Aku mengibas-ngibaskan buku latihan matematika yang telah lecek untuk mengusir rasa gerah yang seakan membakar seluruh tubuhku. Sedangkan dua orang lagi temanku tiduran di kursi kayu tua dengan kancing baju yang terbuka. “Mau mati rasanya bro.” Lambo membuka suara menyampaikan keluhannya kepada kami.
“Aku juga, tulangku seperti mau lepas.” Respon Ku
“Aku rasa bebek tua itu sedang datang bulan hari ini.” Gobar menambahkan mengejek guru BK yang tadi menghukum kami.
“Apa perawan tua itu masih datang bulan, aku rasa dia sudah menopause.” Ujar Lambo mengejek sambil tertawa yang kami sahut dengan tawa juga.
Dua orang perempuan datang menghampiri kami sambil membawa kantong kresek hitam yang berisi 5 buah minuman dingin.
“Udah pada kelar bung jadi babu si perawan tua?” Ejek Diandra sambil memukul kaki Lambo untuk bangun dari kursi panjang itu agar dia bisa duduk. Sementara Katrina membagikan minuman yang tadi dia bawah lalu duduk di sebelahku.
“Bebek tua itu hampir membunuh kami dengan hukuman membersihkan WC bau itu.” Jawabku menanggapi ejekan Diandra. Dua gadis itu tertawa mengejek kami, “Makanya kalau telat pajat pagar noh.” Ujar Diandra sambil memukul pundakku. Tawa mereka menggema yang membuat bibir kami bersungut.
Inilah kami lima orang siswa kelas 11 di salah satu SMA negeri di salah satu desa di pulau sumatera. Penghuni sekolah ini memanggil kami geng Bobrok pembuat onar. Geng kami sangat terkenal apalagi dikalangan guru, terutama guru BK yang kami panggil bebek tua itu.
Kami telah menerima berbagai macam hukuman, mulai dari ringan, sedang hingga berat seperti hari ini. Namun begitu tetap saja tak pernah ada kata tobat dalam diri kami terutama aku, Lambo dan Gobar. Hingga guru jera sendiri menegur kami. Ya aku rasa begitulah anak SMA seenak maunya sendiri.
“Hunting project bulan ini kemana cuy?” Tanya Diandra sambil mencomot keripik kentang dari plastik yang dipegang katrina.
“Entahlah, aku masih memikirkan beberapa pilihan.” Jawab Gobar
“Bagaimana kalau rumah hitam di kampung sebelah.” Usul Katrina
“Alah kagak seru, kagak ada serem-seremnya.” Tolak Lambo tak setuju
“Lalu kemana.” Tanya Katrina lagi.
Kami terdiam beberapa saat memikirkan tempat Hunting project bulan ini. Ini adalah ritual rutin kami sejak beberapa bulan lalu. Entah ide aneh dari mana kami selalu mengunjungi tempat-tempat yang dianggap angker oleh orang-orang. Dan uniknya lagi kami selalu memilih tanggal 11 untuk melakukan perburuan aneh itu.
Sudah beberapa tempat yang kami kunjungi namun sampai saat ini belum ada kejadian aneh yang kami alami selain mendengar suara-suara kecil yang kami sendiripun tak yakin itu makhluk halus atau hanya kucing liar atau hewan-hewan lainnya.
“Bagaimana kalau sungai Kale?” Usul Lambo
“Sungai Kale?” Ulangku
“Yang disudut sekolah kita?” Timpal Katrina
Lambo mengangguk memastikan, Sungai Kale adalah tempat terlarang di daerah ini khususnya untuk siswa disekolah ini. Sungai itu berada di dasar jurang ditepi sekolah kami. Dulu ada jalan kesana dari sekolah, tapi katanya sejak ada seorang anak yang hilang disungai itu akses menuju sungai ditutup pihak sekolah dengan pagar beton yang tinggi.
“Mau lewat jalan mana? Gak mungkin panjat pagar kan tinggi.” Diandra berujar karena memang setaunya tak ada jalan kesana.
“Tenang, ada jalan dari tepian sawah di pinggir jalan depan.” Jawab Lambo
“Kamu yakin Mbo?” Tanyaku tak yakin
“Suer bro, aku lihat ada jalan setapak gitu.” Jelas Lambo meyakinkan
“Tapi Mbo, tempat itu kan...”
“Alah kamu kayak banci Bar, begituan aja percaya.” Lambo menyanggah kalimat Gobar yang belum selesai.
“Apalagi katanya disana ada Biduri Bulan, kali aja kita nemu. Kan lumayan bisa dijual ke bebek tua biar dia dapat jodoh.” Ujar Lambo sambil tertawa
“Menarik juga bray, aku setuju.” Ucapku sambil mengangkat tangan.
“Aku juga.” Susul Diandra
“Aku ikut.” Katrina juga menimpali
“Gimana Ncong, kamu ikut kagak?” Tanya Lambo pada Gobar yang tampak ragu. Setelah berfikir beberapa saat dia akhirnya menurut dengan wajah yang sepertinya masih menunjukan keraguan.
***
Kami berkumpul di pinggir jalan setelah memakir sepeda motor di tempat yang di rasa aman. Hari ini cuaca sedikit kurang bersahabat, hujan turun sejak sore. Hampir saja rencana hari ini gagal, untungnya air itu meredah turun dari langit. Namun masih menyisakan lembab dan dingin yang lumayan menusuk tulang.
Kami memulai perburuan hari ini dengan melangkah di pematang sawah menuju jalan ke sungai Kale yang dipimpin oleh Lambo. Katrina seperti biasa bertugas mendokumentasikan perjalanan ini dengan kamera smartphonenya. Pematang sawah terasa becek berlumpur bekas hujan, namun hal ini tak menyurutkan niat kami. Sebagai anak yang tumbuh besar di pendesaan, pematang sawah sudah menjadi jalan yang sering kami lalui.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam ketika kami mulai melangkah menuruni lembah yang cukup terjal. Tanah yang licin menjadikan track yang cukup berbahaya. Lengah sedikit saja bisa membawamu terjun bebas kedasar jurang. Tumbuhan liar yang merambat menjadi pegangan kami agar tak terpeleset.
Dingin makin terasa ketika kami sampai dipertengahan jurang, jaket tebal yang kami pakai rasanya tak mampu untuk menghalau dingin. Tiba-tiba kami merasa ada angin yang berhembus dari dasar lembah yang membuat bulu kuduk bergidik.
“Apa ini tak terlalu berbahaya guys?” Gobar yang berjalan didepanku tiba-tiba berujar menyampaikan keraguannya melaksanakan ide gila ini.
“Udah paroh jalan bar, nanggung.” Sahut Ku
“Eh banci, kalau takut balik aja gih jagain motor noh.” Ejek Lambo dari depan.
Gobar yang tak ingin dikatain bencong menyapu rasa takutnya dan terus melangkah mengikuti Lambo sambil memegang senter kecil sebagai penerangan.
Setelah berjuang 15 menit kami sampai didasar jurang, Air sungai Kale cukup deras mungkin efek hujan. Namun air itu terlihat tenang dan jernih. Kami takjub melihat pemandangan yang kami temukan, dasar sungai Kale terlihat seolah bercahaya. Sungai itu terlihat cukup dalam namun karena air yang jernih mampu memperlihatkan dasar sungai yang berbatu seperti cahaya bulan.
Tak menunggu waktu lama kami langsung mejelajahi tempat itu, seperti dasar lembah pada umumnya tempat ini dipenuhi tumbuhan liar yang subur. Di ujung tempat kami berdiri kami melihat tangga beton yang sudah penuh dengan tumbuhan liar. Mungkin itu dulu akses menuju kesini dari sekolah kami. Suara jangkrik mendominasi di tengah keheningan.
BUARR...!!!
Kami kaget mendengar bunyi sesuatu yang masuk ketengah air, suaranya cukup keras. Sontak aku langsung mengarahkan senter ditanganku kearah suara itu. Namun kami tak melihat bekas apapun, air sungai Kale terlihat tenang seperti tak terjadi apa-apa.
Suasana menjadi lebih dingin dan sontak bulu kudukku merasa merinding. “Udahlah pulang aja yok guys.” Usul Gobar yang dari awal memang sudah ketakutan dengan gusar.
“Ya ellah baru 10 menit, masa udah balik aja.” Lambo tak setuju
Aku, Katrina dan Diandra hanya diam. Mungkin sebagian diri kami merasa setuju dengan Gobar namun sebagiannya lagi seolah setuju dengan Lambo. Apalagi mengingat perjuangan kami menuju tempat ini.
“Ya udah 5 menit lagi deh, gimana ladies?” Tanyaku meminta pendapat dua orang perempuan dalam geng kami. Mereka pun mengangguk dan kami melanjutkan perjalanan ke hilir sungai. Gobar tampak mengikuti dengan wajah tak bersemangat.
Belum 2 menit kami melangkah bunyi itu terdengar lagi, dan kali ini seperti benda yang lebih besar jatuh kedalam sungai. Namun lagi-lagi tak ada air yang bergerak, Gobar semakin gusar dan merengek untuk kembali. Akupun kali ini sependapat dengan Gobar karena memang merasa suasana yang lebih mecekam dari tempat-tempat yang sebelumnya kami datangi.
Setelah berdebat akhirnya kata balik lah yang mejadi mayoritas, kami memutar jalan menuju pulang dan kali ini aku yang memimpin.
AAAHHHHH..!!!
Katrina berteriak karena terpeleset, Lambo yang berada dibelakang Katrina reflek berusaha memegang tangan gadis itu namun terlambat Katrina sudah lebih dulu terjun kedalam sungai. Kami semua panik memanggil Katrina karena gadis itu tak terlihat didasar sungai.
Kami mengarahkan senter dengan penerangan seadanya kedasar sungai, tak terlihat tanda-tanda ada Katrina. Kami berusaha menyisir pinggir sungai ke arah hilir barangkali Katrina hanyut. Namun sudah lebih 10 menit Katrina tak juga terlihat. Diandra mulai menangis ketakutan, Gobar mulai menyalahkan ide gila ini. Lambo yang merasa tersudutkanpun tak terima hingga terjadilah cekcok mulut yang membuatku makin panik.
Dalam suasana yang mulai memanas aku melihat sesosok tangan putih yang menggapai kepinggir sungai. “Katrina.” Aku berteriak yang langsung menarik perhatian ketiga rekanku. Kami membantu Katrina agar keluar dari dalam Sungai.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Diandra cemas. Katrina hanya diam kedinginan, aku langsung membuka jaketku dan menyungkutkannya dipundak Katrina.
Kami sampai pinggir jalan dan langsung menuju tempat motor diparkirkan tadi. Katrina masih diam tak mengucapkan sepatah katapun, mungkin masih trauma dengan kejadian tadi bahkan ketika aku mengantarnya pulang dia tetap membisu. Aku hanya berasumsi dia kedinginan dan ketakutan jadi tak terlalu memperdulikan keheningannya.
***
Hari ini kami berkumpul di tempat biasa ditaman ujung sekolah Diandra bercerita kalau Katrina terlihat aneh. “Apa dia marah?” Tanyaku.
“Entahlah dia hanya diam dan seoalah menjauhi aku.” Jawab Diandra sedih
“Sekarang dia dimana?” Tanya Lambo
“Di kelas.” Diandra menjawab pendek dengan raut wajah sedih
“Biar aku yang bicara.” Ujar Lambo sambil melangkah menuju kelas Katrina.
5 menit Lambo kembali dan mengatakan kalau Katrina hanya sedikit trauma jadi butuh waktu sendiri. Kami bertiga menelan kata-kata itu tanpa mencari tau lebih dalam apa yang dibicarakan Lambo dengan Katrina.
Kelas berakhir, dengan semangat kami langsung menuju parkiran berencana untuk ngancir dulu sebelum pulang. Diandra datang dan dia mengatakan jika tadi dia melihat Katrina dan Lambo pulang bersama. Aku dan Gobar sontak saling menatap tak percaya. Namun kami tak terlalu ambil pusing mengenai hal itu dan berlalu meninggalkan sekolah.
Keesokan harinya, Katrina dan Lambo makin terlihat aneh mereka seperti menghindar dari kami dan menghabiskan waktu bersama. Aku bertanya kepada Diandra apa Katrina masih marah dan Diandra hanya menjawab pendek dengan raut wajah sedih dan bingung.
Lambo juga tak lagi datang ketempat kami berkumpul, hari ini sudah 3 hari mereka menjauhi kami. Aku berniat akan berbicara dengan Lambo nantinya ketika waktu istirahat. Kabar yang tersebar adalah mereka sedang berkecan, walaupun itu benar aku bingung mengapa harus menjauhi kami.
***
Aku terkantuk-kantuk mendengar pak Sodik guru sejarah yang sedang menjelaskan perang dunia II di depan kelas. Pukul 11 memang waktu yang sangat rawan untuk belajar ditambah lagi pak Sodik mengajar seperti siput. Aku melihat Gobar yang juga menahan kantuknya. Hanya beberapa anak rajin dibarisan paling depan yang masih semangat mendengar pidato pak Sodik.
Sekolah tiba-tiba heboh dengan teriakan seorang murid yang berasal dari arah WC laki-laki. Sontak semua murid keluar begitupula dengan guru mereka langsung berburu menuju arah suara itu tak terkecuali aku. Aku langsung berlari menuju WC membelah kerumunan siswa yang mulai terbentuk. Mataku terbelalak tak percaya melihat apa yang aku saksikan. Aku melihat Lambo tergantung dengan lidah terjulur di sudut WC, kakiku lemas bergidik ngeri melihatnya. Matanya terbelalak keluar dengan darah segar yang menetes dipipinya.
Jantungku berdebar tak karuan, Guru langsung menelpon polisi untuk segera memproses kasus ini. Tak beberapa lama, ambulan datang dan membawa jasad Lambo. Polisi langsung mensterilkan tempat itu dan menanyai beberapa saksi termasuk aku selaku sahabat dekat Lambo.
Hari ini jasad Lambo dimakamkan, Aku, Gobar dan Diandra berdiri pilu didepan tanah gembur yang diatasnya terpasang batu nisan dengan nama Lambo. Kami mengenang kebersamaan kami, mulai dari bolos bersama, mengerjai teman, mengejek guru hingga di hukum bersama. Semua menjadi kenangan yang akan tersimpan dalam memori kami.
Dari banyaknya siswa sekolah yang datang mengantar kepergian Lambo, aku tak melihat Katrina. Diandra mengatakan kalau dia sudah menghubungi Katrina tapi tak ada jawaban. Aku merasa ada yang ganjal dengan sikap Katrina.
***
Sekolah berjalan seperti biasanya, polisi telah menetapkan kalau kasus Lambo murni bunuh diri. Katrina pun masih tak ada kemajuan, dia masih menghindari kami. Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi. Lagi-lagi sekolah kami heboh kali ini dengan pertengkaran 2 orang siswa laki-laki. Kejadian ini juga terjadi jam 11 siang. Mereka baku hantam di sudut sekolah, aku yang biasanya paling tertarik melihat orang bertengkar langsung berlari meninggalkan kelas.
Lagi-lagi pemandangan mengerikan yang aku temukan. Salah satu adik kelas kami tampak tergeletak bersimbah darah dengan kepala hancur ditanah. Aku melihat Rodi teman sekelas Katrina dan Diandra tampak menggila dengan batu yang berlumur darah ditangannya. Beberapa guru laki-laki memeganginya yang kesetanan. Guru-guru itu tampak kewalahan dan akhirnya salah satu guru mengusulkan untuk mengikat Rodi sampai polisi datang.
Sekolah kami kembali masuk berita dengan kematian adik kelas kami, sekolah yang biasanya ceria mulai mencekam. Aku, Gobar dan Diandra membahas hal ini di parkiran. Diandra mengatakan jika Rodi sempat dekat dengan Katrina sebelum kejadian itu. “Masa sih Di?” Tanyaku tak percaya mendengar cerita Diandra.
“Suer Kas, ngapain aku bohong. Dan aku dengar Rodi cemburu karena adik kelas itu merayu Katrina di kantin kemarin.” Jelas Diandra meyakinkan.
Otakku berputar memproses semua ini. “Bukankah kita harus menjelaskan permasalahan ini.” Usul Gobar
Aku setuju karena sudah terlalu lama Katrina diam tanpa sebab. Jika dia marah karena kejadian waktu itu harusnya kita minta maaf karena sudah membuat nyawanya hampir melayang.
“Kalian aja deh aku gak ikutan.” Tolak Diandra yang tampak takut.
“Kenapa Di?” Tanyaku tak paham
“Entahlah aku merasa takut untuk berurusan dengan Katrina setelah kejadian itu.” Jawab Diandra yang semakin menambah rasa penasaranku.
***
Aku tak bisa memaksa Diandra, kuputuskan berbicara dengan Katrina ditemani Gobar. Gadis itu tampak menyendiri di taman belakang sekolah. Aku melihat seperti ada sesuatu yang aneh, Katrina memegangi sepotong kaca dan bercermin menyisir rambutnya. Senyum tipis dan terlihat menakutkan tersungging dibibirnya. Aku berhenti, nyaliku entah kenapa ciut melihat itu.
“Kenapa Kas?” Tanya Gobar
“Entahlah, aku kok jadi merasa aneh ya. Kita bicara dengan Katrina besok ajalah.” Ucapku pada Gobar
“Udahlah, sekarng aja mumpung anaknya kelihatan.” Tegas Gobar
“Tapi..” Ujarku ragu
“Ya udah biar aku yang berbicara.” Gobar melangkah meninggalkanku menuju Katrina. Aku hanya berdiri mematung di balik tiang. Sayup-sayup aku mengintip perbicaraan mereka, bulu kudukku berdiri entah kenapa. Aku merasa ada yang berbeda dengan Katrina, tapi tak tau apa. Tiba-tiba mata Katrina melihat tajam ke arahku yang membuatku langsung bersembunyi menghindari tatapan itu. Jantungku berdebar kencang tak karuan hingga ku putuskan meninggalkan mereka berdua.
***
Aku pulang dengan perasaan yang tidak enak, tubuhku terasa menggigil. Aku pikir mungkin masuk angin karena memang aku nekat pulang menembus gerimis. Aku bergelung di balik selimut, berharap tubuhku lebih hangat. Namun hingga malam tak ada perubahan, aku mencoba tidur setelah sebelumnya minum obat.
Pagi menjelang, tubuhku makin merasa tidak enak hingga aku putuskan tak masuk sekolah dan meminta ibu mengirimkan surat izin ke sekolah. Ibu membawaku ke Puskesmas, namun pendapat dokter membuatku tidak puas. Dia hanya menyatakan aku kecapean dan masuk angin karena pulang kehujanan kemaren.
Aku mencoba istirahat setelah meminum vitamin dari dokter. Belum sempat aku memejamkan mata, kampungku heboh. Ibu lantas keluar mencari informasi dan mengabarkan jika Gobar kecelakaan. Dia masuk ke jurang sungai Kale dan masih belum di temukan. Aku kaget mendengar hal ini, pikiranku langsung bergelayangan. Aku yang semula ragu sekarang yakin ini pasti ada hubungannya dengan Katrina.
Aku mengirim pesan ke Diandra untuk datang kerumahku sepulang sekolah karena yakin ibu pasti tak mengizinkanku keluar dengan kondisi seperti ini.
Diandra mengunjungiku dengan raut wajah khawatir dan juga sedih. Aku menanyakan kabar Gobar.
“Polisi dan tim SAR masih berusaha mencari Gobar.” Jawab Diandra lesu. Akupun juga tak bersemangat mendengarnya.
“Apa kamu tak merasa ada yang aneh?” Tanya Diandra padaku
“Apanya?” Tanyaku balik
“Semua kejadian terjadi tepat jam 11 siang. Mulai dari kasus Lambo, Rudi dan adik kelas, dan Gobar juga kecelakaan jam 11 siang.” Ucap Diandra penuh selidik.
“Untuk apa Gobar keluar pada jam sekolah, apa dia bolos.” Tanyaku
“Itulah yang aku ingin tahu, tapi aku melihatnya berbicara dengan Katrina sebelum kejadian.” Bisik Diandra pelan takut jika orang lain mendengarnya.
“Itu jugayang ingin aku katakan, aku benar-benar merasa ada yang aneh dengan Katrina.” Ujarku
“Entah mengapa aku merasa bergidik bila melihatnya.” Jawab Diandra
Aku juga merasakan hal yang sama dengan Diandra dan kami sepakat untuk menjauhi Katrina sampai semuanya jelas.
Diandra pulang dari rumahku saat sore sudah menjelang. Aku merasa tubuhku semakin tak enak hingga malam rasa menggigilnya semakin parah. Ibu terlihat cemas melihat kondisiku ditambah lagi aku terus mengigau tak karuan.
Nenekku yang memang masih memiliki kepercayaan kuno memutuskan untuk memanggil Haji Dorman, orang pintar yang biasanya menangani masalah ini.
“Apa yang sudah di lakukan cucumu Khoidah?” Ujarnya pada nenekku. Nenekku hanya diam cemas tak tau harus menjawab apa.
“Memangnya apa yang terjadi Ji?” Tanya ibuku yang juga terlihat ketakutan.
“Dia sedang di Incar oleh salah satu jin perempuan.” Jelasnya yang membuat cemas seluruh keluargaku.
“Lalu bagaimana Ji?” Ucap nenek ku dengan nada khawatir
“Jin ini sangat kuat, bila dia sudah menginginkan seseorang jarang yang selamat. Beruntung anakmu saat masih demam saja. Jika terlambat sedikit aku tidak tau apa yang akan terjadi.” Jelas Haji Dorman yang semakin menambah khawatir keluargaku
Pria itu lantas membacakan lantunan ayat Al-Quran dengan merdu. Yang membuatku berteriak-teriak tak karuan. Ayahku berusaha memeganiku, aku semakin tak sadarkan diri mendengar lantunan ayat suci yang di bacakan haji Dorman itu. Pandanganku gelap dan aku tak ingat lagi apa yang terjadi.
***
Ibu menyodorkan segelas air kepadaku yang tampak lemas. Haji Dorman langsung menanyakan apa yang telah aku lakukan. Aku lalu menjelaskannya secara rinci perilaku kami yang nekat mengunjungi sungai Kale termasuk tentang Katrina yang membuat Haji Dorman menggeleng kepala. Belum sempat dia menjelaskan apa yang terjadi kampung kami heboh dengan hilangnya Katrina.
Ayahku keluar melihat apa yang terjadi seorang warga menceritakan jika Katrina anak pak Sultan hilang entah kemana. Haji Dorman yang mendengar itu hanya menarik nafas dalam seolah tahu kemana perginya Katrina.
Aku diam terpaku mendengar berita itu, penyesalan datang dalam diriku. Andaikan aku tak mengikuti ide gila itu mungkin teman-temanku masih tetap bernyawa saat ini.
Hari ini sudah 5 hari Katrina hilang, tanpa jejak. Gobar masih belum di temukan. Dan parahnya lagi aku mendengar berita bahwa Rudi bunuh diri di dalam penjara pukul 11 malam kemaren. Sekolah terasa sepi, aku tak lagi pecicilan seperti sebelumnya dan lebih menjadi anak yang mendekatkan diri pada Tuhan.
Aku ingat perkataan haji Dorman, jika yang menyebabkan semua ini adalah Dewi Biduri Jin penunggu sungai Kale. Kata haji Dorman Kami tanpa sadar membawanya pulang sebagai Katrina, sedangkan Katrina yang asli telah menjadi tumbal saat itu.
Haji Dorman menjelaskan jika Dewi Biduri memiliki pemikat yang membuat orang melakukan hal yang di inginkannya. Wajahnya sangat cantik dan anggun, matanya tajam serta bibir yang menawan. Konon kata Haji Dorman jika tanggal 11 merupakan ritual mencari jodoh yang selalu dilakukan Dewi Biduri. Karena itulah setiap tanggal 11 setiap bulan tak ada yang berani mendekati sungai Kale.
Bulu kudukku bergidik mengingat hal itu. Bagaimana mungkin kami dengan lancangnya mendekati tempat terkutuk itu.
***
Hari ini aku dan Diandra berdiri di pinggir jalan di tepi jurang sungai Kale, kami menebar bunga untuk dua sahabat kami yang belum ditemukan sampai saat ini. Tiba-tiba Diandra memegang tanganku, aku reflek berbalik menatapnya. Aku temukan matanya menatapku dengan tajam, wajahnya terlihat begitu menawan. Dia tersenyum menggoda penuh makna yang membuat jantungku berdebar. Perlahan dia mendekatkan tangannya yang terasa dingin dipipiku. “AKHIRNYA KAMU DATANG, KEKASIHKU.” Bisiknya ditelingaku pelan yang membuat buluku bergidik. “APAKAH KAMU BERSEDIA MENIKAH DENGANKU?”
Seperti terhipnotis aku hanya menganggukan kepala....
-end-