(Baca sambil dengerin music "Goodbye to a Wolrd" versi melody untuk pengalaman yg lebih baik)
Di kepalaku terus berdengung suara misterius. Suara denting piano yang lembut dan bernuansa sedih. Ku lihat seorang pria ditengah jalan, berjalan dibawah sorotan lampu. Simponi sedih ini yang terngiang dikepalaku membuat perasaan hatiku tercampur aduk. Ku ambil pisau lipat yang ada di dalam sakuku. Aku tidak tahu kenapa tanganku terasa gatal sejak suara piano mulai terdengar, ingin rasanya membenamkan pisauku kedalam wajah seseorang.
Setiap pukul 11:11, suara denting piano terdengar halus didalam anganku. Aku tidak tahu sejak kapan suara piano yang syahdu ini mulai muncul. Dibawah malam yang hening dan ditemani cahaya rembulan yang mulai mekar. Aku berjalan santai dan mulai mengayunkan pisau lipatku ke arah pria yang berjalan didepanku.
Warna merah terciprat kemana-mana, menghasilkan mahakarya yang indah. Warna merah yang berceceran dipadukan dengan cahaya rembulan sangatlah indah. Warna merah darah yang berkilauan dibawah langit malam dan angin malam yang dingin, membuat hatiku dipenuhi rasa bahagia.
Melihat keindahan yang dihasilkan dari ceceran warna merah, membuatku ingin menambahkan warna merah berceceran di jalan. Kutusukkan pisau lipatku dari wajah hingga ke kaki pria malang tersebut. Menghasilkan sebuah keindahan yang hakiki. Simponi dikepalaku berdengung semakin kencang dan kencang. Membuat kepalaku terasa pusing dan rasanya ingin pecah. Tapi aku sangat menikmatinya.
Tiba-tiba terdengar suara yang mengganggu. Membuat simponi yang terngiang dikepalaku tidak terdengar jelas. Aku berjalan sambil menundukkan kepalaku membuat, rambutku menutupi pandanganku. Aku berjalan cepat sambil tersenyum, karena aku tahu aku akan membuat 2 mahakarya dalam satu malam.
Kulihat ada sepasang kekasih sedang bernyanyi dipinggir taman. Pasangan tersebut duduk dibangku yang tidak tersorot sinar lampu. Aku berjalan dan berhenti tepat didepan mereka.
" Tuan, apakah saya mengenal anda?"
" Tidak" aku tersenyum dan masih menundukkan kepalaku
" Sayang, apakah kau mengenalnya?"
"Aku tidak mengenalnya. Tuan saya tidak mengenal anda dan sebaiknya anda segera pergi" pria tersebut berdiri dan terlihat marah kepadaku
"Kalian akan menjadi mahakarya ku" lantunan suara piano masih tergiang dikepalaku.
Aku tidak tahan dengan keindahan suara dentingan piano yang berdengung di kepalaku. Aku kemudian bersiul mengikuti nada lagu itu.
"na...na...nana......na....na...nana..."
"Sayang, aku takut dengan pria ini ayo kita pergi" Wanita itu tidak berani melihat kearahku dan segera berdiri sambil menarik baju pacarnya.
"Baiklah, benar benar pria yang aneh" Akhirnya pria tersebut menggandeng tangan pacarnya dan berjalan pergi.
Baru 4 langkah menjauh dariku, aku berlari kearah mereka dan menancapkan pisauku ke belakang kepala pacar wanita tersebut. Sontak wanita itu kaget dan terjatuh. Kemudian kududuk diatas tubuh wanita itu sambil memegang pisau yang sebelumnya tertancap di belakang kepala pacar wanita tersebut. Terdengar suara tulang yang retak menghiasi malam yang sunyi, akibat pisau yang kucabut dari tulang pacar wanita tersebut. Suara tulang yang retak itu terasa menggelitik telingaku. Kusayat kulit perutnya perlahan dan terbuka seperti bunga yang mekar.
Tetesan warna merah gelap menetes diwajah wanita tersebut. Membuat wanita itu berteriak kencang tidak karuan. Aku risih mendengar teriakan wanita itu dan ku ayunkan pisauku ke tenggorokan wanita itu. Hal itu membuat wanita itu diam serta terasa suasana sepi dan tenang. Siapapun yang melihat luka si wanita tersebut, bisa tahu bahwa yang memotongnya adalah seorang ahli. Karena potongannya yang sangat rapih dan bisa memisahkan daging dari tulangnya sekali tebas.
Aku sudah bisa mendengar suara denting piano kembali. Membentuk padunan simponi yang indah di dalam kepalaku. Kulihat jam tanganku yang penuh noda merah. Kemudian ku bersihkan jam tanganku yang terasa lengket.
Ku lihat jam tanganku masih menunjukkan pukul 11:11. Ternyata jam tanganku sudah berhenti bergerak sudah lama dan akan selamanya menunjukkan pukul 11:11. Ku ubah detik di jam tanganku menjadi pukul 11:12 dan tak terdengar dentingan piano lagi di dalam pikiranku.
Ku ubah detik jam tanganku setelah membuat mahakarya dari sepasang kekasih tersebut. Ku lukiskan bercak merah disepanjang tubuh mereka membentuk gambar hati. Di tambah ceceran-ceceran merah yang indah dan berkilauan dimana-mana.
Aku sangat takjub melihat mereka berdua. Sangat romantis sekali, ekspresi keduanya menujukkan ekspresi yang indah. Ekspresi si pria menunjukkan wajah datar dengan mata melihat ke atas. Sedangkan si wanita menunjukkan ekspresi wajah kesakitan dengan mulut terbuka.
Kebiasaanku membunuh sudah sangat lama. Aku sudah membunuh lebih dari 20 orang. Banyak sekali mahakarya yang sudah kubuat. Beberapa karyaku yang masih ku ingat yakni, Malaikat merah, pria sedih tanpa kepala, Wanita angkuh berkaus merah dan bulan merah.
Bulan merah adalah salah satu karya terbaikku. Aku membunuh 10 orang yang sedang berkemah di hutan sebagai bahan karyaku. Aku membunuh mereka satu persatu dan kunikmati ekspresi ketakutan mereka sambil mendengar simponi indah yang ada di dalam kepalaku. Aku sangat lihai membunuh, bahkan 4 personil polisi dengan pistol tidak bisa mengenaiku sama sekali.
Mayat 10 orang tersebut kutumpuk dalam sebuah lubang berbentuk bulat. Hingga membuat darah dari luka mereka yang terbuka, menenggelamkan mereka. Setelah beberapa lama, gumpalan darah tersebut mengering dan mengeras tetapi masih bertekstur kenyal. Sangat indah sekali saat disentuh, karena bisa memantulkan cahaya.
Berita pembunuhan yang mengerikan muncul kembali di media. Aku sangat senang melihat karyaku bisa dinikmati banyak orang. Para polisi masih kebingungan melacak diriku karena aku membunuh orang secara acak. Sudah kuputuskan nanti malam aku akan membuat karya terakhirku. Karya yang sangat hebat dan tak bisa kulupakan. Aku tertawa memikirkan karya terkhirku akan seperti apa. Saking senangnya, tubuhku terasa gatal dan ingin segera membuat karya terhebat.
Aku sudah menentukan akan membunuh di Alun-alun kota, agar semua orang bisa melihat keindahan warna merah yang berterbangan dan bersinar dimana-mana.
Aku mengubah waktu di jam tanganku menjadi pukul 11.11. Suara denting piano yang awalnya samar-samar terdengar mulai kencang dan membuat kepalaku pusing. Aku mulai bersemangat dan mulai memilih orang yang cocok untuk menjadi bagian karya terbesarku.
Terlihat wanita cantik menggunakan gaun putih. Wanita itu terlihat anggun dibawah sinar rembulan meskipun ditengah keramaian. Ku berjalan santai dan perlahan mendekati wanita itu.
"Kau sangat indah nona" dengan wajah tersenyum.
Wanita itu terlihat ketakutan dan seketika ku tancapkan pisauku kedadanya. Ratusan orang yang berada dekat denganku langsung berteriak dan terlihat ketakutan. Aku tidak bisa mendengar suara teriakan mereka karena di kepalaku hanya terdengar satu suara, yakni melodi indah tapi bernuansa sedih. Ditemani darah hangat yang terus mengalir membasahi tanganku.
Ku pandangi wanita cantik tersebut yang berada dalam pelukanku. Warna merah yang berpadu dengan putih, sangat indah. Seperti bunga sakura yang berguguran di atas salju. Aku melihat wanita tersebut yang dibalut perpaduan warna merah dan putih yang indah, sampai aku tak sadar polisi sudah mengelilingi diriku.
Semua polisi berusaha menembakiku, tapi tak ada yang bisa mengenaiku. Aku berteriak yang membuat semua orang terpaku melihatku. Aku bergerak menirukan gaya seorang dirigen yang sedang memimpin sebuah orkestra.
"Kalian akan menjadi saksi keindahan yang mutlak"
Ku letakkan wanita cantik yang tadinya kupeluk. Kemudian aku berlari mendekati para polisi. Ku hindari tiap peluru yang berusaha menembus tubuhku, tanpa disadari satu persatu tumbang. Kelincahanku seperti sebuah capung yang bisa menghindari semua rintangan. Cipratan darah terpancar kemana-mana akibat nadi dari para polisi yang ku sayat. Dari nadi yang terbuka itu, terpancar darah segar dan hangat. Semua darah itu berkumpul ke satu titik membuat sebuah lingkaran. Titik itu tepat ke arah wanita malang itu.
Sekarang hanya tersisa diriku dan ratusan orang melihatku dari kejauhan menikmati pertunjukkan. Para polisi semua mati karena menerima luka pada titik vital mereka. Bajuku yang awalnya putih berubah menjadi merah gelap dan terasa lengket.
Kudatangi mayat wanita cantik itu dan kupeluk. kusiapkan pisau kesayanganku untuk menusuk jantungku.
" Lihatlah karya terhebatku...... True Love"
Seketika ku tancapkan pisauku tepat ke jantungku. Perasaan lega dan senang menghujani tubuhku, membuat tubuhku bergetar. Sekarang denting piano sudah tak terdengar lagi. Ku genggam tangan wanita cantik itu, seolah aku sedang menggenggam tangan ibuku. Sambil melihat kubangan darah yang lengket dan berbau amis. Tubuhku bergetar bahagia setengah mati.
Aku dulu adalah korban selamat dari upaya bunuh diri. Ibuku yang depresi karena ditinggal ayahku, mengajak aku dan adikku untuk bunuh diri. Saat itu umurku 9 tahun dan tidak tahu apa-apa. Sebelum kami bertiga melompat, ibu menyanyikan sebuah lagu sambil diiringi suara piano yang berasal dari handpone ibu. Membuatku masih terngiang setelah kepalaku terbentur.
Suara yang terus terdengar di dalam kepalaku itu, mungkin akibat dari benturan dikepalaku saat jatuh. Jam tangan yang kupakai saat melakukan aksi membunuhku adalah jam tangan ibuku. Jam tangan yang berhenti bergerak tepat pukul 11.11. Satu-satunya peninggalan dari ibuku yang tersisa.
Sekarang aku sudah menyelesaikan mahakaryaku, dengan aku sebagai tokoh utamanya. Orang-orang terlihat takjub melihatku. Aku merasa senang dan tenang. Terukir kepuasan dalam wajahku sambil tubuhku tenggelam dalam warna merah yang lengket.
Tiap jantungku berdetak, rasa sakit karena pisau yang menancap didadaku terus bertambah. Tiap jantungku berdetak pisauku semakin mengoyak dagingku. Pisauku makin lama, makin masuk kedalam tubuhku seolah menyatu. Perlahan rasa sakitku mulai hilang diiringi detak jantungku yang mulai melemah. Darah dalam tubuhku mulai mengering dan mengalir keluar.
Warna merah yang terus mengalir dari luka yang terbuka. Ditambah kilauan indah dari cahaya bulan yang menyinari lautan warna merah. Mengukir kenangan tak terlupakan bagi setiap orang yang melihatnya.
--- Tamat ---