Namaku Raymond Razoran, umurku baru saja menginjak 18 tahun. Kini keseharian ku hanya bekerja dan bekerja, lagi pula aku sudah tidak memiliki keluarga lagi. Kedua orang tuaku telah meninggal dan aku tidak memiliki saudara.
Aku bekerja sebagai playan di sebuah cafe di Tokyo, gajinya cukup untuk menghidupi diriku sendiri. Lagi pula aku tinggal di apartemen murah, aku tidak mengharapkan suatu hal yang waw dihidupku ini.
"Ray, kau mau tidak menemaniku jalan besok?" ajak temanku yang bernama Shin
"Hee?? Besok aku mau bermalas-malasan di apartemen" balasku dengan nada malas
"Ayolah kau ikut saja, Pacarku membawa temannya, aku hanya takut dicuekin saja kalau dia sedang bermain bersama mereka" bujuknya dengan wajah memelas
"Cii~ Kau yang bayar masuknya ya" tawarku
"Baiklah! Itu mudah untuk ku" balasnya dengan nada senang
Kami pun mulai bekerja lagi, karna pengunjung mulai ramai berdatangan. Cafe kami cukup populer disini, selain makanannya yang enak, kebanyakan dari mereka yanga ingin cuci mata. Yah, bisak ku katakan kalau pelayan disini memiliki wajah yang rupawan, kecuali aku. Bahkan aku jijik menatap wajahku sendiri, apalagi orang lain. Aku saja melayani selalu menggunakan masker, jadi tidak akan ada yang mengenaliku dan merasa jijik ketika melihat wajahku.
Waktu pun terus berlalu, kini jarum jam menunjukkan angka 11.00 pm. Sudah waktunya cafe tutup dan untungnya semua pengunjung sudah pulang, beberapa pelayan juga sudah izin pulang duluan dan menyisahkan diriku sendiri.
Selesai dengan mengelap meja, membereskan bangku, membersihkan mesin pembuat kopi dan mematikan lampu, aku pun siap untuk pulang. Setelah mengunci pintu, aku langsung berjalan pulang ke apartemen. Lagi pula tempatnya tidak jauh, hanya sekitar 3 kilo meter dari sini.
Sesampainya di apartemen, aku pun langsung membersihkan diri dan tidur.
=Keesokan harinya=
Pagi ini aku sudah rapih, memakai kemeja hitam, skinny jeans hitam, sepatu coklat dan topi hitam. Lagi pula aku tidak memiliki warna lain selain hitam.
Ting~
Ponsel ku berdenting dan memunculkan sebuah notifikasi dari Shin, ia menyuruhku untuk cepat datang ke taman hiburan. Setelah membalas pesan, aku pun mengambil kunci motor dan langsung mengendarainya menuju taman hiburan.
Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa ke cafe tidak menggunakan motor saja? karna aku malas, lebih enak berjalan kaki atau naik bus.
•
•
•
Sesampainya aku di sana, aku melihat Shin bersama dengan 2 gadis. Keduanya sangat cantik, sampai-sampai aku dibuat minder. Shin juga terlihat tampan, walaupun rambutnya acak-acakan.
'Untunglah aku memakai masker' pikirku
"Maafkan aku membuat kalian menunggu" ucapku dengan rasa bersalah
"Ah tidak apa-apa kok, kami juga baru sampai beberapa menit lalu" balas salah satu gadis itu yang memiliki rambut panjang berwarna hitam dengan iris mata berwarna coklat
"Eh? A-apa benar?" tanyaku mencoba memastikan
"Benar kok, aku chat kamu tadi saat hampir sampai disini, jadi kami memang belum lama menunggumu" jawab Shin yang tengah merangkul gadis berambut pirang
'Kalau tidak salah namanya Saotome Marry' pikirku setelah melihat kedekatan Shin dengan gadis berambut pirang
"Ah ya, ini pasti kali pertamanya kalian bertiga bertemu, bagaimana kalau kalian berkenalan dulu?" tawar Shin
"Namaku Raymond Razoran, kalian bisa memanggilku Ray" ucapku dengan nada ramah
"Aku Saotome Marry, kamu bisa memanggilku Marry" sahut Marry-san
"Ha'i Marry-san, Shin banyak bercerita tentang dirimu" balasku
"Ah, benarkah? Bagaimana kalau nanti kamu ceritakan apa saja yang sayangku ini katakan padamu tentang aku~" ucapnya dengan nada yang terdengar ramah, tapi auranya tidak bersahabat
"Ray-kun salam kenal, namaku Jabami Yumeko, tolong panggil aku Yumeko saja" ucap gadis berambut hitam dengan senyuman manisnya
"Ha'i, Yumeko-sa.." ucapanku terhenti ketika ingin mengatakan kata san, karna aura Yumeko tiba-tiba saja jauh lebih menakutkan dibanding Marry-san tadi
"Baiklah! semuanya sudah saling kenal, mari kita nikmati hari libur ini!" seru Shin dengan nada semangat
"Itu ide bagus Shin-kun! Mari kita bersenang-senang hari ini!" timpal Yumeko dengan nada tak kalah semangatnya
'Jabami.. kah? Sepertinya tak asing?'
Tanpa memperdulikan hal itu, aku pun mulai menikmati sesi jalan-jalan bersama mereka.
•••
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat dan sekarang sudah waktunya untuk pulang. Jujur saja, hari ini terasa sangat menyenangkan dan aku harap momen ini tidak terlupakan.
"Bagaimana kalau lain kali kita datang lagi kesini?" usul Yumeko
"Aku tak keberatan, ya kan sayang?" timpal Marry-san
"Ya! Ayo kita kesini lagi, Ray!" seru Shin
"Baiklah"
Pada akhirnya, aku pulang bersama dengan Yumeko yang ternyata satu arah dengan apartemen ku, jadi lebih baik kalau ia pulang bersama denganku, bukankah begitu?
"Ray-kun, bisakah kita berhenti sebentar di taman itu? Rumahku sudah cukup dekat kok dari sana" ucapnya sedikit berteriak
"Baiklah"
Aku pun memakirkan motorku tidak jauh dari taman berada dan kini kami tengah duduk di ayunan taman. Lagi pula ini sudah cukup malam dan anak-anak tidak boleh keluar rumah, walaupun hanya pergi ke taman.
'Canggung sekali~'
"Fufufu~ maaf ya membuat suasana menjadi canggung seperti ini" ucapnya sembari menatap rembulan yang kini tengah bersinar dengan sangat terang
"Tidak apa-apa kok, aku hanya bingung mau membicarakan apa?" balasku
"Fufufu~ Ray-kun tidak pernah berubah ya?" ucapnya yang kini tengah tersenyum manis padaku
"Eh?" bingungku
"Sepertinya ingatanmu memang bermasalah ya? Dan bisakah kamu membuka maskermu itu? bukakah memakai masker setiap saat juga tidak bagus untuk kesehatan" sembari mengatakan hal itu, tangannya mulai melepaskan masker yang selalu menempel seharian ini dan entah kenapa aku tidak bisa menahannya
"Nah kalau beginikan aku bisa dengan leluasa melihat wajah mu yang imut itu" ucapnya lagi dengan nada ceria
Setelah ia mengatakan itu, sebuah ingatan mulai muncul dan membuat kepalaku berdenyut sakit.
Aku mendengar Yumeko memanggil namaku beberapa kali dengan nada khawatir, sampai aku bisa mengendalikan sakit kepala ku ini.
"Ka-kamu tidak apa-apa?" tanyanya
"Ya, Yu-chan" jawabku dan aku melihat matanya mulai berkaca-kaca "Maaf membuat mu menunggu lama" lanjutku lagi dan ia langsung memelukku sembari menangis dengan cukup kencang
"Ayo.. kita mulai.. semuanya.. dari awal!" ucapnya di sela-sela tangisan
"Ya"
Aku tidak tau kedepannya kami akan menghadapi apa, tapi untuk saat ini, biarlah seperti ini dulu. Aku tau Tuhan mendengar doaku ini dan aku berharap agar ia mengabulkan permohonan kecilku ini.
TAMAT