Aku berjalan memasuki sebuah gedung agensi yang cukuo terkenal, aku melihat lihat keadaan disekitarku sambil terus berjalan menuju meja resepsionis.
"Permisi, apa saya bisa bertemu dengan nona ini?" tanyaku sambil menyerahkan foto kepada salah satu resepsionis.
Resepsionis itu menganggukkan keplanya dan tersenyum ramah ke arahku "Tentu saja, kalau boleh tahu anda siapanya nona ini?" tanyanya sopan.
"Saya teman kuliahnya"
"Baiklah, tapi sebelumnya saya minta maaf, nona-" belum selesai ia berucap, perkataannya dipotong oleh temannya.
"Kalau kau teman kuliahnya berarti aku teman masa kecilnya begitu?" tanyanya dengan nada yang tidak mengenakan.
Aku mengerutkan alisku, apa yang salah dengan itu? Memangnya bukan hal yang wajar jika seorang mendatangi teman lamanya?
"Lagi pula dia tidak mungkin berteman dengan orang sepertimu" lanjutnya sambil menatap ke arah pakaianku.
Aku menundukkan wajahku dan menatap pakaian yang sedang kugunakan, Kaus oblong berwarna putih, jeans hitam, dan sepatu kets, tak lupa tas selempang kecil berwarna hitam. Seketika aku langsung membulatkan mulutku dan mengangguk angguk.
"Kenapa tidak bisa?" tanyaku.
"Yah.. mana mungkin orang terkenal sepertinya berteman dengan orang miskin sepertimu" ucapnya blak blakan. Disusul dengan sikutan temannya.
"Yah baiklah, aku akan pergi"
Saat aku membalikkan badanku dan berjalan menuju pintu keluar, aku melihat Dita yang baru saja memasuki gedung agensi bersama teman temannya yang lain, begitu melihatku dia langsing meninggalkan teman temannya dan berlari menuju arahku lalu memelukku.
"Sof, udah sampe lo? Kok gak ngasih tau?" tanyanya dengan bahasa kami.
"Yah.. buat kejutan" aku melirik ke arah para resepsionis yang tadi, tampak raut wajahnya yang tampak tak percaya dengan situasi saat ini.
"Mau makan siang bersama?" tanyaku.
"Of course" balasnya tanpa ragu, kemudian ia memberikan kode kepada teman temannya yang lain.
"Ayo"
Dita karang. Wanita asal Indonesia yang berkarier di Korea Selatan sebagai Idol, dan dia adalah temanku, temanku yang sangat berharga.
-o0o- Flashback -o0o-
American Musical and Dramatic Academy atau yang disingkat dengan sebutan Amda adalah sekolah perguruan tinggi yang paling kuimpikan sejak masih di bangku smp.
Sudah satu tahun aku bersekolah disini, dan seperti hari hari biasanya, aku selalu berangkat menaiki subway seorang diri, lalu saat pulang aku akan pergi bersama Steffany.
Namun sepertinya hari ini aku kurang beruntung, selain bangun kesiangan dan telat masuk kelas pagi, steffany juga absen karena sakit, aku merasa aneh dengannya karena dia jarang sakit dan berpikir kalau itu hanya sebuah lelucon. Namun saat melihat surat dokter yang dipegang oleh dosen aku mulai mempercayai kalau gadis itu benar benar sakit.
Keesokan harinya, aku sedang memainkan ponselku sambil menunggu subway datang, di depanku berdiri seorang wanita cantik yang sepertinya juga berasal dari Indonesia, bohong kalau aku bilang aku tidak senang, aku justru sangat senang karena memiliki orang yang juga merantau.
Aku melirik gadis berambut panjang itu berkali kali, aku ingin berkenalan dengannya, tapi aku malu. Sampai datanglah gadis berambut sebahu yang kupikir sebagai temannya dan mereka pun pergi.
Anehnya, aku melihat raut wajah temannya itu terlihat memiliki rencana jahat, yahh mungkin ini karena aku terlalu sering membaca komik. Tapi serius, wajahnya sungguh berbeda, ibuku dulu pernah memberitahuku akan tanda tanda itu karena aku akan merantau jauh dan takut aku kenapa napa, tak kusangka ilmu akan berguna untuk saat ini.
Diam diam aku berjalan mengikuti mereka dari jarak yang aman, tidak ada yang aneh dari mereka, sampai mereka berbelok menuju gang sepi yang terletak di belakang cafe ramai pengunjung, dan saat itu pula aku melihat ada dua orang pria berbadan besar sedang berjalan mengikuti mereka.
Dan sepertinya karena aku sering membaca komik tentang penculikan, aku mulai curiga terhadap tiga orang itu dan memutuskan untuk melumpuhkan 2 diantaranya. Heh, gini gini aku sabuk hitam Taekwondo lho.
Setelah beres dengan dua pria itu aku langsung berjalan santai menghampiri dua gadia yang masih sibuk dengan kegiatannya masing masing, satu sedang sibuk menelepon dan satunya lagi sedang sibuk mengkhawatirkan diri, terlihat dari raut wajahnya.
"Hei, apa yang kalian lakukan disini?" tanyaku pura pura tak tahu.
Sang gadis berambut panjang tampak lega dengan keberadaan ku dan ingin mengampiriku, namun gadis berambut sebahu itu panik dan menghadang jalannya.
"Siapa kau?" tanyanya.
"Fya. Namaku Fya, bagaimana dengan kalian? Siapa nama kalian?" tanyaku.
"Namaku Dita, dan ini temanku Aishley" balas gadis berambt panjang. Akhirnya aku bisa mengetahui namanya.
"Sedang apa kalian disini?"
"Ashley bilang kalau dia ingin mengajakku bertemu dengan temannya"
Sementara gadis bernama Ashley itu langsung memberikan kode untuk tetap diam.
"Di tempat seperti ini?"
Tidak ada jawaban. Namun Ashley masih tetap berusaha untuk menelepon temannya yg kuduga adalah dua pria berbadan besar tadi.
"Ck, kenapa tidak diangkat sih?" gumamnya kesal.
Aku tersenyum kecil dan berjalan mendekati mereka.
"Maaf Ashley, kurasa temanmu tidak akan datang"
"Ap-Apa maksudmu?" tanyanya gugup.
Tanpa ba-bi-bu aku langsung menarik tangan Dita supaya dia berada di belakangku, kemudian aku mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam saku celanaku dan menujukkannya kepada Ashley.
"Dita, dia orang jahat, kurasa dia berniat untuk mencelakaimu, kalau kau tidak percaya aku bisa menunjukkan tubuh dua pria berbadan besar yang sedang pingsan di ujung gang dan memberimu bukti chat mereka"
Wajah Asley mulai memerah seperti kepiting rebus, kurasa saat ini dia sedang menahan amarabnya mati matian, Dita? Tentu saja dia shock.
"Kurasa dia alan marah, hitungan ketiga mari kita berlari bersama" ucapku menggunakan bahasa negaraku.
Meskioun terkejut, Dita tetap menganggukkan kepalanya.
"Kenapa? Kenapa? Kenapa?! Kenapa hanya dia?! Kenapa hanya dia yang selalu diperhatikan?! Padahal aku juga sama sepertinya?! Tapi kenapa dia sangat beruntung dan alu tidak?!"
Kurasa dia sakit jiwa.
"Kenapa apanya? Kau gila?" tanyaku memberanikan diri.
"Tidak. Aku tidak gila. Dia yang gila! Dia sudah sempurna tapi kenapa dia masih merebut milikku?"
"Dia merebut nilaiku, merebut perhatian yang tertuju padaku, bahkan sampai kelasihku pun kau rebut! Kenapa jadi aku yang dicap sebagai penjahat disini? Padahal aku hanya ingin merebut kembali milikku" dia tertawa pelan, tawa yang cukup mengerikan.
"1...2...3!"
Aku dan Dita mulai berlari bersamaan menuju tempat yang lebih ramai dan tentu saja Ashley mengejar kami, namun sasarannya adalah Dita, jadi saat ia berusaha menggapai Dita aku menukar posisiku dengannya dan menendang Ashley kuat kuat hingga ia terjatuh ke tanah dan bergumam kesakitan.
Setelah lolos dari kejaran gadis itu, kami langsung menuju kantor polisi dan mengadukan perbuatannya. Kami juga menjadi saksi saat Ashley dimasukkan ke penjara akibat tuduhan penjualan manusia. Sungguh memgerikan.
Setelah kejadian itu, Dita langsung menelepon keluarganya dan menceritakan semuanya secara terpenrinci. Berbeda dengan Dita, aku hanya memperhatikannya yang sedang asik bercerita itu tanpa ada niatan untuk menghubungi keluargaku, aku tidak ingin membuat mereka khawatir, jadi aku lebih memilih untuk mendiamkannya.
"Ah, ngomong ngomong siapa namamu tadi?" tanya nya setelah selesai menelepon.
Aku menjulurkan tangaku "Sofy"
Ia membalas uluran tanganku dan tersenyum "Aku Dita, Kalau tidak salah sepertinya namamu tadi Fya"
"Ah itu nama tengahku, nama tengahku Sofya, jadi aku sering dipanggil Sofy atau Fya"
Dita mengangguk anggukkan kepalanya.
"Terima kasih sudah menolongku"
"Tak masalah"
Percakapan terus berlanjut sampai kami tiba di gedung Apartemen kami. Yup, ternyata selama ini kita tetangga, hanya saja kita tidak menyadari hal itu.
Sejak saat itu, hubunganku dan Dita semakin membaik dan aku bersyukur karena aku memiliki teman yang senasib.
-o0o- Flashback End -o0o-
"Lagi mikirin apa mbak? Gak mau dimakan? Buat gue ya?" tanya Dita sambil melambai lambaikan tangannya di wajahku.
Aku sontak tertawa singkat dan melotot beecanda ke arahnya.
"Enak aja, ini kan gue yang bayar, masa lo yang makan? Gak gak gak, lagi juga bukannya Idol itu makannya dikit ya? Jadi ntar kalo makanan lo gak habis kasih aja ke gue ok?"
Setelah mengatakan itu, kami mulai tertawa lepas secara bersamaan.
Mungkin... Bertemu dengan Dita adalah momen terindah dalam hidupku, meskipun Dita tidak menjadi Idol, aku tetap tak akan menyesal telah menyelamatkannya, Dia orang yang asik dan baik hati.