Hari yang begitu indan, matahari yang bersinar terang memasuki sela-sela jendelah, menyinari aktifitas para santri yang telah bangun sejak dini hari.
Sangat jelas keluar dari mushallah gerombolan para santri wati keluar dengan terburu-buru usai melaksanakan sahalat dhuha. Mereka terburu-buru karena akan melaksanakan kegiatan rutinitas mereka, yakni belajar seperti biasa.
Disisi lain dikediaman Kiai ada seorang gadis yang sedang membantu nyainya. Gadis ini juga adalah seorang santri, tapi dia telah mendapatkan kepercayaana dari Nayinya untuk membantunya menyiapkan sarapan untuk sang Kiai (suami nyai). Dan jika telah selesai barulah gadis ini kekelasnya untu belajar.
Gadis ini sangat dipercaya oleh nyai kerena gadis ini memmiliki kepribadian yang berbeda darisemua santinya. Gadis ini bernama Laila. Laila adalah gadis yang tekun, rejin, tidak cerewet, sopan dan bersih inilah yang membuat nyai suka kepadanya, sampai-sampai sang nyai pernah mengatakan
“Seandainya saya masih memiliki anak laki-laki yang masih belum menikah maka saya akan menjodohkannya dengan Laila” saking suka dan sayangnya nyai pada laila.
Dari kelas 2 aliyah Liala sudah mulai kerumah nyai untuk membantu setiap kegiatan sangnyai. Laila belum pernah merasakan yang namanya jaruh cinta, hingga pada suatu ketika, saat itu Laila sudah duduk dibangku kelas 3 aliyah Ia mulai mengagumi seseorang.
Laila begitu menggumi laki-laki tersebut, entah karena apa Laila bisa kagum padanya padahal laki-laki ini kalau dipandang ia tidak memiki sesuatu yang disa membuat kita tertarik, tapi Laila sigadis sabar dia bisa kagum pada laki-laki itu. bahkan Laila tidak sadar rasa kagumnya itu berubah manjadi cinta yang teramat sangat besar, tanpa laki-laki ini tahu.
Awalnya laila menyembunyikan perasaannya, tidak ada satupun sahabatnya yang tahu bahwa Laila sedang mengagumi seseorang. Sampai 1 tahun Laila memendam parasaannya itu sendiri, hingga tiba saatnya ia itidak bisa mamendam perasaannya itu sendiri, maka Ia pun menceritakan tentang isi hatinya pada para sahabatnya. Sotak cerita Laila itu membuat para sahabatnya penasaran dan kaget, kerena ini adalah pertama kalinya Laila bercerita masalah laki-laki, apalagi laki-laki yang diceritakan Laila adalah laki-laki yang sama sekali tidak pernah membuat para santri wati tertarik.
Laki-laki ini bernama Qasim, Qasim juga adalah seorang kepercayaan Kiai. Qasim sudah lama di pondok itu, sekarang usia Qasim bisa dibing 20 tahun, sejak usia 6 tahun Qasim sudah mengabdikan diri dipondok tersebut. Qasim adalah orang yang humoris, tapi di juga galak bahkan semua santri takut kepadanya, bisa dibilang dia sudah bisa dipanggil ustadz.
Qasim tidak memmiki ilmu yang terlalu banyak, meskirun dia sudah lama di pondok itu, tapi dia tidah memiki ilmu yang seperti teman-temannya yang lainya, karena dia itu sangat jarang belajar, dia labih mementingkan mambantu gurunya dibandung belajar, karena prinsipnya itu adalah ”samakin banyak kita membantu guru maka kita akan mendapatkan banyak berkah, dan semakin banyak berkah yang kita dapatkan maka akan semakin banyak ilmu yang akan kita dapatkan” mungkin inilah yang membauat Laila menjadi kagum padanya.
Qasim tidak pernah tahu bahwa ada santri yang begitu mengaguminya, Qasim juaga sempat kagum pada Laila bahkan Qasim selalu menanyakan perihal Laila kepada orang-orang yang biasa dekat denga laila dirunah nyai. Qasim selalu memperhatikan Laila dari jauh tanpa laila sadari, tapi entahlah apaka dalam hati Qasim pernah timbul rasa cinta uantuk Laila hanya Allah yang tahu.
Laila selalu menceritakan tentang Qasim pada sahabat-sahabatnya, dan Laila selalu berpasan pada sahabatnya untuk menceritakn pada siapapun. Dan Laila percaya pada sahabat-sahabatnya itu bahwa merka semua tidak akan menceritakan semua itu.
Laila terus manjalani hari-harinya dangan cinta dalam diamnya, meskipu itu semua kadang membuatnya merasa sakit, kerena harus memendam rasa cemburnya ketika meliha Qasim bercanda ria dengan gadis lain, ketika banyak santri yang bercerita tentang Qasim.
Hingga 4 tahun lamanya Laila masih kagum pada Qasim, tapi perasaaan Laila sudah tida seperti dulu lagi, karena laila terus berusaha menghilangkan rasa sayang dan cintanya kepada Qasim, karena ia sadar bahwa jodoh itu ada ditangan Allah. sekarang laila sudah kuliah, otomatis laila sudah bisa perpikir lebih dewasa lagi meskipun ia sadar bahwa rasa cintanya pada Qasim itu masih subur tertanam dalam hatinya.
Masuk ditahun ke 5 cinta dalam diam laila. Laila begitu syok pagi itu mendengar berita bahwa Qasim akan dijodohkan. Laila begitu terpukul tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba ada badai yang mengguncang pikiranya yaitu berita tentang perjodohan Qasim. Laila berusaha menguatakan dirinya, berusaha meyakinkan dalam dirinya behwa ini semua adalah takdir dari Allah AWT.
Saat itu Laila belum mengetahui siapa wanita yang akan dijodohkan dengan Qasim, betapa terkejutnya Laila mendengar bahwa gadis yang akan dijodohkan dengan Qasim itu adalah sahabatnya sendiri yang pernah ia tempati bercerita tentang perasaannya.
Laila betul-betil frustasi “kenapa semua ini bisa terjadi yaaa Allah” ucap Laila sambil berderai air mata.
Laila terus berusaha menguatkan dirinya sendiri “mungkin ini adalah jawaban dari semua do’a ku, aku selalu meminta agar orang yang aku sayangi ini mendapatkan jodoh yang terbaik, yang bisa menjaganya yang bisa membuatnya bahagia dan selalu bisa membuatnya tertawa bahagia” kata laila dalam hati sambil berderai air mata.
Keesokan harinya membuat kaisah lebih syok lagi karena tiba-tiba gurunya menalephone, teprnya pukul 05:00 WIB. Laila kaget karena tidak biasanya gurunya ini menalephone sepag-pagi ini. Laila mengangkat hpnya “ assalamualikum ibu...” kata Laila.
“Laila.., kamu hari ini sibuk tidak ?” tanya guru dibalik talephone.
“Tida kok bu.., emngnya kenaoa yaak bu?” ucap Laila kembali bertanya.
“Gini la, nanti saya mau ke acara lamarannya Qasim, saya mau ajak kamu untuk temani saya kesana” kata ibu guru.
Mendengar nama Qasim Laila langsung diam dia tidak mennyangka bahwa hari ini adalah hari lamaran Qasim dangan sahabatnya itu, ada rasa ingin menolak tawaran gurunya itu tapi, karena tidak mungkin dia akan pergi keacara itu, karena itu semua akan mambuathatinya akan semakin terkoyak habis.
“ Hallo... Laila ... kenapa kamu diam? Kamu bisa temani saya?” tanya ibu guru di balik talephone.
Laila ingin menolak tapi dia tidak enak pada gurunya karena dia sudah terlanjur sudah mengatakan bahwa pagi itu tidak ada kegiatan. Dan Laila juga takut nanti gurunya malah curiga padanya.
“ iyya bu saya bisa” jawab Laila singkat.
“okay yaah Laila... kita jalan pukol 07.00 yaaah, salamualaikum” kata ibu guru.
“iyya bu.., waalaikumsalam..” ucap laila langsung mengtup talephone.
Saat itu Laila lagi-lagi tidak bisa menahan deraian air matanya “Mengapa dunia begitu kejam kapada ku yaa Allah..” ucapnya dalam hati.
*--------Selesai-------*