Suara decit mobil mengerem terdengar dari kejauhan. Tetes-tetes air hujan terus turun dengan perlahan. Gerimis. Udara dingin diluar menerpa-nerpa wajah dengan menusuk. Aku semakin mengeratkan jaket wol yang kupakai. Menatap kaca cafe yang berembun banyak. Lalu tanpa sadar, seseorang yang kutunggu dari tadi sudah duduk di kursi sebelah ku. Menggosokkan kedua tangannya untuk mencari kehangatan. Malam ini benar-benar dingin.
"Hai Jeha. sudah lama kah?"sapanya sambil tersenyum hangat, senyum tipis yang benar-benar membuat ku semakin jatuh cinta padanya. Lelaki yang sudah mewarnai hidup ku setahun terakhir.
"Hei! Kenapa wajahmu pucat?"tangannya yang besar mengusap dahiku pelan, wajahnya tampak jelas kekhawatiran. Namun kutampik pelan, aku menggeleng singkat tanpa senyuman. Lelaki itu menggernyit, senyumnya yang tadi sangat lebar sudah tidak ada.
Lalu sebelum semuanya semakin rumit. Segera ku pandang wajah tampannya dengan lemah. Seketika aku merasa kembali tak kuasa saat mata jernihnya menatap ku kebingungan. Air mataku akhirnya menetes dengan sendirinya.
"Ada masalah Jeha?"tanyanya menuntut. Dengan gerakan tubuh cepat, Dipeluknya tubuhku setelah bahuku bergetar hebat. Aku menangis sesenggukan, emosi ku mendadak tidak terkendali.
"Kenapa Jeha? Bicaralah..."Kali ini suara bass miliknya tampak menggeram. Dia sangat tidak suka jika aku menangis. Tapi, sepertinya jika aku bicara...Mungkin dia akan pergi .
Lalu dimalam itulah. Dengan hujan gerimis sebagai saksi, juga bulan yang tertutup awan malam. Aku berpisah dengan Dia. Aku berpisah dengan cinta pertama ku. Aku berpisah dengan Dika.
Karena sebuah kalimat sederhana, kalimat yang tidak sampai lima detik pengucapannya. Dika pergi dariku, tanpa sepatah katapun. Karena ia tahu, aku sudah mengalah dengan keadaan. Aku kalah dalam pertarungan hati dan pikiran. Aku telah kalah. Dan itu jelas membuat nya kecewa.
Dika, Maafkan aku. Seminggu lagi aku akan menikah.....
Tapi tidak dengan mu.
........
Namaku Jeha. 21 tahun. Bekerja sebagai guru adalah kebanggaan tersendiri buatku. Aku terobsesi sejak kecil menjadi guru. Di mataku, tidak ada pekerjaan lain yang lebih mulia dibandingkan seorang guru. Guru mengajar murid hingga membuat orang lain mengerti. Aku sangat menikmati pekerjaan ku. Guru di SMA.
Tapi entah kebetulan atau memang Tuhan ingin menguji kesabaran ku sebagai guru. Menguji mental ku agar tetap bertahan mengajar anak yang nakal agar bisa pintar. Aku mendapat murid yang sangat spesial. Spesial malasnya. Membuat ku harus ekstra keras mengajarinya rumus-rumus matematika yang ku ajarkan. Tapi semuanya seolah sia-sia, seorang murid laki-laki, sudah berumur 22 tahun, tapi masih berada di SMA kelas akhir. Dia begitu nakal dan tidak punya semangat belajar. Aku sampai kewalahan menghadapi sikapnya yang terkadang keterlaluan.
Namanya Dika. Sudah tidak naik kelas berkali-kali, tetapi tetap santai menjalani hidup. Bahkan rasa santainya sudah mengalahkan penghuni kebun binatang. Dia sama sekali tidak mempunyai semangat hidup. Nol besar.
Tingkahnya yang kadang membuat ku darah tinggi, menguji kesabaran nurani ku. Dia bahkan tidak memanggil ku dengan sebutan guru atau ibu guru. Tapi memanggil namaku langsung. Jeha.
Murid kurang ajar!
Seperti hari ini. Dika dengan sangat santai berdiri di depan kelas menunggu ku memberi materi. Ia berdiri persis di pintu kelas. Menghalangi ku yang ingin masuk. ku tatapnya dengan pandangan mata elang ku. Sayangnya tidak mempan, malah membuatnya nyengir.
"Dika. Silahkan kamu duduk di dalam."Suruhku tegas. Menunjuk dalam kelas yang nampak siswa lain menonton kami.
"Jeha..."
"Panggil saya ibu Jeha!"seruku cepat. jenuh rasanya menghadapi makhluk macam Dika yang tidak punya sopan santun. Kulihat anak laki-laki tersebut hanya menyeringai.
"Jeha... Jangan marah. Nanti aku tambah suka."selorohnya tanpa saringan. Kudengar murid sekelas cekikikan melihat kami. Aku mendengus.
Stress!.
Jika saja dia bukan muridku, jika saja dia tidak kewajiban ku untuk mendidiknya. Mungkin sudah kuberi dia jurus tendangan karate ku. Walaupun tubuhnya jauh lebih besar dariku, aku sudah mempersiapkan diri agar bukan diriku yang mental.
"Ada apa ini?"suara khas terdengar persis dibelakang ku. Aku seketika menoleh, dan seperti yang kuduga. Itu suara kepala sekolah.
Saat aku ingin mengadu, hampir saja mulutku terbuka, Dika lebih dulu berseru.
"Bu Jeha gak mau masuk kalau saya ada di kelas pak!"ujarnya layaknya ia adalah korban. Mataku membelalak lebar, menggeleng cepat ke arah pak kepsek, yang menatapku dengan sebelah alis terangkat.
"Bener begitu ibu Jeha?"tanya pak kepsek menuntut.
"Bener pak!"sambar Dika sebelum suaraku keluar. Aku menggeram.
Pak kepsek memandang ku dengan wajah sama sekali tidak ramah. Seolah aku adalah contoh buruk dan tidak punya dedikasi mengajar. Aku mencoba menjelaskan. Tapi anak lelaki ini, berujar seolah ia adalah seorang alim yang tidak pendendam.
"Gak apa pak, saya emang bodoh. Saya sudah tidak naik kelas selama bertahun-tahun. Saya juga sering bikin ulah, wajar kalau ibu Jeha yang pintar ini tidak mau saya ada di kelas beliau. Saya terima dengan lapang dada."ujarnya sangat halus, bahkan aku bisa menjamin jika tenggorokannya tadi hampir terseleo.
Tapi ini bukanlah yang pertama kalinya. Tentu saja bukan akhir. Karena ulah Dika terus membuatku mati berdiri. Tingkahnya yang selalu tidak jelas, juga panggilannya padaku yang terkesan aku adalah jalang. Sayang, beb, baby, my lady, dan tentu saja. Jeha, tanpa embel-embel.
Pernah suatu hari dijebaknya diriku dengan meletakkan ember berisi air di bingkai pintu atas. Membuatku yang masuk di jam pagi sudah harus berurusan dengan kamar mandi. Aku sampai menangis karena terharu dengan kejutan-kejutan kecilnya. Nafasku hingga tersendat-sendat karena tingkah gilanya. Aku mulai tidak waras.
Tentu saja aku marah. Aku mendatangi rumah orangtuanya dengan alamat dari sekolah. Aku ingin segera menemui orang tuanya yang selalu tidak datang saat panggilan orang tua. Aku benar-benar tidak perduli lagi. Saat ini yang kupikirkan adalah memperbaiki sikap Dika. Karena aku tahu, kata-kata mutiara tidak akan cukup membuat dia taubat. Mungkin jika orang tuanya yang menasehati, bisa berubah dia.
Aku berangkat ke rumahnya seusai mengajar ke sekolah. Kukendarai mobilku sesuai alamat yang kudapat. Aku tidak perduli lagi dengan perutku yang minta diisi, tak perduli dengan badan yang lelah dan berkeringat. Semuanya harus selesai hari ini.
Namun, faktanya tidak begitu. Semuanya malah menjadi semakin rumit. Masalah ini tidak segampang yang kukira. Bahkan, persepsiku sekarang tentang Dika berubah total. Karena dengan mataku sendiri, aku melihat Dika keluar dari rumah dengan sebuah sajadah di pundak. Mengenakan pakaian serba putih dengan peci hitam yang pas. Dia pergi ke masjid?
Aku terpaku di dalam mobil, tak sadar mengikuti Dika pelan-pelan. Kuambil jarak cukup jauh dari langkahnya yang tegap. Sungguh, ini Dika bukan?
Dika masuk kedalam masjid yang sudah penuh jamaah. Ia mengumandangkan adzan dengan begitu indah. Hatiku bergemuruh saat Dika menjadi imam sholat ashar kali ini. Dan aku menjadi salah satu jemaat disana. Air mataku meluruh saat suara Dika yang ngebas, begitu fasih dalam melafalkan ayat-ayat suci. Hingga tak sadar, solat sudah sampai salam. Aku bersumpah, ini solat tersempurna ku sepanjang hidup. Bacaan Dika begitu menghipnotis ku agar tidak memikirkan hal lain selain bacaan sholat.
Jemaah tidak ada yang bubar, ternyata ada sesi pengajian singkat yang di ceramahi oleh Dika. Laki-laki tidak terduga ini membawakan tema 'Hakikat Pernikahan'. Ia memberikan ceramah dengan sangat apik, dengan pembawaan yang santai tapi tegas. Dan saat menjawab pertanyaan jemaah pun selalu dijawab dengan dalil atau hadis yang hafal mati. Sampai saat kajian hampir habis, Aku dari mimbar perempuan memutuskan bertanya. Pertanyaan yang tidak relevan, membuat ibu-ibu disampingku tertawa.
"Kenapa anda masih duduk di bangku SMA? Padahal saya rasa anda cukup untuk dikatakan cerdas."
Aku yakin, semua arah mata sekarang menusuk ke arahku. Dan sebagian menatap Dika . Lenggang sejenak, Dika belum memberikan jawabannya. Aku tau, Dika pasti bingung dan bertanya-tanya.
'Siapakah yang bertanya? Apa dia waras?'
Tapi ternyata Dika punya jawaban. Jawaban yang membuatku terkejut bukan main. Aku tidak akan pernah berpikir sejauh ini. Tapi Dika bersuara dengan tegas, membuat siapapun tidak akan curiga.
"Saya adalah seorang yang ditunjuk pemerintah untuk mengintai Sekolah Kebangsaan. Saya bukan pelajar disana, pekerjaan saya lebih dari itu. Mengawasi guru yang mengajar aliran sesat. Seperti kejadian tujuh tahun lalu. Saat saya menjadi korban guru yang mengajari ilmu hitam."
...
Masih di cafe dengan gerimis yang turun. Aku mengusap pipiku dengan tisu untuk kesekian kalinya. Ku tundukan wajahku saat orang-orang menatap ke arahku dengan intens. Bisakah mereka tidak mengganggu ku?
Sudah lima belas menit yang lalu Dika pergi. Tapi rasanya sangat lama sekali. Bayangan-bayangan Dika terlihat lebih jelas di jalanan. Seolah semua orang telah berubah menjadi Dika di mataku.
Kupejamkan mata lelah, air mataku seolah dikuras habis malam ini. Aku seperti menyesal memilih Rehan daripada Dika. Memilih orang seperti Rehan, daripada Dika. Tapi semua itu bukan untukku. Aku hanya mengikuti langkah yang terbaik. Dan aku memutuskan mengalah dengan keadaan.
"Maaf Dika... Aku benar-benar egois."
....
Keluar dari masjid, aku disambut dengan angin yang dingin, pertanda hujan datang. Mendung sudah menggelanyut di langit dengan merata. Tidak tersisa lagi panas dan cahaya dari langit. Seperti tidak ada ampun bagi hujan untuk membasahi bumi.
Aku menghela, menatap mobilku yang berada seratus meter dari sini. Area parkir memang agak jauh dari masjid. Karena di halaman ada sebuah taman bermain yang hijau oleh rumput. Hijau, dengan aneka permainan yang seru, seperti ayunan, jungkat-jungkit, bahkan ada lapangan futsal dan bulu tangkis.
Tepat saat kakiku menginjak tanah, saat ingin segera menuju mobil, Hujan turun layaknya diguyurkan penuh dari langit. Segera saja kutarik kakiku lagi, dan sedikit menjauh ke pelataran masjid. Kulihat samping kiriku semua orang membawa payung dan mulai meninggalkan ku sendiri. Atau...
"Hai Jeha."suara penuh kesantaian dan paling kubenci hari-hari sebelumnya terdengar persis di belakang ku. Tapi entah kenapa sekarang suara itu terasa begitu indah.
Aku menghembuskan nafas ragu, mungkin karena sekarang aku tau, dia bukan lagi murid besarku. Aku tidak bisa memandanginya dengan remeh lagi. Aku malah merasa canggung.
"Ekhem..."Dika berdehem, yang sangat kentara dibuat-buat. Ia berdiri di samping ku dengan tegap, memandang hujan deras dengan begitu khidmat. Tidak sepertiku, yang malah berdiri kaku dengan degup jantung yang sangat kencang.
"Hujan yang deras ya."gumamnya pelan, aku menoleh singkat, lalu mengangguk. Ia menghembuskan nafas. "Dunia sangat rumit. Kadang orang berpura-pura dari jahat ke baik. Tapi terkadang berpura-pura dari baik ke jahat."Gumamnya puitis. Tapi jiwa kritis ku tidak terima.
"Anda merasa baik?"tanyaku skeptis.
"Aku tidak bilang seperti itu."tolaknya dengan mengangkat bahu. "Aku cuma merasa kalau penyamaran ku selama ini berhasil. Dan Jeha adalah orang yang pertama kali, yang berhasil memancing aku agar jujur."ucapnya memandangku dengan senyuman. Aku tidak akan berbohong, wajahnya sangat tampan. Tapi sayang, wajahku kali sungguh merah padam. 'Benarkah aku yang pertama kali membuatnya jujur?' Kenapa aku merasa istimewa?
Aku merapatkan baju, angin yang berhembus semakin kencang. Kulihat sebuah kursi di samping kaca masjid. Ku langkahkan kakiku tanpa sepatah katapun. Entah mengapa aku tidak bisa biasa saja didekat Dika kali ini. Apakah karena aku telah salah persepsi dengan dia selama ini?
Aku duduk di sudut kursi, tepatnya kursi kayu yang panjang. Disebelah pojok satunya, ada Dika yang mengikut duduk. Ia tampak santai sekali, seperti biasanya. Mungkin yang kulihat tadi saat dia ceramah, adalah Dika yang tidak biasa.
"Kamu ngikutin saya, Jeha?"aku menoleh, tanpa suara kugelengkan kepalaku cepat. Dika tampak cemberut. "Apakah aku terlalu tampan hah? Hingga membuat Jeha tidak bisa bicara?"selorohnya kesal.
Aku seketika melotot. "Enak aja. saya tidak suka dengan anda ya."seruku sewot, sama sekali tidak santai. Lalu menyesal saat melihat ekspresi Dika.
"Aku tidak bilang Jeha suka aku loh."Dika terkekeh geli, menatap ku yang berwajah merah padam. Nafasku bahkan memburu.
"Terserah."aku menekan satu persatu huruf, menunjukkan seberapa dongkolnya diriku.Dika malah tertawa melihat ku. Aku menghela pasrah.
Hujan masih terus menderas, seperti tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Mendung di langit juga masih pekat tanpa ubah, petir dan gemuruh menghiasinya. Kutatap mobilku yang sendirian di parkiran. Suasana masjid sepi sekali. Hanya tersisa kami berdua. Yah benar, kami berdua.
Lenggang, hanya terdengar suara hujan yang mengenai tanah atau genteng masjid. Suaranya mengalahkan apapun yang ada, Aku tidak bisa mendengar apapun selain suara gemericik hujan.
"Jeha..."panggil suara bas Dika. Aku menoleh, kulihat Dika tersenyum sungkan. Aku menaikan satu alis.
"Gimana kalau aku benar-benar suka Jeha. Apa Jeha mau?"
...........
"Mau apa lagi mbak?"
Aku menggeleng, itu saja sudah sangat terpaksa aku memesan lagi cappucino untuk mendapatkan tempat di sini. Aku tidak mau ditanya terus-menerus oleh mbak-mbak itu. Situasi ku sedang tidak bagus, aku tidak mau salah melampiaskan emosi pada orang lain.
Sudah jam sembilan lewat. Tapi rasanya sangat malas untuk sekedar beranjak dari sini. Seolah tubuhku sudah terpaku untuk tidak pergi kemana-mana. Aku lemas di bangku cafe.
Aku membayangkan hidupku satu tahun lagi, atau sepuluh tahun lagi. Apakah bisa bahagia tanpa Dika?
...........
Aku terdiam sempurna. Pertanyaan yang kemarin-kemarin kuanggap angin lalu, sekarang begitu menusuk ku sangat dalam. Aku menatap Dika berkali-kali, dan tetap kulihat wajah Dika yang serius tanpa ada keraguan.
"Aku benar-benar suka Jeha. Dari pertama aku lihat Jeha di sekolah dengan baju batik hijau, aku suka Jeha. Saat aku melihat Jeha memakai baju dinas sekolah, aku suka Jeha. Aku suka Jeha hari-hari berikutnya. Dan sampai sekarang, rasa suka ku ke Jeha udah gak bisa diukur. Aku semakin suka Jeha."ujarnya dengan wajah serius.
Demi tuhan! bangunkan aku jika ini adalah mimpi, atau bawa aku mendekat pada Tuhan, jika di depanku ini iblis jahat. Aku benar-benar dibuat mematung kali ini. Pandangan ku menyusuri wajah Dika yang bergurat tegas dan bersih. Aku terpaku.
"Maaf Kalau buat Jeha nggak nyaman. Tapi aku benar-benar suka Jeha. Aku sering mimpiin Jeha, sering menatap Jeha dengan pikiran kotor, sering memfoto Jeha diam-diam, dan mengamati foto Jeha berjam-jam. Aku banyak melakukan kesalahan sejak Jeha datang, Dan aku tau, jika aku suka Jeha."ucapnya lagi tanpa berkedip. Tatapannya begitu dalam menusuk ku. Aku meneguk ludah susah payah.
"A...aku gak paham. Kamu berubah cepat."aku tergugup, langsung mengalihkan pandangan ku ke depan. Entah kenapa mataku basah.
"Aku paham Jeha."Dika menghembuskan nafasnya panjang. Menghempaskan tubuhnya ke belakang, menyender pada bantalan kayu. "Aku selama ini bersikap buruk pada Jeha. Aku suka ngusilin Jeha dan bikin marah. Aku selalu membuat Jeha kesulitan dengan tingkah ku. Tapi kalau boleh jujur, aku lakuin semua itu agar Jeha bisa melihat ku. Bisa menyadari keberadaan ku. Aku juga bisa dekat dengan Jeha. Walaupun dengan cara yang salah."
Sungguh, ini situasi paling membingungkan yang pernah kutemui. Aku tidak pernah bermimpi atau membayangkan akan ada kejadian seperti ini dalam hidupku. Tapi, batinku entah kenapa meneriakan ku agar dekat dengan Dika, ingatan ku kembali berputar saat Dika mengumandangkan adzan, dan menjadi imam salat. Dika yang memberikan tausiyah dengan sangat sempurna, Dika yang memakai baju syar'i dan datang ke masjid. Dan Dika yang dengan gaya maskulin namun hangat menyatakan cintanya padaku. Aku tanpa sadar jatuh cinta dengan semua itu. Aku benar-benar tidak menduganya.
"Jeha mau sama aku?"tanya Dika lagi, memandangku dengan ekspresinya yang hangat, dan penuh pengharapan.
Lalu, saat bertepatan hujan yang mulai menjadi gerimis, dan awan mendung yang mulai memudar, memperlihatkan matahari yang hampir tumbang ke ufuk barat. Aku mengangguk dengan yakin, aku menerima cinta Dika. Aku ingin menjalani hari tua ku dengan Dika. Aku ingin Dika menjadi imam salat ku.
Benar-benar tidak terduga bukan?
.........
Pesanan datang, secangkir cappucino terhidang di depan ku. Aku menatapnya malas, sama sekali tidak nafsu melihat secangkir minuman hangat itu. Aku lebih fokus melihat kaca yang berembun, karena disanalah aku tau, aku tidak menangis sendiri.
Ting!
Bunyi lonceng kecil di pintu masuk terdengar, pertanda bahwa ada pengunjung lain yang baru masuk. Tapi aku tidak perduli, pandangan ku tetap ke arah jendela.
Sampai akhirnya seseorang duduk di tempat Dika duduk tadi. Aku menoleh, lalu segera membuang muka. Aku tidak suka dengan wajahnya yang nampak kelicikan.
Dia Rehan, Duda kaya pilihan mama. Sebagai calon suamiku.
...........
Ternyata Dika tidak se-menyebalkan yang kukira. Ia adalah tipe cowok yang humoris dan terkadang sangat 'sweet'. Aku tidak pernah dibuat diam tanpa tawa, Ia selalu berhasil membuat lelucon-lelucon yang tidak pernah kupikirkan ada. Walaupun sering kali leluconnya sangat garing.
Sudah satu minggu kami bersama. Tidak dengan ikatan pacaran. Waktu itu, Dika hanya mengatakan aku mau tidak menjadi istrinya. Dan aku tidak akan terkejut, jika Dika tidak mengajak ku ke tahap pacaran lebih dulu. Itu karena jalan pikiran Dika sangat berbeda dengan pria kebanyakan. Dika sangat menjunjung tinggi martabat seorang perempuan, walaupun dulu dia sangat menistakan diriku ini, tapi itu semua kuanggap khilaf.
Dika di sekolah juga berubah total, Ia sekarang hanya duduk dengan tenang saat menyimak pelajaran ku. Ia akan memperhatikan ku dengan senyuman manis di pojok kelas, menyimak semua materi yang disampaikan. Bahkan seakan ingin membuat ku bangga, ia selalu serius mengerjakan tugas yang kuberikan. Dan di semua yang ia kerjakan, tak pernah kurang dari seratus nilai yang ia dapat. Aku menggeleng malas, dia memang tidak bodoh.
Bahkan kudengar, di mata pelajaran lain pun Dika tak kalah mencengangkan publik. Ia sekarang menjadi anak kesayangan bagi guru-guru yang berpengetahuan. Dan menjadi momok menakutkan bagi sebagian kecil guru-guru yang tidak kompeten, takut jika Dika memberikan pertanyaan yang terlalu sulit.
Aku bangga padanya.
Tapi seperti sudah tugasnya untuk tidak naik kelas. Di semester selanjutnya, Dika kembali menjadi urakan, dan sering membolos mata pelajaran. Ia selalu menadapat nol besar di mata pelajaran apapun. Ia kembali melaksanakan tugasnya agar tidak naik kelas, sampai entah tahun berapa ia melakukan tugas ini. Guru-guru yang tidak tahu-menahu tentang hal ini pun kebingungan. Dan hanya aku seorang yang bisa menatap penuh kagum pada sosoknya yang santai. Tidak sakit hati saat dibully kembali teman-teman kelasnya. Ia benar-benar pria yang tangguh.
Lalu saat ini, setengah tahun kemudian. Aku memberanikan diri mengajak Dika kerumahku. Aku ingin memperkenalkan Dika sekarang, karena Dika yang dari awal menyatakan perasaannya, sudah rusuh ingin menemui ibuku. Tapi karena satu alasan, aku ragu pada ibuku sendiri.Aku ragu ibu bisa menerima Dika. Aku ragu semuanya akan berjalan lancar.
Apa yang akan kubilang jika ibu bertanya pekerjaan Dika? Apa aku harus jawab bahwa Dika masih SMA? Hahaha tidak lucu.
Tapi setelah ku utarakan apa kecemasan ku, Dika berjanji akan mengatakan yang sebenarnya pada orang tua ku nanti jika ditanya. Barulah aku yakin dengan semuanya. Seperti saat ini, kami berdua sudah duduk berhadapan, dengan orang tua ku di kursi sebelah kanan ku.
"Nak ini kerja dimana?"dan seperti yang kuduga, ibuku bertanya sedemikian. Ia selalu ingin orang yang menjadi suamiku nanti orang yang bertanggung jawab.
"Saya PNS Bu. Sama seperti Jeha."jawab Dika mantap, aku menatapnya tersenyum. Lega.
orang tuaku mengangguk-angguk, tersenyum dengan wajah masih ramah. Aku dan Dika saling tatap, sudah bisa dipastikan, jika orang tua ku setuju.
"Kapan kalian akan menikah?"
Dika tersenyum sopan. Menatapku teguh. Aku tersenyum, juga menanti jawabannya, karena Dika belum mengatakan ini.
"Saya mempunyai kontrak dengan pemerintah Bu. Saya tidak boleh menikah sampai kontrak habis."jawabnya jelas. Tapi langsung membuat ku terdiam, juga orang tua ku yang saling tatap.
"Kontrak apa? Dan berapa lama?"ayah bertanya sedikit menuntut. Aku pun juga sama, karena aku tidak tahu-menahu tentang kontrak yang dimaksud.
"Kontraknya baru habis saat saya berumur tiga puluh tahun Bu. Itu artinya delapan tahun lagi."
...........
"Aku tidak mau!"sentakku kasar, menjauh dari pelukan Rehan yang melecehkan. Jelas saja aku tidak sudi, melihat wajahnya pun aku benci..
Rehan tertawa kecil, menyeringai menyeramkan. "Kamu juga nanti jadi istriku. Sekarang atau nanti hubungan badan, sama saja bukan?"
Aku menggeleng tidak percaya. Menatap lelaki yang dipercaya ibu sebagai menantunya dengan jijik. Aku mendecih tidak sudi.
"Atau malam ini kamu tidur dirumahku saja. Kita buat malam ini terasa panjang."
..........
"Katakan kalau kamu bercanda Dika!"
aku menatap dengan wajah bersimbah air mata, ku pandang lelaki dengan tinggi menjulang tersebut dengan menuntut. Halaman rumah terasa dingin kali ini, aku mengajak Dika langsung keluar setalah ia berujar tadi.
"Aku serius Jeha. Aku tidak bergurau. Kontrak itu sudah kutanda tangani tujuh tahun lalu. Aku tidak bisa mengingkarinya."jelas Dika hati-hati. Karena dia tahu, aku sangat emosional kali ini.
"Tapi tidak bisakah kau menikahi ku dengan diam-diam? Orang tua ku jelas tidak bisa menunggu selama itu! Tidakkah kau paham?"aku marah, benar-benar marah. Dika sama sekali tidak pernah bilang soal ini.
"Tidak bisa Jeha. Aku tidak mau semuanya malah rumit kedepannya. Aku tidak mau membuat mu menderita nantinya jika aku dipenjara. Lebih baik kita menunggu delapan tahun lagi."Dika terlihat serba salah. Kasihan sebenarnya melihatnya seperti ini, tapi aku juga tidak bisa berpikir jernih. Aku berpikir rasional, dan jelas yang pertama kupikirkan adalah orang tua ku.
Aku jatuh meluruh di tanah. Badan ku lemas memikirkan semuanya, aku memang bukan wanita yang kuat. Aku akan menjadi tidak berdaya saat masalah berat menimpaku.
Dika Berjongkok, dan untuk pertama kalinya menyentuh daguku dengan tanganya yang bersarung. Aku menatapnya yang tersenyum manis. "Bisakah kita berjuang bersama?"
Aku mematung. Pertanyaan atau pernyataan itu seperti menusukku dalam, aku seolah menjadi wanita egois disini. Aku sangat tidak mengerti keadaan, dan hanya mementingkan diriku sendiri. Tanpa sadar, aku memeluk tubuh Dika. Aku menangis di bahunya yang kekar. Aku memukul-mukulnya berkali-kali untuk meluapkan emosi.
Dika membiarkan saja pelukan ku. Dia tau, aku sekarang sangat butuh sandaran. Dika diam saja, tidak mengelus punggung ku atau rambut ku. Dia hanya terus berucap berulang.
"Allah menjodohkan kita jika Dia berkehendak."
.........
"Kau gila!"
"Tidak... Kau salah persepsi Jeha. Kita calon suami istri. Dan hubungan badan tidaklah masalah."seringai Rehan membuatku takut. Wajahnya yang berbulu di rahang terlihat menyeramkan. Aku perlahan menjauh. Dan segera bangkit berdiri, mulai berjalan meninggalkan cafe.
"Jeha! Kau milikku malam ini hey!"teriak Rehan dan berlari mengejar ku. Aku seketika panik, dan melebarkan langkah kakiku.
"Taksi!"
........
Aku mencoba tidak memikirkan soal pernikahan dengan Dika. Aku lebih fokus untuk menyibukkan diri dengan tugas ku sebagai seorang pengajar. Aku berangkat sekolah bersama Dika, dan pulang bersamanya lagi. Kami sudah sampai di inti dari sebuah hubungan. Kami bahagia dengan kehidupan kami masing-masing. Tidak ada hubungan spesial, tapi kami siap untuk menikah nantinya. Kami sudah saling berkomitmen.
Tapi itu kami, bukan orang tuaku. Ibu sangat menentang hubungan ku dengan Dika. Berkali-kali bilang jika usia ku sekarang seharusnya sudah punya anak. Dan diam dirumah menjadi ibu. Beliau begitu sanksi jika aku masih sendiri hingga delapan tahun lagi. Ayah pun tak jauh berbeda. Walaupun lebih banyak diam, tapi aku tau, tatapan matanya waktu Dika datang, sama sekali tidak ramah.
Aku mencoba bersabar. Bahkan Dika pun tidak pernah tersinggung. Dia malah semakin menyemangati ku untuk optimis. Dia sangat yakin, jika Allah telah menjadikan kami pasangan sejati. Pasangan di dunia dan di surga. Pasangan yang saling melengkapi dan menguatkan.
Tapi, tidak saat ini. Saat Dika baru saja mengantarkan ku pulang, kami berdua di kejutkan dengan kedatangan seorang duda kaya yang ingin melamar ku.
"Enggak Bu! Jeha gak mau nikah."Mataku menatap membelalak.
"Jeha! Jaga bicara kamu, ini Rehan. Seorang yang mapan ingin segera menikahi mu nak."bentak ibu dengan wajah marah. Tidak mengasihani Dika yang tersenyum perih di sampingku.
"Pokoknya kamu harus nikah sama Rehan. Titik."putus ibu sepihak. Aku menggelengkan kepalaku tidak mengerti, langsung berlari keluar dengan mata basah. Dika mengikuti ku dari belakang.
"Hei."Dika menyambar lenganku, tangannya masih menggunakan sarung tangan. Ia memandang ku lembut.
"Jika kita berjodoh, semuanya akan tetap terjadi Jeha. Dan semua ini, semua ujian ini mutlak dari Allah. Allah ingin menguji kita berdua. Apakah masih bertahan atau tidak. Aku percaya kita masih bisa berjuang."
Aku menatap Dika tidak mengerti. Kenapa bisa dirinya tetap optimis seperti ini? Terbuat dari apa hatinya itu? Kenapa aku seperti merasa tidak pantas untuk nya? Aku tidak seperti Dika, yang selalu pasrah pada Allah. Dan aku tidak.
Aku mengusap pipiku perlahan. Tersenyum miris melihat betapa beruntungnya aku mendapatkan Dika. Bahkan saat ini, Dika masih sempat-sempatnya menggembungkan pipinya sengaja. Aku tertawa kecil, Dika tidak pernah berubah.
"Aku akan bertahan Dika. Aku percaya pada takdir Allah, bahwa kita berjodoh."aku berkata yakin. Memandang Dika yang membuat love dari jempol dan telunjuknya. Aku sekarang benar-benar tertawa lepas, tapi langsung mengacungkan jempol. Dika memang seperti 'oppa-oppa' Korea.
Tapi dugaan ku salah besar. Ujian Allah belum berhenti di sini. Allah memberikan ku ujian yang lebih besar. Dan mungkin inilah waktu untuk ku memilih. Menyerah, atau berjuang.
Jantung ayah kambuh, beliau langsung dimasukkan ke UGD, aku dan ibu sangat panik, saat ayah tengah malam mengerang kesakitan di tempat tidur. Kami langsung membawanya ke rumah sakit.
"Ini semua salah kamu Jeha."ibu terisak menyalahkan ku. "Coba kalau kamu turutin mau ibu waktu lalu. Turutin nikah sama nak Rehan. pasti semuanya gak akan kayak gini, ayah kamu pasti udah bahagia nimang cucu."
Aku menghela pasrah. Tidak mau mendebat ibu disaat-saat seperti ini. Aku harus fokus pada ayah. Ini yang terpenting saat ini.
Besok pagi, ayah sadar. Ia mulai pulih kembali. Aku dan ibu segera saja masuk untuk menemuinya. Tapi betapa terkejutnya aku, ayah malah menolak bertemu denganku. Ayah mengusirku dengan kasar. Mengatakan ku anak tidak penurut, dan pembangkang.
"Pergi Jeha! Gak usah temui ayah lagi. Toh kamu gak pernah nurut sama apa kata ayah. Gak mau nikah sama Rehan. Udah sekarang kamu pergi aja, Ayah sekarat pun kau pasti tak peduli kan?"
Aku menangis sesenggukan di koridor rumah sakit. Dadaku sangat sesak mengingat ucapan ayah padaku. Rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum berkali-kali. Seorang ayah yang sangat menyayangi ku dan kusayangi, mengatakan itu semua padaku. Anaknya sendiri.
Telfon dan chat dari Dika sama sekali tak kubalas hari itu. Aku terduduk lemas di kursi tunggu. Ayah tetap tidak mengijinkan ku masuk. Ayah mengusirku tak tanggung-tanggung. Membuat ku siang ini dengan terpaksa mengikuti apa mau beliau.
"Ayah..."sapaku saat melihat beliau sedang mengobrol dengan ibu. Dipandangnya aku dengan sinis. Aku mengusap pipi ku yang basah.
"Je...ha siap nikah dengan Rehan."ucapku terbata dan lirih. Lalu badanku langsung luruh kebawah. lemas dengan tangisan yang nyata. Ibu datang memelukku dan mencium kening ku sayang. Ayah tersenyum memandang ku.
"Kamu bener-bener anak yang berbakti."bisik ibu di telingaku, tanpa sadar itu membuatku perih. Aku menangis lama sekali, dengan ibu yang menemani tangisan ku dengan setia. Hingga akhirnya, aku meminta izin pada ibu untuk menemui Dika terakhir kali. Susah payah aku merayu, mengatakan ini untuk terakhir kalinya. Membuat ibu dengan tidak senang mengijinkan ku pergi.
Aku menelfon Dika. Yang sempat membuat ku terkejut melihat seberapa banyak panggilan darinya.
"Dika.... Temui aku di cafe biasa."ucapku yang langsung ku akhiri panggilan ku.
Aku menarik nafas dalam-dalam. Semua ini harus segera berakhir.
Maafkan aku Dika.....
............
"Pak lebih cepat pak!"suruh ku takut-takut. Mobil Rehan melaju sangat cepat di gelapnya malam. Aku sangat takut sekali. Aku tidak pernah menyangka jika sifat asli Rehan sebejat ini.
Ciiiiiiitttttt
Aku menjerit ngeri, mobil berhenti mendadak karena Rehan telah menghadang mobil di depan sana. Aku semakin meringkuk di dalam mobil. Tidak ada siapapun yang bisa diandalkan. Supir taksi di depan ku sudah terlalu tua untuk melawan badan tinggi besar Rehan.
Dor dor dor
Kasar sekali Rehan menggedor kaca jendela milikku. Tatapannya begitu liar hingga membuat ku bergidik ngeri. Aku menatap jeri seringai Rehan.
"Jangan buat saya menghancurkan mobil ini!"ancam Rehan membentak. suaranya begitu sangar, membuat bulu kuduk meremang. Kulihat pak sopir kebingungan, aku tau posisinya. Tapi aku tidak mengharapkan ini darinya.
"Saya mohon keluar mbak... "pinta pak sopir, tapi dengan cepat kugelengkan kepalaku iba. Tidak mungkin aku mengumpankan diriku sendiri ke kandang singa.
"Maaf mbak. Saya memilih tidak ikut campur."pak sopir membuka pintu mobil dan keluar. Aku menatap jeri saat kepala Rehan melongok ke dalam.
"Jangan dekati aku!!!"teriakan ku hilang di ujung. Aku menyudutkan diriku di pojok. Tapi segera saja Rehan berpindah ke bangku belakang. Rehan tertawa bengis dengan begitu menggidik.
Tuhan selamatkan aku!!!
Aku tidak bisa melakukan apapun. Aku hanya bisa menangis saat tangan ku ditarik paksa oleh pria kejam bernama Rehan. Dia seperti iblis yang tertawa melihat jerit memohon ku.
"Kiss me baby, please."cumbunya semakin dekat, tanpa segan ku tendang perutnya dengan cepat. Tapi itu percuma, tenaga ku tidak cukup membuat Rehan jatuh. Ia malah semakin bengis mengincar tubuhku yang sudah terpojok. Jantungku begitu kencang berdetak.
"Kita lakukan sekarang?"seringai Rehan mengerikan. Ia mulai membuka baju kaosnya di depan ku. Aku menggeleng iba, tangisanku sudah tidak terdengar.
"Aku mohon Rehan."pintaku menatap sendu. Tapi Rehan malah tertawa panjang, lalu melenguh di kesepian malam. Langit sunyi menjadi saksi jiwa iblis Rehan yang ingin melahap kesucian ku.
..........
Brak!!!
Tepat saat Rehan hampir berhasil mengecup bibirku. Seseorang menendang pintu mobil di belakang Rehan, membuat kaca-kaca jendela hancur . Aku berseru tertahan saat melihat siapa yang datang.
"Dika!"
Anak laki-laki dengan wajah tampan itu tampak marah. Matanya merah layaknya darah segar. Otot-otot di wajahnya menonjol keluar dengan mengerikan. Aku menatap ngeri Dika kali ini. Aku seperti melihat monster yang sesungguhnya.
Dika membuka pintu dan mengambil kaki telanjang Rehan, lalu menariknya keras.
Bruk!
Aku menjerit ngeri saat tubuh Rehan menghantam aspal, membuat si empu mengaduh tertahan. Tubuhnya lecet sudah, Rehan sama sekali telanjang, hanya celana super pendeknya yang tersisa.
Tanpa banyak bicara, Dika langsung memukul dengan membabi buta tubuh Rehan. Wajahnya dipenuhi kemarahan yang mengerikan. Disana, mulut Rehan sudah berlumur darah kental. Tinjuan Dika benar-benar keras dan tidak tertahan. Segera saja tubuhku bergerak cepat, menarik bahu Dika yang besar.
"Dika cukup! Dia bisa mati."aku berteriak keras, menarik lebih kencang bahu Dika.
Dika akhirnya berhenti sejenak, lalu berdiri dan menghempas tangan ku. Ia menatap ku dengan menyeluruh, kami saling bertatapan dengan mataku yang basah.
"Dia tidak menyentuh Jeha bukan?"geram Dika dengan menunjuk tubuh Rehan yang merintih. Aku menggeleng dengan air mata yang luruh, lalu untuk pertama kalinya semenjak hubungan kami, Dika memelukku dengan erat. Jantung Dika dapat kurasakan berdetak sangat keras. Tubuhnya juga mengigil dengan hawa tubuh yang sangat panas.
"Dika... Aku baik-baik saja."ucapku menenangkan, Dika saat ini bahkan lebih emosional dibandingkan aku yang mengalami kejadian ini. Aku menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut. Dika melepaskan pelukannya, Menatapku dengan mata yang basah.
"Jangan pernah terima dia Jeha. Dia bukan pria baik. Jeha lebih baik sama aku saja, Jeha harus sama aku!"Dika menggertak. Aku yang mendengar hanya tersenyum kecil, lalu mengangguk pelan.
"Aku akan segera menjelaskan pada ayah ibu Jeha. Mereka pasti mengerti."Lanjutnya tanpa mengalihkan pandangannya. Nafas Dika terasa pendek-pendek. Ia begitu khawatir padaku.
Sedetik kemudian, bunyi sirine polisi terdengar kencang dari jauh. Dua mobil polisi mendekat dan berhenti tak jauh dari kami. Aku mulai ketakutan. Tidak mungkin kan kalau Dika di penjara?
Tapi dugaan ku salah, supir taksi tadi ikut keluar dari mobil polisi. Lalu menunjuk tubuh Rehan yang tergeletak dengan sebutan pemerkosa. Jelas sudah semuanya, bukti Rehan telanjang sudah cukup, ditambah kesaksian ku dan sopir taksi. Semuanya selesai malam ini juga.
"Kita pergi?"Dika bersuara, kali ini suaranya lebih terkendali. Aku mengangguk.
"Pergi kemana Dika?"
Dika hanya tersenyum lebar. Merentangkan tangannya lepas. "Kita ke KUA! Kita harus segera mendaftar sebagai calon disana. Karena aku diperbolehkan pemerintah menikah saat ini. Dan juga, aku menjadi guru BK di sekolah Kebangsaan!" Dika tertawa bahagia. Aku yang mendengarnya juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaanku. Kutarik tangannya yang bersarung berjalan.
"Ternyata benar Dika. Kita adalah pasangan yang ditakdirkan Allah. Cukup percaya saja, maka semuanya akan baik-baik saja."