aku adalah si gadis pemimpi, setiap hari aku selalu memimpikan dirinya.
dia yang selalu hadir di dalam mimpiku, aku ingin ikut bersamanya.
tolong bawa aku.
perkenalkan namaku Ara, entah sejak kapan aku selalu memimpikan hal yang sama, sampai aku beranjak dewasa aku bermimpi dengannya kami jadi begitu dekat.
dia laki-laki humoris mudah tersenyum dan sangat baik.
" Ara sampai kapan kamu akan tertidur? " ucap Bu guru, semua siswa menatap tajam ke arahnya.
" maaf Bu. " suara yang lembut keluar dari mulutnya.
" ikut saya sekarang juga. "
gadis ini hanya menghela nafas panjang, ini bukan pertama kalinya ia di panggil ke ruang guru dan di marahi.
gadis yang tinggal seorang diri, dimana tidak ada tangan yang merangkul dirinya. seharusnya orangtuanya lah yang merangkul dirinya tapi dia malah pergi jauh meninggalkan Ara seorang diri di rumah besar namun sunyi.
" ARAA!! " guru tersebut sangat marah wajahnya merah di atas kepalanya seperti ada asap.
" iya bu maafkan saya. " ujar Ara sambil menunduk dia sudah bosan dengan suara teriakkan gurunya tersebut.
" renungkanlah besok selama tiga hari kamu tidak usah masuk sekolah kamu di skorsing ibu akan memberitahukan kepada orang tuamu. " tanpa ekspresi Ara hanya terdiam dengan ocehan gurunya tersebut.
dia sudah tidak peduli lagi.
jam pelajaran telah usai Ara langsung pulang ke rumahnya yang sepi dan kosong.
sifat yang pendiam dan memiliki kebiasaan tertidur di kelas membuatnya sulit untuk bersosialisasi, walaupun dia termasuk murid cerdas tapi tetap saja tidak dapat di toleransi perilaku yang tidak konsisten terpujinya.
Ara gadis pendiam ia tidak banyak bicara, dan akhirnya teman-temannya menjauhinya.
Ara yang di dunia nyata gadis tanpa ekspresi dan dingin sangat berbeda dengan Ara yang berada di dalam mimpinya.
Ara yang periang lembut, tidak pernah lepas senyum dari bibirnya.
" aku ingin menemuimu Ryan. " Ara berbaring di kasur miliknya dan mulai tertidur.
tidak ada yang berubah dia masih memimpikan hal yang sama.
" Ara kenapa kamu tiba-tiba pergi begitu saja padahal aku sudah menyiapkan makanan lezat tau. " Ryan yang berada di dalam mimpi terasa sangat nyata bagi Ara.
" maaf habis tadikan aku lagi di sekolah. " senyum mengembang terpancar di wajahnya.
" pasti kamu di marahin lagikan? " tanya Ryan
" iya dan aku di skorsing, aku senang jadi tidak ada yang menggangu kita lagi. " ucap Ara suara yang lembut membuat pipi Ryan memerah.
" bagus kalau begitu tidak akan ada yang menggangu kita lagi. " sambil menyodorkan makanan
" selamat makan. " ucap Ara dia makan dengan lahap.
walaupun itu mimpi, tapi semoga ini akan menjadi kenyataan.
dua hari sudah berlalu Ara yang bangun hanya untuk makan dan mandi saja lalu lanjut lagi tidur untuk bertemu Ryan.
dering telepon terus berbunyi membuat Ara terbangun. terlihat sudah ada 20 panggilan dari orangtuanya.
tanpa aba-aba Ara menghubungi mereka kembali.
" ada apa? " tanya Ara sesaat teleponnya sudah tersambung.
tidak ada basa-basi di dalamnya.
" kamu mau jadi apa? apa kerjaan kamu hanya tidur saja, mama dapat telepon dari sekolah katanya kamu di skorsing selama tiga hari, apa kamu mau jadi anak yang bodoh, mamah di sini kerja keras buat kamu tapi kamu malah tidur saja. " dengan penuh emosi orang tua Ara sangat marah.
" apa mama peduli tentang aku? jangan libatkan aku dengan pekerjaan kalian. " perkataan yang tajam langsung menusuk ke ibunya sampai tidak dapat berkata apa-apa lagi.
" apa mama tau aku kesepian selama sepuluh tahun kalian meninggalkanku, aku lupa wajah kalian seperti apa. kalian membuangku jadi jangan sok perhatian terhadapku. " air mata Ara mengalir.
Ara langsung membantingkan telepon seluler nya dan menangis sekeras-kerasnya.
hampir dua jam Ara menangis ia melihat obat tidur di dalam lacinya karena pikirannya sedang kacau Ara tidak bisa tidur dia ingin segera bertemu Ryan.
dengan perasaan putus asa Ara mengambil seluruh obat tidur dan meminumnya.
perlahan matanya mengantuk dan akhirnya ia bisa bertemu kembali dengan Ryan, dia tidak peduli dengan tubuhnya setelah meminum obat tidur terlalu banyak.
Ara yang di dunia nyata sedang sekarat seorang diri tanpa ada yang mengetahui. berbeda dengan Ara yang ada di dalam mimpi dia sangat bahagia, setiap hari ia pergi bersama Ryan ke pantai menikmati suasana yang menyenangkan.
dan sampai akhirnya Ara menghembuskan nafas terakhirnya seorang diri.
selamat jalan Ara kini mimpimu sudah terwujud, tidak akan ada lagi yang menggangumu dan kamu tidak akan lagi kesepian Ryan bersamamu.
-tamat-