Ini merupakan kejadian yang dialami oleh seniorku di sekolah menengah atas (SMA). Sejak saat itu kamar no.13 di gedung mawar tidak lagi di gunakan. Sebelum aku bercerita, akan aku jelaskan sedikit tentang pembagian asrama di sekolahku. Ada 3 gedung asrama yang digunakan untuk tempat tinggal siswi di sekolahku, yaitu Mawar, Melati dan Tulip. Gedung mawar digunakan untuk siswi kelas 1 SMA, letaknya agak terpisah dengan gedung melati dan gedung tulip. Gedung ini merupakan bangunan tertua dari dua gedung asrama lainnya.
Karena sekolahku yang tidak berada di tengah kota sehingga belakang bangunan gedung mawar sendiri di batasi dengan pagar kayu tua setinggi kurang lebih 2 meter dan langsung berhadapan dengan pepohonan rimbun serta semak belukar. Tidak ada rumah warga ataupun bagunan lain bahkan manusia yang tinggal di lahan belakang bagunan itu. Di samping gedung mawar terdapat sebuah gudang tua dengan lonceng besar di depannya yang di gantung di batang pohon sawo. Lonceng itu di sebut oleh para siswa dengan sebutan “kenteng”. Kenteng sendiri akan berbungi jika di pukul dengan sebuah batangan besi yang di gantung di samping kenteng tersebut. Pada zaman dahulu kenteng digunakan untuk tanda dalam membangunkan atau memberitahukan para siswa untuk bersiap-siap pergi ke sekolah. Akan tetapi, kenteng sudah tidak digunakan lagi karena sekarang sudah ada sistem bel elektrik dan speaker yang di letakkan di lorong-lorong asrama.
Beberapa hal tadi merupakan penjelasan singkat tentang asrama mawar yang akan menjadi lokasi dalam ceritaku ini. Jadi, mari kita mulai ceritanya.
****
Dua tahun lalu, tepat pada tanggal 11 november. Kamar no 13 di gedung mawar di tinggali oleh empat orang anak, yaitu anna, ria, via, dan sari. Malam itu, ria terbangun dari tidurnya karena rasa haus. Setelah ia mengambil segelas air minum dan meminumnya, ia lalu meletakkan gelasnya di atas nakas di samping tempat tidurnya, dilihatnya jam digital menunjukkan pukul 11:10:57. Tiga detik setelah ia meletakkan gelasnya, tepat pukul 11:11 teror malam itu di mulai.
Awalnya terdengar suara pukulan kenteng sebanyak 3 kali. Suaranya sangat nyaring dan berdengung karena letaknya yang tidak jauh dari gedung tempat ia tinggal. Lalu, tak lama setelah itu terdengar suara kucing yang sedang menyalak di luar kamar yang diikuti dengan suara lemari kaca yang dibanting ke lantai. Di lorong samping pintu kamar no 13 memang terdapat sebuah lemari besar setingggi 2 meter untuk meletakkan piala-piala dan plakat penghargaan para siswi.
Mendengar suara-suara itu, ria mendatangi tempat tidur anna untuk membangunkannya.
“Na, bangun dong. Aku boleh gak tidur sama kamu” kata ria sambil mengguncang pundak anna. Anna yang masih setengah sadar menggeser tubuhnya sebagai tanda membolehkan ria untuk tidur di sampingnya.
Di luar ruangan suara kembali hening setelah lemari yang terbanting. Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama, beberapa detik setelah itu terdengar suara segerombolan bebek yang semakin lama semakin nyaring. Sedangkan sepengetahuan mereka, tidak ada warga yang tinggal di sekitar gedung asrama mereka. Jadi, bagaimana mungkin ada segerombolan bebek yang berkeliaran di gedung asrama mereka. Ria yang belum bisa tertidur kembali dan anna yang terlanjur terbangun karena dibangukan oleh ria mendengar suara itu dalam diam. Ria yang ketakutan menyadari bahwa anna belum tertidur lalu berbisik.
“Kamu dengar gak?” bisiknya sambil berusaha memejamkan mata.
“Iya” jawab anna singkat sambil menutup kepalanya menggunakan bantal karena suara di luar ruangan semakin nyaring seolah-olah semakin mendekat ke arah mereka.
Ria ikut menutupi kepalanya dengan bantal. Mereka berdua berkeringat dingin di bawah selimut ketakutan. Lalu, suara itu tiba-tiba hilang. Dan terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka. Sebuah tangan menyentuh pundak anna dan mengguncangnya pelan.
“Anna bangun. Temanin aku ke WC” kata via. Anna dan ria yang tadinya menahan nafas di balik bantal menghembuskan nafas lega lalu mengangkat bantal yang menutupi kepala mereka.
“WC?” tanya anna memastikan sambil duduk di pinggir kasur.
“Iya, ayo cepat! aku sudah kebelet nih” kata via sambil menarik tangan anna.
“Gak bisa ditahan? Aku gak berani nemanin”
“Gak bisa, aku takut sendirian ke WC. Ria! Jangan pura-pura tidur, kamu juga ayo temanin aku kencing”
Singkat cerita, mereka bertiga pun pergi ke WC menemani via. Sebelum benar-benar meninggalkan WC, ria sempat melihat sebuah tangan tergantung di atas pintu WC yang terletak paling pojok. Ria yang takut langsung mengalihkan pandangan dan tidak membicarakannya ke kedua temannya karena merasa tidak yakin dengan apa yang dilihatnya.
Sepanjang lorong udara malam terasa dingin membuat tengkuk mereka meremang. Sebelum memasuki kamar ria menyadari satu hal yang ganjil. Ia melihat lemari kaca di dekat pintu masuk kamar mereka sedang berdiri dalam keadaan utuh, padahal ia yakin sekali mendengar suara lemari terjatuh ke lantai dan pecah.
Merekapun buru-buru memasuki kamar. Sesampainya di dalam kamar ia melihat sari sedang duduk bersimpuh di lantai tepat di tengah ruangan masih mengenakan gaun tidurnya. Tatapan matanya kosong dan lurus kedepan. Rambut panjangnya yang biasa ia ikat, terurai. Ketika ketiga temannya memasuki kamar tatapannya tetap kosong tetapi ia memandangi teman-temannya satu persatu lalu tersenyum tipis. Jika kamu pernah melihat lukisan monalisa karya leonardo da vinci, seperti itulah senyuman sari pada saat itu. Senyumannya terlihat senang tetapi juga terlihat sedih. Sari tidak mengatakan apa-apa sampai beberapa detik. Ia hanya tersenyum sambil mengusap rambut panjangnya dan menatap teman-temannya.
“Kamu ke-na-pa?” tanya anna tergagap.
Sari hanya tersenyum sambil meggelengkan kepala dan terus mengelus rambut panjangnya. Ria mundur ke belakang, menuju ke arah pintu keluar kamar. Ia ketakutan dan berniat kabur. Baru beberapa langkah mundur tiba-tiba sari melompat berdiri. Dan berlari ke arah pintu lalu menguncinya. Sontak ria jatuh terduduk karena kaget. Ia lantas ditarik mundur oleh kedua temannya menjauhi sari yang masih menghadap daun pintu yang baru saja dikuncinya.
Mereka bertiga sudah mundur hingga dekat ke sudut ruang, ketika sari menoleh ke arah mereka sambil tertawa layaknya anak-anak yang kesepian. Dia lalu berkata “Kalau kalian keluar aku gak punya teman main” sambi terus tertawa dan berjalan dengan sedikit melompat-lompat ringan. Keringat dingin sudah mengalir melewati dahi mereka. Ketika sari semakin mendekat ke arah mereka, mereka semakin terpojok sehingga tidak bisa lari kemana-mana lagi. Kaki mereka pun sudah membeku. Jika kamu pikir bahwa pucak dari rasa takut adalah berteriak maka kamu salah besar, ketika kamu merasa sangat takut maka kamu tidak akan mampu bersuara lagi karena ketakutan.
Mereka bertiga berpegangan tangan erat dengan telapak tangan mereka yang masing-masing sudah sangat basah. Sari berdiri di hadapan mereka sambil mengamati wajah mereka satu-persatu. Ia menyentuh wajah via yang berdiri paling pojok sebelah kanan. “Cantik” gumamnya lalu ia tertawa-tawa mengitari ruangan sambil melompat-lompat kecil. Mereka bertiga sangat ketakutan dan hanya bisa menangis tertahan.
Sari yang terlihat tertawa-tawa sambil mengitari ruangan, tiba-tiba berhenti dan menatap mereka bertiga. Wajahnya kembali serius lalu salah satu lampu kamar mati secara tiba-tiba membuat ruangan terlihat remang.
“Kalian gak mau mainan sama aku?” tanyanya sambil menatap lurus kedepan ke arah mereka bertiga yang menangis.
Mereka bertiga menangis hingga pandangan mereka kabur dan menggelengkan kepala pelan menolak ajakan sari. Tiba-tiba ekspresi wajah sari berubah ia lalu menangis histeris sambil meremas gaun tidurnya.
“Aku padahal cuma pengen main. Tapi, kalian takut sama aku. Sejak dulu memang gak ada yang mau temanan sama aku-“
Mereka bertiga tidak mendengar jelas kalimat selanjutnya karena tangisan sari semakin nyaring dan tersedu-sedu. Jadi, suaranya terdengar seperti gumaman yang tak jelas. Lalu terdengar suara orang tersungkur ke lantai. mereka bertiga melihat sari pingsan dan tidak bergerak sama sekali. Mereka lalu mendekati sari perlahan dan memeriksanya. Masih ada denyut nadi dan hembusan nafas. Mereka yang lega lalu merosot di lantai disebabkan kaki mereka yang masih sangat lemas karena ketakutan. Malam pun kembali hening seperti malam-malam sebelumnya.
Beberapa menit setelahnya, mereka melapor ke bagian keamanan asrama dan mereka berempat dipindahkan ke kamar lain untuk sementara waktu. Saat itu, sari yang sudah sadar merasa kelelahan seperti energinya telah diserap habis.
Menurut pengakuan sari, sebelum ia kerasukkan atau kesurupan. Ia sebenarnya ingin menyusul teman-temannya ke WC pada malam itu. Akan tetapi, sebelum ia sempat beranjak dari tempat tidurnya ia melihat sosok gadis sebaya dengannya yang memiliki wajah pucat dan pergelangan tangan terkoyak. Ketika ia menatap mata gadis itu, seketika waktu membeku dan ia kehilangan kesadarannya. Ketika sadar ia sudah bangun dari pingsannya dan teman-temannya sudah duduk mengelilinginya.
****
Keesokkan harinya kamar itu mulai di kosongkan. Menurut cerita penjaga asrama yang sudah berkerja belasan tahun di sana. Sepuluh tahun yang lalu tepat tanggal 11 november memang pernah ada seorang siswi yang berusaha bunuh diri di kamar itu karena ia di bully dengan teman sekamarnya dan ia tidak memiliki teman sama sekali. Namanya ratna. Ratna sendiri sempat dilarikan ke rumah sakit terdekat karena percobaan bunuh dirinya. Akan tetapi, sampai rumah sakit nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal tepat pukul 11:11.
Menurut penjaga asrama, sebelumnya memang selalu ada kejadian setiap tanggal 11 november pukul 11:11 di kamar tersebut. Akan tetapi, tidak pernah sampai ada yang kerasukkan atau kesurupan. Ia sendiripun juga tidak tau mengapa demikian.
****
Sejak saat itu, kamar itu selalu di kosongkan hingga sekarang. Akan tetapi, arwah ratna selalu ada dan menangis setiap malam jika kamu melewati kamar tersebut.
Selesai/end