Aku menggigit bibirku menyesal. Kemudian, mendengkus untuk merutuki kesalahan yang ku perbuat kemarin sore, seharusnya aku tidak bertanya hal-hal yang mungkin bisa membuat kekasihku marah.
Dan saat di sekolah, ketika aku melihat Taehyung diluar blok Sains, kami bertatapan untuk beberapa saat sebelum pemuda dengan potongan rambut ala Dark Spikes tersebut memalingkan wajahnya dari ku. Aku merasa ia benar-benar marah padaku, tetapi apa salahnya kalau aku bertanya hal seperti itu?
Saat jam makan siang aku berpapasan dengan Jane di kantin, kami berbincang sedikit sembari menyantap menu makan siang yang payah hari ini. Aku berharap sekolah lebih memperhatikan menu makan siang pada muridnya.
"Apa Taehyung bicara sesuatu tentangku?" tanyaku, Jane menatapku dengan senyum yang luntur di wajah manisnya.
"Dia cerita sedikit," gumam Jane, gadis itu memutuskan pandangan dan lebih memilih menatap kentang tumbuk miliknya, "Suga yang bercerita, dia bilang kau mengungkit masalah tentang ibunya?" Lanjut Jane, ia sedikit memberiku simpul tipis.
"Taehyung tidak suka seseorang menanyakan soal ibunya," ucap Jane.
"Kenapa?" tanyaku, aku mulai sedikit merasa bersalah pada Taehyung sekarang.
"Ada kisah klasik dibaliknya, dia kecewa terhadap pilihan yang diambil ibunya. Selebihnya, kau bisa menanyakan hal itu pada Taehyung. Mungkin dia akan bercerita setelah siap."
Jane berlalu pergi setelah selesai mengatakan hal barusan dengan alasan ia ada urusan mendadak, dan aku harus berakhir di perpustakaan sekolah setelah jam makan siang usai. Kelasku tidak ada lagi dan aku hanya perlu menunggu Taehyung keluar dari kelas fisika sesuai janji sebelumnya.
Sesaat setelah kelas terakhir Taehyung selesai, aku mulai berjalan kaku ke arah kelasnya. Satu persatu teman sekelasnya keluar dan Taehyung tampak berhenti di ambang pintu dengan beberapa pemuda lain sembari berbincang, sepertinya topik yang sangat serius. Aku mencoba meneriakkan nama Taehyung, namun aku hanya mengeluarkan sebuah gumaman yang aneh.
Dan detik berikutnya, saat Taehyung berbalik dan pandangan kami bertemu. Aku terpaku ditempat, tidak jauh berbeda dengan Taehyung yang tampak sedikit terkejut dengan kedatanganku. Kedua pemuda lainnya berlalu tanpa bertanya, menyisahkan kami berdua yang masih dalam posisi sama.
Tak ada sedikit pun senyuman yang terukir di wajahnya, aku mulai menggigit bibir bawahku, "Aku perlu bicara denganmu!" Oh sial, aku seharusnya tidak perlu berteriak seperti tadi! Taehyung mungkin akan berfikir ulang berkencan dengan gadis aneh sepertiku.
Ia mulai melangkah menghampiriku dengan sedikit tersenyum, saat ia sampai dihadapanku Taehyung mengelus pipiku dengan lembut.
"Ini hari jadi perak, jangan membahas hal yang tidak perlu dibahas. Ku harap kau paham?" Ucapnya, kemudian menarikku ke dalam pelukan ringan dan aku membalasnya dengan erat.
"Aku kira kau marah padaku," gumamku
"Aku tidak bisa marah padamu."
"Tapi, soal kemarin itu..."
"Sst, jangan mengungkit hal itu. Dan maaf aku memalingkan wajah darimu pagi tadi, itu tidak sengaja." Ucapnya melepas pelukan kami, Taehyung kemudian menangkup kedua pipiku sebelum mengecup bibirku singkat.
"Aku harap kau tak marah?" bisiknya, aku hanya menggeleng dan mengulas senyum tipis. Satu tahun berlalu dan aku akan tetap merasa malu setiap Taehyung menciumku.
Lalu, Taehyung merangkul pundakku dan aku memeluk pinggangnya. Kami berjalan menuju rumahku dan sesekali membicarakan rencana liburan di masa yang akan datang nanti. Saat tiba, Kak Jimin belum ada di rumah dan aku mengajak Taehyung ke kamarku. Ini masih terlalu terang untuk dibilang sore.
Aku menyuruh Taehyung duduk di kursiku dan aku duduk di pangkuannya; "Aku punya sesuatu untukmu!" ucapku, aku membawa kejutan itu dari belakangnya sementara aku juga seolah membuatnya menjadi heboh.
Aku agak khawatir, ini bisa menjadi sesuatu yang payah. Hanya CD campuran yang kubuat untuknya,dan semua lagunya berhubungan dengan Serigala, hewan yang begitu Taehyung sukai. Well, beberapa mungkin tidak begitu terkenal dan beberapa agak aneh karena, aku mulai kehabisan lagu tentang serigala ketika membuatnya, jadi ku tambahkan After The Fox, soundtrack film koyol dan sinting yang selalu disetel Ayahku dulu.
Taehyung menciumku dengan lembut dan manis. Ia tersenyum setelahnya dan berkata; "Kau menggemaskan!"
"Tunggu disini!" lanjutnya, dia menarik sebuah buku dari tasnya. Aku mengambilnya, sebuah buku yang terbuat dari karton tebal, di jilid sederhana dan diikat dengan kertas tissue berwarna baby blue.
Taehyung membuat album foto yang berisi foto-foto yang ia ambil saat kami pertama kali jadian. Ada Museum tempat kami berteduh, kafe retro yang memiliki mainan lucu dan masih banyak lagi. Gambarnya benar-benar begitu luar biasa, profesional, hitam putih dan sangat berseni dengan sedikit tepian soft-focus menghiasi detailnya.
Saat kubuka halaman terakhir, Yaa ampun! Aku dengan rambut basah kuyup sedang tertawa begitu keras hingga kau hampir bisa mendengarku melalui foto itu.
"Seperti kumpulan foto dari sebuah film tentang segala hal yang kita lakukan," kataku "Menakjubkan."
"Hari itulah yang menakjubkan," ucap Taehyung, ia menyelipkan rambutku ke belakang telinga; "Aku hanya berusaha membawa pulang sebanyak mungkin yang kubisa."
Aku tersenyum; "Terima kasih." Ucapku, aku menatap mata coklat menawannya. "Aku berharap seandainya aku memiliki kenangan seperti ini dari setiap hari aku bersamamu."
"Atau kau akan lupa?" Taehyung menggodaku, ia menggerling jahil.
"Tidak akan!" Aku menegaskan, "Tapi, aku menyukai ini dan mencintaimu. Kau juga sangat baik, kau tahu?"
"Kau-- Well, kedengarannya murahan, tapi kau semacam menginspirasiku," kata Taehyung "Aku sungguh tidak tahu apa yang kulakukan sehingga aku bertemu denganmu. Apa kau fikir foto-foto ini tidak terlalu mengerikan?"
"Well, kau mungkin perlu memikirkan ulang foto cewek aneh yang sedang tertawa di halaman terakhir buku itu?"
"Kau cantik." katanya
Dan saat aku meletakkan kedua tanganku di wajahku karena, aku tahu itu salah atau tak benar, ia dengan lembut memindahkan tanganku dan menciumku singkat.
"Kau hal terindah dibuku itu," ucapnya.