Aku melihat tubuh itu terbaring tak berdaya. Terlihat sang pemilik tubuh begitu kelelahan. Diriku tersenyum melihatnya, begitu menyenangkan bersenang-senang dengannya. Aku berjalan ke arahnya, dengan lembut ku belai rambutnya. Ia terisak, lalu menatapku dengan tatapan memohon.
"A-aku lelah...kau membuatku takut. Tolong lepaskan ak..." aku menghentikan ucapannya dengan meletakkan jari telunjukku di bibirnya.
"Sssttt...kenapa kau harus takut padaku? Kita hanya kejar-kejaran tadi, kenapa kau tampak begitu lelah? Padahal aku sudah membaringkanmu di ranjang. Istirahatlah," aku menggerakkan bibirku dan membuat lengkungan lebar tercetak.
Aku kembali menyentuh wajahnya. Terasa jelas keringat di wajahnya mengenai kulit tanganku. Ah! Aku tidak suka, keringatnya terasa menjijikkan. Aku merubah ekspresi ku dengan wajah datar. Aku memandanginya dengan seksama. Ku lihat tangan dan kakinya memerah karena ia berusaha lepas dari ikatan yang ku buat.
Aku menggigit bibirku. Lalu ku lihat jam, aku masih harus menunggu menuju waktu favoritku. Apa yang harus ku lakukan dulu? Yah, sepertinya aku mesti bermain dulu dengannya sekali lagi. Aku mengambil pisau kecil di kantong celanaku. Aku mengeluarkannya dan mengarahkan pada wajah mulusnya. Ku belai wajah lembutnya dengan pisau tadi. Ia melotot ke arah benda kecil ini.
"Kenapa kau begitu takut melihat pisau ini? Ini hanya pisau kecil, padahal kau sering memegang pisau bahkan lebih besar dari pisau ini. Katakan padaku, kenapa kau begitu ketakutan?" ia tak menjawab pertanyaanku tapi malah mulai terisak.
Aku memegang leher jenjangnya. Lalu mencekiknya perlahan, ku lihat ia kesusahan bernafas. Tunggu! Aku tidak mau dia pergi sekarang. Aku melepas cekikan itu, terlihat ia segera menghirup udara dengan terburu-buru. Aku tertawa dengan keras, betapa menyenangkannya melihat ia seperti itu.
"Jika kau tak ingin aku melakukan hal lebih dari ini. Berhentilah terisak, aku tidak suka mendengar isakan menjijikkan itu. Oh ya! Kau tunggu disini ya, aku juga merasa jijik dengan keringatmu. Biar ku ambilkan handuk," aku berdiri, ku tatap ia sekilas. Dengan santai aku berjalan ke arah rak berisi banyak handuk. Aku mengambil salah satunya.
Aku kembali menghampirinya. Kemudian dengan perlahan, ku hapus keringat yang ada di wajahnya. Setelah selesai, aku memandang puas ke arahnya.
"Nah kalau beginikan kau terlihat segar. Kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau sangat ketakutan? Padahal sebelumnya kau memandangku dengan rendah," ucapku.
"Ja-jangan bunuh aku. Aku mohon, maafkan kesalahanku selama ini. Le-lepaskan...a-aku," ia memandangku dengan tatapan memelas. Seperti anak anjing yang meminta makan. Lucu sekali.
"Aku mencintaimu! Sangat mencintaimu!" seruku lalu tersenyum kecil. Aku berbaring di sampingnya, lalu ku palingkan wajahnya ke arahku. Dengan perlahan ku kecup keningnya. Beralih ke mata, hidung, dan berakhir di bibir. Cukup lama untuk dibagian bibir yang manis itu.
"Kau tetap saja cantik walaupun dalam keadaan berantakan seperti ini. Baju kau sudah robek, celanamu kotor, bagaimana kalau aku mendandanimu? Mau ya kau ku dandani sesuai dengan yang ku suka?" ia mengangguk pasrah. Sepertinya ia berusaha untuk tak memberontak lagi.
Dengan riang, aku berjalan ke lemari dan membukanya. Aku menyandungkan lagu kesukaanku. Lalu ku lihat ke penjuru isi lemari tersebut. Mencari pakaian yang ku suka untuk dirinya. Lalu aku melihat ada dress cantik berwarna maroon. Warna kesukaanku, sepertinya ia akan terlihat cantik jika mengenakan ini. Aku mengambil dress tersebut.
"Lihat! Bagus bukan? Kau pasti sangat cantik jika mengenakan ini," ku lihat air mata mengalir dari mata coklatnya itu.
Aku berjalan menuju ikatan tangannya. Melepas ikatan di tangannya, agar memudahkan untuk mengganti pakaiannya. "Jangan berpikir untuk melakukan sesuatu sayang," ucapku sembari menyunggingkan senyum smirk.
Saat ikatan pada kedua tangannya terlepas. Aku mendekatkan diri, tapi ia malah membuat amarahku muncul. Ia menampar wajahku, lalu meludahiku. Aku mengeraskan rahangku, lalu mengelap wajahku dengan tanganku. "Menjijikkan!" teriakku.
Aku meluru ke arahnya. Mengambil pisau kecil yang sebelumnya ku simpan kembali di saku celanaku. Aku menusuk tangannya, terlihat pisau kecil itu menembus ke tangan mungilnya. Terlihat darah mengucur. Ia berteriak kesakitan, ia meronta-ronta. Aku tertawa keras, begitu senang melihat ia menderita seperti ini. Lalu ku cabut pisau itu yang membuat ia kembali meronta dengan keras.
"Sudah ku katakan, jangan melakukan sesuatu. Kau hanya akan menyesalinya. Lihat ini!" aku menghadapkan tangannya ke hadapannya. "Lihat! Kau membuatku tak memiliki pilihan. Tanganmu jadi berdarah. Kau ini," aku menarik tangannya ke arah mulutku. Lalu perlahan aku menjilat darah yang masih mengalir tadi.
Rasanya manis. Aku melepas tangannya, lalu segera saja aku melepas pakaian yang melekat di tubuhnya. Aku segera memakaikan dress tadi. Perkiraanku benar, ia begitu cantik memakai dress ini. Tak membutuhkan waktu lama, aku kembali mengikat kedua tangannya.
"Tak bisakah memaafkan dan melepaskan aku. Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku. Jika kau mencintaiku, kenapa kau lakukan ini padaku?" aku berdecih mendengar pertanyaannya.
"Kau bilang kenapa?! Kan kau sendiri yang membuat dirimu seperti ini. Kau tak pernah sekalipun melihat ke arahku! Kau memandangku rendah, menghinaku di depan teman-temanmu! Kau pikir itu tidak menyakitkan?! Kau membicarakan segala keburukanku, padahal yang kau bicarakan tak ada benarnya! Aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu bahkan saat ini pun perasaanku tidak berubah.
Hanya saja, kau harus tahu! Jangan pernah meremehkan ku! Aku begitu tidak suka diremehkan! Kau memperlakukanku buruk satu kali, maka aku akan membalasnya sepuluh kali. Tak peduli siapa pun orangnya, mau yang ku cintai atau pun tidak. Sekarang biar ku tunjukkan keburukanku sebenarnya. Ah! Satu lagi! Akibat hasutanmu pada orang-orang, aku begitu menderita. Semua ikut merendahkan ku. Kau membuatku ingin bunuh diri saat itu. Tapi aku pikir, jika aku bunuh diri. Bukankah tidak adil? Aku harus membalasnya dulu. Baru setelah itu aku bisa mati dengan tenang," ucapku, rasanya lega bisa mengeluarkan semua hal yang terpendam.
"Ma-maafkan aku. Hiks...hiks...aku bersalah, aku mengakuinya. Aku mi-minta ma-maaf," ia kembali terisak.
"Aku akan memaafkanmu. Tapi..." aku menjeda ucapanku. Lalu dengan cepat, ku ciptakan sebuah luka dengan pisau kecil tadi ke pahanya. "Setelah aku berhasil mengambil nyawamu baru kau ku maafkan!"
"Arghhhh! Sakiiiittt!" ia menggeliat kesakitan. Aku tertawa terpingkal-pingkal. Tiba-tiba, ia meredam rasa sakitnya. Lalu memandangku dengan marah.
"Kau iblis! Aku membencimu! Sangat membencimu....huaaaaa. Kau benar-benar rendah! Kau menjijikkan! Kau lebih rendah dari hewan! Kau...kau begitu jahat. Hiks...hiks..." aku memejamkan mataku. Dengan santai, ku raih wajahnya. Ku tampar dengan kuat, berkali-kali sampai ku lihat pipi putihnya memerah. Lalu sudut bibirnya, mengeluarkan darah.
"Katakan terus kalau aku begitu rendah. Akan ku buat kau lebih tersiksa dari ini," aku melirik ke arah jam. "Khikhikhik....hahaha...lihat! Kau tahu, aku suka menghabisi sesuatu di jam sebelas lewat sebelas. Waktunya sebentar lagi, ku buat kau mati di waktu yang cantik. Tanggal 11, bulan 11, jam 11.11. Cantik bukan? Ayo! Kita mulai bersenang-senang yang sebenarnya," aku menduduki tubuhnya. Ku robek dress yang ia kenakan, menyisakan pakaian dalam melekat di tubuhnya.
"Ku pikir-pikir kau tak cocok mengenakan dress ini. Karena akan lebih menyenangkan jika kau seperti ini. Aku ingin mengukir jam 11.11 di perut rampingmu ini. Bersiaplah darling," aku mulai mengiris pisau ke perutnya. Ia berteriak, sebenarnya teriakannya menggangguku. Tapi biarlah, biar suasana sedikit semarak.
"Lihat! Cantik bukan ukiran yang ku buat. Ah! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku dari dulu sangat ingin menguliti orang hidup-hidup. Kau mau kan jadi yang pertama merasakannya?" tanyaku sembari tersenyum lebar.
"To-tolong! Siapa...pun... tolong a-ku! Hiks...hiks...tolong," suaranya begitu lemah. Aku tertawa kecil.
"Tidak akan ada yang menolongmu. Ini rumah yang ku bangun susah-susah sangaaaaaaat jauh dari keramaian. Kau tahu? Ini di tengah hutan sayang. Tidak akan ada yang mendengarmu. Eh! Ada! Ada yang mendengarmu. Binatang yang ada di hutan ini yang mendengarmu. Hahahaha!" sesuai ucapanku tadi. Aku ingin mengulitinya.
Aku sumringah, terlihat daging segar terlihat. Aku berbinar menatap pemandangan ini. Ini benar-benar penyiksaan terhebat yang ku lakukan. Aku tak lagi memperdulikan ia berteriak atau tidak. Aku hanya fokus menyiksanya.
"Sayang sekali! Kaki mulusmu sudah tidak cantik lagi. Maaf ya," ucapku.
"Sakiiit...ini benar-benar sakit. Ku mohon, ini sakit. Aku benar-benar memohon padamu," ucapnya.
"Baru segini kau sudah kesakitan. Kau begitu lemah, ayolah aku ingin kau memberontak. Itu akan lebih menyenangkan," aku menunda menguliti kakinya. Aku ingat, ia begitu menyukai dan membanggakan rambut cantiknya.
"Aku ingin memotong habis rambutmu. Aku penasaran apakah kau akan tetap terlihat cantik jika rambutmu tidak ada," ia menggelengkan kepalanya kuat. Terlihat sekali ia begitu menyayangi rambut panjang nan halusnya itu.
Tak butuh waktu lama. Aku mencukur habis rambutnya. Hanya dengan pisau kecil tajam ini. "Maaf, pisau ini sangat tajam. Jadi aku sedikit melukai kulit kepalamu," aku tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigiku.
"Wahh! Kau luar biasa, kau tetap tampak cantik. Kau mau lihat, aku tak berbohong. Kau tetap cantik tanpa rambut," aku mengambil cermin kecil di nakas samping tempat tidur. Lalu mengarahkan cermin itu ke arahnya.
Ia berteriak, sepertinya ia tidak suka dengan penampilannya. "Kau! Be-benar-benar tak memiliki hati. Kau manusia terburuk yang pernah ku jumpai. Kau...kau be-benar-benar jahat," suaranya melemah. Ia tampak lemas, ia sepertinya mau pingsan.
Aku menyiram wajahnya dengan air. "Kau tidak boleh pingsan!" aku menampar wajahnya kembali. Agar membuat ia tetap sadar. Kini alas kasur itu sudah sangat basah. Basah karena air dan darah tentunya.
"Aku...aku mo-mohon. Bunuh saja aku secepatnya. Tolong...jangan...menyik..sa..ku. Aku...mo-hon," aku hanya bisa tertawa.
"Oh tidak bisa! Mana bisa aku membiarkan kau pergi semudah itu. Ah karena waktunya sebentar lagi. Aku harus kembali menyiksamu. Maaf sayang," kini aku mencium bibirnya. Masih terasa manis, aku melumatnya sedikit. Ini mungkin ciuman terakhirku. Ia tidak membalas ciumanku. Sudahlah tak perlu dipikirkan. Aku mengakhiri ciuman itu dengan menggigit bibirnya pelan.
"Jangan...jangan...menciumku. Aku tidak...sudi," ucapnya pelan.
"Aku cium pun sekali lagi. Kau tetap tak bisa melakukan apapun. Hahaha!" tawaku dengan keras.
Kini aku mencium telinganya. Ku hembuskan nafasku pelan ke telinganya itu. Lalu ku gigit kuat daun telinganya. Aku merasakan cairan mengenai bibirku. Sepertinya aku berhasil membuat telinganya berdarah. Karena ingin membuatnya sempurna. Aku memotong habis telinganya. Aku tertawa dengan keras, begitu menyenangkan.
Aku bertepuk tangan dengan kuat. Sebelas menit lagi. Aku mempercepat siksaannya. Aku meninju wajahnya sampai babak belur. Lalu aku juga menciptakan ukiran di wajahnya. Satu menit lagi, dengan rasa senang yang meluap. Aku mengambil pisau yang lebih besar. Dengan membabi buta, aku menikam semua anggota badannya. Paha, tangan, perut, ia masih belum mati. Hebat! Aku kembali meluru menikamnya. Lehernya pun tak luput dari goresan pisau. Aku ingin teriak, aku begitu senang melihat darah yang keluar dari bekas sayatan yang ku buat.
"Ini yang terakhir sayang. Pergilah, aku sudah sangat puas. Terima kasih," aku mengecup bibirnya. Lalu dengan perlahan ku tikam pisau ke arah jantungnya. Sangat perlahan, hingga pisau itu sepenuhnya terbenam di dadanya tepat ke arah jantungnya berada.
Bertepat dengan alarm handphoneku berbunyi. Alarm yang ku buat tepat di jam 11.11. Ia menghembuskan nafas terakhirnya. "Kau benar-benar mati di waktu yang cantik sayang. Maafkan aku, ma-maafkan aku," lalu aku berteriak. Entah kenapa, aku menangis tapi kemudian tertawa. Tiba-tiba saja rasa yang begitu menyesakkan timbul di diriku. Disatu sisi ada perasaan sedih begitu dalam, tapi disatu sisi aku begitu senang.
Aku memeluk tubuh yang terkulai tanpa nyawa di ranjang tersebut. Aku mencium wajahnya berkali-kali. Wajah yang sudah dipenuhi goresan-goresan pisau. "Maafkan akuuu....." aku melepas ikatan di tangan dan kakinya.
Aku mengangkat tubuhnya, menuju kamar mandi. Ku letakkan ia di bathup. Ku bersihkan badannya dari darah. Setelah ku mandikan, aku kembali mengangkat tubuhnya dan meletakkan tubuhnya di sofa. Aku membaluti luka pada tubuhnya. Lalu ku pakaikan ia dengan dress putih.
Aku membawanya ke halaman rumah ini. Sebelumnya aku sudah menggalinya dan sudah memasukkan peti mati di dalamnya. Aku meletakkan tubuh itu di peti mati tersebut. Aku kembali mencium wajahnya. Perban yang menutupi luka mulai berwarna merah. Karena ingin mempercepatnya. Aku memandang ia sekali lagi. Lalu mulai menguburnya.
Cukup lama hingga aku benar-benar berhasil mengubur peti mati tersebut. Ku hias kuburan itu. Orang yang ku cintai sekaligus sudah pergi.
"Sayang! Tunggu aku! Aku akan menyusulmu...setelah aku membalaskan dendam pada orang-orang yang meremehkan ku," aku tersenyum tipis. "Aku masih mencintaimu. Aku pergi,"
Aku pamit padanya. Aku akan segera menyusulnya. Setelah aku membereskan sampah-sampah yang menghinaku. Aku tersenyum smirk. Akhir yang indah akan datang.
"Hahaha! Tunggu aku sayang! Aku akan menyusulmu ke surga,"
••TAMAT••
Ayo! Siapa yang baca cerpen ini sambil ngikutin ekspresi tokoh "aku" dan senang pas bagian nyiksanya?
Hati-hati! Cepat periksakan diri kalian! Siapa tahu tokoh "aku" itu cerminan kalian👻👻