Izumi adalah gadis jepang yang cantik dan lugu. Dia adalah orang yang lembut dan murah senyum. Selain itu, dia juga merupakan anak seorang direktur. Tentu saja, banyak laki-laki yang ingin menjadi pendamping Izumi.
Sekarang dia telah menginjak usia 22 tahun. Kedua orang tuanya menyuruh Izumi untuk segera mencari pendamping hidup. Namun, Izumi mengatakan, bahwa dia ingin fokus kuliah dulu. Kedua orang tua Izumi menyanggupinya, walau sebenarnya mereka ingin Izumi segera menikah.
Izumi ingin menikah dengan pria yang benar-benar dia cintai. Meski masih belum menemukan sosok pria yang tepat. Tapi Izumi yakin, suatu saat nanti, dia pasti bertemu seorang pria yang dia dambakan.
Keesokan harinya, Izumi berangkat kuliah. Tetapi, saat di jalan, tiba-tiba seorang laki-laki menghadang Izumi menggunakan motornya.
“Izumi, ayo berangkat bareng aku!" ajak Yujin.
Yujin adalah teman kuliah Izumi. Yujin juga merupakan salah satu dari banyak laki-laki yang menyukai Izumi.
“Maaf Yujin-kun, aku bisa jalan sendiri kok," ucap Izumi sembari berjalan meninggalkan Yujin.
Sebenarnya, Izumi tidak ingin menjadi gadis populer yang selalu dimanjakan. Dia hanya ingin menjalani hidup seperti gadis pada umumnya.
Setelah pulang dari kampus, Izumi melihat taman dengan air mancur berwarna-warni. Dia memutuskan untuk duduk dan melihat air mancur itu. Kemudian, terdengar suara orang sedang bernyanyi sambil bermain gitar.
Karena penasaran, Izumi pun menghampiri suara nyanyian itu. Terlihat seorang laki-laki sedang menyanyi sambil memainkan gitarnya. Izumi terpesona dengan laki-laki itu. Melodi yang dimainkan olehnya seperti sedang menari-nari di udara.
Izumi hendak menghampiri laki-laki itu, namun dia mengurungkan niatnya. Akhirnya Izumi hanya memandangi laki-laki itu sembari duduk di kursi taman. Kemudian, Izumi mengeluarkan ponselnya dan mengambil gambar laki-laki itu.
Keesokan harinya, Izumi berangkat ke kampus dengan senyum di wajahnya. Baru kali ini, Izumi merasa suka terhadap seseorang. Sepulang dari kampus, Izumi melihat laki-laki itu lagi. Dia menyanyi sambil bermain gitar di taman.
Sejak saat itu, setiap pulang dari kampus, Izumi selalu datang ke taman untuk melihat laki-laki itu. Kali ini, Izumi bertekad untuk mengutarakan perasaannya. Tapi saat hendak berdiri, Izumi merasa gugup dan akhirnya dia mengurungkan niatnya.
Laki-laki itu menyanyi terus menyanyi sambil memainkan gitarnya. Tak terasa malam pun tiba, Izumi ketiduran saat sedang melihat laki-laki itu. Setelah selesai bernyanyi, laki-laki itu melihat Izumi sedang tertidur di kursi. Kemudian laki-laki itu datang menghampiri Izumi
“Halo, rumahmu di mana?" tanya laki-laki itu.
“Oh... kau laki-laki yang kusukai bukan?" tanya Izumi yang masih tidur.
“Apa?" laki-laki itu kaget.
Izumi terbangun dari tidurnya dan terkejut saat melihat laki-laki yang dia sukai sekarang berada di depannya.
“Oh maaf kalau buat kamu bangun," ucap laki-laki itu.
“Eh... gak papa kok, aku malah mau ngucapin terima kasih ke kamu. Karena kamu udah bangunin aku," ujar Izumi.
“Oh ya, kenalin namaku Raito Adachi, bisa dipanggi Raito," Raito memperkenalkan dirinya seraya menjulurkan tangannya.
“Namaku Izumi Takahashi," Izumi menjabat tangan Raito.
“Baiklah Izumi, ayo aku antarkan kamu pulang," ujar Raito.
“Eh... aku gak mau ngerepotin kamu Raito-kun," Izumi menolak halus.
“Ini udah malam, bahaya kalau perempuan jalan sendiri," ucap Reito.
Izumi menyanggupi permintaan Reito, mereka berdua pulang bersama. Izumi sangat senang karena dia bisa berjalan dengan orang yang dia sukai. Sesampainya di rumah, Reito izin untuk pulang. Namun, Reito berbalik dan menemui Izumi lagi.
“Chotto matte, aku boleh minta nomor hp mu gak?" tanya Reito.
“Boleh kok," jawab Izumi.
Izumi menuliskan nomor teleponnya. Sejak saat itu, mereka berdua saling mengirim pesan. Terkadang, Reito dan Izumi juga melakukan panggilan video. Izumi merasa bahwa Reito adalah laki-laki yang dia cari selama ini.
Keesokan harinya Izumi terbangun dari tidurnya. Seperti biasa, dia semangat untuk pergi kuliah. Namun, ternyata hari ini adalah hari salju.
“Wah... salju," Izumi girang.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
“Sebentar," Izumi segera keluar dari kamar dan membuka pintu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Reito. Reito mengajak Izumi untuk bermain salju diluar. Izumi mengiyakannya, tetapi Izumi mengatakan bahwa dia harus berdandan dulu.
🌸1 Jam Kemudian🌸
Akhirnya, Izumi keluar dari rumahnya setelah 1 jam lamanya dia berdandan. Reito dan Izumi berjalan di bawah rintikan salju. Izumi tampak kedinginan karena lupa membawa syal. Reito melepas syalnya dan mengalungkannya kepada Izumi.
Mendadak pipi Izumi memerah. Tiba-tiba, sebuah bola salju mendarat di wajah Izumi.
“Hahaha, mendarat tepat," ucap Reito.
Ternyata, Reito yang telah melempar bola salju kepada Izumi.
“Reito-kun, rasakan ini," Izumi juga melempar bola salju.
Mereka berdua main lempar salju bersama. Setelah selesai bermain salju, Reito dan Izumi memutuskan untuk makan. Karena cuacanya lagi dingin, Reito dan Izumi memesan ramen. Ramen telah siap, Reito dan Izumi segera menyantapnya.
Setelah selesai makan, Reito pergi ke kamar mandi untuk mencuci tangan. Saat sedang mencuci tangan, Reito batuk dengan keras. Reito kaget saat melihat tangannya berlumuran darah.
“Kenapa tanganku berdarah?" tanya Reito kaget.
Setelah keluar dari kamar mandi, Reito mengajak Izumi untuk pulang. Wajah Reito tampak lesu. Karena kasihan, Izumi pun mengiyakannya. Reito mengantar Izumi pulang. Izumi penasaran, apa yang terjadi dengan Reito.
Reito segera pergi ke dokter untuk menanyakan apa yang terjadi padanya.
“Jadi apa keluhannya mas?" tanya dokter.
“Tadi saya batuk kemudian mengeluarkan darah dok," jelas Reito.
“Kalau begitu saya cek dulu ya," ujar dokter.
Setelah cukup lama melakukan tes. Akhirnya dokter keluar dari ruang tes.
“Anda mengidap penyakit radang paru-paru, dan mungkin hidup anda tidak akan lama lagi," ujar dokter.
Setelah mendengar pernyataan dokter, Reito benar-benar merasa terpukul.
“Gak mungkin, itu gak mungkin," ucap Reito seraya menangis.
Keesokan harinya, Izumi baru pulang dari kampus. Namun, hari ini dia tidak melihat Reito bermain gitar di taman. Izumi segera mengirim pesan kepada Reito, namun tidak ada balasan. Kemudian Izumi menelepon, tapi tidak ada jawaban. Izumi mondar-mandir karena khawatir.
“Izumi, kenapa kau mondar-mandir begitu?" tanya seseorang dari belakang.
Ternyata dia adalah Reito.
“Haissshhh... kau membuatku khawatir," ucap Izumi.
“Kenapa kau khawatir padaku?" tanya Reito.
“Ya... karena aku tidak ingin kehilangan orang sepertimu," jelas Izumi.
Mendadak, Reito teringat kembali perkataan dokter yang menjelaskan bahwa waktu hidup Reito tidak akan lama lagi. Reito tersenyum di depan Izumi, walau sebenarnya dia ingin menangis sejadi-jadinya .
Reito memberikan sesuatu kepada Izumi.
“Apa ini?" tanya Izumi.
“Itu hanya sebuah surat untukmu, jangan dibuka sekarang," ujar Reito.
“Lalu kapan aku bisa membukanya?" tanya Izumi lagi.
“Suatu saat nanti, kau pasti membuka surat ini," jawab Reito.
Izumi tidak mengerti tentang maksud dari perkataan Reito. Reito mengantar Izumi untuk pulang ke rumahnya. Saat hendak pulang, tiba-tiba bulir-bulir air mata keluar dari mata Reito.
“Reito, kenapa kau menangis?" tanya Izumi sambil memegang pipi Reito.
“Aku tidak apa-apa, aku harus pergi sekarang," ucap Reito kemudian berjalan pergi meninggalkan Izumi.
Keesokan paginya, Izumi pergi toko untuk membeli sarapan. Di jalan, dia bertemu dengan Reito.
“Reito," sapa Izumi.
“Izumi," Reito membalas sapaan Izumi.
Sesaat setelah menyapa, tiba-tiba Reito mematung. Kemudian, Reito memegang dadanya sambil mereintih kesakitan. Akhirnya, Reito tergeletak di tanah. Izumi segera berlari untuk menghampiri Reito.
Izumi membawa Reito ke rumah sakit. Sesampainya di sana, dokter segera menanangani Reito. Izumi melihat Reito dari pintu. Izumi sangat khawatir.
Saat sedang ditangani, Reito mengangkat satu tangannya. Kemudian tangan itu jatuh lagi ke bawah. Jantungnya berhenti berdetak.
“Pasien Reito Adachi telah meninggal dunia," ucap salah satu dokter.
Kemudian dokter dan para perawat keluar dari ruangan dan menemui Izumi.
“Maaf, Reito Adachi tidak bisa kami selamatkan.
“Gak mungkin. Dia adalah orang yang kuat, sangat tidak mungkin dia meninggal," ucap Izumi sambil menangis sejadi-jadinya.
“Maaf," dokter dan para perawat berjalan pergi meninggalkan Izumi.
Sepulang dari rumah sakit, Izumi masih terus menangis. Dia ingat kalau dia pernah diberi surat oleh Reito. Izumi membaca suratnya.
“Untuk Izumi, terima kasih karena telah menemaniku. Sebenarnya aku mengidap penyakit radang paru-paru, tapi aku tidak mengatakannya kepadamu. Aku benar-benar minta maaf ya," bunyi surat yang ditulis oleh Reito itu.
Air mata Izumi mulai berjatuhan di atas surat itu. Izumi tidak dapat membendung tangisnya. Izumi menangis sejadi-jadinya. Izumi merebahkan dirinya di kasur sambil memeluk surat yang ditulis oleh Reito.
Izumi terbangun dari tidurnya. Dia bingung, kenapa dia bisa duduk di kursi taman, yang merupakan tempat dia memandangi Reito yang sedang bermain gitar dulu. Tiba-tiba, seorang laki-laki yang tidak asing bagi Izumi duduk di sampignya. Dia mulai menyanyi dan memainkan gitarnya. Ya, dia adalah Reito.
Reito bermain gitar sambil menyanyi. Melodi yang dia mainkan oleh Reito sangat merdu.
“Reito," Izumi memanggil Reito.
Reito berhenti bermain gitar dan menatap wajah Izumi. Perlahan, tubuh Reito mulai menghilang.
“Reito-kun, jangan pergi," ucap Izumi sembari memeluk Reito dengan erat.
Reito membalas pelukan Izumi.
“Reito, aku menyukaimu," ucap Izumi sambil menangis.
Tubuh Reito telah menghilang sepenuhnya.
“REITO, AKU MENCINTAIMU," Izumi berteriak.
“Hah..." Izumi terbangun dari tidurnya.
Dia melihat sekeliling.
“Jadi itu semua hanya mimpi," kata Izumi.
Izumi memeluk surat yang ditulis oleh Reito lagi.
“Aku akan selalu mencintaimu, Reito-kun," ucap Izumi.
---Tamat---