Empati bukanlah sesuatu untuk dibujuk, itu selalu ada sejak awal pada diri manusia. Menipu diri sendiri dengan keinginan untuk dipahami atau menggunakan empati untuk menarik ketertarikan orang lain, hal seperti itu bukan lah pembuat film sejati yang sebenarnya.
Di sebuah ruangan yang memiliki banyak orang dewasa. Ada seseorang pria yang memiliki rambut hitam sedang berdiri di tengah-tengah mereka sambil memegang sebuah penggaris kayu di tangannya.
Pria berambut hitam itu tiba-tiba mengarahkan penggarisnya ke seorang pria yang memakai kacamata, dia berteriak keras kepada orang tersebut, "Nah, kau yang ada di sana! Apa yang membuatmu ingin menjadi pembuat film?”
“Hah? Aku? Tentu saja itu karena aku ingin menjadi direktur film.” Ucap pria berkacamata itu dengan ekspresi penuh percaya diri.
Ketika pria berambut hitam itu mendengarnya, salah satu alisnya sedikit terangkat sebelum berkata, “Oho? Apakah kau berpikir seperti itu akan berhasil begitu saja?!”
Saat mendengar kenyataan dari mulut pria berambut hitam itu, pria berkacamata itu hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sebelum berkata dengan nada tidak yakin, “Errr ... Kupikir tidak ....”
Saat mendengar jawaban itu, pria berambut hitam langsung menatap serius ke arah pria berkacamata tersebut, “Kalau begitu, film seperti apa yang ingin kau buat?”
Ketika pria berkacamata mendengar pertanyaan seperti itu, kedua matanya langsung bersinar terang dan berkata, “Tentu saja itu sesuatu yang keren seperti film star wars!”
Saat mendengar ucapan itu, mulut pria berambut hitam itu sedikit berkedut sebelum mengeluarkan suara yang keras, “Mengapa kau ingin membuat sesuatu yang sudah dibuat oleh George Lucas?!”
Setelah mendengarkan ucapan pria dewasa berambut hitam di depannya, pria berkacamata itu hanya bisa menciut tak bisa menjawabnya.
Melihat bahwa pria berkacamata di depannya sudah tidak memiliki keberanian untuk menjawabnya, pria dewasa berambut hitam itu menoleh ke seorang wanita cantik yang ada di sebelahnya.
“Sekarang aku bertanya padamu, film seperti apa yang ingin kau buat?” Pria berambut hitam itu bertanya dengan nada serius.
“Tentu saja itu karena aku ingin menjadi sebuah karakter utama di dalam filmku sendiri, itulah mengapa aku ingin membuat film!” Ketika wanita cantik itu selesai mengatakan kalimat tersebut, dia menguraikan rambut panjangnya dengan cara elegan dan percaya diri.
Ketika melihat betapa percaya dirinya wanita cantik itu, pria berambut hitam hanya menanyakan satu pertanyaan yang membuat orang tertekan, "Apakah kauu berpikir dengan melakukan hal seperti itu akan ada yang menontonmu?”
"...." Wanita itu sedikit ragu-ragu sebelum membuka mulutnya, “Tapi ....”
Sayangnya bahwa setelah mengucapkan satu kata, perempuan cantik itu sama sekali tidak bisa mengeluarkan kalimat lainnya dan hanya bisa menutup mulutnya.
Saat pria dewasa berambut hitam itu melihat bahwa wanita cantik tidak berani menjawabnya, dia menolehkan kepalanya ke samping. Seorang wanita yang tidak terlihat cantik maupun terlihat jelek, hanya saja tatapan matanya terlihat ebih dewasa dari pada orang disekitarnya.
“Sekarang orang terakhir, film seperti apa yang ingin kau buat?”
“Aku selalu menonton film orang lain, karena itu ingin menjadi pembuat film!”
“Menonton film dan membuatnya adalah sesuatu yang berbeda, kau tahu itu kan?”
“Aku tahu tentang itu ... Mungkin kau berpikir ini adalah hal yang aneh, tapi terkadang aku sering berpikir seperti mengapa aku dilahirkan di dunia ini? mengapa dunia ini tidak seindah film? Karena hal tersebut aku ingin menjadi pembuat film ....”
Pada saat mendengar hal itu, pria dewasa berambut hitam itu hanya bisa terdiam sambil menatap ekspresi tidak percaya diri dari perempuan di depannya.
Saat wanita itu mengangkat kepalanya untuk melihat ekspresi suram dari pria dewasa di depannya, kemudian dia melihat bahwa orang-orang di sekitarnya telah memandang dirinya dengan pandangan aneh.
“Maafkan aku karena telah mengatakan sesuatu yang aneh ....”
“Dengarkan ini bocah!”
Boom!
Pria dewasa berambut hitam itu menepukkan kedua tangannya agar seluruh ruangan ini mendengarnya.
“Bocah? ....”
“Mengapa dunia tidak seindah film? ... Mengapa manusia diciptakan? ... Kami semua selalu bertanya pada diri kami sendir pertanyaan seperti itui, jadi jangan berpikir arogan bahwa hanya kau saja yang berpikir seperti itu!”
Dengan pandangan takjub orang-orang di sekitarnya, wanita itu hanya bisa membalasnya dengan berteriak kembali.
“Tapi bagaimana caraku mencari jawaban itu?!”
“Mencari?! Tidak perlu mencarinya! Jika suatu saat `kami’ mendapatkan petunjuk, hal yang pertama kami lakukan adalah merekamnya dan menunjukkannya pada dunia untuk mereka lihat. Itu lah yang disebut sebagai pembuat film sejati!
"Para pembuat film sejati akan merekam apa yang menurut pikiran kita bahwa ini adalah sebuah cerita yang harus kita perlihatkan pada orang lain! Itu adalah esensi dari pembuat film sejati, apakah kau mengerti? Walaupun mereka orang awam sedikit pun, selama ada perasaan seperti itu maka dia adalah seorang pembuat film sejati!"
Saat mendengar itu, semua orang di tempat langsung hening dalam sekejap. Jika ada jarum yang jatuh, mungkin semua orang dapat mendengarnya dengan jelas.
“Ingat ini! Kalian harus tau alasan mengapa kalian marah, mengapa kalian bersedih, mengapa kalian senang. Semua itu harus ada jawabannya, jangan pernah mengurung dirimu sendiri. Itu lah tentang kehidupan dan itu adalah sesuatu yang harus dicari oleh pembuat film sejati!”
Saat wanita yang tidak terlalu cantik dan tidak terlalu jelek itu pergi dari ruangan tersebut, dia masih memikirkan semua perkataan dari orang dewasa berambut hitam itu.
Apa yang membuatku senang? Apa yang membuatku sedih? Apa yang membuatku marah? Semua darah di kepalaku langsung naik karena perkataan orang itu, seolah-olah mengenaiku langsung seperti panah yang menancap ke hati.
Mungkin apa yang kurasakan saat itu adalah sebuah kesedihan, kalau begitu apa yang membuatku bisa bahagia? Kapan sebenarnya aku tersenyum karena kebahagiaanku sendiri? Sekarang aku mengerti bahwa diriku sendiri telah lari dari kenyataan, karena itu aku tidak bisa tersenyum bahagia.
~Tamat~