Hari ini di sekolah aku sedang tidak merasakan kebahagiaan. dalam kelas pun suasana yang tidak mendukung, seolah sedang berada di tempat kesempitan. Teman-teman lain tidak pada mengerti apa yang aku inginkan. Memang, aku belum bilang kepada siapapun. Seolah saat aku butuh, mereka tiba-tiba menjauhinya. Tidak tahu ini perasaan aku saja, atau bagaimana.
Seperti biasa, setelah masuk ke kelas. Aku duduk di bangku. Sambil menunggu bel masuk berbunyi. Satu persatu teman sekelas, mulai berdatangan. Kelas makin ramai, tapi suasana semakin terasa gerah.
Sebelum bel masuk berbunyi, teman satu-satunya, yang selalu disisiku, datang dengan terburu-buru. Kadang, aku suka ketawa melihat tingkah lakunya. Hanya dia yang penuh perhatian kepadaku dan teman duduk sebangkuku.
Sebelum pelajaran dimulai dan guru mapel belum datang, ada pengumuman yang disampaikan oleh teman-teman pengurus sekolah, atau disebut OSIS. Memberitahukan bahwa kita akan mengadakan pembagian kelompok untuk foto buku tahunan sekolah. Ini merupakan kabar gembira bagi semua. Namun, aku tidak merasakannya, kalau keadaan baik pasti aku juga ikut senang mendengarnya.
Adanya pemberitahuan ini mengharuskan kami untuk membuat kelompok, dan memilih sendiri sesuai kesepakatan. Lantas yang sedang aku alami ini, dalam kelompokkan membuatku sedikit mengeluh. Karena keadaan ini yang telah membuatku sedih.
Temanku, yang selalu duduk bersamaku. Juga ikut bingung, dia tidak bisa menerima bila teman baiknya selalu dibegitukan. Ia hampir tidak ingin untuk ikut foto tahunan sekolah ini. Aku sependapat dengannya, tapi ini berkaitan dengan kekompakan kelas, mau tidak mau harus mengikutinya. Apapun temannya, yang membuat sedih, kecewa, dan lainnya tetap kami ikut. Daripada dikucilkan, dan kita pun bersikap dengan bodo amat.
Akhirnya keputusan terakhir kami telah bulat. Aku dan temanku, memutuskan untuk ikut foto untuk buku tahunan sekolah.
Setelah kecewa masuk kelompok dengan siapa yang dapat dulan, tetapi tanpa bilang kepada kami, mereka mengeluarkan kami begitu saja. Itupun tahu dari teman lain, sehingga mereka tidak bilang kepada kami. Dengan alasan, mereka telah janjian. Namun, mereka baru bilang saat kami telah menuliskan namanya duluan. Sungguh menjengkelkan.
Daripada semakin ruyam masalahnya, aku dan temanku memutuskan masuk ke dalam kelompok yang masih ada sisa. Dan kami diperbolehkan bergabung dengan mereka.
Cerpen Karangan: Salma Nur Hanifah Hai, guys! Aku kembali lagi, selamat menikmati karyaku, terimakasih