Prinsip Dara sejak tahu pria dan wanita tidak boleh saling bersentuhan dengan bukan mahramnya:
NO PACARAN !
Tapi lihat saat ini.
Siang ini.
2 Sahabat..Ya... setidaknya dulu akrab dan bersahabat.
Sofia menggebrak meja Dara.
Dara yang sejak baru masuk kelas dan hanya menulis tugas di papan tulis.
Enggan menanggapi.
"HEH! Kamu dengar aku enggak sih daritadi?"
keras Sofia.
"Eh.. Sofia...Bisakah kamu sedikit minggir?
Sedikit lagi yang harus aku tulis dari tulisan di depan.
Kamu tahu?
Kamu menghalangi pandangan aku dari papan tulis."
Ucap Dara.
"DARA! Kamu bener bener ya...aku ngomong daritadi kamu cuekin gini .."
Dara menulis kata terakhir dari tugas yang tertulis di papan tulis.
"Ehm.."
Dara mencoba menekan nada bicara.
"Sofia...Aku bukannya tidak mendengar.
Hanya saja..
Aku datang ke kelas ini untuk belajar.
Dan ya... sekarang aku akan lebih fokus menjawab semua pertanyaan kamu.
Kamu sekarang mau bilang apa?"
Sofia tersenyum sinis.
"Jangan berlagak suci,Kamu!
Aku sudah bilang tadi.
Kenapa kamu masih mengganggu hubungan aku dengan Tri?"
"Aku?dengan Tri?
Kapan?Apa yang kamu dengar tentang aku dan Tri?"
"Aku tidak hanya dengar.
Aku melihat sendiri kalian berdua jalan berdua kemarin setelah kelas selesai.
Entah kalian menuju kemana..."
"Kemarin?"
Dara mencoba mengingat.
"Ahh... aku ingat.
Jadi kemarin Tri ingin mengajakku ke toko buku bersama.
Dia mau membeli.."
"Ke toko buku?
Apa tidak ada alasan lebih logis yang jelas menyatakan kalian menjalani hubungan dibelakang aku?"
"Alasan logis?apa?
Sofia.. kamu kenapa sih?
Astaga... Aku sungguh hanya mengantar Tri membeli bu.."
"Aku ga percaya ya...kamu jujur aja sekarang.
Kemarin kemana dan ngapain aja?"
Beberapa orang di kelas kini memperhatikan.
Sebagian menggeleng mengangkat alisnya memutar bola mata melihat temperamen Sofia.
"Kamu tahu Sofia?
Arti namamu itu 'lembut'
Tapi tidak ada kelembutan di dirimu saat ini.."
Dara tidak percaya.
"Oh jadi sekarang kamu mau bilang kalau kamu lebih baik daripada aku?!
Hah!Kamu tahu sendiri Tri memilih aku sebagai kekasih.
Dia mencintai aku!
Dia lebih memilih aku daripada kamu!"
"Wah..kalau begitu selamat.."
Ucap Dara tulus karena memang juga baru tahu.
Sofia menyeringai mengerikan.
"Kamu jangan pura pura..Kamu tidak terima kan dengan kenyataan ini?
Dan sekarang kamu mau merebut Tri dari aku?
Tidak akan !
Aku tidak akan melepas Tri!"
Dara menggeleng bingung.
"Sofia..kamu bisa berpikir seperti itu darimana sih?
Kamu itu teman aku.
Tri juga teman aku.
Kalian saling menjalin hubungan tentu saja aku dukung..."
"Hahaha..kamu kira aku akan percaya?!"
Sofia tersenyum sinis kembali.
Seseorang memasuki kelas terkejut mendapati Sofia berdiri angkuh di hadapan Dara.
"Sofia..Kamu ngomong apa sih?
Ayo kita bicara di luar."
Tri menarik lengan Sofia.
Namun Sofia menghentakkan lengannya.
Enggan menuruti perintah Tri.
"Aku mau bikin perhitungan sama Cewe yang mau rebut kamu dari aku ini!"
Tri menoleh menatap Dara.
Pandangannya menunduk sekali memohon maaf.
Dara hanya mengangguk mengerti.
"Aku ga apa apa ,Tri.."
Sofia memelototi Dara lalu Tri.
"Oh jadi sekarang pakai kode begini.."
"Kita ngomong diluar!Ayo!" Tri akhirnya menarik tangan Sofia.
Membawanya keluar kelas.
Dara menarik nafas dalam-dalam.
Akhirnya duduk kembali.
Teman sekelasnya hanya memandang dan enggan ikut campur atau bahkan komentar.
Sofia terkenal berprestasi.
Tapi mengetahui temperamen Sofia tiba tiba meledak begini.
Baru kali ini mereka melihatnya.
Yang pasti.
Tidak ada satupun diantara mereka mau ikut campur.
Dara mengelus dadanya menenangkan diri.
"Ok..relax...sekarang kita harus lanjut fokus belajar.."
Setelah kelas selesai.
Dara berjalan keluar dari kelas.
Menunduk hanya melihat jalanan dihadapannya.
Seseorang mendahuluinya berjalan di depannya.
"Hai..Dara.."
Dara mengangkat wajahnya melihat si empunya suara.
"Ramon?"
Ramon tersenyum kecil.
"Ya aku..kita jalan bareng yuk.."
"Mmm boleh.."
Ramon memandang Dara seksama.
"Apa kamu baik baik saja?"
Dara mengangguk.
"Aku baik baik saja..
Tenang saja.."
"Uh tadi..aku lihat semua yang terjadi di kelas tadi.
Ya..lebih tepatnya..
Semua sekelas melihat.
Sofia itu benar benar keterlaluan.."
"Eh..tidak apa apa..
aku tidak masalah sama sekali kok..
Dia mungkin hanya sedikit stress karena jelang ujian ya kamu tahu..
Banyak tugas dan materi kelas makin berat.
Wajar dia stress."
"Se stress apa sih?
Marah marah ke orang seperti tadi itu tidak benar!
bahkan jika dia murid berprestasi dan kesayangan guru.
Tidak ada yang pantas diperlakukan seperti tadi."
"Sudahlah...dia cuma luapkan emosi aja.
Aku benar-benar tidak masalah.
Serius!"
"Kamu itu terlalu baik atau terlalu bodoh hah?
Bahkan aku tadi menutup telingaku sepanjang dia teriak.
Astaga...mengerikan sekali!"
Dara tertawa kecil.
"Haha..maaf kalau tadi mengganggu kalian.
Tapi aku sungguh-sungguh baik baik saja kok.
Aku bodoh atau terlalu baik?!
ya sejujurnya...aku tidak perduli..😅
Di kamus hidupku.
Tidak ada itu pacaran.
Jadi buat kalian yang pacaran.
Ya terserah.
Tapi percayalah.
Aku tidak akan pacaran."
"Kamu bercanda?"
Ramon tidak percaya.
"Aku serius."
Dara tersenyum.
"Kalau ada yang menyatakan cinta padamu?"
"Ya...aku akan tolak.
Kalau dia mau berpacaran..BIG NO!"
"Lah terus...gimana kalau mau nikah nanti?"
"Nah itu..
Kalau orang itu menyatakan cinta dan datang melamar aku untuk menikahi aku.
Aku baru menerimanya."
"Wah..."
"Hey tapi tenang saja.
Aku masih fokus belajar.
Jadi benar benar 'NO PACARAN'!"
"Aku tidak percaya ada yang bisa hidup tanpa pacaran."
"Aku bisa..apa kamu tidak lihat?"
"Apa tidak ada yang pernah menyatakan cinta padamu?"
"Ada.Tapi langsung aku tolak.
Dan aku ucapkan seperti yang aku bilang tadi."
Ramon mendekatkan wajahnya ke Dara.
Memandang Dara cermat.
Membuat Dara memundurkan dirinya.
"A...Apa Ramon?"
"Hmmm.. berarti kamu belum pernah ciuman?"
DUG DUG!!
Dara memukul Ramon dengan buku yang di pegangnya.
"Dasar!Ramon!
Mikirnya macem macem!!"
------------------
Beberapa hari berlalu.
Dara menjalani hari seperti biasa.
Sofia hanya melirik tajam dari tempat duduknya tidak jauh dari tempat duduk Dara.
Dara tidak peduli sama sekali.
Hanya mengangkat bahu enggan menanggapi kesinisan Sofia.
Bel berbunyi.
Semua meninggalkan kelas.
Dara masih duduk berlama lama menunggu semua murid keluar.
"Ahhh...akhirnya kelas selesai.."
Dara meregangkan tubuhnya lega.
Memejamkan matanya tersenyum lebar menikmati suasana kelas yang sepi.
"Hey.."
Sapa seseorang di sebelahnya.
Mata Dara terbuka mengerjap kaget.
"Tri?"
Dara melihat belakang Tri.
Pintu kelas terbuka sedikit.
Wajar tidak ada suara Tri memasuki ruangan.
Karena memang pintu tidak tertutup rapat.
"Ngapain kamu disini?"
"Aku mau minta maaf.
Kemarin Sofia ..."
"Oh.. sudahlah.
Aku sudah maafin dia.
Dan ya...sama sekali bukan masalah bagiku."
"Dara..tapi Sofia memang keterlaluan.
Maaf ya..karena aku..kamu jadi.."
"Hey..aku baik baik saja.
Dan soal Sofia..
Aku mengerti dia cemburu ...
Jadi ..Sudahlah..anggap saja ini bukan masalah berat.
Karena ya..memang sama sekali bukan masalah untukku."
"Tapi..Dara.."
"Hm?"
"Aku tidak mau persahabatan kita berubah.
Bisakah kita...ah tidak.
Bisakah aku masih bicara seperti biasa denganmu?"
"Tentu saja,Tri.
Kamu itu bicara apa?
Tentu saja kita masih bersahabat.."
Dara tersenyum kecil.
Namun senyumnya langsung hilang melihat sosok Sofia yang memasuki kelas.
Menghampiri dan menampar pipi Dara.
"Aku sudah tahu pasti perempuan macem apa kamu!
Ga kapok kan udah di labrak sekali?"
Tri bangun dari duduknya kini menghadap Sofia.
"Apa kamu selalu seburuk ini?
berburuk sangka seperti ini?"
"Ini bukan cuma prasangka ya!
Kamu lihat sekarang kamu di depan dia lagi digoda dia.."
Dara menarik ujung kerudungnya.
Nafasnya tertahan sesak menahan air matanya agar tidak jatuh.
"So..Sofia...aku..."
Tri menoleh sekejap ke Dara.
"Dara..aku minta maaf."
Lalu menarik keras Sofia memaksanya keluar ruangan bersamanya.
Dara membereskan buku-bukunya lalu segera keluar ruangan.
Menghapus air matanya.
"Tidak!Aku tidak boleh menangis."
Dara menunduk setiap berpapasan dengan orang.
Enggan menarik perhatian.
------------
Dara mengangkat tangannya berdoa khusyuk di sepertiga malam itu.
"Ya Allah.
Rasa ini begitu sakit.
Aku pernah mencintainya.
Aku bahkan menyatakan cinta ke Tri tahun lalu.
Dia hanya diam.
Tapi persahabatan kami tidak berubah.
Engkau paling tahu perasaanku.
Namun kini.
Aku mohon padamu Ya Allah.
Jika memang kami akan terus akan sering bertemu.
Jika memang dia tidak akan jadi milikku.
Hilangkan rasa cinta ataupun keterkaitan ku padanya.
Matikan rasaku.
Biarkan aku tetap bertemu dan berhadapan dengan dia tanpa rasa tanpa cinta."
---------
2 hari...
Ah tidak..
3 hari sesudah kejadian.
Dara berdiri di sisi jalan.
Ingin menyeberangi jalan.
"Dara..Dara!"
Suara seseorang dari belakang bahunya.
Dara menengok.
Matanya melebar.
Kenapa dia tidak mengenali suara yang memanggilnya?
"Ah..maaf..tadi ga kedengaran.."
"Dara Ih!Aku udah manggilin kamu ada kali 15 kali.
Kamu lagi mikirin apa sih?"
Tri menggerutu kesal.
Dara menggeleng juga tidak mengerti.
"Sorry..aku bener bener ga denger .."
Ya Allah.
Allah benar benar mengabulkan doaku.
Aku bertemu dengannya.
Rasaku sudah tidak ada.
------------