Lamunan ku semakin larut pada penghujung senja dengan warna abu ciri khas langit pada saat maghrib.
Aku di terpa dilema dalam menentukan nasib.
"sekarang bagaimana ?" Tanya Larasati, sosok perempuan yang saat ini menatap ku dengan sorot mata penuh kebingungan.
"pertanyaan itu seharusnya tak pantas keluar dari lisan mu yang sudah terlalu banyak mengumbar dusta."
"Bukan lah waktu yang tepat untuk kita saling menyalah kan, mungkin ini memang revisi dari takdir tuhan."
ucap nya mencari pembenaran.
"oOo jadi sekarang kamu berfikir bahwa ini adalah apa yang tuhan gariskan, lantas bagaimana dengan kita yang diberi kuasa lebih dalam berlogika ?"
ucap ku sedikit kesal mendengar pernyataan nya.
"Jika cinta itu berlogika, tak akan ada rasa sakit yang menyelimuti, karna pasti nya cinta hanya akan bertengger pada satu hati, tapi fakta nya cinta itu datang bisa lebih dari satu kali, walau sebenar nya dia tahu bahwa telah ada yang memiliki."
ucap Larasti yang sorot mata nya terlihat mulai berbinar menahan tangis.
"simpan dulu argumen argumen mu ! yang aku butuhkan adalah kedewasaan mu dalam bersikap."
ucapku, lelaki 22 tahun yang terjebak pada cinta yang tak semesti nya.
"Bersikap yang bagaimana ? jika kamu saja selalu menyudutkan ku dengan kalimat mu yang seolah aku selalu salah." kata nya sembari menyeka pipi yang telah basah oleh air mata yang membanjiri.
"usah menangis ! jangan kau paksa aku untuk bersimpati ditengah dilema yang aku hadapi."
"apa kau benar benar ingin aku pergi ?"
tanya Larasati yang tangis nya semakin menjadi.
"Sadar lah sayang, kau telah bersuami."
"Aku tahu, dan aku sadar betul atas kebohongan ku dulu saat pertama kali mengenalmu, tapi dusta yang ku ucap beralasan..."
"beralasan kata mu ? lantas atas dasar apa kau berbohong tentang status mu ?" kata ku memotong pembicaraan nya.
"Sebab aku menikahi pria yang bukan pilihan ku, dan itu adalah kehendak orang tua yang pada akhir nya menjebak ku."
"tapi apakah harus dengan cara ini kau mem protes ketidak adilan yang orang tua mu beri ?"
"bukan maksut ku melibatkan mu atas masalah yang aku alami, aku sudah berusaha untuk melawan ego nya cinta,
tapi apalah daya jika rindu telah menghujam relung nya."
kita kala itu terjebak pada masalah yang tak kunjung menuai titik temu, berawal dari hubungan terlarang kita yang terbongkar oleh suami nya, meski dia tak memergoki secara langsung dan hanya memiliki bukti upload tan foto kemesraan kami di facebok, tapi itu semua sudah cukup membuatku merasa sebagai lelaki yang tak tahu diri.
jam telah menunjukan pukul tujuh lewat sepuluh menit, dan langit telah menjelma dalam gelap dengan kerlip bintang yang berserakan di atas nya.
"udah malem, kamu udah makan ?" tanyaku setelah beberapa saat kami terdiam.
"udah." jawab nya singkat.
"cepat atau lambat aku tetap akan mengurus surat cerai ku, ini sudah menjadi keputusan ku sedari awal sebelum aku mengenalmu."
ucap nya kembali membawa topik yang berat untuk di perbincang kan.
"kalo masalah itu aku kembali kan lagi ke kamu, tapi pasti akan ada resiko dalam setiap keputusan."
"aku siap akan segala resiko, dan pergi lah jika memang kamu merasa sebagai pemicu perceraian ku."
Lisan ku mendadak bisu mendengar apa yang baru saja dia kata kan, walau aku masih diselimuti perasaan kesal dan marah, namun aku masih terlalu pengecut untuk pergi dari masalah, aku merasa ikut bertanggung jawab atas keputusan yang bakal Larasati ambil, dan pasti akan ada pihak yang merasa di perlakukan tidak adil.
"Beri aku waktu untuk berfikir, aku tak suka nada bicara mu yang mengusir."
"LoOhhh... bukan nya dari awal kamu sendiri yang selalu tak setuju dengan hubungan ini ?"
"Tidak setuju bukan berarti tak mau, aku hanya menyalahkan cara mu, tapi tidak dengan cinta mu."
ucap ku sambil membelai rambut nya yang terurai panjang hingga ke pinggang.
"aku tidak yakin kau punya cukup kesabaran untuk menunggu proses ini, aku sebentar lagi menjadi janda sedang kau masih perjaka, tidak kah kau memikir kan apa kata teman dan keluargamu nanti ?"
"kenapa kita harus memikir kan cibiran orang ? sesempurna apa pun kita, orang orang itu tetap akan memiliki celah untuk mencaci, dan aku tak peduli."
"jangan ! cukup aku saja yang menanggung rasa malu, kau harus tetap melanjutkan hidup mu, meski itu tanpa aku."
"sadar kah kau atas apa yang kau ucap kan ?"
"jika itu yang menurutmu terbaik buat mu, akan aku hargai keputusan mu, meski kedengaran nya sulit,
tetap akan aku coba melawan segala rasa sakit, satu hal yang perlu kau tahu sebelum aku pergi ! hatiku akan selalu terbuka buatmu kapan pun."
"lupakan saja... belajar lah untuk mencari cinta yang lain, aku bukan perempuan yang pantas untuk mendampingi mu, masih banyak di luar sana yang lebih baik dari aku."
Aku hanya mengabaikan perkataan nya dan memilih untuk segera pergi bersama rasa sakit yang menghunus hati, merobek dan menyayat jiwa hingga meninggal kan bekas luka.
Luka yang mungkin akan sulit terobati setelah sadar dengan apa yang selama ini telah kita lalui.
kenangan kenangan indah yang sebentar lagi hanya akan menjadi cerita yang sedang aku usahakan untuk menghapus nya.
Kini....
genap tiga tahun sudah setelah dia memutus hubungan secara sepihak, tanpa bertanya bagaimana pendapat ku pada keputusan nya yang berniat menyudahi kisah ini.
tiga tahun berlalu dan aku masih saja terlarut dalam luka yang mendalam.
tapi tak banyak hal yang bisa aku lakukan, semua media yang menurut ku adalah cara untuk kita berbalas kabar telah di blok.
Sayang...
Berbahagialah atas hidup yang kamu jalani sekarang !
Jika kamu membaca cerpen ini...
Aku hanya ingin sekedar mengenang cerita cinta yang pernah kita jalani.
i love you Larasati.