Akbar Fatahillah, seorang pemuda berusia 25 tahun. Demi mengabulkan wasiat terakhir, almarhumah Ibu nya, yang memintanya untuk segera menikah dan mempunyai anak. Ia pun bertekad mencari sorang wanita yang baik dan salihah untuk dinikahi.
Pekerjaan nya sebagai Guru mengaji, dengan penghasilan sedikit, membuat para orang tua yang mempunyai anak gadis, enggan untuk menjodohkan nya dengan anak mereka. Hanya sedikit orang tua, yang menyadari betapa mulia nya pekerjaan Akbar itu. Sayangnya, mereka tidak mempunyai anak gadis, yang bisa dinikahkan dengan nya.
Sore itu di Masjid Faturrahman.
Seperti biasa, setelah Salat Ashar, Akbar mulai mengajari anak-anak mengaji.
"Assalamualaikum" Segerombolan anak laki-laki datang dan memberi salam pada Akbar, disusul anak-anak perempuan, yang datang setelahnya.
"Waalaikumussalam"
Setelah mengajari anak-anak mengaji, waktu berlalu, Salat Magrib pun tiba.
Sebagai seorang pemuda lulusan pondok pesantren, sudah tidak dapat diragukan lagi, suara merdu Akbar ketika azan, sangat merdu dan menenangkan hati.
Namun, karena memperhatikan adab sebagai seseorang yang lebih muda, dan sedikit berilmu. Ia segan berlaku sok alim dan Imam Salat tetap lah orang yang lebih tua, dalam hal umur dan iman.
Sifat takwa dan santun Akbar, menjadi contoh tauladan bagi pemuda-pemuda di desa nya.
.
.
.
Beberapa hari kemudian
Datanglah seorang pria paruh daya ke rumah Akbar.
"Nak Akbar. Bapak sangat mengagumi ke salihan dan cara Nak Akbar menjalani hidup dengan sederhana." Pria paruh baya yang dikenal sebagai Pak Samad itu tersenyum ramah pada Akbar, setelah menyelesaikan kalimatnya.
"Terimakasih atas pujian Bapak. Saya merasa tersanjung. Namun, yang terlihat di luar, belum tentu sama seperti yang di dalam. Saya masih pakir ilmu, salih yang Bapak maksud adalah saya yang terlihat baik, namun sebenarnya masih bergelimang dosa." Jawab Akbar sopan
"Nak Akbar terlalu merendah, tidak semua orang bisa seperti Nak Akbar. Tetap tegar menghadapi cobaan, dan tidak pernah mengeluh."
"Sesungguh nya cobaan adalah cara Allah, menguji hamba nya. Ketika ia lulus, maka Allah meninggikan derajat hambanya di sisi nya. Atau, menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu, yang pernah diperbuat hamba nya."
"Itulah yang saya kagumi dari Nak Akbar. Jadi, sebenarnya saya datang untuk meminta Nak Akbar menjadi menantu saya. Bersediakah Nak Akbar, memenuhi permintaan Bapak?" Tanya Pak Samad, tidak berbasa basi lagi.
"Subhanallah, Alhamdulillah. Apakah benar apa yang Bapak katakan?"
Akbar sangat terkejut mendengar niat kedatangan Pak Samad, ke rumahnya itu. Mengingat berapa cantik nya anak gadis Pak Samad, Ayana. Membuat Akbar tidak pernah berpikir untuk mendekati nya, apalagi meminang gadis itu.
Setelah menyetujui tawaran Pak Samad, Akbar pun diundang ke rumah Pak Samad untuk membicarakan masalah pernikahan bersama.
Ketika telah berada di rumah Pak Samad, sungguh bukan keberuntungan bagi Akbar. Ternyata gadis bernama Ayana itu, menolak untuk di jodoh kan dengan nya. Alasan nya karena Ayana telah memiliki seorang kekasih. Hal ini sungguh mematahkan hati Akbar. Namun, ia masih tetap bersabar, di hatinya, ia mencoba mengikhlaskan semua yang terjadi.
Dengan berat hati, Akbar meninggalkan rumah Pak Samad.
Sebelum pergi, Pak Samad meminta maaf pada Akbar, karena telah mengecewakan pemuda itu.
"Maafkan Bapak. Seharusnya Bapak membicarakan hal ini terlebih dulu dengan Ayana. Sekarang... Nak Akbar pasti sangat tersinggung." Pak Samad merasa bersalah pada Akbar. Dengan tulus Pak Samad menangkupkan ke dua tangan nya, sebagai tanda minta pengampunan, meminta maaf pada Akbar.
Dengan senang hati Akbar memaafkan nya, karena sejak awal, Akbar tidak pernah memendam amarah dan dendam. Sekalipun orang berbuat jahat padanya, tanpa orang itu meminta maaf, ia sudah memaafkan nya terlebih dulu. Kebaikan dan ketulusan hati nya yang putih, adalah sesuatu yang lebih berharga daripada emas dan permata dunia.
Waktu berlalu, satu tahun kemudian Akbar mendapat gelar baru sebagai Ustadz muda. Ia diminta seorang ulama besar di kota nya, untuk mengajar di pondok pesantren.
"Ilmu Faraid adalah ilmu yang membahas masalah warisan. Orang-orang yang menerima warisan dan cara membagi warisan menurut syariat Islam."
Dengan seksama para santri mendengarkan perkataan Ustadz mereka. Sesekali mereka mencatat apa yang di tulis oleh Ustadz di papan tulis.
Setelah mengajar, Akbar kembali ke rumah. Seperti biasa, rumah itu sepi. Karena memang hanya dirinya lah penghuni nya.
Terkadang Akbar merasa sedih, karena sampai sekarang masih belum bisa memenuhi keinginan terakhir sang Ibu, untuk dirinya segera menikah.
"Ibu, maafkan anak mu yang tidak berbakti ini. Karena sampai sekarang, belum menemukan seseorang yang tepat. Bukan karena anak mu ini tidak berusaha. Namun karena Akbar tau, rezeki, jodoh, dan maut, hanya Allah lah yang tau, dan maha mengatur." Ucap Akbar menatap kubur sang Ibu, yang berada di samping kamar nya.
"Allah itu tidak pernah tidur. Ia tau mana yang baik dan buruk untuk hamba nya. Anak mu ini percaya, bahwa semua yang terjadi atas kehendak nya, dan memang yang terbaik. Jadi Ibu jangan sedih disana, jangan khawatirkan anak mu ini."
.
.
.
1 Tahun Kemudian
Lamaran demi lamaran Akbar, tapi tidak pernah ada yang berhasil, entah apa yang kurang darinya. Jika tidak ditolak, maka sang gadis yang tiba-tiba menghilang tanpa kabar, atau bahkan meninggal dunia.
Wajahnya yang biasa-biasa saja, jelek tidak, rupawan juga tidak. Hanya saja, pancaran wajah nya yang teduh, yang sering disirami air wudhu itu terlihat memancarkan cahaya keindahan yang sulit di gambarkan. Meskipun begitu, tetap saja jodoh nya belum terlihat.
.
.
.
Waktu terus berputar, tahun demi tahun di lalui Akbar dengan semakin taat beribadah. Ia tidak lagi memikirkan masalah pernikahan, yang ia tau, bahwa sang Ibu pasti memahami dirinya. Ia hanya manusia biasa, tidak mempunyai kuasa atas apa yang telah ditetapkan Allah.
Genap berusia 30 tahun. Akhirnya Akbar mendapat kabar bahagia.
Ayana. Gadis berusia 20 tahun, yang dulu sempat di jodohkan dengan nya oleh Pak Samad, akhirnya membuka hati.
Dengan antusias Pak Samad segera menghubungi Akbar kembali, dengan yakin, ia meminta Akbar untuk menjadi menantu nya. Tentu saja setelah memastikan nya, barulah Akbar menyetujui permintaan Pak Samad.
Pernikahan pun terjadi, 6 September 2020.
"Ananda Akbar Fatahillah bin Jalaluddin saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Ayana binti Samad dengan mahar uang 100 ribu, tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayana binti Samad dengan mahar 100 ribu, tunai."
"SAH?"
"SAH!" Jawab para saksi dan tamu undangan yang hadir, meramaikan acara pernikahan itu.
Setelah sah menjadi Suami Istri, Ayana pun tinggal bersama di rumah Akbar.
Belakang barulah Akbar tau, bahwa ternyata alasan mengapa Ayana akhirnya mau menikah dengan nya adalah karena patah hati yang dirasakan. Pria yang di cintai Ayana, telah menikah dengan gadis lain.
Namun Akbar tidak ambil pusing dengan hal itu, baginya yang terpenting adalah saat ini. Masa depan rumah tangga yang akan dibina bersama, sedangkan yang telah lalu, biarlah menjadi masa lalu.
Seiring berjalan nya waktu, Ayana mulai memperlihatkan sifat posesif nya pada Akbar. Tidak pernah memberi ruang pada Akbar untuk berdekatan dengan wanita lain. Pencemburu dan selalu mengawasi setiap kegiatan Akbar.
"Jangan nakal-nakal jika aku tidak di dekat mu." Kata-kata ancaman Ayana seperti ini lah, yang membuat Akbar semakin bersemangat.
Ternyata seiring berjalan nya waktu, perasaan cinta kasih mulai tumbuh di hari Ayana untuk sang Suami.
Akbar mencintai sang Istri dengan sepenuh hati, sehingga tidak ingin menyakitinya, dengan memaksakan kehendak nya untuk berhubungan intim (badan).
1 tahun setelah pernikahan mereka, ketika cinta itu telah jelas ada di hati. Orang pertama yang mengajak untuk bercinta justru sang Istri.
Dengan sepenuh hati, melabuh kan cinta kasih, menjalani kehidupan berumah tangga yang sempurna, nafkah lahir dan batin.
Pergulatan pengantin lama, namun baru merasakan surga dunia. Beberapa bulan kemudian, kabar gembira terdengar.
"Selamat. Istri Anda hamil."
~END~
Terimakasih sudah membaca😊