Kenalkan, namaku Nathan. Usiaku sudah beranjak 28 tahun. Aku adalah seorang Dokter bedah di salah satu rumah sakit di Jakarta. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang sampai sekarang tidak bisa aku lupakan.
Apakah kalian ingin tahu bagaimana kisah cintaku ini yang sebenarnya?! Baiklah... Aku akan memulai kisah ini.
Saat itu, aku masih ingat sekali, senja hari di mana matahari akan bersembunyi dan di gantikan oleh bulan. Kala itu, aku bertemu dengannya. Seorang wanita yang sangat cantik.
Wanita itu memiliki perawakan yang langsing tapi tidak terlalu kurus. Kulit yang putih dan tinggi badan yang sedang. Sesuai dengan besar badannya.
Wanita itu mampu membuat aku tidak dapat mengalihkan pandanganku. Ku coba memberanikan diri untuk mendekatinya karena aku perhatikan sepertinya dia sedang merasa sedang kebingungan.
“Mba, ada yang bisa aku bantu?” tanyaku.
“Eh. Anda siapa, ya?” tanyanya.
“Oh.. Kenalkan, namaku Nathan. Kalau boleh tahu, nama mba ini siapa, ya?” tanyaku.
“Aku, Thalia.” sahutnya.
“Oh, mba Thalia. Mba, apa yang bisa saya bantu? Masalahnya dari tadi aku melihat mba seperti orang bingung.” ucapku.
“Eh... Iya. Aku memang sedang bingung. Aku ingin sekali merasakan yang namanya punya pacar.” jelasnya dengan tatapan kosong yang sontak membuatku terkejut.
“Ingin merasakan punya pacar?! Memangnya, wanita secantik mba ini belum punya pacar?” tanyaku bingung.
Dia pun menggelengkan kepala dan berkata, “Tidak. Aku tidak memiliki pacar. Semua lelaki yang aku kenal akan menjauh setelah mereka mengetahui penyakit yang sedang aku hidap.”
Betapa terkejutnya lagi aku. Mendengar ucapannya yang mengisyaratkan harapan yang terdalam.
“Maaf, mba. Memangnya sakit mba apa?” tanyaku.
“Tumor.” sahutnya singkat.
“Tumor?” ucapku terkejut.
Dia pun mengangguk lalu berkata, “Kata Dokter, peluang untuk aku sembuh hanya 40%. Aku tahu, keinginanku ini terdengar egois. Tapi sungguh aku ingin sekali merasakan dicintai seperti kebanyakan wanita seusiaku.”
Mendengar penjelasannya, aku pun terdiam sejenak dan kemudian memberanikan diri berkata, “Kalau begitu, mau tidak kamu menjadi pacarku?”
Dia pun langsung melihat ke arahku. Terpanc
ar dari wajahnya yang pucat namun masih terlihat cantik, bahwa dia sangatlah terkejut dengan pernyataanku ini.
Memang terdengar bodoh dan seperti tidak tulus. Tapi aku sendiri tidak tahu kenapa sampai segitunya aku bisa mengucapkan semua kalimat tersebut.
“Oh... Mba tidak usah menjawabnya sekarang kok.” ucapku.
Namun ucapanku itu langsung di balas olehnya. Dia berkata, “Iya. Aku mau.”
“Ha?” ucapku spontan.
“Kenapa mba langsung menjawab iya?! Apa mba tidak takut kalau aku akan mempermainkan mba?” tanyaku lagi.
Dia pun menggeleng dan berkata, “Tidak apa-apa. Aku pun mungkin akan menyakitimu, nanti.”
Betapa tercengangnya aku. Pasalnya, baru kali ini aku bertemu gadis seperti ini.
“Apa kamu yakin, mba?” tanyaku sekali lagi sekedar mencoba untuk memastikannya.
“Iya. Aku yakin.” sahutnya.
“Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang, mba jangan merasa sendirian dan sedih lagi, ya. Jika memang ada yang mba rasakan, ceritakan saja padaku.” ucapku.
“Iya. Terimakasih. Tapi kalau bisa, jangan panggil aku, mba ya.” pintanya.
“Oh. Baiklah, Thalia.” sahutku sambil tersenyum dan dia pun ikut tersenyum.
Begitulah cara kami menjadi pasangan kekasih. Terkesan terburu-buru, kan?!
Semenjak saat itu, aku dan dia pun menjalani hari layaknya seperti pasangan. Aku pun sudah mengenal keluarganya. Namun ada yang aku sembunyikan darinya. Dia tidak mengetahui kalau aku sebenarnya adalah seorang Dokter.
Entah apa sebabnya, hanya saja aku tidak ingin memberitahukan perihal profesiku ini padanya.
Dan suatu ketika, saat aku hendak menjemputnya, aku melihat ada mobil ambulance di depan rumahnya. Lalu aku pun segera turun dari mobil dan segera mencari tahu ada apa sebenarnya.
Saat aku tiba di depan pintu rumahnya, aku melihat seorang Thalia sedang tak sadarkan diri. Aku pun langsung spontan berlari ke arahnya.
“Thalia?!” ucapku
“Maaf, Anda siapa?” tanya salah satu petugas medis.
“Aku pacarnya sekaligus Dokter pribadinya, Nathan.” ucapku dan sontak membuat orang tua Thalia terkejut mendengar ucapanku.
“Nak Nathan?! Anda seorang Dokter?” tanya ayahnya Thalia.
“Iya, om. Aku seorang Dokter. Tapi maaf, Om. Nanti akan aku jelaskan. Sekarang biar aku urus Thalia dulu.” ucapku yang kemudian ikut masuk ke dalam mobil ambulans.
Ternyata Rumah Sakit yang di tuju adalah Rumah Sakit tempat aku bekerja. Sesampainya di sana, aku pun ikut turun dan selalu mendampingi Thalia.
“Anda?!” ucap Dokter tersebut saat melihatku yang mendampingi Thalia.
“Ya?!” sahutku sementara Thalia di masukkan ke dalam ruangan UGD.
“Ada hubungan apa pak Nathan dengan wanita tadi?” tanya Dokter tersebut.
“Aku pacarnya sekaligus Dokter yang diam-diam memantau penyakitnya.” ucapku.
“Oh... Pantas saja. Beberapa waktu belakangan ini, kondisi Thalia semakin membaik. Rupanya suasana hatinya sedang bahagia.” ucap Dokter tersebut.
“Terus pak Nathan, lalu kenapa sekarang Thalia jadi seperti ini?” lanjut Dokter tersebut.
“Aku sendiri kurang tahu. Tiba-tiba saja waktu aku datang ke rumahnya, keadaannya sudah seperti ini.” sahutku.
“Ya sudah, kalau begitu biar aku cek dulu ke dalam.” ucap Dokter tersebut dan aku pun mengangguk.
Saat aku sedang menunggu Thalia di luar, perasaanku kacau. Aku sangat takut sekali kehilangan sosok Thalia. Aku yang semula bertujuan hanya ingin menolongnya, tiba-tiba saja menjadi tersadar jika perasaanku selama ini nyata adanya dan aku benar-benar mencintainya.
Dalam kecemasan, aku berdoa agar aku di beri kesempatan untuk memberitahukan perasaanku ini pada Thalia.
Tak selang berapa lama, Dokter pun keluar.
“Bagaimana keadaan Thalia, Dok?” tanyaku.
“Kita harus segera menemukan donor sumsum tulang belakang yang cocok untuk Thalia.” jelas Dokter tersebut.
“Baiklah, Dok. Batas waktunya sampai kapan?” tanyaku tanpa basa basi lagi.
“Untuk sementara, mungkin Thalia dapat bertahan sampai 2 x 24 jam.” sahut Dokter tersebut.
“Baiklah. Aku akan bantu mencari donor yang cocok untuknya.” Ucapku yang kemudian langsung masuk ke dalam untuk melihat Thalia.
Saat di dalam, air mataku tiba-tiba saja menetes. Aku merasakan seperti aku benar-benar akan kehilangan sosok wanita yang ada di hadapanku itu.
“Thalia sayang. Maaf, aku telat menyadari perasaanku padamu. Aku berdoa, semoga aku masih di beri kesempatan untuk bisa mengakuinya padamu, amiiin.” ucapku sambil memegang erat tangannya.
Dan di saat yang bersamaan, orang tua Thalia datang. Lalu sesuai janjiku sebelumnya, aku pun menjelaskan semuanya. Aku pun memberitahukan pada mereka, jika Thalia dapat pulih dari penyakitnya, aku akan melamarnya.
Setelah aku sudah menjelaskan semuanya, aku pun meminta ijin pada orang tua Thalia untuk mencari donor yang cocok untuk Thalia. Karena Thalia ini adalah anak tunggal.
Menjelang batas hari terakhir, aku masih belum bisa juga menemukan pendonor yang cocok untuk Thalia. Hingga di saat-saat detik terakhir, ada sebuah kejadian yang bisa di bilang seperti mukjizat. Terdapat kabar bahwa telah di temukan donor yang cocok.
Tanpa pikir panjang, aku pun langsung menawarkan diri untuk melakukan operasi pada Thalia dan untungnya saat itu memang aku lha yang di jadwalkan untuk melakukan operasi.
Operasi pun berlangsung beberapa lama dan aku pun berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk Thalia.
Setelah berjuang di meja operasi, kini operasi pun dinyatakan berhasil dan aku pun dapat bernafas lega. Dalam hatiku berkata, “Terimakasih ya Allah. Kau telah memberikan kesempatan untukku bisa mengakui perasaanku ini pada wanita ini. Dan terimakasih juga untukmu, sayang. Karena kamu bisa bertahan sampai pada detik-detik terakhir.”
Keesokan harinya, Thalia pun tersadar dari tidur panjangnya. Aku yang berjaga saat itu pun akhirnya tersenyum bahagia.
“Sayang, kamu sudah sadar?! Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah ada yang sakit?” tanyaku khawatir dan dia pun menggeleng.
“Syukur alhamdulillah.” ucapku.
“Nathan, terimakasih.” ucapnya.
“Terimakasih untuk apa?” tanyaku.
“Terimakasih kau sudah ada di sampingku dari awal hingga akhir. Terimakasih juga karena sudah menyelamatkan aku.” ucapnya.
“Maksudnya menyelamatkan kamu apa, Thalia?” tanyaku.
“Nathan, aku tahu kalau kamu itu seorang dokter.” jelasnya.
“Kok kamu bisa tahu?” tanyaku bingung.
“Iya. Saat aku di kira pingsan waktu itu, sebenarnya masih ada sedikit kesadaran yang bisa aku rasakan. Sehingga aku bisa mendengar kamu bilang kalau kamu itu seorang Dokter. Walau agak sedikit samar sebelum akhirnya aku benar-benar pingsan.” Jelas Thalia
Aku yang mendengar penjelasan Thalia pun akhirnya berkata, “Maafkan aku karena sudah merahasiakannya dari kamu.”
“Tidak apa-apa.” ucap Thalia.
“Terimakasih.” Ucapku dan Thalia pun mengangguk sambil tersenyum.
“O ya, Thalia. Ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu.” ucapku.
“Hmm... Apa itu?” tanyanya.
“Thalia, mau kah kau menikah denganku?” tanyaku.
“Ha? Kamu tidak salah ucap, kan? Atau aku tidak salah dengar, kan?” tanyanya memastikan.
“Tidak, sayang. Aku tidak salah ucap dan kamu pun tidak salah dengar.” ucapku sambil memegang tangannya.
Dia pun terdiam sejenak hingga akhirnya dia pun mengangguk sambil tersenyum.
“Benarkah itu, sayang?” tanyaku.
“Iya.” sahutnya yang masih tersenyum cantik sekali.
Ya begitu lha kira-kira aku dan dia bersama. Kini dia sudah menjadi istriku dan kami sudah memiliki dua orang anak kembar yang lucu-lucu.