"Jangan tertarik kesini, apalagi sendirian. Taman cantik di tengah hutan ini tidaklah cantik. Tapi berbahaya..."
~Lucy.
⟢❖❖❖⟣
Langit pagi cerah hari ini, di tanggal dan bulan dengan angka yang sama, sebelas.
Kabut perlahan hilang saat matahari terbit. Sekumpulan anak SMA sibuk membangun tenda untuk berkemah di hutan.
"Nih! Ambil air sana!" Kata Sarah sambil melemparkan ember kepada Lucy.
Gadis berkacamata itu hanya mengangguk. Takut dimarahi oleh Sarah, cewek populer yang adalah kakak tirinya.
Sial. Dia harus satu regu dengan kakak tirinya yang kejam.
Namun tidak ada yang mengetahuinya. Sarah mengancamnya agar tidak ada yang tahu mereka merupakan kakak beradik tiri.
Hidupnya mirip dengan dongeng terkenal "Cinderella", diperlakukan tidak adil oleh kakak tirinya. Tapi, dia tidak tahu apakah ini akan berakhir bahagia seperti dongeng.
Lucy berjalan.
Kakinya melangkah diantara rumput-rumput, menuju ke sungai yang tidak terlalu jauh dari tempat berkemah.
"Aduh." Lucy tidak sengaja terpeleset batu di pinggir sungai. Ember yang ia bawa hanyut terbawa arus sungai.
"Ya ampun, embernya hanyut. Gimana nih?" Gumam Lucy bingung. Sedangkan peluit berbunyi, tanda segera berkumpul.
Lucy memutuskan kembali ke perkemahan. Sarah mencegatnya, melirik tangan Lucy yang tidak membawa apa-apa.
"Dimana airnya?" Tanya Sarah dengan nada tegas. Lucy tersentak kaget.
"Ma-maaf, aku tadi jatuh. Embernya hanyut di sungai." Jawab Lucy ketakutan.
"Ambil air aja nggak becus! Kenapa nggak lu aja yang hanyut?" Kata Sarah mencaci Lucy.
Fera datang, menepuk bahu Sarah yang emosi.
"Udahlah cuma ember. Mending cepetan kumpul, nanti dimarahin pembina." Kata Fera. Sarah menghela napas. Dia berbalik dan berjalan pergi ke tempat berkumpul.
⟢❖❖❖⟣
Semua regu berkumpul. Berbaris dengan rapi di tempat lapang. Pembina datang, memulai dengan beberapa kata pembuka. Lalu memberi tugas lagi kepada peserta perkemahan.
"Sore ini kalian akan mencari jejak. Setiap regu mendapatkan peta yang berbeda secara acak. Regu yang pertama kembali ke perkemahan dinyatakan menang." Jelas pembina.
Semua siswa berpencar bersama regu mereka. Menyelesaikan misi mencari jejak. Setiap regu mendapatkan peta yang berbeda.
Regu Lucy berjalan ke arah jam sebelas. Barat laut sedikit ke utara. Mereka menemukan jejak di pohon pinus, terdapat petunjuk.
"Gambarnya sungai. Berarti sungai itu ke sana." Kata Nessa sambil menunjuk arah timur.
Mereka sampai di tepi sungai. Mencari jejak ke dua. Mereka sedikit berpencar agar lebih cepat.
Sarah menyuruh Lucy memeriksa lebih dekat ke sungai.
"Hey, periksa sana di sungai. Biar lu ada gunanya, nggak cuman celingak-celinguk doang." Kata Sarah dengan bahasanya yang kasar.
Lucy dengan perlahan melangkah ke pinggiran sungai yang penuh batu yang berlumut.
"Woy! Cepetan dong!" Suara Sarah mengagetkannya. Membuat Lucy salah melangkah dan terjatuh ke sungai.
Arus sungai yang cukup deras itu menghanyutkan Lucy yang tidak bisa berenang. Entah sampai mana arus itu akan membawanya.
Sarah panik. Segera ia berlari menghampiri teman-temannya yang lain. Seolah tak terjadi apa-apa.
"Loh, Sar? Lucy mana?" Tanya Eve.
"Nggak tau tuh. Tadi dia pisah sama gue." Jawab Sarah berbohong.
⟢❖❖❖⟣
Salah satu orang menemukan jejak. Anggota regu segera berkumpul. Fera sebagai ketua menyadari Lucy tidak ada.
"Lucy mana?" Tanya Fera. Sarah tertegun, dia menutup mulutnya rapat-rapat dengan. Agar dia tidak mendapatkan masalah karena hilangnya Lucy.
Tapi Sarah membuat kesalahan. Eve mengatakan bahwa tadi Lucy berpencar saat ke pinggir sungai bersama Sarah.
"Tadi Sarah bilang Lucy berpencar pas waktu di sungai." Kata Eve.
Fera menatap Sarah dengan curiga.
"Sarah, lo pasti nyuruh Lucy kepinggir sungai." Tuduh Fera.
"E-enggak! Jangan asal nuduh lu!" Tepis Sarah.
"Gue punya bukti. Ngaku, atau gue laporin lu ke pembina." Ancam Fera sambil mengeluarkan ponsel dari sakunya.
Sarah kembali tertegun. "Sial, gimana kalo dia beneran punya bukti dan lapor sama pembina?" Batinnya, was-was.
"Udahlah ngaku aja." Ucap Fera, kemudian memutar video. Suara dirinya jelas terekam saat menyuruh Lucy.
Video selesai diputar.
Sarah hanya menunduk, terdiam. Dia sudah terpojok dan tidak dapat berkata apa-apa lagi.
"Jahat banget sih kamu!"
Kata teman-teman satu regunya dengan sinis.
"Lebih baik kita cepat kembali ke perkemahan. Kita harus lapor pembina." Ujar Fera.
⟢❖❖❖⟣
Arus sungai membawa lucy ke sebuah tempat. Lebih jauh masuk kedalam hutan. Tubuhnya lemas, tapi dia bersyukur masih tersadar dan tidak pingsan.
Lucy mencoba bangkit. Sedikit mengeringkan bajunya yang basah. Seekor kupu-kupu lewat di depannya. Cantik, membuatnya terus memperhatikan kupu-kupu itu.
Ia melihat reruntuhan sebuah bangunan. Dengan rasa penasaran, Lucy berjalan mendekati tempat itu.
Lucy melangkah masuk. Melewati gerbang dari batu berwarna putih yang berlumut dan retak termakan waktu.
"Wah, cantik." Kata Lucy kagum.
Tanaman rambat menutupi beberapa sudut empat pilar. Beberapa bunga mawar putih tumbuh liar disana. Tampak seperti taman yang indah. Kunang-kunang juga berterbangan dengan damai.
Lucy mengelus tangannya kirinya. Meraba bulu kuduknya yang berdiri karena udara dingin. Hingga menemukan jam tangan masih melingkar di pergelangan tangannya. Dia melihat jam tangannya, masih berfungsi.
⟢❖❖❖⟣
Jarum detik jam berputar, mendekati angka dua belas kemudian melewatinya. Pukul 11.11 malam.
Seketika kunang-kunang menghilang. Berganti dengan kupu-kupu malam yang berdatangan. Lucy terkejut.
Mawar yang tadinya putih menjadi mawar merah. Pilar dari batu berwarna putih menjadi batu biasa. Keadaan menjadi horor.
Sosok laki-laki muncul, terlihat masih remaja. Kupu-kupu terbang mengelilinginya.
Suara bel berdenting, entah dari mana.
Laki-laki itu memakai baju serba putih. Dengan wajah pucatnya, tersenyum kepada Lucy.
Lucy merinding ketakutan. Tubuhnya tidak bisa bergerak, dan suaranya meghilang. Laki-laki itu mendekat, menggandeng tangan kanan Lucy mengajaknya berjalan ke arah hutan.
Melewati pintu gerbang sisi lain. Kaki Lucy melangkah begitu saja. Masuk kedalam hutan penuh dengan pohon tinggi nan gelap.
Dia menghilang bersama laki-laki itu, seperti masuk ke dunia lain. Dan tidak pernah kembali lagi.
⟢❖THE END❖⟣