Pada suatu hari di SMA Galaksi ada sebuah anak geng motor yang bernama Gibran Andara. Pada saat dia masih kecil dia sering sekali disiksa oleh ayahnya sendiri. Gibran selalu dimarahi jika nilainya tidak seratus dia selalu dipaksa agar mendapatkan nilai seratus dan menempati rangking pertama dari kecil, Gibran juga selalu dipaksa agar menuruti semua keinginan ayahnya. Ayah Gibran adalah seorang pengusaha ternama dan terkenal dia tidak mau jika anak-anaknya mendapatkan nilai kurang dari seratus, anak-anaknya harus memenuhi perintahnya. Andrian itu adalah nama ayah Gibran. Gibran mempunyai saudara laki-laki yang bernama Alvin Angara, Gibran selalu dibanding-bandingkan dengan adiknya itu Gibran dan Alvin umurnya hanya beda satu tahun.
Pada saat Gibran Sd kelas 5 dia dimarahi ayahnya karena nilai Gibran ada yang tidak seratus dan Gibran mendapatkan ranking 5 dia dimarahi habis-habisan oleh ayahnya dia dicambuk, dipukul, dikurung digudang lebih parahnya ia tidak diberi makan selama seharian, yang hanya bisa dilakukan oleh Gibran hanya menangis dan menahan lapar sampai pintu gudangnya dibuka oleh ayahnya.
Pada saat itu Gibran sangat membenci adiknya tersebut karena dia dibanding-bandingkan dengan adiknya. Gibran pun juga sudah ada rasa iri dengan adiknya tersebut karena dia selalu dikekang sendiri adiknya itu dibebaskan tidak penuh kekangan dari ayahnya, Gibran pun ingin dibebaskan sama seperti adeknya itu tapi nyatanya tidak.
Pada suatu hari disaat Gibran masih kelas 5 SD saat dia sedang berkumpul dengan ayah dan adiknya di taman belakang. “ADUHHHHH CAKITTT HUHUHUU…,” ucap Gibran merasa kesakitan karena ia terjatuh. “Kamu kenapa gibran kamu jatuh ya sakit kah?,” tanya Alvin yang menyadari jika abangnya tersebut sedang merasa kesakitan. “Hiks hiks hiks iyaaa apinnn huhuhu berdarahh huhuhu,” jawab Gibran sambil menangis kesakitan.
Ayahnya pun menyadari jika anaknya ada yang menangis karna suara tangisannya semakin kencang, Adrian pun langsung bergegas menghampiri anak-anaknya tersebut. “Heyy kalian kenapa? Kamu juga Gibran kenapa menangis?,” tanya ayahnya. “Gibrann jatuhh ayah dia berdarah lututnya,” jawab Alvin dan memandangi Gibran penuh rasa kasian. “Tunggu bentar ayah akan mengambilkan obat untukmu, Alvin kamu jaga Gibran bentar ya,” jawab dan perintah andrian, andrian pun langsung bergegas masuk kedalam rumah untuk mengambil obat P3K.
“Udah udah Gibran kamu jangan nangis lagi ya mukamu jelek tuuh,” ucap Alvin sambil sedikit mengejek. “Sakit tau,” jawab Gibran singkat dengan muka datarnya. “Duh udah muka kamu jelek mau kamu nangis atau ngga mukamu tetep terlihat jelek kamu seram,” ucap Alvin mengejek karena Alvin sudah dari kecil takut sama mukanya Gibran mukanya Gibran seperti mau memakannya. “Lo lebih jelek,” jawab Gibran dengan muka daratnya yang semakin membuat Alvin ketakutan melihat Gibran.
“Sini Gibran mana yang sakit biar ayah obatin lukamu,” perintah ayahnya memanggil Gibran. “Ini ayah,” tunjuk Gibran sambil menunjuk lututnya yang berdarah. “Kamu ini ngapain aja si kok bisa sampai begini, kamu itu udah besar seharusnya kamu jangan bermain terus kamu harus belajar aja sana kan buku yang kemarin ayah belikan untukmu belajar belum kamu buka sama sekali nanti besar kamu mau jadi pengusaha yang berhasil kan kaya ayah,” ucap ayahnya panjang lebar menasehati Gibran agar tidak bermain-main terus-terusan.
“Aku kan mau jadi seorang pilot, terbang di angkasa, melihat burung, tumbuhan dari atas terus aku mau duduk di pesawat mengemudi pesawat melihat pemandangan langit yang biru,” ucap Gibran menolak apa yang dibilang oleh ayahnya yang menyuruhnya menjadi pengusaha sepertinya tetapi Gibran ingin menjadi pilot. “Kamu ngga boleh gitu ya Gibran kamu harus menjadi pengusaha menjadi penerusnya ayahmu ini,” perintah ayahnya. “Emang jadi usaha bisa duduk duduk di pesawat, mengemudi pesawat, liat burung bertebangan emang bisa yah,” tanya Gibran sangat polos. “Pokoknya nanti jadi pengusaha itu enak kamu harus kamu dan kamu juga yang akan menjadi penerusnya ayah ini,” jawab andrian penuh penegasan untuk Gibran agar menjadi pengusaha.
Gibran pun hanya bisa duduk terdiam dan menunduk mendengar apa yang dikatakan ayahnya tersebut kalau dia menjawabnya lagi dia tau dia bakalan dimarahin oleh ayahnya makanya Gibran memilih untuk diam saja. Gibran memang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang pilot jika besar nanti akan tetapi cita-citanya tersebut bertolak belakang dengan keinginan ayahnya yang menyuruhnya untuk menjadi penerus ayahnya nanti.
“Ya sudah ayo kita pergi ke makam bunda kalian,” kata Ayahnya. “Emmm iya yah,” jawab Gibran.
Tanpa berfikir lama lagi ayahnya pun beranjak pergi menyiapkan mobil untuk pergi ke makam istrinya. Memang ibunya Gibran dan Alvin itu sudah tiada karena kecelakan yang terjadi pada dirinya disaat ingin pergi ke bandara, kecelakaan tersebut memang sudah direncanakan tetapi pelakunya masih belum diketahui dan Andrian tersebut menjaga dengan ketat supaya pelakunya tidak menyakiti keluarganya lagi dan membunuhnya karena beberapa waktu lalu ada yang ingin mencoba untuk membunuh Gibran tetapi tidak berhasil sejak saat itu andrian selalu berjaga-jaga dan keluarganya selalu dikelilingi dengan bodyguard.
Keluarga andrian memang tidak memiliki musuh karena keluarganya terkenal ramah makanya andrian heran siapa yang tidak suka dengannya hingga ingin mencelakai keluarganya, andrian fikir orang yang ingin melukai keluarganya itu adalah orang yang iri kepadanya. Pelakunya sudah dicari-cari tetapi pelaku tersebut sangat cerdik hingga tidak meninggalkan jejak apapun.
Pada suatu hari Gibran telah bergabung dengan geng motor tanpa sepengetahuan ayahnya karena jika ayahnya tau ayahnya tidak akan menyetujuinya. Gibran sudah dewasa dan ayahnya fikir tidak perlu lagi menjaga Gibran dengan menggunakan bodyguard dan Gibran sudah dilatih bela diri bersama dengan Alvin agar bisa menjaga dirinya sendiri.
Gibran bergabung dengan geng motor yang bernama “THE MOGE” yang artinya yaitu geng motor yang mengutamakan ketampanan, moge artinya motor ganteng. Nama geng tersebut memang terdengar sangat aneh tetapi solidaritas geng tersebut jangan diragukan. Ketua geng motor tersebut bernama Leonard Agraham yang biasa dipanggil Leo, Leo adalah ketua osis dan ketua geng motor yang ditakuti anak-anak di sekolahnya tetapi lain halnya kepada anak perempuan yang mengidolakan leo karena ketampanannya dan jabatannya, anak perempuan yang ada disekolah pun terkagum-kagum dan sembilan puluh persen dari mereka mengidolakan leo. Gibran adalah wakil dari ketua geng motor tersebut tidak berbeda dengan leo, Gibran disekolah juga banyak yang mengidolakan karena ketampanannya.
Pada saat upacara bendera dihari senin ada siswa yang telat dan tidak memakai atribut secara lengkap itu sudah tanggung jawab Gibran sebagai wakil dari ketua osis untuk menghukum karena tugasnya sudah dibagi oleh leo, leo bagian mencari anak-anak yang tidak mengikuti upacara bendera, telat, dan memakai atribut sekolah lalu tugas Gibran adalah menghukum anak-anak tersebut karena muka Gibran jauh terlihat lebih galak dan menyeramkan dibandingkan dengan muka leo, leo memiliki muka yang galak tetapi tidak menyeramkan anak-anak yang dihukum olehnya tidak takut dengannya melainkan ingin tertawa melihat muka leo yang terlihat sangat imut dan lucu. Jangan heran leo ketua geng motor itu memiliki muka yang sangat lucu dan imut tetapi jika leo sudah bener-bener marah emosinya sangat tidak terkontrol dan bentuk mukanya terlihat sangat menyeramkan dari sebelumnya.
“Ini gib anak-anak yang bolos upacara jangan lupa dihukum ya,” pinta leo. “Shiappp gua bakal hukum mereka supaya kapok kok le,” jawab Gibran dengan semangat karena dia paling semangat jika ingin menghukum anak-anak yang nakal. Lalu Gibran pergi dan hanya menjawab dengan senyuman saja.
Gibran lalu memberikan hukuman kepada mereka semua. “Loh kamu kan yang kemarin bolos ngga ada kapok-kapoknya ya udah 7 kali ingin bolos upacara dan bolos kelas, jika kamu sampai 10 kali masih bolos upacara kamu saya bawa ke Bk biar dihukum guru BK sendiri,” ucap Gibran terlihat marah karena melihat siswa perempuan yang selalu bolos upacara dan bolos kelas, Gibran sudah lelah menghadapi siswa tersebut. “Gua males upacara panas dan males kalo di kelas boring gua,” jawab alice, siswa tersebut bernama alice memang alice adalah perempuan yang terkenal nakal dan suka membolos. “Lo itu ya astaga udahlah sekarang lo bersihkan aja tu toilet perempuan dan laki-laki sekarang,” jawab Gibran dengan nada emosi. “Apasi gamau banyak amat,” jawab alice singkat. “Lo ya emang bener-bener mau berangkat sendiri atau gua seret lo sekarang juga dan jangan sampai lo kabur,” jawab Gibran sudah lelah dan emosi dengan sikap alice. “Lo tega bener sama gua etdah masa gua disuruh bersihin 2 toilet yang besar itu sendirian,” ucap alice. “Yayaya oke lo bersihin toilet cewe sampe bersih berangkat sekarang atau gua tambahin hukuman lo,” jawab Gibran. “Wedehh ga biasanya lo baik tapi itu masih banyak masa toilet cewe sebesar itu gua bersihin sendiri,” ucap alice memohon agar hukumannya lebih diringankan. “Lo bersihin sekarang atau…,” ucap Gibran tetapi omogannya terpotong. “Oh yaya makasihh Gibran yang ganteng gua bakal bersihin sekarang kok hehehe jangan marah-marah nanti cepat tua,” jawab alice tersenyum lalu lari pergi meninggalkan Gibran karena muka Gibran sudah terlihat sangat menyeramkan. “Aduh sial tu anak nakal banget si,” ucap Gibran melihat kepergian alice yang seperti takut melihatnya.
Pada setiap tanggal 20 geng the moge selalu bagi-bagi rejeki ke anak-anak jalanan, geng the moge emang selalu ramah dan berbagi kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan. “Ayo kita berangkat sekarang,” ucap leo ketua geng. “Yaaa,” jawab anggota the mage kompak.
Pada saat bagi-bagi ke anak jalanan tanpa mereka sadari ada seseorang yang sudah mengincar Gibran untuk membunuhnya ya orang itu adalah orang yang sama yang membunuh ibunya tersebut. Pada saat Gibran membagikan makanan sendirian orang itu menembak dada Gibran dan menyebabkan pendarahan yang cukup banyak.
“Dorrr…,” suara tembakan itu sangat keras hingga membuat anak-anak the moge menoleh kearah tembakan tersebut. “Woyy lo jangan kabur,” ucap leo yang melihat orang tersebut yang menembak Gibran akan tetapi orang tersebut memakai pakaian serba hitam dan sangat tertutup sehingga leo dan anak-anak the moge yang lain tidak bisa melihat siapa orang tersebut. “Kalian kejar orang itu sampai dapat ya biar gua yang membawa Gibran ke rumah sakit,” ucap dan pinta leo “Iyaa le lo cepet bawa Gibran ke rumah sakit biar bisa ditangani oleh dokter pendarahannya itu sudah cukup banyak. “Ya cepat kalian kejar orang itu,” pinta leo lagi.
“Siapa yang ngelakuin ini ke lo gib,” ucap leo dalam hati melihat Gibran terbaring lemah.
Sesampainya di rumah sakit leo pun menunggu kabar dari dokter yang memeriksa Gibran. Tidak lama kemudian dokter pun keluar. “Kamu keluarganya pasien?,” tanya dokter tersebut. “Ngga dok saya hanya teman dekatnya saja,” jawab leo. “Oh ya sudah gapapa nanti kamu beritahu keluarganya ya kondisi Gibran,” pinta dokter tersebut. “Iya dok,” jawab leo.
“Jadi begini kondisi Gibran sangat parah mungkin kami akan mengoperasinya,” ucap dokter. “Ya sudah dok kalau memang itu yang terbaik untuk Gibran lakukan operasinya saja,” kata Gibran. “Iyaa,” ucap dokter.
Selang beberapa jam setelah operasi. Dokter pun keluar. “Jadi gimana dok kondisi teman saya, apakah operasinya berhasil,” tanya leo. “Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tetapi teman anda tidak dapat kami selamatkan,” ucap dokter. “A-apa dok,” ucap leo terkejut dan sangat tidak menyangka. “Iyaa maaf sekali lagi ya kita sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucap dokter.
Leo pun akhirnya memberitahu kepada keluarganya Gibran dan teman-temannya, tangisan sungguh pecah saat mereka mengetahui jika kondisi Gibran sudah tiada.
Setelah dari rumah sakit mereka semua pergi ke kuburan untuk mengubur Gibran. Ayah Gibran pun sangat tidak menyangka dan pelakunya masih belum ditemukan.
Cerpen Karangan: Sherly Natasya, SMPN 1 PURI Blog / Facebook: shrly.ntsyaa