"Buku ini, akan selalu mengingatku pada dirimu, oh cinta."
Agastya, cowok tertampan di sekolah. Tapi di mataku, dia sangat sempurna.
Dia memang jarang muncul di hadapanku, karena kesibukannya mengikuti lomba-lomba. Juga dirinya sangat pandai berorasi.
Namun hari ini, dia sering ku lihat diam di perpustakaan. Tentu, aku bahagia sekali! Karena perpustakaan adalah tempat favorit ku.
Cukup melihat sosoknya dari jauh, hatiku sudah merasa senang. Wajah seriusnya saat membaca, sangat mengganggu konsentrasi ku.
❤📖🖊
Keesokan harinya tetap sama.
Ah, aku harus sadar diri siapa diriku. Cuma kutu buku yang bermimpi bisa masuk jurusan sastra. Cuma patung yang sudah menghabiskan banyak novel, komik, dan karya sastra lainnya.
Saat aku benar-benar berhasil tenggelam dalam bacaanku, seseorang memanggilku.
"Ferren ...."
Mataku membulat. Ini mimpi! Pasti mimpi. Bahkan dia tersenyum, membuat jantungku berdegup kencang!
"I-iya? Ada apa Agas?" balasku.
"Fer, boleh minta tolong carikan buku yang judulnya ini?" Agas memperlihatkan layar ponselnya.
"Oh! Buku itu sekarang sedang aku baca." Aku memperlihatkan sampul buku yang aku pegang.
"Ah iya betul! Kamu sedang membacanya ya?"
Aku terpaksa mengangguk. Karena kalau masalah buku yang kubaca, orang lain, bahkan dirinya, tak akan aku izinkan meminjamnya hingga selesai aku baca.
"Di mana rumahmu?"
"Eh?" Jantungku semakin berdegup kencang. "Di dekat alun-alun kota."
"Oh, dekat ya." Dirinya mendekat ke arahku dan menyentuh buku yang aku pegang.
Aduh, duh! Aku mimpi apa semalam?
"Nanti pulang bareng ya? Mungkin aku akan di rumahmu hingga jam lima sore."
Bisa-bisa aku meleleh sekarang! Ya ampun!
Aku segera menjawab. "Ya, boleh."
❤📖🖊
Pulang sekolah,
Aku dan Agas berjalan bersama menuju parkiran. Satu SMA melihatku, ah salah, mereka melihat Agas dengan tatapan heran. Mungkin aku tak pantas berjalan dengan cowok tinggi dan tampan ini.
Aku tak pernah memakai kosmetik, hanya memakai skincare. Rambutku hanya diikat satu, tanpa aksesoris lainnya. Uang tabunganku lebih suka dihabiskan untuk membeli novel maupun komik.
Bahkan di parkiran, aku bisa mendengar mereka yang berbisik-bisik tentang aku dan Agas.
"Fer, ayo naik."
"Eh! Iya, iya."
Aku duduk dibelakangnya, dengan tangan memegangi rok. Lalu motor Agas agak miring, membuatku spontan berpegangan ke pinggangnya.
"Maaf, maaf. Ternyata tanahnya licin."
Aku hanya bungkam, bingung harus merespon apa.
❤📖🖊
Di rumah,
Aku mempersilakan dirinya untuk duduk di ruang tamu, lalu aku pamit pergi sejenak untuk menyuguhkan minuman.
"Ngga perlu, Fer. Aku ke sini karena ingin tahu tentang koleksi si kutu buku sepertimu," jelas Agas.
Deg!
"Kok kamu tahu?" tanyaku.
"Aku sering melihatmu masuk ke perpustakaan saat istirahat. Ditambah lagi dengan kacamatamu itu, jadi aku semakin yakin pasti koleksi buku mu sangat banyak."
"Em ... Ya sudah, ayo Gas!" ajakku.
❤📖🖊
Di kamarku,
Agas terlihat tak berkedip saat melihat suasana kamarku. Dirinya melangkah perlahan menuju rak buku yang cukup besar di dekat meja belajar.
Lalu dirinya menarik salah satu buku, yang merupakan buku favoritku. Bahkan aku memberinya sampul bening, supaya tak mudah lecet.
"Buku ini masih bagus banget, Fer." Agas mengelus dan membuka buku tersebut.
"Itu buku favorit ku, Gas." Aku terpaksa mengakuinya.
"Oh, gitu. Cerita tentang apa ini?"
"Tentang perjuangan seorang anak yang melawan penyakitnya. Dia melawannya dengan pura-pura bahagia, seakan ngga memiliki penyakit itu."
Agas mengangguk sembari tersenyum tipis. Seperti itu saja, aku meleleh melihatnya. Ya ampun.
"Boleh aku pinjam, sampai kamu selesai membaca buku yang tadi?" Pertanyaannya membuatku bingung.
"Em ...." Aku masih berpikir, lalu mencoba memastikan. "Tapi tolong jaga buku itu ya? Aku sangat menyukainya."
Dan aku juga menyukaimu, Gas. Ah sayang, perkataan itu hanya bisa ku ucapkan dalam hati.
"Ya! Siap! Nanti kalau kamu sudah selesai baca, temui aku ya? Aku akan menukar ini dengan itu. Oke?" pintanya.
"Pelan-pelan saja bacanya, Gas. Ngga apa kalau kamu pinjam dua."
"Ngga, Fer. Satu aja," balasnya.
Satumu untukku ya? Apaan sih, Fer! Kamu hanya bermimpi! batinku.
❤📖🖊
Esok hari,
Aku meneteskan air mata saat foto Agas terpampang di pintu masuk sekolah.
Aku tak peduli, dan segera berlari menuju kerumunan para siswa yang menangis.
"Tadi malam Agastya meninggalkan kita semua. Dia memang menyembunyikan penyakitnya, dan kemarin sudah takdirnya ia harus istirahat di sana," ucap kepala sekolah.
Tangisan para siswa semakin keras. Aku pun juga sama. Baru kemarin dirinya dekat denganku, tapi sekarang dia telah pergi selamanya, dengan buku favoritku.
Untunglah, kepala sekolah menawarkan kepada para siswa untuk pergi melayat ke rumah Agas. Aku tak ragu untuk ikut ke sana.
Di rumah Agas,
Aku melihat rumah bak istana, dengan air mata yang kembali menetes. Kenapa aku baru mampir ke sini saat Agas sudah tak di sini?!
Aku memasuki rumahnya, tanpa peduli suasana ramai di rumah ini. Setelah itu, terdengar beberapa orang berteriak "Minggirr!!" dengan membawa keranda.
Agas. Itu Agas. Hah, hah. Sekarang aku ngga bisa melihat senyumannya lagi!
Aku kembali terisak dan melangkah terus menuju penghuni asli rumah ini. Setiap orang yang lewat, aku tanyakan mengenai orang tua Agas.
Akhirnya, aku bertemu dengan ibunya Agas. Beliau mengajakku ke kamar Agas.
Di dalam, beliau menyerah kan buku yang kondisinya masih terbuka. "Saya melihat Agas membaca buku itu, hingga hidungnya mimisan dan nyawanya tak tertolong. Maaf ya, bukumu jadi kotor."
"Ngga apa, Bi. Ini buku lama saya. Kebetulan saja, Agas ingin membacanya." Aku berbohong supaya tak membuat ibunya Agas merasa bersalah.
Lalu diriku pamit pergi. Langkahmu terasa berat, dan aku membuka salah satu halaman. Halaman tersebut berhiaskan kenangan Agas untukku.
Gas, bagaimana caranya melupakanmu? Tolong aku.
***** THE END *****