Hari ini adalah hari pengambilan rapot dan seperti biasa orang tuaku tak bisa hadir bersama ku karna sibuk bekerja, namun hal yang sama terulang kembali, saat tiba di rumah ibu tak henti memarahi ku karna angka-angka di rapot ku tak sesuai harapanya.
“aku sudah menyuruh mu belajar lebih giat, tapi apa ini” ibu malampar rapot ku “kau mau jadi apa nantinya, apa menurut mu nilai seperti ini bisa membuatmu mendapat pekerjaan. Kau bahkan tak memiliki bakat seperti kakak mu” aku menatap ibu dengan mata berkaca-kaca “kakak mu bisa kuliah ke luar negri dengan biasiswa, kau bisa apa? Satiap hari teman-teman ibu membanggakan anak-anaknya, tapi lihat diri mu, apa yang bisa ku banggakan dari mu?”
“apa ibu tau, aku sudah berusa keras, ya aku tak sepintar kakak atau secantik ibu, aku juga tak memiliki bakat yang bisa di banggakan seperti anak-anak lain, lalu kenapa ibu melahirkan ku sejak awal, kenapa tidak membunuh ku saja, aku lelah bu, ibu selalu mengatakan hal yang sama setiap harinya, jika ibu hanya menyayangi kakak kenapa aku harus lahir ke dunia ini hik hik hik” aku tak sanggup membendung air mataku dan bergegas meninggalkan ibu yang masih diam membeku tampa kampa kata.
Aku pergi ke kafe dekat sekolah, dan saat tiba lea melihatku dan langsung duduk di kursi tepat di depan meja ku. Lea adalah teman baik ku sejak kecil, dia telah menekuni profesi sebagai model sejak kami duduk di bangku SMP. Dan tahun ini bahkan ia mendapatkan gelar model muda terbaik seasia, wajar saja mengingat wajah dan tubuhnya yang terlihat begitu sempurna, kulit putih, hidung mancung dan kaki jenjangnya selalu menjadi primadona di sekolah bahkan fotonya selalu terlihat di majalah-majalah baru yang terbit setiap harinya.
“ah kau tau nilai ku jelek sekali, aku bahkan tak berani menunjukanya pada orang tua ku” keluh lea, “bagaimana dengan mu? Jangan bilang nilai kita sama lagi seperti tahun kemarin hahaha…”
“ya bagi mu itu lucu bukan?” jawabku ketus “kau sorang model, bahkan belum tamat SMA saja kau sudah menghasilkan banyak uang hanya dengan berpose di depan kamera”
“niki, apa terjadi sesuatu?, aku minta maaf jika kata-kata ku melukai perasaan mu” ucap lea serius.
“dangan wajah seperti itu kau tak akan mengerti seberapa menderitanya aku hanya karna angka-angka di rapot yang kau tertawakan itu, tak adil sekali ya, lihat betapa beruntungnya dirimu, sepertinya aku memang tak layak berada di dunia yang sama dengan orang-orang seperti mu hhhh” aku memberikan senyum paksa dan menatap lea kesal.
Entahlah aku benci dunia ini, aku benci semua orang, kenapa bahkan ibuku tak bisa menerima ku apa adanya, kenapa aku harus menjadi seperti orang lain agar keberadaan ku di anggap, fikiran-fikiran itu terus berkeliarana di kepalaku, hati ku terasa sesak bahkan kini aku tak menyadari kata-kata ku telah menyakiti teman baik ku itu, lea menatap ku dengan mata berkaca-kaca,
“ya kau benar aku beruntung terlahir bengan wajah dan tubuh ini… tapi apa kau tau niki, aku bahkan sering iri hanya dengan melihat mu yang makan dengan lahap, setiap kali aku mekan dan berat badan ku bertambah satu kilo saja orang-orang akan mulai berkomentar buruk tentang tubuh ku, namun meski terus mendengar komentar-komentar yang menyakitkan itu, aku bahkan tak berani untuk menangis karna takut mata ku akan terlihat bengkak di kamera, kau tau seberapa keras aku berolahraga dan diet karna takut posisi ku akan tergantikan oleh orang-orang yang jauh lebih baik dari ku?”
Aku menatap lea penuh penyesalan atas kata-kata ku, “kau tau niki bukan hanya kau yang terluka, semua orang berusaha keras untuk bertahan”
“maafkan aku lea” aku mengatakanya dengan suara bergetar menahan air mata ku
“jadilah orang besar jika kau ingin mengubah bunia yang gelap ini, jadilah orang yang perkataannya bisa mengubah sudut pandang orang lain, jangan hanya menyalahkan dunia dan diri mu sendiri hik hik hik” tangasan lea pun pecah di antara kata-kata yang ia ucapkan
Aku bangkit dan segera memeluk teman ku itu, kami pun menangis bersama melepaskan rasa sesak yang mengganjal di hati tampa memperdulikan pandangan orang lain di kafe.
***
Hari sudah larut, jam dinding di kamar ku menunjukan pukul 00:00, mendengar perkataan lea tadi membuat ku kembali mengingat impian masa kecil ku sabagai seorang penulis, aku mulai menulis beberapa cerita dan fenomena di masyarakat yang ku lihat setiap harinya.
6 bulan sudah berlalu namun semua buku ku ditolak tak ada satu buku pun yang di terbitkan, namun berbeda dengan sebelumnya kali ini keluarga ku mendukung penuh keputusan ku untuk menjadi penulis, Yang membuat ku tak patah semangat untuk menulis buku-buku baru.
Ibu masuk ke kamar ku dan meletakan secangkir coklat panas di atas meja, “ada surat dari kakak mu, katanya jangan putus asa, ia akan tetap menunggu hingga buku mu diterbitkan”, kata ibu sambil menyodorkan surat pada ku yang ku sambut dengan senyuman bahagia, “jangan tidur terlalu larut kau harus menjaga kesehatan mu untuk bisa melewati kerasnya dunia hahaha” aku memeluk ibu penuh rasa bersalah. Kali ini aku tak akan mengeluh karna aku tau pasti apa yang seharusnya ku lakukan sejak dulu.
Hari ini mata hari bersinar cerah bunga-bunga di taman mulai bermakaran, angina berhembus dengan lembut membelai dedaunan di pohon, sebuah pesan muncul di ponsel ku
“selamat! Karya anda yang berjudul MY BLACK WORLD akan kami terbitkan, tolang segera hubungi kami untuk info lebih lanjut, sekian” Jantungku berdebar kencang, tanpafikir panjang aku segera menemui ibu dan ayah untuk memberi tau kabar bahagia ini.
dua bulan telah berlalu buku ku mendapatkan rekor dengan penjualan terlaris tahun ini, aku banyak di undang di beberapa seminar untuk menyampaikan motivasi dan cerita tentang sudut pandang ku melihat dunia yang ku tulis di buku ku.
“selamat niki, buku mu sangat luar biasa, aku sampai menangis membacanya” ucap lea sambil memberikan buket bunga pada ku, “ini juga berkat kata-kata dari model nomer satu seasia hahaha, jangan lupa nanti malam datang ke rumah untuk acara perayaan dan jangan terlambat” lea menganguk mengerti “aku tinggal dulu ya acara temu fans dan tanda tangannya sudah mau di mulai….
-TAMAT-