Pada saat itu, hidup lah satu keluarga bahagia di salah satu pedesaan, yang terdiri dari Ayah, Ibu, dua anak laki-laki dan satu perempuan.
Pada suatu hari, mereka berbondong-bondong pergi ke sungai, karena air ledeng yang mati. Di daerah mereka, tersedia sungai untuk perempuan, laki-laki dan perempuan-pria, tetapi harus dalam kategori keluarga.
Dan sekarang, mereka lebih memilih mengunjungi tempat yang terakhir, karena mereka ingin melakukan keseruan itu bersama.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnyaa sampai. Lelah itu pasti. Tapi lelah yang mereka dapat, akan setimpal dengan pemandangan indah di sini sekarang.
"Yayy, akhirnya sampai!" Sorakan itu keluar dari mulut mungil Ica, anak bungsu dari Ipul dan Ani.
Berhamburan, mencari kesenangan masing-masing di sana. Bermain air, berendam tanpa melepas kaos dalam, mencuci pakaian kotor dan bahkan, Ica dan Alfin kini mencari ikan kecil di dekat be-batuan.
Sesekali tawa itu terdengar, membuat Ipul dan Ani beberapa kali menegurnya.
Beberapa menit di sana, Ani yang sedari tadi mencuci pakaian kotor, akhirnya sudah selesai. Beberapa detik kemudian, suara masjid itu menandakan waktu dzuhur yang sudah tiba.
"Ayok semuanya, cepat di selesaikan, udah dzuhur waktunya pulang!"
"Iya, Bu."
Menurut. Mereka mandi dengan cepat, kemudian memakai handuk jika sudah selesai, baru melepaskan pakaian dalamnya.
Setelah semuanya memakai baju, Ani, Ipul, Alfan, Alfin dan Ica berkumpul sebelum mereka berjalan meninggalkan tempat itu.
"Udah? Gak ada yang ketinggalan?" Ipul bertanya, membuat mereka mengecek, mengingat, kemudian menggelang.
"Ya udah, ayok pulang!" Ajak Ipul dengan tersenyum hangatnya.
Ipul dan Ani, sepasang suami istri yang memiliki tiga orang anak. Mereka selalu berusaha mendidik anak-anaknya supaya menjadi tegas dan pemberani.
Saat di perjalanan pulang, tepatnya kurang beberapa puluh meter dari rumah, Ipul merasa seperti ada yang janggal.
Ipul yang berjalan paling belakang, ia menoleh curiga. Seperti ada yang mengikutinya, pikirnya.
Seketika, matanya membelalak kaget ketika ia melihat ular di belakangnya, berjarak hanya sekitar lima atau tujuh meter darinya.
Saat ini, posisi mereka adalah di dekat persawahan. Kanan dan kiri jalan adalah sawah, terdapat beberapa pepohonan juga di sana.
"Sstt Bu!" bisiknya memanggil Ani. Ani yang di depannya, ia menoleh ke belakang, matanya membelalak kaget ketika melihat ular sebesar itu di dekatnya.
"Alfan, Alfin, Ica!" Ipul memanggil anak-anaknya, seraya berjalan dengan memantau ular di belakangnya. Takut-takut tiba-tiba ia di patuk.
Kompak, mereka berhenti lalu menoleh.
"Apa, Yah?"
Ipul menggeleng, "Ica, Bunda sama Alfin pulang dulu. Alfan, bantu Ayah nangkep ular ini.
Pasalnya, Ipul dan Alfan ini sama-sama menyukai ular sedari dulu. Bahkan, mereka pernah mengikuti kelas, bagaimana caranya mengendalikan ular dan ilmu lainnya tentang ular.
Setelah Istri dan kedua anaknya pulang, Ipul dan Alfan sedikit mundur, mencari ranting kayu di sekitarnya.
Ketemu.
Alfan menggunakan ranting kayu itu untuk mengalihkan perhatian ular, sementara Ipul berusaha menangkap kepala ular dan menahannya agar tidak bisa membuka mulutnya yang berbisa.
Dapat.
Setelah beberapa menit bergulat dengan ular, mereka mendapatkan ularnya, kemudian membawanya pulang.
Ipul yang merupakan pecinta ular, ia sangat senang mendapat ular sebesar itu. Sesampainya di rumah, Ani menanyainya dengan beribu pertanyaan, membuat Ipul menghela nafas.
"Iya, aku gak papa," jawab Ipul seraya meletakkan ular itu di kandang bambu yang kosong.
Ipul menutup pintu kandangnya, kemudian melihat ular itu dari luar. Ia tersenyum, melihat ular itu yang sedang melilit di dalam sana.
Waktu berjalan cepat. Sudah hampir sebulan ular itu di dalam sana. Tetapi anehnya, ular itu tidak mau memakan apa yang Ipul berikan untuknya.
Bahkan daging ayam pun ia tak mau makan.
Membuat mereka bingung sekaligus bertanya-tanya .
Lagi diet kah?
Hari yang sudah semakin larut, mengharuskan mereka semua untuk tidur. Alfan menuju kamarnya setelah mencuci muka, gosok gigi dan mencuci kaki.
Ia merebahkan dirinya di atas kasur, kemudian memejam dan tertidur.
Cepat sekali.
"Kamu siapa?" Alfan bertanya, ia melihat seseorang berbadan ular, tetapi berkepala manusia di sana. Mendadak, wajah Alfan menjadi pucat, badannya bergetar takut.
"Aku adalah ular yang sudah kau tangkap dan kau kurung di sana."
Jeda.
Masih tetap dengan wajah pucat dan badan gemetarnya.
"Lepaskan aku, aku adalah siluman ular. Bawa aku ke sungai yang kemarin kamu kunjungi!"
Sedetik kemudian, Alfan terduduk kaget. Mimpinya itu sangatlah buruk menurutnya. Nafasnya ter-engah, membuatnya meraih air minum di atas nakas, lalu meneguknya.
"Astaga, mimpi apa ini?" monolognya seraya mengatur nafas yang masih memburu. Jantungnya berdetak dua kali lipat, bibirnya masih pucat dan badannya masih gemetar.
Menyeramkan.
Alfan melihat jam dinding, terlihat samar karena lampu kamar yang di matikan.
"Masih jam tiga pagi," gumamnya pelan. Alfin kembali berbaring, melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu, tak lupa membaca doa terlebih dahulu.
(+)
Esok harinya, jam tujuh pagi. Alfan sudah rapi dengan kaos hitam yang ia pakai. Ia duduk di meja makan, di sekitarnya sudah ada Ibu, Ayah dan kedua adiknya.
Alfan menatap mereka ragu, ingin bercerita.
"Kenapa kamu?"
Alfan menyengir, menggaruk tengkuknya kemudian menghela nafas panjang.
Setelah yakin, Alfan menceritakan semua yang ia mimpikan semalam, membuat Ani dan Ipul sedikit terkejut.
Tanpa menunggu apapun, Ipul berjalan menuju kandang berisi ular tersebut. Mengambilnya, lalu berjalan menuju sungai.
Ipul meletakkan ular tersebut di atas batu besar. beberapa detik kemudian, ular itu berjalan menuju sungai, menyelam ke dalam sungai, sedetik kemudian ular itu menampakkan dirinya lagi, lalu sedikit membungkuk memberi hormat kepada Ipul.
Seakan berterimakasih karena sudah menjaga dan membebaskan dirinya.
Ipul mengangguk seraya tersenyum. Ia melambaikan tangannya ke arah ular itu, sedetik kemudian ular itu menyelam lagi lalu menghilang.
(+)
Malam harinya, ketika Ipul tertidur pulas, ia bermimpi ular itu mendatanginya lagi lalu berkata.
"Terima kasih sudah merawatku dengan baik."