“ Setiap perpisahan pasti akan menyisakan kenangan. Jangan menyesali perpisahan karena akhir dari pertemuan pastilah perpisahan. Tidak mungkin kita bisa bersama selamanya, karena itulah hukum alam bahwa di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Rian, adalah sosok yang begitu berarti buat Cika. Bersamanya dirasakan sebagai suatu kebahagiaan tersendiri. Rian mampu mengubah hati Cika yang semula sedingin es, menjadi sehangat mentari pagi. Hubungan dari yang biasa-biasa saja akhirnya menjadi luar biasa. Rasa yang semula tidak ada, akhirnya berproses menjadi ada. Sang waktu telah mengubahnya menjadi sebuah rasa yang sulit untuk saling melupakan. Rasa ingin saling memiliki membentuk asa yang tak pernah putus. Mereka memintal benang-benang kasih menjadi kain yang indah, meski mereka tau tak mungkin untuk memakainya. Rian menyimpan cinta lain di hatinya. Ada hati yang lebih dulu bersemayam di sana. Cika tau itu, tapi karena terlanjur sayang akhirnya Cika harus puas dengan sedikit ruang yang tersisa di hati Rian. Takdir berkata lain, Rian menikah bukan dengan Cika. Rian telah memilih jalan lain, meninggalkan Cika yang masih berdiri di persimpangan. Seperti mentari yang menuju peraduannya, begitulah Rian yang meninggalkan Cika. Rian mengabaikan kehadiran Cika yang masih baru dan menganggap sebagai bulan baru yang tidak indah. Rian hanya mengagumi purnama, tanpa pernah menyadari bahwa rembulan tak seperti mentari. Rembulan akan mengalami fase-fase, yang pada akhirnya menjadi bulan mati .... “
“ Aku menyukai pemandangan saat mentari tenggelam. Semburat warna merahnya begitu indah, bentuk mentaripun begitu sempurna ditambah lagi warna langit menjadi jingga.
Menatapnya memberikan kesan exotic, memberikan gairah bagi yang memandangnya. Ssstt ... bukan porno ya, gairah hidup maksudnya he ... he. Jika ingin melihat mentari tenggelam, maka tempat yang paling tepat adalah laut atau pantai. Dan jika ingin melihat mentari terbit, maka tempat yang tepat adalah di atas gunung atau ketinggian. Hari ini aku menuju pantai yang letaknya tak begitu jauh dari rumah. Setelah beberapa menit akupun sampai, memarkir kendaraan dan mencari tempat tepat dibibir pantai. Aku duduk di atas pasir, kuselonjorkan kakiku hingga menyentuh bibir pantai. Kurasakan riak air menyentuh kakiku, kupejamkan mata ini dan merasakan sensasinya berjalan melalui pembuluh darah dan menyegarkan pori-poriku. Kulirik jam tanganku, pukul 16.00. Aku terlalu cepat datang, jadi keindahan mentari belum nampak. Karena suasana masih panas, akupun berdiri dan mengambil tempat yang agak terlindung. Sebuah gazebo seakan memanggilku, akupun menuju kearahnya.
Sendiri menatap laut dan mentari membuatku bersedih. Bagaimana tidak, biasanya kalau mau melihat panorama senja aku ditemani Rian. Tapi kali ini dan mungkin juga seterusnya tidak lagi. Tiba-tiba hatiku begitu sedih, aku teringat dengan Rian. Seminggu lagi dia akan menikah dengan orang lain yang notabene adalah pacarnya sendiri, lalu aku ini siapa ? Entah mengapa air mata ini gak mau mengalir, padahal hati ini sangat terluka. Jujur semenjak aku tau bahwa dia akan menikah, sontak aku langsung jatuh sakit. Seminggu lamanya aku sakit, seluruh badanku lemas. Aku merasakan seolah dunia ini menghimpitku. Tak ada gairah hidup yang aku rasakan, seakan seluruh jiwaku hilang. Aku gak tau harus bagaimana. Aku tau bahwa akan begini akhir hubunganku dengannya. Makanya jauh-jauh hari sebelumnya aku sudah menyiapkan mentalku, namun sekuat apapun aku berusaha untuk tegar tetap tidak bisa. Sampai suatu malam sebuah bisikan membangunkanku. “Melepaskan saja itu tidak cukup, kamu harus mengikhlaskannya.” Kata-kata itu seakan memberi motivasi kalau aku gak boleh lemah, aku harus kuat dan menerima kenyataan bahwa dia bukan jodohku. Aku tak pantas untuknya dan aku tau dia takut jika hubungan kami diketahui orang. Apalagi jika itu ada hubungan dengan pacarnya, misalnya saja kenalan pacarnya atau keluarga pacarnya.
Aku gak pernah tau apa yang ada di kepala dan hatinya, yang aku tau adalah kami selalu bersama. Tak ada waktu tanpa berdua, mulai pagi hingga malam selalu jalan berdua setiap hari. Jalan bareng, makan bareng, adalah agenda kami setiap harinya. Akhirnya aku jadi ketagihan, gak bisa makan kalau gak bersamanya. Gak nikmat rasanya, makanan terasa hambar tanpanya. Hari-hari kami lalui dengan bahagia, meski terkadang ribut. Dia yang suka uring-uringan persis bocah, dan aku yang suka gak fokus adalah pemicu kami biasa ribut. Ditambah lagi aku yang suka cemburu dengan sikapnya yang suka godain cewek, meski hanya bercanda. Tapi gak lama, karena aku gak suka ribut. Akhirnya aku yang meminta maaf meski dia yang salah, dan setelahnya kami mesra kembali. Yah ... dia adalah laki-laki labil yang bila dilihat dari kacamata usia tidak seimbang. Laki-laki dengan usia segitu biasanya sudah agak dewasa, tapi dia nggak. Sementara aku yang usianya terpaut jauh, harus mengalah dengan sikap kekanak-kanakannya. Dan alhamdulillah meski dengan kekurangan masing-masing tapi hubungan kami bisa berjalan selama lebih dari 2 tahun. Dia yang ceria dan suka heboh memberikan arti tersendiri buatku yang lebih senang dengan diri sendiri. Jujur, aku memang type penyendiri. Aku lebih asyik dengan diriku sendiri dan nggak mampu mengekspresikan perasaanku. Kalau bahagia yah ... hanya bisa tersenyum, paling banter tertawa. Aku tidak mampu lompat-lompat kalau lagi bahagia, tidak mampu bersuara kalau lagi sedih. Yang bisa aku lakukan kalau lagi sedih hanyalah meneteskan air mata, gak ada yang lain. Bahkan teriak pun untuk melampiaskan amarah gak bisa. Aku memang gak bisa marah, karena kalau aku emosi setelahnya pasti nangis. Setelah marah, rasa bersalah ku menjadi besar. Makanya setiap kali aku kesal ke Rian, gak lama perasaanku semakin sayang kepadanya. Yah ... akhirnya aku hanya bisa mengelus kepala atau punggungnya sebagai wujud dari rasa sayangku. Paling banter kalau aku marah adalah pergi. Dan itu pernah aku lakukan saat dia menuduhku yang bukan-bukan, padahal aku paling nggak bisa terima jika dituduh untuk sesuatu yang tidak aku lakukan.
Lebih dari 2 tahun kebersamaan kami, namun tak cukup jari untuk menghitung berapa banyak kenangan yang sudah terajut. Meski benang-benang kasih kami kusut, namun tak lama kami sudah mampu memintalnya menjadi kain yang indah kembali. Untuk melupakannnya begitu saja itu mustahil, karena semua kenangan saat bersama itu kami jalani bukan tanpa rasa. Aku sudah mengambil keputusan untuk meninggalkan semua yang ada di sini, tapi dia gak mau. Egois memang, tapi itulah kenyataannya kami tidak bisa berpisah. Aku sudah meminta dia untuk melupakan aku, namun dia menolak. Jadi aku harus bagaimana ? Kami memang saling membutuhkan, tapi haruskah aku menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumah tangganya ? Entahlah, aku sendiri bingung. Jujur, aku gak bisa hidup tanpanya. Jangankan berpisah, gak ketemu saja rindunya minta ampun. Paling lama 3 hari aku bisa nahan gak ketemu, selebihnya adalah rasa kangen yang dalam. Dia memang suka meninggalkanku, balik ke kampungnya. Karena memang kota kami berbeda, kami dipertemukan karena pekerjaan. Paling tersiksa kalau dia pulang seminggu, bahkan pernah sampai hampir 3 minggu. Aku jadi kesepian, makanpun seadanya saja gak bisa ngapa-ngapain. Pokoknya hidupku lumpuh tanpanya. Benar-benar suatu keadaan yang tidak nyaman. Dan sekarang bagaimana ? Apakah setelah menikah nanti dia enggak berubah ? Ini yang aku takutkan, meski dia berjanji tak akan berubah tapi aku yakin akan ada perubahan. Apalagi jika dia takut sama istrinya, atau gak mau mengecewakan istrinya pastilah dia akan menurut. Jika istrinya mampu memberikan segalanya, pastilah dia tidak akan mengingat apalagi mengharapkanku. Cepat atau lambat dia pasti akan menjauh dariku, dan akhirnya meninggalkanku.
Jadi aku harus bagaimana Rian ? Apakah kenangan dan kebersamaan kita selama ini mampu membuatmu bertahan denganku ? Atau malah memilih meninggalkanku karena cinta istrimu nanti ? Entahlah, aku bingung. Jika disuruh memilih aku memang lebih mau bertahan meski status ku adalah orang ketiga, selama dia juga gak berubah. Karena aku memang tidak bisa pisah. Perasaan ini tidak bisa aku kendalikan. Tapi bagaimana jika nanti dia berubah dan mengabaikanku ? Aahh ... begitu menyakitkan kenyataan ini. Saat ini aku memang sudah ikhlas dia menikah, karena aku yakin itu adalah bagian dari skenario Allah. Tapi sebagai manusia biasa ketakutan menghantuiku. Aku takut dia berubah drastis, aku takut dia lebih mengikuti kata-kata istrinya dan akhirnya meninggalkanku. Aku pengen teriak dan menangis bila mengingat semua itu, tapi aku gak mampu. Ternyata untuk menjadi ikhlas itu sulit, butuh usaha yang kuat untuk menjalaninya. Saat ini aku sudah menutup hatiku, biar dia tidak terluka. Makanya untuk nangispun gak mampu, karena sudah mati rasa. Hati ini akan aku buka kalau berada di sisinya, karena kalau tidak pasti sikapku akan dingin dan gak semangat.
Mentari sudah hampir tenggelam, semburat merahnya sudah mulai berkurang. Akupun mulai beranjak dari tempatku berdiri. Aku paling senang memandangi mentari tepat di bibir pantai dengan garis lurus, karena aku merasa seolah ingin meraihnya dan tak membiarkannya beranjak menuju peraduannya. Hari ini semburat merah mentari begitu sempurna membuat hatiku yang semula galau menjadi tenang dan damai. Kenangan 2 tahun silam pun mulai bermain ...
“ Maaf boleh bertanya ? Kalau mau mengesahkan ijazah, di mana ya ?” Aku bertanya kepada mahasiswa yang kebetulan lewat di depanku. Dia pun mengantarku ke ruangan yang biasa digunakan untuk mengesahkan ijazah. Setibanya di sana dia membantuku untuk memasukkan berkas ijazah, sedangkan aku hanya duduk manis saja. Usai pengurusan ijazah dia pun mendekatiku dan menyerahkan surat bukti penerimaan berkas. Aku mengucapkan terima kasih dan sebelum pergi sempat menanyakan namanya, yaitu Rian. Dia juga sedang mengurus ijazahnya, makanya suatu kebetulan yang tidak disengaja. Karena kami sama-sama punya tujuan yang sama, meski berkasnya berbeda. Aku sudah melupakan pertemuan itu karena sibuk dengan urusanku sendiri. Ada pemberkasan yang membutuhkan ijazah yang dilegalisir, makanya aku ke kampus. Dan alhamdulillah karena ketemu dengan orang yang tepat dan di waktu yang tepat. Sampai suatu hari aku bertemu kembali dengannya, itupun di kantor tempat aku bekerja.
“Hei ... kamu Rian kan ? Kamu kan mahasiswa yang membantu aku waktu di kampus ? Apa kabar, kamu punya urusan apa ke kantor ?” Dengan wajah lugunya dia memandangku, mungkin dia mencoba membangkitkan ingatannya. “ Astaga ... maaf kak, aku lupa. Iya, aku Rian yang tempo hari ketemu di kampus. Aku ke sini mau melamar pekerjaan, katanya kantor ini butuh pegawai. Karena persyaratannya aku penuhi, makanya aku memberanikan diri untuk melamar. Apa kak Cika kerja di sini ?” Akupun tersenyum dan mengangguk. “Boleh lihat berkasnya ?” Rian lalu menyerahkan berkasnya. Kamu tunggu di sini biar aku yang mengantar berkasmu dibagian personalia. Gak lama, seorang wanita menghampiri Rian dan memintanya masuk ke dalam ruangan. Terdengar suara dari dalam yang mempersilahkan Rian masuk. Alangkah terkejutnya Rian karena yang menjadi kepala personalia adalah kak Cika. “Aahh ... ibu curang, kenapa gak jujur kalau ibu adalah orang yang merekrut pegawai ?” Aku hanya tersenyum dan mempersilahkan dia duduk. “ Apa alasan kamu untuk bekerja di sini ? Apakah kamu sudah mempertimbangkan bahwa gaji di sini itu gak terlalu tinggi ? dan kalau boleh tau kamu ke sini naik motor atau angkot ? Karena jangan sampai pengeluaranmu lebih besar daripada pemasukanmu.” Rian pun tersenyum. “Aku ingin mengamalkan ilmuku dan aku tidak mempermasalahkan soal gaji, kalau aku nyaman aku pasti akan bertahan. Jangan khawatir bu, ada motor yang bisa aku pakai.” Aku mengangguk. “ Maaf kalau boleh tau Kamu punya pacar nggak ?” Lama Rian berfikir, “iya bu, tapi kami berjauhan.” Aku hanya tersenyum mendengar jawaban Rian. “Baiklah, kamu boleh bekerja di sini. Tapi di luar kantor kamu gak usah memanggil aku ibu atau kakak, panggil saja namaku. Biar kita bisa lebih akrab.” Rian menjawab dengan cepat, “tapi aku ingin memanggil dengan sebutan kakak, biar lebih akrab. Karena aku sudah menganggap ibu seperti kakakku sendiri.” Aku pun menjelaskan pendapatku. “Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi besok dan selanjutnya. Aku khawatir nanti diperjalanan pertemanan kita terjadi sesuatu, makanya aku gak mau dengan sebutan itu. Jadi panggil saja namaku biar lebih akrab.” Entah mengapa tiba-tiba aku merasa akan terjadi sebuah hubungan yang lebih dari seorang teman, makanya aku tidak ingin dia memanggilku ibu atau kakak. Aku merasa seiring berjalannya waktu aku dan Rian akan terikat dengan yang namanya hubungan khusus. Tapi entahlah, itu hanya intuisiku. Biarlah nanti kita melihat kejadian apa yang akan diurai olah waktu. Jarak antara umurku dan Rian memang jauh 10 tahun, jadi wajarlah jika dia memanggilku kakak atau ibu. Tapi aku yang gak nyaman. Aku takutnya bahwa nanti akan tumbuh benih-benih cinta dalam hati kami, karena perasaan itu bisa tumbuh jika kita sering bersama. Aku lalu menyampaikan ke Rian kalau besok sudah bisa masuk kantor. Rian begitu bahagia mendengarnya dan berharap bahwa dia bisa betah bekerja di tempat ini. Aku hanya tersenyum melihat kesungguhannya.
Esoknya Rian datang amat pagi, biasalah pegawai baru. Saat aku datang dia sedang membuatkan teh untuk pegawai yang ada di kantor. Sontak aku kaget. “Rian, kamu lagi ngapain ? Kamu kan bukan office boy.” Rian hanya tertunduk. Kupandangi sekeliling, semua pegawai gak ada yang berani menatapku. “Siapa yang menyuruhnya tadi ? Begitu cara kalian memperlakukan pegawai baru ?!” Rian langsung memotong perkataanku. “Maaf bu, tidak ada yang menyuruhku. Aku yang punya inisiatif sendiri. Aku fikir daripada bengong, kan lebih baik aku mencari kesibukan.” Aku memandangi Rian sejenak, dan mengangguk. “Maaf kemarin itu aku lupa memberitahu apa tugas kamu. Baiklah teman-teman ini pegawai baru kita, namanya Rian. Beliau akan menemani ibu Yati, jadi Pak Rian silahkan kamu bergabung dengan ibu Yati dan meminta bimbingan beliau. Teman-teman maaf atas sikap aku tadi.” Akupun berlalu meninggalkan mereka yang bengong. Aku sendiri gak tau mengapa aku begitu perhatian pada Rian. Dari body sih dia biasa-biasa saja, demikian pula dengan wajah gak ada yang istimewa. Tapi ada kekuatan yang sepertinya menarikku untuk lebih perhatian kepadanya. Aku sendiri gak tau dengan perasaan ini. Apakah semua itu karena hatiku yang selama ini sedingin es sudah mulai mencair ? Entahlah.
Hari berganti bulan, aku dan Rian mulai terlihat akrab. Kemanapun kami pergi selalu berdua. Aku sendiri gak tau kapan hal itu dimulai. Yang aku tau kami mulai akrab. Kalau dulunya aku biasa menumpang ojek online atau ikut dengan mobil pimpinan. Maka sekarang aku sudah berada diboncengannya. Hubungan kami semakin hari semakin dekat tanpa mampu untuk mencegahnya. Satu hal, Rian gak mau dicurigai oleh teman-teman kalau kami memang ada hubungan. Dia mengakunya kalau hubungan kami adalah bos dan anak buah. Selain gak enak sama teman-teman kantor, dia juga gak mau pacarnya tau hubungan kami. Rian mungkin hanya menganggapku sebagai teman, tapi aku yang terlanjur nyaman tidak bisa mencegah perasaan ini. Hingga suatu hari ... “Rian, tak adakah sedikit ruang di hatimu untukku ? Aku menyayangimu, jadi izinkan aku mengisi ruang yang ada meski itu kecil. Meski aku tau itu tidak mungkin, tapi tolong beri aku kebahagiaan. Aku tau gak mungkin memilikimu karena sudah ada nama yang lebih dulu bersemayam di hatimu.” Rian pun menjawab. “Cika, jujur akupun gak tau dengan perasaan ini. Tapi aku selalu rindu bila gak bertemu, makanpun demikian. Aku baru merasa makan dengan nikmat kalau kita berdua, makanya aku sering bertanya dalam hati apakah aku mencintainya ? Kita jalani saja semua seperti ini, tidak semua yang kita cintai itu bisa kita miliki. Jadi biarlah kita serahkan pada waktu, seperti apa cerita yang akan terurai. Jujur aku tidak bisa meninggalkan pacarku, karena aku pernah berjanji untuk menikahinya. Jadi maaf Cika jika aku tidak bisa membawa hubungan kita ke pelaminan, tapi aku juga tidak bisa berpisah. Maafkan aku yang egois. Maafkan aku yang mencintai dan menyimpan namamu di hatiku. Aku tidak bisa berpisah denganmu karena sudah terlanjur nyaman denganmu. Aku tidak bisa jauh darimu.” Aku gak tau dengan perasaan ini setelah mendengarkan kata-kata Rian. Jujur, aku juga memiliki perasaan yang sama, tapi aku juga gak bisa membuat Rian menjadi serba salah. Jika aku bertanya pada logikaku, maka jawabannya adalah aku harus meninggalkannya. Karena pada akhirnya aku pasti akan terluka. Tapi jika aku bertanya pada hatiku, maka jawabannya adalah aku mencintainya. Aku tidak bisa berpisah, aku selalu ingin dekat dengannya. Karena bersamanya aku merasakan kedamaian. Dan benar kata Rian bahwa kita serahkan saja semuanya pada waktu, biarkan waktu yang mengurai seperti apa takdir dan akhir dari hubungan kami.
Tanpa terasa hubungan kami sudah berjalan setahun. Kami seolah gak bisa lepas, kemana pun selalu bersama. “Rian, apa pacarmu gak marah kalau selama ini kita selalu bersama. Siang dan malam kita selalu bersama, apa dia gak merasa cemburu jika tau kalau selama ini kita selalu berdua ?” Dengan santainya Rian menjawab. “Dia tau kok, karena aku sering cerita kebersamaan kita. Jawabannya adalah gak apa-apa, asal aku yang kamu kawini.” Akupun terdiam. Hubungan macam apa ini ya Allah. Aku tau hubungan dia dan pacarnya, tapi pacarnya gak pernah tau kalau ada hubungan lain selain pertemanan.
Demikianlah hubungan kami berjalan dan tanpa terasa sudah memasuki tahun kedua. Namun pelan tapi pasti fakta yang menyakitkan mulai terkuak. Hubungan kami yang selalu mesra, mulai terusik dengan permintaan orang tuanya. Rian harus menikah secepatnya. Ketika hal itu dia utarakan, aku hanya bisa mengangguk. “Gak apa-apa kalau memang seperti itu keinginan orang tuamu, jalani saja. Ambil hikmah di setiap kejadian. Bukankah selama ini aku sering ngomong agar waktu kebersamaan kita harus dimanfaatkan ? Karena aku tau bahwa pada akhirnya akan seperti ini. Akan ada perbedaan saat kamu sendiri dan saat kamu berstatus suami orang. Kita gak bisa lagi bebas kemana-mana. Karena pada dasarnya wanita itu posesif, dia tidak ingin ada wanita lain di sisi suaminya. Aku pasti akan mengatur jarak dengan hubungan kita. Atau bagaimana kalau aku minta pindah saja, biar kita bisa nyaman ?” Dengan cepat dia menjawab, “Tidak, aku gak mau kamu pergi. Aku mau kita tetap seperti ini, karena aku tidak bisa berpisah denganmu. Tapi jika itu keputusanmu, maka jangan salahkan aku jika menghilang dari hidupmu. Aku akan bersama istriku dan meninggalkan kota ini.” Aku hanya terdiam. Rian, tidakkah engkau tau bahwa ada luka yang tertinggal di hati ini ? Aku gak bisa menghadapi semua ini. Aku sakit Rian, teramat sakit. Aku pasti akan mencari kebiasaan kita. Jalan bareng, makan bareng dan semua aktifitas yang dilakukan bersama. Dan yang terpenting adalah aku akan sendiri menyaksikan mentari tenggelam. Rasanya aku gak sanggup menjalani semua itu. Kamu akan hidup bahagia, sementara aku akan kesepian dan merindukan dirimu.
Demikainlah cerita kami, aku gak tau apakah akan ada episode lanjutan dengan hubungan kami. Rian awalnya stres dengan keadaan ini. Tapi selalu aku kuatkan. Aku tidak ingin dia berdosa karena melawan orang tuanya. Aku juga tidak ingin dia disebut munafik karena mengingkari janjinya. Aku ingin kamu bahagia Rian. Kebahagiaanmu adalah kebahagiaan aku juga. Melihatmu bahagia adalah tujuanku, makanya selama ini aku tidak bisa melihat dia sedih. Aku pasti akan lebih sakit jika dia sakit beneran. Aku begitu mencintanya, sehingga tidak bisa membiarkan jika ada yang melukainya. Cintaku pada Rian memang teramat besar, aku menyerahkan seluruh hatiku untuknya. Membiarkan ruang yang selama ini kosong, terisi penuh dengan cintanya. Aku paling gak tenang jika dia mengatakan lapar atau sakit, rasanya ingin aku peluk biar dia merasa tenang. Pernah suatu hari dia sakit batuk yang berat, saking sayangnya aku lalu mengatakan, “Ya Allah biarkan penyakit itu pindah ke aku. Biarkan penyakitnya aku yang menanggung.” Mungkin perkataanku diaminkan malaikat, makanya dia sembuh dan aku yang sakit. Tapi aku ikhlas kok, yang penting dia sehat dan bahagia. Aku gak tau Rian apakah suatu hari nanti kamu akan menemukan orang yang mempunyai cinta sebesar dan setulus aku. Tapi aku akan mendoakan semoga engkau selalu bertabur cinta dan bukan kecewa. Cukup aku saja yang menanggung semuanya, karena aku yakin kamu gak akan sanggup untuk menanggungnya.
Besok adalah hari pernikahan Rian. Apakah aku akan sanggup untuk datang sebagai tamu undangan ? Meski hati ini sakit, aku harus hadir biar dia senang. Rian, aku memang bukanlah purnama. Aku hanya bulan baru yang gak indah. Tapi asal kamu tau bahwa bulan itu akan mengalami fase-fase. Jika hari ini dia adalah bulan purnama, maka besok dia akan menjadi bulan sabit dan akhirnya menjadi bulan mati. Tidak ada yang abadi Rian, suatu saat nanti semua akan meninggalkan kita. Karena kita hanya dititipi dan bukan pemilik. Akhirnya ... jaga kesehatan dan tetaplah bahagia ....