K H I D M A T
Ku hela nafas perlahan di kala dinginnya pagi, kepalaku terasa pening, dadaku sedikit sesak, lalu kerongkonganku begitu kering dan rasanya agak perih.
Ku coba untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya sedang terjadi, ini bagaikan mimpi namun terasa begitu nyata.
Entah apa yang merasuki ku malam tadi, ku pikir aku telah melakukan kesalahan membuat Silma menangis seorang diri di kamar, tapi apa yang terjadi? Aku hanya mengingat sekilas, yang ku ingat aku begitu marah pada Silma, namun aku tidak tau pasti apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Silma.
"Astaga, jam berapa ini?" Ku lihat jam di tanganku, menunjukkan pukul 08.00 pagi.
Rupanya aku sudah terlambat, bagaimana bisa Silma membiarkanku tertidur pulas seorang diri di ruang tamu, bahkan ia tidak membuatkanku sarapan pagi ini.
"Aish sial, terserahlah aku harus segera pergi ke kantor". Pikirku dalam hati.
Aku bergegas meninggalkan rumah untuk segera pergi ke kantor, ku lihat sekeliling masih tidak ada yang berubah, masih sama persis seperti waktu pertama kali aku datang ke sini, debu dan polusi masih bertebaran, orang-orang berlalu lalang, lalu kemacetan berada dimana-mana.
Sembari berjalan menyusuri jembatan layang ku coba mengingat kembali apa yang terjadi antara aku dan Silma, sepertinya alkohol telah membuat ku kehilangan ingatanku tentang Silma.
"Heh". Seseorang tepat berdiri di sampingku, menyadarkan ku dari lamunan.
"Teh Dian, ngapain di sini?" Ucapku perlahan.
Dia adalah kakak perempuanku, rupanya diam-diam ia mengikutiku dari rumah.
" Aku khawatir, takut kamu kenapa-kenapa di jalan". Ucapnya santai, meski begitu aku dapat melihat kekhawatiran di raut wajahnya yang cantik.
"Aku sudah menikah loh teh, memang nya khawatir kenapa? Aneh!" Tanya ku sedikit heran.
" Kamu ngga apa-apa? Sudah mengambil keputusan kah? lalu, kamu mau pergi kemana dengan pakaian seperti itu?" Tanya teteh.
Jujur aku sedikit bingung, aku sendiri tidak mengingat apapun yang terjadi antara aku dan Silma, dan memang pagi ini aku tidak melihat Silma dimanapun.
"Aku mau beker-". Ucapan ku sontak terhenti tatkala melihat pakaianku yang sembrawut, dengan kaos oblong, celana kolor serta sendal yang berbeda sebelah.
Teteh memeluk erat tubuhku sembari menangis pilu.
"Ini hari minggu, Ai. Perempuan itu benar-benar laknat, ia telah membuatmu hancur seperti ini, aku tidak akan pernah memaafkannya".
"Aku masih tidak mengerti dengan apa yang Teteh bicarakan". Ucapku perlahan, dadaku terasa sesak, hatiku sakit sekali, tak sadar air mataku berlinang begitu saja.
"Ai laki-laki Teh, ibu bilang Ai ga boleh nangis. Tapi Ai sakit". Ucapku terbata-bata.
"Tak apa, menangislah. Aku tau air matamu adalah air mata kejujuran, kau tak pernah menangis seberat apapun ujian yang kau dapat, kau tak pernah sekalipun mengeluh, kau boleh menangis sekeras-kerasnya agar hatimu sedikit tenang".
Aku begitu terpukul manakala bayangan Silma muncul di kepalaku, aku mengingat betul bagaimana aku tersenyum bahagia menatap sebuah tespek yang tergeletak di bawah bantal tempat tidur ku, ku pikir ia telah menyiapkan kado untuk ulang tahunku hari ini, jelas ini kado terbaik sepanjang hidupku, kado terindah di usiaku yang ke 25 tahun.
Benar, aku dan Silma telah menikah satu bulan yang lalu. Aku sangat mencintainya meski kami berpacaran terbilang sangat singkat. Kami menjalin hubungan selama satu bulan, itupun berjauhan, Silma di Bandung dan aku bekerja di Jakarta. Aku hanya pernah bertemu Silma satu kali, lalu di pertemuan kedua aku memberanikan diri untuk datang langsung ke rumahnya menemui orang tua nya dan berniat untuk segera menikahinya, dan di pertemuan selanjutnya kami menikah.
Tidak ada waktu untuk kami saling mengenal satu sama lain. Selama satu bulan ini tidak ada yang berubah dalam diri Silma, kami hidup bahagia seperti pasangan suami-isteri pada umumnya. Setiap pagi ia bangun dan membuatkan ku sarapan, mencucikan pakaianku, bahkan kami sholat berjamaah setiap hari, rasanya sangat bahagia sekali rumah tanggaku di penuhi dengan cinta dan kasih sayang dari sosok perempuan sempurna seperti Silma.
Hingga hari itu tiba, hari ulang tahunku yang ke 25, entah sengaja atau tidak ku temukan sebuah tespek yang tergeletak di bawah bantalku. Aku berteriak dengan senyum lebar yang merekah di bibir ku.
"Sayaaaang, terima kasih ya kadonya. Aku senang sekali, akhirnya aku akan menjadi seorang ayah" Ucapku penuh dengan kebahagiaan.
Silma hanya tersenyum tipis, ia seakan merasa tak senang dengan
ekspresi yang ku tunjukan.
"Ada apa? Kamu hamil kan sayang? Kamu mau makan apa? Ayok bilang, nanti siang aku beliin". Aku begitu bersemangat. Tidak ada hari yang lebih baik dalam hidupku selain hari ini.
"Aku cuma mau tidur aja seharian, tolong jangan di ganggu". Ia bergegas pergi ke kamar dengan nada sinis, tapi aku cukup memaklumi ia sedang hamil muda, mungkin moodnya memang sedang kurang baik. Karena yang ku tau Teh Diana pun dulu seperti itu waktu ia mengandung bayi Cantika.
BRAK !
Ku dengar suara Silma di kamar, ia seperti tak sengaja menjatuhkan sesuatu. Aku segera berlari menghampirinya dengan perasaan khawatir.
Ku lihat ia tergeletak pingsan dengan darah yang mengalir dari tangan kanannya.
"Sayang, bangun ! kamu kenapa?". Aku segera mengangkat tubuh Silma, dan membawanya ke rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit, dokter segera menanganinya. Aku meminta dokter untuk mengecek kandungan Silma. Khawatir terjadi sesuatu pada calon anakku.
Aku di buat bingung, Silma melakukan percobaan bunuh diri setelah mengetahui dirinya hamil. Bukankah itu aneh? Apakah dia tidak ingin hamil? lalu kenapa tidak membicarakannya padaku langsung saja? Kenapa harus dengan bunuh diri? Ia membuat ku khawatir sekaligus bertanya-tanya.
"Bapak Fadly!". Dokter memanggil namaku, seketika tubuh ku terkesiap untuk berdiri.
Entah sejak kapan ia berdiri mematung tepat di hadapanku, pikiran ku benar-benar kacau sehingga tidak menyadari kehadiran nya.
"Iya dok, bagaimana keadaan istri dan bayi saya?" Tanyaku sedikit panik.
"Istri dan anak bapak baik-baik saja, istri bapak sudah sadar. Oh ya pak, selamat ya kandungan istri bapak sudah memasuki usia 3 bulan, mohon di bantu agar istrinya tidak mengalami gangguan stres. Baik, pak kalo begitu saya permisi". Dokter berlalu pergi begitu saja setelah mengatakan fakta yang sebenarnya.
"3 bulan?" Kaget bukan main, tubuhku mematung seketika, perasaan ku kacau dan campur aduk. Perasaan yang tidak dapat di gambarkan dengan kata.
2 minggu kemudian dokter memperbolehkan Silma pulang, entahlah kecewaku terhadap Silma membuatku mati rasa, ku pikir aku harus segera mencari tau apa yang sebenarnya terjadi pada Silma. Ku pasang aplikasi untuk menyadap chat pribadinya, aku juga membobol semua akun media sosialnya tanpa sepengetahuan Silma, dan mencari tau kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dari ku. Meski begitu, seakan tidak terjadi apa-apa, Silma pulang dengan senyum yang merekah di bibirnya, ia seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi padaku maupun pada dirinya.
"Maaf, aku membuat mu khawatir". Ia memegang erat tanganku dengan gemetar, seolah tau apa yang selama dua minggu ini ku pikirkan.
***
KRING !
Satu pesan masuk dari kontak WatsApp milik Silma, rupanya Silma diam-diam di belakang ku menghubungi seseorang.
("Iya sayang, kenapa?".) Isi pesan tersebut membuat hatiku kaget sekaligus penasaran. Perasaanku mulai tidak karuan.
("Aku hamil, sudah 3 bulan. Dan ini anak kamu".)
DEG !
Hatiku seperti di sambar petir,
"Silma mengkhianati ku? Tega sekali!". Pikirku dalam hati.
(" Apa? Jangan ngada-ngada, kamu sudah menikah! tidak ada hubungannya lagi denganku! lagipula hari itu aku membayarmu sesuai dengan nominal yang kamu minta, kenapa tiba-tiba menghubungi ku untuk mengatakan hal yang tidak-tidak?".) Ucap pria di pesan itu, dengan nama kontak Agam.
Aku masih dengan serius menyimak isi percakapan tersebut tanpa Silma sadari.
"Dia benar-benar wanita Ular, ah bukan seperti Anjing, dia laknat!lalu bayi itu? Anak nya Agam? bukan anakku? lalu, selama ini dia menganggap ku apa? bahkan ia tidak memiliki rasa hormat terhadap ku, suaminya!". Tanpa sadar tubuhku bergetar hebat menahan amarah yang saat ini menguasai ku. Rasanya aku ingin sekali membunuh nya. Wanita jalang itu.
Selama ini aku menikahi wanita jalang yang menjual dirinya demi uang, lalu selama aku mengenalnya dia sudah hamil duluan? dia menjebakku? bahkan pesan selanjutnya berisi jika ia sama sekali tidak mencintai ku, lalu apa yang sedang ia lakukan di rumahku? jika ia tidak mencintai ku mengapa ia mau aku nikahi?
Perasaan ku hancur sehancur hancurnya, dengan amarah yang terus memuncak aku segera menemui Salma di rumah ku, tidak peduli jika aku harus di pecat dari kantor, pikiran ku saat ini fokus pada wanita jalang itu, aku tidak dapat berfikir jernih lagi.
"Jalang! keluar kau!". Aku berteriak di rumahku sendiri, Diani ku minta tinggal bersamaku sejak Salma masuk rumah sakit untuk menjaga nya agar ia tidak kembali melakukan percobaan bunuh diri. Diani keluar dari dapur untuk segera menemuiku.
"Kenapa Ai? ada apa? Salma sedang istirahat di kamar". Kata Teh Diana.
Aku segera masuk ke kamar dan mengunci pintu, Teh Diani mengikuti ku dari belakang, namun ia tak sempat ikut masuk ke dalam kamarku. Ku lemparkan semua barang yang ada di hadapanku, ku pukul kaca lemari dengan tangan kosong hingga membuatnya berdarah.
"Apa ini?". Ku lempar ponsel milikku mengenai wajahnya.
Salma mengambil ponsel itu dan membukanya, ia kaget mengetahui bahwa ponselnya terhubung dengan ponselku. Sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya ia menjelaskan segalanya.
"Maaf Ai, aku tidak pernah mencintaimu!" Ucapnya dengan nada rendah.
"Tidak mencintaku kau bilang? lalu kenapa kau mau aku nikahi? Apakah pernikahan hanya sebuah lelucon bagimu? iya? begitu? gila, kau jalang! aku menghalalkanmu tapi kau memilih untuk menjual dirimu, kau jalang tidak punya harga diri". Aku berteriak dengan lantang, tak peduli jika ucapanku membuatnya terluka, aku tidak peduli lagi sedikitpun, hanya ada rasa jijik di benakku.
Dia menangis keras di hadapanku, tak sepatah katapun ia ucapkan kembali, ia membisu seperti patung. Menatapnya berlama-lama membuatku muak.
"Pergi kau dari rumahku! dengan sadar ku talak kau malam ini juga". Aku segera meninggalkan kamar yang berantakan, ku lihat kakakku sedang duduk di kursi depan, ku rasa ia mendengar semuanya.
Aku pergi melewatinya begitu saja. Angin malam begitu dingin ku rasakan, bahkan hujan sangat lebat membasahi ibu kota.
" Aghhh !". Aku berteriak di tengah jalan yang sepi, bersama motor yang ku tumpangi, suara hujan bergema bersamaan dengan teriakanku.
Aku tak percaya perempuan lagi, semuanya laknat. Mereka dapat memanipulasi keadaan, berpura-pura bahagia hidup bersama nyatanya semua palsu.
Sejak malam itu, aku tidak lagi melihat Silma. Bagiku Silma sudah mati.