada akhirnya kata-kata tersebut hanya bersifat kebohongan semata. Mungkin kau bisa membohongiku, tapi kau tidak akan bisa membohongi takdir."
Tiba-tiba Kenez terkejutkan oleh kehadiran mahluk tak terlihat. Mahluk itu terbang dengan kedua sayap berwarna hitam. Secara perlahan dia turun menginjak bumi, lalu mendekat ke arah Kenez.
"Kau lagi... "
Lozerta pun tersenyum kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Kenez dan berkata, "gadis ini adalah Lessy yang ada di ceritamu."
"Tidak mungkin. Pasti ini cuma kebetulan saja. Tapi bagaimana bisa sosokmu yang mencolok sama sekali tidak membuat perhatian mereka tertuju padamu?"
"Karena hanya kamu dan orang yang punya mata batin yang bisa melihatku."
Barulah ingat jika kejadian siang ini mirip dengan kejadian yang Kenez tulis di buku itu. Namun waktu itu Kenez memilih cuek dan membuang pikiran aneh itu jauh-jauh.
Tapi si Lozerta terus mebisikan kata-kata yang menjerumus ke alur cerita yang Kenez buat. Dan rasa penasaran itu pun muncul hingga Kenez memberanikan dirinya untuk menanyakan nama gadis itu.
"Kalau aku boleh tahu siapa namamu?" Tanya Kenez.
"Lessy." Jawab gadis itu secara singkat dan jelas. Seketika saja kedua mata Kenez melotot karena kaget. Kemudian dia melirik ke arah Lozerta yang berdiri di belakangnya dengan senyuman menakutkan.
"Ini mustahil! Mana bisa begini?!" Kata Kenez dengan nada khawatir.
Lalu berkatalah Dewi Lozerta, "dan kematian pun tiba."
Entah sejak kapan gadis bermana Lessy itu sudah memegang sebuah pisau dapur di tangannya. Kenez tidak menyadari hal itu karena dia terlalu sibuk memutar otak.
Dan dengan pisau itulah nyawa Lessy keluar dari raganya. Pisau itu merobek leher Lessy hingga tetesan darah bercuucuran membasahi jalan. Seketika saja tubuh Lessy ambruk bagaikan boneka tali yang diputus talinya.
Kejadian itu telah membuat Kenez sok hingga dirinya tidak doyan makan selama seharian. Kini tidak bisa dipungkiri lagi kata-kata dari Lozerta sang Dewi Penentang Takdir.
Pagi berikutnya Kenez sengaja tidak masuk kuliah karena jiwa dan pikirannya tidak bisa tenang. Selain itu Lozerta terus saja mengikuti ke mana pun Kenez pergi. Hal itu tentu saja membuat Kenez tidak nyaman.
"Bagaimana? Masih menyangkal dengan buku takdir itu? Semua yang kau tulis di situ akan menjadi nyata. Makanya sewaktu aku memberikan buku itu padamu, aku memintamu menuliskan kebaikan dan harapan. Tapi kau justru menulis cerita aneh yang penuh kesedihan." Kata Lozerta yang sedang duduk manja di atas meja belajar.
Lalu Kenez yang terduduk di kasur matras pun bangkit berdiri dan berkata, "Kenapa kau baru bilang setelah aku selesai menulis cerita itu?! Padahal jika dari awal kau memperingatkanku tentang buku itu, pasti aku tidak akan menulis cerita seperti itu!" Kata Kenez dengan marah.
"Aku sengaja tidak memberitahu apa-apa karena aku pikir kau ini orang baik karena telah menolongku sewaktu aku menyamar menjadi nenek-nenek. Kupikir orang baik akan menulis hal yang baik juga, eh ternyata orang baik pun juga bisa menulis keburukan. Sekarang terserah padamu mau menerima buku itu atau tidak. Jika kau tidak mau, berikanlah buku itu pada orang yang tepat, jika kau tidak ingin dunia ini hancur oleh ego si penulis takdir."
Ini adalah awal bagi Kenez sebagai penulis takdir. Dia menerima dirinya sebagai penulis takdir.
"Baik, aku mau menjadi penulis takdir. Aku sudah muak dengan takdir kejam pada tiap manusia terutama takdirku sendiri. Mulai detik ini akan kuubah daktir waktu yang memuakan." Kata Kenez.
"Pilihan yang tepat. Tapi ada hal yang perlu kau tahu. Merubah takdir mutlak itu ada risikonya."
"Risiko?"
"Takdir itu ada yang boleh diubah dan ada yang mutlak tak boleh diubah. Jika kau tetap nekad merubah takdir mutlak, maka dosamu akan digandakan sepuluh kali lipat tiap takdir yang kau tulis. Misalnya jika kau menulis takdir kematian seseorang, maka dosa orang tersebut akan menjadi milikmu. Dosa orang yang kau ubah takdirnya akan menjadi milikmu. Jadi apa kau serius mau menjadi penulis takdir?"
Dengan santai dan senyuman percaya diri Kenez menjawab, "tentu saja aku tidak keberatan. Apa pun akan kulakukan demi merubah takdir kejam dunia ini."
"Gunakanlah buku itu secara bijak! Tulislah kebaikan maka kau akan menuai kebaikan! Jangan menulis takdir yang membuat dosamu bertambah!"
***