Selamat membaca ☺️
#cerpenrasaanime
Michiro iruka, adalah jenis manusia yang tak dapat merasakan sedih, senang, menangis, sakit serta mencintai, ia hidup tanpa emosi yang membuatnya menjadi pria dingin yang tampan.
Michiro hidup sendirian, ia bahkan tidak tahu bagaimana rasanya mempunyai keluarga, ia biasa menghabiskan waktunya dengan tidur, tidur dan tidur.
Suatu hari dimana ia sedang duduk sendirian di kursi taman yang dipenuhi para pengunjung yang berpasang pasangan, namun ia hanya sendirian, ia tak mengerti mengapa orang orang membutuhkan pasangan, padahal ia masih tetap bisa hidup tanpa pasangan.
"Boleh aku duduk disini?"tanya seorang wanita.
"Silahkan."jawab Michiro dingin.
"Terimakasih."balas wanita itu tersenyum kepada Michiro.
Hampir setengah jam, mereka tak berkata atau bertegur sapa satu sama lain, itu membuat keduanya tampak seperti orang yang aneh.
"Apa kau kesini sendirian."tanya Wanita itu mulai membuka percakapan.
"Iya."jawab Michiro masih tetap dingin.
"Heum begitu ya, baiklah aku Kyoko."balas Kyoko mengulurkan tangannya serta tersenyum sopan.
"Michiro, namaku Michiro"balas Michiro tanpa tak menyambut uluran tangan Kyoko, dan tetap fokus dengan buku yang ia baca.
"Senang berkenalan denganmu."balas Kyoko tersenyum mencoba mencairkan suasana yang sangat kaku itu.
Michiro tidak menggubrisnya, ia masih tetap fokus dengan kegiatannya membaca buku, Kyoko terlalu penasaran dengan Michiro, ia menggeser posisi duduknya merapatkan tubuhnya dengan Michiro yang masih saja dengan wajah datarnya.
Kyoko mulai mengganggu Michiro dengan menyentil daun telinga lelaki dingin itu dari belakang, namun lagi lagi Michiro tidak peduli sama sekali.
"Apa kau sakit, kau tampak aneh tak seperti orang yang normal."ucap Kyoko kesal dengan perlakuan Michiro yang bahkan tak menganggapnya ada di kursi itu.
Karena sudah tidak tahan lagi Kyoko memutuskan untuk pergi meninggalkan Michiro yang masa bodoh tak peduli sama sekali.
"Apa apaan dia itu, dingin sekali."batin Kyoko menggerutu kesal.
"Apa dia manusia yang tak bisa merasakan apapun."ucap Kyoko menggerutu dan kali ini ia benar seratus persen dengan tebakannya.
Hari itu hari paling menyedihkan bagi Kyoko, pasalnya baru kali ini ia merasa dipermalukan oleh pria, karena memang Kyoko selalu di kejar kejar karena kecantikannya, buktinya saat di taman tadi banyak pria yang sudah berpasangan memandangnya dengan penuh minat, ada juga yang sampai lepas kontrol memuji Kyoko di depan pasangannya sendiri, namun Kyoko menjadi sangat penasaran, ia bahkan menyuruh orang untuk mencari informasi tentang Michiro, namun ia hanya mendapatkan sedikit informasi tentang pria dingin yang membuatnya penasaran untuk lebih mengetahui asal usul Michiro.
Seperti biasa, keseharian Michiro hanya membaca buku menonton dan makan dan tidur, seperti berulang ulang. Michiro mempunyai cafe yang cukup untuk membiayai kebutuhannya, ia menyerahkan kepengurusan cafe miliknya kepada orang lain, ia hanya menikmati hasilnya saja.
Sementara itu Kyoko telah mendapat informasi rumah Michiro, ia langsung meluncur menuju ke rumah yang ia dapat dari orang suruhannya, Kyoko sangatlah agresif sebab sikap dingin Michiro membuatnya merasa gagal menjadi seorang wanita idaman para pria.
Tok..tok…suara ketukan pintu.
Ceklek
"Halo…"ucap Kyoko yang terlalu ceria menerobos masuk kedalam rumah Michiro tanpa menunggu pria itu mempersilahkannya masuk.
"Kau ini siapa, dan mengapa masuk ke rumahku tanpa izin."tanya Michiro dingin mendekati Kyoko yang sedang melihat lihat isi rumah yang dipenuhi oleh potongan kertas berwarna disatukan menjadi sebuah lukisan.
"Kau tahu, ini sangat luar biasa."ucap Kyoko kagum tanpa menjawab pertanyaan Michiro.
Michiro yang selalu masa bodoh membiarkan Kyoko melihat lihat isi rumahnya, ia yang tak mempunyai emosi tampak tidak masalah akan hal itu.
"Michiro, apa ini kau yang membuatnya."tanya Kyoko melihat lukisan kota tengah malam yang sangat sempurna keindahannya.
"Iya."jawab Michiro tetap datar membuat Kyoko menghela nafasnya.
"Kau ini tetap saja masih sama seperti kemarin dasar pria dingin, kau tidak akan mendapatkan pasangan jika sikapmu begitu terus menerus."jelas Kyoko menatap Michiro yang hanya diam.
"Pasangan?"tanya Michiro yang membuat Kyoko menatapnya dengan tatapan menggoda, namun pada akhirnya ia yang merasa malu tak kuat menatap mata Michiro yang seketika membuatnya malu serta pipinya mulai memerah.
Michiro meninggalkan Kyoko yang sedang melihat lihat semua karya seni yang terpajang di seluruh dinding rumah itu, sementara itu ia malah masuk kamar berbaring sambil membaca buku.
Kyoko makin menggila, ia sudah tidak tahan dengan sikap Michiro yang mengacuhkannya, ia masuk ke kamar pria itu mencium paksa Michiro.
Cupp
Bibir mereka menyatu dengan mata Kyoko yang terpejam menikmati, Michiro mendorong tubuh Kyoko yang membuat Kyoko sangat malu dengan tindakan konyolnya, namun…
"Mengapa kau menciumku."tanya Michiro datar.
"Salahmu sendiri mengapa mengacuhkanku."balas Kyoko cemberut.
"Apa kau menyukaiku."tanya Michiro.
"Iya aku menyukaimu yang tak pernah bisa melihat keberadaanku, mengacuhkanku dengan sikap dinginmu itu."jelas Kyoko yang sudah lepas kendali atas dirinya sendiri.
Michiro menjelaskan tentang dirinya panjang lebar, ia menjelaskan kalau ia tak sama dengan orang-orang pada umumnya, Michiro mempunyai penyakit yang tak bisa merasakan emosi, rasa senang, sedih dan bahagia, ia tak pernah sekalipun merasakan itu sejak dia lahir ke bumi, 22 tahun ia jalani tanpa dapat merasakan apa yang orang lain rasakan, setelah mendengar penjelasan itu Kyoko malah menangis sedih, bagaimana bisa manusia menjalani hidup tanpa rasa apapun selama 22 tahun itu adalah neraka, maka dari itu Kyoko memutuskan untuk membantu orang yang ia cintai itu sembuh dari penyakit gila itu, dan ia pun berjanji menanggung biaya pengobatan Michiro demi kesembuhannya agar dapat merasakan apa yang orang orang rasakan saat hidup.
Sudah lebih dari tiga bulan Kyoko membantu Michiro, selama itu pula Kyoko tetap bertahan dan tetap pada tekadnya untuk menyembuhkan Michiro yang sampai saat ini belum berubah sama sekali, Semakin hari rasa cintanya semakin besar kepada Michiro, bahkan ia memutuskan untuk hidup bersama di rumah kecil milik Michiro, sampai nanti jika Michiro sembuh ia baru akan menikah, entah itu dengan Michiro atau dengan orang lain jika Michiro tak mampu menerimanya setelah pria dingin itu sembuh.
Kini Kyoko hanya dapat berharap dan terus berusaha dengan sisa waktu yang ia punya.
"Apa rasanya jika bisa merasakan apa yang orang lain rasakan, dan itu adalah kebahagiaan."Kata itu yang diingat oleh Michiro di lubuk hatinya dari Kyoko.
Cepatlah sembuh, agar aku dapat membalas dan menemani wanita ini."batin Michiro menyemangati dirinya sendiri, dan secara tidak langsung ia mulai mempunyai rasa peduli bukan ?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa klik like jika kalian menyukai cerpen ini, terimakasih ☺️🙏