"Nek..." teriak ku dari kejauhan melihat nenek menyapu halaman.
Di pelosok desa yang jauh dari hiruk pikuk kota ini adalah tempat dimana aku di besarkan, dan saat ini aku mengambil libur akhir pekan untuk berkunjung ke rumah nenek.
sudah sekian lama aku tak berkunjung kesini,
itu semua karna aku memutuskan untuk mencari kerja di luar kota selepas aku lulus SMA.
ayah ibuku juga asli kampung sini dan hanya berjarak beberapa desa dari rumah nenek.
"nenek apa kabar nek ?" ucapku dengan nada haru sambil memeluk erat sosok perempuan renta yang dimakan usia.
nampak dari depan fondasi bangunan rumah yang tak lagi kokoh dengan atap dari anyaman daun kelapa yang hampir roboh,
warna cat nya telah pudar terdegradasi warna hijau dari lumut yang menjalar.
"kamu kapan dateng nya nduk ?"
"baru aja tadi pagi nek jam 5, ni aja putri belum sempet pulang kerumah."
"Ya udah istirahat dulu aja didalam, nanti biar bapak mu yang jemput kesini."
aku memasuki teras depan ruang tamu dengan meja dan kursi yang dipenuhi debu.
"kenapa jadi banyak debu gini sih nek, ini udah berapa hari gak dibersihin ?"
Tanyaku sembari menyentuh meja yang berdebu,
Nenek yang mengikuti ku dari belakang hanya tertunduk diam saja.
"kamu udah makan nduk ? maaf nenek belum sempat masak hari ini."
"gak papa kok Nek, kita pesen makan online aja." jawabku memaklumi karna usia nenek yang saat ini menginjak 72 tahun.
"Nenek pengen makan apa ?" tanyaku.
namun ada yang aneh dengan Nenek hari ini,
pribadi yang biasanya heboh dan crewet seketika menjadi dingin dan cenderung pendiam dengan raut muka datar tanpa ekspresi.
"nek !! nenek pengen makan apa ? nenek sakit ?"
tanyaku menatap nenek yang tertunduk dengan rambut panjang terurai menutupi sebagian wajah nya.
"Nenek tadi udah sarapan." jawab Nenek singkat dan berlalu begitu saja menuju kamar.
Aku pun berniat istirahat sejenak untuk tidur siang sebelum pulang ke rumah orang tua ku.
ku lihat sekeliling ruang tamu...
Nampak warna cat tembok yang menguning karna rembesan air hujan dari atap yang bocor.
banyak laba-laba yang bersarang di setiap sisi ruangan, rumah nenek lebih terlihat seperti wahana rumah hantu lengkap dengan cahaya remang yang bersumber dari bohlam lampu 15 watt warna kuning.
"Brraaakkkkk..."
Aku dikaget kan dengan bunyi barang yang terjatuh yang bersumber dari arah dapur.
tanpa berfikir yang aneh aneh aku langsung menuju ruang dapur yang berada di ruang tengah pojok kanan sebelum kamar mandi.
terlihat panci dari alumunium yang tergeletak jatuh diatas meja makan,
aku heran melihat tumpukan piring dan gelas kotor di atas wastafel.
Gak biasa nya Nenek jorok sampai berantakan seperti ini, aku menengok kamar mandi nya pun nampak genangan air di dalam bak yang terlihat telah bercampur dengan lumut.
"nduk !"
sapa nenek sambil menepuk pundak ku dari belakang yang sontak membuatku kaget.
"asgtafirulah ! nenek iihhh... ngagetin putri aja."
"kamu ngapain disini ?"
tanya nenek yang masih dengan wajah datar.
"ini kenapa rumah jadi seperti kapal perang gini sihh nek." tanyaku.
Lagi lagi nenek hanya terdiam dan masuk menuju kamar mandi.
aku duduk di meja makan dan masih terheran dengan sikap nenek yang seolah tidak senang dengan kedatanganku.
"Nek...buruan nek..."
teriak ku sambil mengetuk pintu kamar mandi karna tiba tiba kebelet mau pup.
beberapa menit aku mengetuk ngetuk pintu...
tidak ada jawaban dari nenek di dalam kamar mandi.
"Nek...!"
sapaku dari depan pintu yang mulai khawatir, karna waktu itu Nenek sempat terjatuh dari kamar mandi dan tak sadarkan diri.
tanpa berfikir panjang aku langsung mendobrak pintu karna tidak ada respon dari nenek.
mataku terbelalak melihat bahwa didalam kamar mandi tak ada siapa siapa.
padahal jelas jelas tadi aku melihat nenek masuk.
rasa takut yang dari tadi coba aku tahan pun tak terbendung lagi dan seketika membuat bulu kuduk ku bediiri.
Aku berlar menuju kamar nenek dalam keadaan kaki yang gemetaran, sesampai nya di depan pintu kamar, aku kembali di kagetkan melihat bahwa nenek tertidur pulas diatas kasur.
namun suara berisik yang timbul dari kepanikan ku membuat nenek terbangun.
"Nek ! bukan nya nenek tadi di kamar mandi."
tanyaku sambil mendekat ke arah nenek dan memeluk erat pinggang nya.
"Ada apa tho nduk kok lari lari ?"
"bukan nya nenek tadi di kamar mandi ?"
tanya ku lagi memastikan.
"nenek dari tadi di kamar." jawab nenek singkat dengan tatapan kosong ke arah depan.
"yang bener nek ? terus yang masuk kamar mandi tadi siapa ?"
tanyaku keheranan.
"udah... paling kamu kecapean, buruan istirahat."
aku pun tak menjawab dan segera rebahan di samping nenek yang masih terduduk diatas kasur.
ada benar nya juga yang dibilang nenek, mungkin aku kecapean.
ditengah tidur ku aku dibangunkan oleh lantunan tembang jawa yang di nyanyi kan oleh nenek di depan cermin sembari menyisir rambut nya yang panjang sepinggang dan penuh dengan uban.
Aku melihat nya dengan posisi ku yang masih terbaring diatas kasur.
nenek masih menembang kan lagu jawa dan sibuk menyisir rambut nya, entah kenapa tubuhku merinding ngerii mendengar lagu yang nenek nyanyi kan.
tiba tiba....
nenek menoleh ke arahku....
"AaaaaaaA......"
teriak ku sekencang kencang nya melihat wajah nenek yang pucat dan penuh dengan luka sayatan.
kemudian perempuan itu berdiri dan terlihat berjalan ke arahku, kaki terasa begitu berat untuk di gerak kan dan berniat lari, aku hanya bisa menutup wajahku dengan bantal sambil mendengar tembang yang terus saja di nyanyi kan.
ketika beberapa saat sunyi dan aku fikir sudah tak ada apa apa, aku beranikan diri membuang bantal yang menutupi mataku.
"waaaAaaaa...."
Perempuan yang menyerupai wajah nenek namun penuh luka sayatan itu tiba tiba berada di sampingku terbaring dalam posisi miring dengan mata yang menatap ku tajam.
ketika kurasakan ketakutan yang teramat sangat...
tiba tiba...
"jeDuerrr"
Aku terbangun dari tidur ku karna mendengar suara pintu yang di tutup dengan keras.
Aku lega melihat bahwa itu semua hanya mimpi.
dengan nafas yang masih terengah engah, aku mencari nenek yang ternyata sudah tidak ada di sampingku.
aku berjalan menuju pintu kamar yang tertutup,
kubuka pintu itu, aku terkejut melihat jam digital yang tergantung di ruang tengah menunjuk kan pukul 11.11 malam,
"gak mungkin aku tertidur selama itu."
gumamku dalam hati dengan keadaan yang masih setengah sadar karna baru saja bangun tidur.
Ku buka tirai berwarna gelap penutup jendela...
ternyata di luar masih berwarna abu ciri khas langit senja pada saat maghrib.
ketika aku hendak menuju pintu untuk ke teras depan,
terlihat dari luar pagar halaman perempuan dan lelaki paruh baya berusaha membuka pagar.
aku seperti tak asing dengan wajah wajah mereka yang terlihat samar karna langit yang meredup.
"putri !" teriak seorang lelaki dari luar pagar yang ternyata dari suaranya dia adalah ayahku.
"ayaahhhh !" sahutku sembari berlari kearah mereka dan memeluk nya erat.
"kamu ngapain disini ?" tanya mamahku.
"iya putri tadi mampir dulu ke rumah nenek."
kedua orang tua ku menatapku dengan raut muka sedih dan mata yang berbinar.
"maaf put mamah gak sempat ngabarin kamu kemarin, takut nya jadi ganggu perjalanan kamu pulang."
ucap mamah ku yang sontak membuatku heran.
"emang kenapa sih mah ?"
"Nenek udah meninggal dua hari yang lalu karna serangan jantung." kata papah ku.
"hahahahaha.... kalian udah gak jaman nya lagi lho main main prank, orang jelas jelas tadi putri liat nenek sehat sehat aja."
mamah ku terkejut mendengar apa yang baru saja aku katakan.
"Nenek udah meninggal put." ucap ibu ku kembali menegaskan sambil menunjuk kan lelayu yang masih ibu simpan di dalam tas nya.
Tubuh ku seketika terhuyung ke tanah terduduk lemas seakan tak percaya dengan apa yang baru saja aku alami.
"Nenek kena serangan jantung dua hari yang lalu pada pukul 11.11 malam."
kata ayahku menjelaskan.
"Kenapa putri gak dikabarin pah...mah."
ucapku ditengah isak tangis dan air mata yang mengucur deras tanpa henti.
"Maafin papah put, karna papah tahu saat itu Putri sedang dalam perjalanan pulang, papah takut entar Putri kenapa kenapa dijalan."
Kemudian mereka pun merangkul ku pulang meninggalkan rumah nenek beserta pengalaman mistis yang aku alami hari ini.