Aku telah pacaran selama dua tahun dengan lucy, gadi cantik yang ku temuai di pemakaman nenek ku, namun hingga kini aku tak perna datang ke rumah lucy, setiap kali aku ingin mampir ke rumahnya ia selalu memberikan alasan seperti ayahnya galak atau ibunya tak suka bertemu orang asing.
Alasan bodoh macam apa itu, namun meski aku tak mempercayai ucapan lucy aku tetap menghargai keputusan lucy, mungkin ia belum siap untuk memperkenalkan ku pada keluarganya, jadi aku pun tak pernah memaksa untuk datang ke rumahnya .
Berbeda dengan lucy aku sangat bersemangat untuk mengenalkannya kepada keluarga ku, setiap acara keluarga aku selalu membawa lucy bersama ku untuk memebuatnya bisa lebih akrab dengan keluargaku.
Sama seperti hari ini setelah mata kuliah berakhir aku mengajak lucy untuk mampir ke rumah, setibanya di rumah lucy menyapa orang tua ku dan bermain dengan adik perempuan ku di taman, ia terlihat jauh lebih terbuka dan akrab dengan keluarga ku jika di banding pertama kali aku mengakjaknya ke rumah.
Saat pertama kali aku mengajaknya ke rumah ia terlihat sangat canggung dan anehnya adik ku yang saat itu masi berumur tiga tahun selalu menangis ketakutan saat bertemu dengan lucy, sesekali adik ku bahkan mengatakan lucy lebih menakutkan dari penyihir yang memberi apel ke pada snow white di bukunya, jika di ingat lagi itu lucu sekali, melihat mereka bahkan bisa bermain sampai mengabaikan ku yang duduk di antara mereka berdua.
Hari mulai sore aku memutuskan untuk mengatar lucy pulang, tentunya aku tak mengantarkanya hingga depan rumahnya aku hanya mengantarkannya di persimpangan jalan tak jauh dari lorong menuju rumah lucy.
“kapan aku bisa mampir ke rumah mu” tanya ku iseng “tunggu sebentar lagi saat semua ini berakhir aku akan membawa mu ke rumah ku”
“apa maksutnya?, menunggu apa?” tanya ku penasaran, “maksud ku…. Tunggu saat aku bisa meyakinkan orang tua ku untuk bertemu dengan mu hhhh”
“baiklah sesui permintaan mu tuan putri, aku akan menunggu” aku memberikan kecupan di kening lucy dan ia pun segera keluar dari mobil dan bergegas pergi.
Aku pulang ke rumah setelah membeli beberapa buah permen coklat untuk adik ku, “ ini coklat mu” kata ku sambal menyerahkan permen coklat di dalam kantung pelastik.
“dodo 3 mati” kata adik ku dengan wajah murung, dodo adalah kucing peliharaan adik ku, itu adalah kucing ketiga yang mati di tahun ini, “bagai mana bisa mati lagi?” tanya ku
“sama seperti dodo 1 dan dodo 2, dodo 3 juga mati keracunan di bawah tempat tidur. Jelas-jelas tidak ada makanan beracun, atau makanan busuk di rumah kita” “sekarang di mana dodo 3?” tanya ku
Adik ku masuk ke kamarnya dan kembali dengan membawa tubuh kucing malang itu di pelukanya, ya terlihat sama dengan dodo-dodo sebelumya, kucing itu mati dengan mata membelalak dan mulut yang penuh dengan lendir berwarna hitam.
“apa kakak tidak curiga, sebelum dodo1, 2, dan 3 mati mereka mengeong dengan keras pada kak lucy seperti merasa terancam” adik ku menatap ku serius “jangan bicara omong kosong, meski lucy tak menyukai kucing ia tak mungkin meracuninya”
“tapi kak, kata teman ku cairan di mulut dodo mungkin bukan racun tapi sihir” “hahah ya ampun adiku yang manis jangan terlalu sering menonton snow white, bagai mana mungkin di jaman sekarang ada sihir hahah dasar anak kecil”, adiku menatap ku yang masi tertawa geli dengan wajah kesalnya.
“tak apa aku akan membelikan dodo ke 4 untuk mu di hari ulang tahun mu nanti” aku mengelus kepala adik ku penuh rasa sayang dan melangkan menuju kamar
“tunggu joe” ibu menghampiriku dengan sepucuk amplop berisi undangan, “talong berikan ini pada lucy nanti, tadi ibu lupa memberikannya, besok acara sukuran pembukaan cabang perusahaan ayah seluruh keluarga akan hadir jadi sepertinya lucy juga harus hadir ya kan” ibu tersenyum menggoda ku
“hhh aku akan mengantarnya”, “tidak perlu buru-buru acaranya besok malam jadi kau bisa memberikan undangannya nnti pagi pada lucy”
“tak apa bu, rumah lucy tak terlalu jauh jadi aku bisa mengantarkannya sekarang” “ya sudah terserah kau saja” ucap ibu yang langsung melangkah kembali ke dapur.
Aku tiba di persimpangan jalan tempat biasa aku menurunkan lucy, tapi kali ini aku terus membawa mobil ku masuk ke lorong menuju rumahnya, tak seperti tempat lainya, tak terlalu banyak rumah di sekitar sini hanya terlihat banyak bangunan-bangunan tua di sepanjang jalan.
Aku tiba di rumah yang tak terlalu besar di penghujung jalan, ya aku sering melihat rumah itu di foto- foto lucy, aku yakin ini adalah rumahnya. lampu teras rumah mati namun aku bisa mendengar suara orang berbincang dari dalam rumah, aku turun dari mobil dan melangkah ke depan rumah dengan rasa gugup, aku melihar jam tangan ku tepat jam 11:11.
Setelah aku tiba di depan rumah, suara-suara itu semangkin jelas, namun itu lebih terdengar seperti dengkuran atau suara hewan buas, aku mendekatkan telingaku karna penasaran, tak lama kemudian aku mendengar suara lucy yang berbicara dengan Bahasa yang tak ku mengerti, bukan bahkan Bahasa yang tak pernah ku dengar sebelumnya.
tiba-tiba pintu terbuka lebar, aku melihat banyak potongan tubuh manusia di antara makhluk-makhluk bertanduk dengan tubuh hampir tertutup asap hitam pekat di hadapan lucy yang membelakangi pintu. “iblis” ucap ku lirih dengan jantungku yang hampir meledak ketakutan aku yakin makhlik-mahkluk itu adalah iblis yang ku baca di buku sejarah yunani beberapa hari yang lalu.
Sontak lucy menoleh ke arah ku dengan kaget, sekilas aku dapat melihat mata lucy yang berwarna merah seperti iblis-iblis itu berubah kembali menjadi hitam, “ JOE LARI!!!!” teriak lucy, aku terdiam kaku tak bisa menggerakan tubuh ku, aku tak bisa berfikir jernih sekarang, aku ingin lari namun tubuh ku tak bergerak sedikit pun karna rasa kaget dan takut yang sudah menyelimuti sekujur tubuh ku.
Makhluk-makhluk itu dengan cepat mendekati ku, lucy berteriak dengan Bahasa aneh itu lagi, seakan melarang iblis-iblis itu mendekati ku, namun mereka tak menghiraukan perkataan lucy.
Iblis-iblis itu memegang tubuh ku dengan kuku- kuku tajam mereka dan mulai mengoyak dan menggigit tubuh ku, tangisan dan teriakan lucy terdengar jelas di telinga ku hingga akhirnya rasa sakit mengantarkan ku menemui kematian ku yang tragis…..
-TAMAT-