Bisa hidup layaknya orang normal adalah keinginanku sampai saat ini.
Namaku Seli Nurmawan, seorang wanita berusia dua puluh tahun yang sedang menempuh studinya di salah satu kampus ternama. Tinggal bersama paman dan bibiku sejak kecil, membuatku terbiasa untuk hidup mandiri. Setelah lulus dari bangku sekolah atas, aku pun memutuskan untuk bekerja paruh waktu ketika sedang tidak ada jam perkuliahan. Menjadi seorang asisten dosen, bukanlah hal yang sulit untuk aku lakukan. Terlebih jurusan yang aku ambil adalah jurusan psikologi, kebanyakan aku mendapat tugas dari dosenku untuk mendengarkan banyak kisah dari para narasumber yang datang.
Kehidupanku nampak biasa di mata orang-orang, hubunganku dengan keluarga paman terbilang cukup baik, meski terkadang Bibi sering menyinggung tentang kematian kedua orang tuaku saat kondisi perekonomian rumah ini dalam keadaan yang sulit. Tentu, mereka berdebat di belakangku, Bibi sering mengungkit beban biaya hidup yang harus dikeluarkan untuk membiayai sekolahku dan keperluan lainnya. Di sisi lain, Paman untunglah selalu membelaku dan meyakinkan Bibi bahwa aku adalah titipan yang telah tuhan berikan dari kematian kedua orang tuaku. Saat itu aku tidak benar-benar menyadari arti sesungguhnya dibalik perkataan paman, aku senang dan berpikir paman sangat menyayangiku.
Setidaknya itulah yang aku yakini selama ini, sampai kenyataan yang sesungguhnya terkuak.
Suatu ketika keduanya lagi-lagi bertengkar hebat, secara tidak sengaja Bibi berkata di hadapanku, "Jika bukan karena dia, kakakku masih hidup, Mas."
Namaku Seli, anak berusia lima tahun kala itu. Seorang anak indigo yang memiliki kemampuan untuk melihat mereka yang tak terlihat. Sudah lama aku tidak membicarakan kejadian saat itu kepada orang lain, sejak terakhir kali menceritakan kejadian itu pada paman dan bibiku.
Saat itu memang aku berpikir sedang bercerita tentang pengalaman burukku bersama seorang anak kecil yang usianya setara denganku. Sesosok bocah kecil tampan yang memiliki lesung pipi. Namun, semakin beranjak besar aku menyadari bahwa Rangga, bocah itu adalah salah satu dari mereka. Dia tidak pernah bertambah tua sepertiku, dia tetap seperti apa yang aku ingat pertama kali. Dia adalah teman kecilku dari dunia lain.
Sungguh sial, dosenku lambat laun menyadari keanehan pada diriku. Dia mulai mengetahui sedikit rahasiaku dan memaksaku untuk bercerita padanya, semua tentang masa laluku, tentang hal buruk yang menimpaki hingga membuat luka yang membekas sampai sekarang, sesuatu yang membuatku trauma dan menjadi anak yang pendiam.
Jika ada di antara kalian yang bertanya-tanya mengapa aku tidak menolaknya saja, maka aku akan menjawab, "Kalian benar-benar bertanya seperti itu padaku, seriusan?" Kalian pasti tidak benar-benar tau rasanya menjadi seorang mahasiswa yang memiliki nilai pas-pasan. Karena kalau kalian tau, seharusnya kalian bisa menebak sendiri apa yang akan terjadi pada nilaiku jika aku menolak. Memang, dosenku ini selalu baik padaku, tapi aku tidak tau jelas apa yang ada dipikirannya, jika dia benar-benar memberiku nilai jelek, maka aku yang akan repot sendiri nantinya.
Maka dari itu pada akhirnya aku terpaksa menyetujui permintaan dosenku ini. Sehingga hari yang telah ditetapkan pun tiba, dan sekarang di ruangan inilah pertama kalinya ingatanku kembali dipulihkan setelah lama aku mencoba menguburnya dalam-dalam. Kalau saja aku boleh mengutuk dosenku ini, aku pasti sudah melakukannya sejak dari tadi. Soalnya ini permintaan pribadi darinya yang sangat merugikan aku. Sangat sulit bagiku melupakan tentang kejadian itu, tapi malah dia yang memaksaku untuk mengingatnya kembali.
Sebuah penghalang yang sudah kubangun dengan susah payah, penghalang antara kenyataan dengan fantasi dunia lain, saat itu juga hancur begitu saja. Selama ini aku sudah menganggap mereka yang tak tak terlihat hanyalah imajinasi dan aku berusaha untuk meyakini itu. Susah payah juga aku mengambil jurusan psikologi ini untuk mendalami ilmu yang memaksaku percaya bahwa kejiwaanku sedang terhanggu, setidaknya itu jauh lebih baik dibandingkan meyakini kalau mereka ini benar-benar ada di sekitarku.
Mereka yang menyorotiku dengan tatapan menyeramkan, wajah yang hancur, bagian tubuh yang terpotong, dan masih banyak lagi bentuk aneh yang mereka tampilkan di pandanganku. Sangat berbeda dengan bocah yang aku temui saat itu, dia persis seperti manusia sungguhan.
Namanya Rangga, dia bisa menghilang. Dulu aku berpikir dia seorang anak yang memiliki trik untuk dimainkan sebagai pesulap.
Kisahku dengannya bermula sejak kejadian malam pada saat itu.
Malam yang dingin dan sunyi, pertama kali aku dan keluargaku pindah ke sebuah rumah tua di pinggiran hutan. Tidak ingat jelas di mana letak lokasinya karena sejak aku dibawa oleh paman, aku tidak pernah kembali lagi ke tempat itu. Gambaran seingatku, rumah itu dibeli oleh ayah karena harganya yang terbilang cukup murah. Di samping itu, ayah juga mendapatkan pekerjaan di dekat sana. Kami semua menyukai tempat itu. Bagian dalamnya pun sangatlah luas, sampai-sampai aku bisa bermain petak umpet bersama ayah di dalam rumah tanpa takut mudah ditemukan.
Semula tidak ada yang salah dengan rumah itu, dan satu keluargaku itu hidup dengan nyaman dan bahagia. Sampai pada suatu hari, ketika malam yang panjang, kedua orang tuaku tidak bisa pulang karena suatu alasan. Mereka tidak bisa aku hubungi dengan telpon rumah, padahal aku sudah yakin menekan nomor sesuai dengan angka yang ayah tulis pada secarik kertas.
Ingat jelas saat itu aku menghabiskan malam seorang diri di rumah. Benar-benar sendiri sampai membuatku, seorang bocah lima tahun sedih karena merasakan kesepian.
Hari itu tanggal 11, bulan 11, jam 11.11, malam di mana kejadian itu terjadi.
Di saat aku menunggu kepulangan kedua orang tuaku, seseorang mengetuk pintu rumahku dari luar. Pikirku, mungkinkah itu ayah atau ibu yang sudah pulang dari kerja?
Tentu, aku tidak langsung membukakan pintu begitu saja. Aku bukanlah anak kecil yang tidak pernah diajarkan bertahan hidup saat sendirian di rumah. Aku ingat perkataan ayah untuk tidak membukakan pintu kepada sembarangan orang. Itu sebabnya aku menunggu beberapa saat sampai seseorang diluar memberikan kata sandi yang hanya aku dan kedua orang tuaku ketahui.
Ketukan sebanyak tiga kali terdengar, disusul suara asing dari cekikikan seorang anak kecil.
"Tok, tok, tok, bisakah gadis manis di dalam membukakan pintu untukku?" Suara itu diiringi ledekan dari suara khas anak kecil.
Setelah mendengar suara itu dengan jelas, aku berlari mengambil kunci dan langsung membukakan pintu rumahku dengan bersemangat. Seketika aku melupakan janjiku pada ayah untuk tidak membukakan pintu jika bukan mereka berdua yang datang. Saat itu aku hanya terpaku pada kata sandi yang diucapkan anak itu adalah benar, jadi aku membukakannya, sesederhana itu pikiranku saat masih kecil.
"Kamu siapa? Mengapa kamu bisa tau sandi rumahku?"
"Namaku Rangga."
"Mengapa kamu datang malam-malam? Apa ibumu tidak melarangmu pergi keluar di tengah malam?"
"Ibuku ya? Aku tidak mempunyai ayah ataupun ibu." Dia membalas dengan senyuman lebar dan tatapan yang tajam. Saat itu aku benar-benar berpikir itu adalah hal yang lucu.
"Kalau begitu, karena kamu tidak punya orangtua, mulai sekarang kamu bisa menganggap ibuku adalah ibumu, dan ayahku adalah ayahmu. Kita bisa bermain bersama."
Sejak itu aku sering bermain dengannya saat tengah malam. Ketika ayah dan ibu tidur, aku terbangun karena bisikan dari Rangga. Kami bermain dengan sangat mengasyikan tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku. Beberapa hari aku lewati bersamanya, anehnya saat itu aku tidak curiga kepada Rangga, karena dia hanya datang ketika malam hari saja. Saat siang aku menunggu, dia tidak pernah datang untuk mengunjungiku.
Sampai suatu hari datang, seorang wanita seumuran ibuku datang dan mulai bertanya banyak pertanyaan padaku. Dia teman ibuku, aku dulu tidak tau kalau dia adalah seorang psikiater. Berakhirnya sesi tanya jawab itu, aku menunggu di dalam ruangan. Terdengar dari luar suara isakan tangis ibu yang tidak aku sadari apa yang sebenarnya terjadi. Oleh karenanya, aku diam-diam mendekat dan menempelkan daun telingaku menyentuh pintu, seorang bocah yang menguping.
"Maafkan aku Sonya, aku tidak bisa membantumu. Sepertinya putrimu mengalami kejadian supranatural, dia anak yang telah dibangkitkan pengelihatannya karena bersentuhan dengan dunia lain, suatu saat dia akan menjadi anak indigo. Maaf, aku benar-benar tidak bisa membantumu kali ini, aku bukan ahlinya."
Begitu yang aku dengar dari perkataan wanita bersuara lembut itu.
Sejak saat itu, ibu memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan mengurusiku dengan sangat baik di rumah. Ketika hari menjelang pagi, aku membuka mata dan masih melihat sosok ibuku. Hari-hariku menjadi sangat menyenangkan, aku tidak lagi kesepian seperti sebelumnya.
Malamnya, aku memang egois saat itu. Saat sudah memiliki ibu yang selalu menemaniku bermain, aku memilih untuk tidur nyenyak malam itu. Masa bodo dengan Rangga, ibuku jauh lebih baik karena bisa kuajak main setiap waktu, tidak seperti dia yang hanya bisa datang pada saat malamnya saja. Kuputuskan untuk menutup mata dan tertidur pulas, tidak akan keluar untuk bermain dengan Rangga. Namun sayangnya, seperti yang sudah-sudah. Lagi-lagi ketika malam tiba, pada saat jam yang sama, aku mendengar bisikan Rangga yang memanggilku untuk bermain.
Aku terbangun, tapi aku buru-buru menutup mata dan mencoba mengabaikan suara bisikan itu. Dalam hati aku bersikukuh untuk berhenti bermain dengan Rangga dan bosan juga rasanya bermain ketika malam hari, tidak banyak yang bisa aku lakukan di dalam rumah, paling-paling hanya bisa bermain petak umpet dengannya.
Berhari-hari aku melakukan hal yang sama, mencoba memutus hubungan pertemanan dengan Rangga.
Di saat malam berikutnya, aku tidak bisa tidur karena perasaan bersalahku. Ya, rasanya aku sudah begitu jahat tidak mau berteman dengannya lagi. Oleh karenanya aku berpura-pura tidur dan menunggu Rangga kembali memanggilku untuk bermain. Namun, ketika waktunya tiba, tidak ada satupun bisikan yang terdengar, tidak sama sekali. Saat itu aku bangkit dan duduk terdiam di atas kasur, di tengah keheningan malam.
Seli kecil pun penasaran, di tengah kegelapan malam, aku berjalan keluar dari kamar dan turun dari tangga. Kemudian berjalan menuju pintu luar dan membukanya.
"Rangga, kamu ternyata ada di sini? Ayo masuk, kita bermain!" kataku.
"Rangga tidak bisa bermain lagi dengan Seli. Rangga sekarang bermain bersama ibu dan ayah baru. Sampai jumpa, aku harus pergi karena mereka menungguku di rumah untuk bermain bersama. Rangga sangat senang dan tidak lagi kesepian, terimakasih Seli." Dia tersenyum dengan cara yang aneh, masih terbayang sampai sekarang bagaimana wajahnya yang sangat mengerikan itu ketika tersenyum.
Malam itu berakhir dengan putusnya hubungan pertemanan kami. Setelah Rangga berlari pergi meninggalkan aku, segera aku kembali ke kamar dan tertidur dengan pulas. Saat itu aku merasa lega karena berpikir Rangga sudah memiliki orang tua baru, jadi dia bisa bermain dengan orang tuanya, sama seperti aku bermain dengan ibu dan ayah. Namun, setelah aku bangun di pagi hari, aku menemukan fakta bahwa aku kembali sendirian. Tidak ada lagi ibu yang menyambutku bangun dari tempat tidur. Kedua orang tuaku menghilang, tanpa bisa aku temukan di mana-mana.
Mereka menghilang, dalam artian benar-benar menghilang.