Hiruk pikuk kota ini masih sama. Mobil-mobil yang saling membunyikan klakson dan orang-orang yang seenaknya melalui jalan tanpa melihat lampu lalu lintas. Senja di langit kota terlihat indah namun sayangnya tak seorangpun memandangnya. Bahkan burung saja lebih mempedulikan makanan dibandingkan tempatnya mengepakkan sayap tersebut. Manusia berlalu lalang tanpa peduli satu sama lain, sibuk dengan ponsel mereka dan urusan masing-masing.
"Pe.. mi.. yii," seorang gadis bisu dengan seragam SMA dan hijabnya memasuki sebuah bis.
Dia mengambil tempat duduk yang dekat dengan jendela. Gadis itu adalah satu-satunya orang yang memandang langit senja dengan mata berbinar. Ia mengeluarkan ponsel dari tasnya lalu memotret langit. Senyumnya merekah begitu melihat hasilnya. Setelah itu ia kembali memperhatikan jalan.
Matanya lalu mengarah ke seorang paruh baya yang tengah berjualan asongan di pinggir jalan. Meski tubuhnya sudah renta, kakek tersebut masih terlihat bersemangat. Gadis itu kemudian memotret pemandangan ini tepat ketika bis tengah berhenti.
"Mau turun dimana dik?" Tanya kernet bis kepadanya.
Ia mengetik tujuannya di ponsel lalu memperlihatkannya kepada kernet tersebut.
"Oh ini, bentar lagi sampai ya, kamu jangan sampai ketiduran," ujar kernet tersebut kemudian pergi ke kursi lain.
15 menit kemudian, bis berhenti dan gadis itu turun. Hari sudah mulai gelap dan lagi-lagi ia harus melewati persimpangan tempat dimana sekelompok pengangguran tukang palak berkumpul. Begitu gadis ini terlihat dipandangan mata, mereka langsung menggodanya.
"Eh neng manda, sendirian lagi nih?" Racau laki-laki beraroma alkohol itu.
Amanda menutup hidungnya. Ia tak menjawab dan langsung meninggalkan mereka.
"U... Ustadzah muda jangan langsung pergi dong," cegat yang lain.
Manda tetap diam dan berusaha pergi.
"Aku mau dong diajarin ngaji sama ustadzah Manda," olok laki-laki yang tengah memegang botol alkohol.
"Pe.. mi.. yi, aya ahu uhang ( permisi saya mau pulang)," Amanda akhirnya berbicara.
"Apa ustadzah? Aku gak bisa dengar," olok laki-laki itu disambut tawaan yang lain. Mereka mulai mengelilingi amanda, mendesak jalannya.
"Main dulu yuk ustadzah. Tuhan gak bakal marah kan? Kan cuman sebentar," salah satu dari mereka memainkan kerudungnya.
"Kita mainnya di tempat gelap itu tuh, tuhanmu tidak bisa melihat dalam gelap kan?" Yang lainnya mulai lancang menyentuh bahunya.
Tiba-tiba saja, Buk! Salah satu dari mereka berlutut kesakitan. Nampaknya ia tak bisa bangun lagi.
"Berani-beraninya kalian melecehkan dia yang berhijab! Sakit jiwa kalian?" Seorang wanita dengan aksen Batak ternyata menendang kaki orang tadi.
"Sudah tertutup seperti ini, masih kalian mau jadikan mangsa. Pergi sana! Gue punya alamat keluarga kalian. Pergi kalau tidak mau kena masalah!" Usir wanita itu kesal.
Tanpa perlawanan, para pengangguran itu pergi tanpa meminta maaf pada Amanda. Wanita tadi menghampiri Amanda dan memeriksa apakah ada yang luka.
"Manda tidak apa-apa?" Tanya wanita itu khawatir.
"A pa pa kha mayiya," jawab Manda dengan senyum.
"Yaudah, pulang bareng Maria ya? Lain kali jangan sendirian lagi," ajak Maria ramah.
***
Makan malam tersedia diruang makan tanpa meja tersebut. Ibu kost memang ingin membiasakan mereka untuk makan lesehan. Katanya agar mereka lebih akrab dan akur. Penghuni kost berterimakasih pada Bu Nyimas yang menyediakan makan malam untuk mereka. Di pertengahan makan malam tersebut, Maria mulai bercerita.
"Bang Jon, tau ga? Tadi Manda diganggu orang-orang di persimpangan. Hampir aja diapa-apain. Untung Maria datang tepat waktu," tutur Maria sambil mengunyah.
"Kha mayiya, Kaho maghan ha bo..eh sa.. il om ong," tegur Manda dengan bahasa isyarat.
"Maria kesal sekali, Man,"
"Bener Manda? Kamu digangguin?" Tanya bang Jon ikut emosi.
Manda mengangguk.
"Heran sekali Maria, padahal Manda udah segini tertutupnya, masih saja dapat perlakuan seperti itu," omel Maria dengan logat bataknya.
"Ah, kalau soal nafsu mah, mau dia pake kain kafan pun juga diembat Mar," celetuk Adi.
Semua hampir tersedak mendengar celetukan asal dari Adi. Tapi, mereka merasa hal tersebut memang tidak ada salahnya. Akhir-akhir ini banyak pencurian kain kafan wanita.
"Bwang hon Humana ari key jaan ha ( bang jon gimana tadi kerjaannya?)" Manda mengganti topik.
"Ah ribet Man, tadi bos gue ngumumin tentang donasi untuk Palestina. Otomatis pembahasannya ke arah Israel, karena itu permasalahannya. Kalian tau abis itu mereka melotot kemana?" Jon menelan makanannya perlahan, seolah sakit sekali tenggorokannya.
"Gue emang Yahudi, minoritas disini. Tapi gue bukan zionis. Buktinya gue sayang sama Manda yang gue anggap adik sendiri," usai berkata seperti itu, Jon mempercepat makannya karena kesal. Manda menepuk-nepuk bahunya untuk menghibur Jon.
"Sama bang, Maria ngerasain apa yang bang Jon bilang. Karena Maria mirip papa yang asal Jepang, Maria kena diskriminasi dari bos Maria dan teman-teman, entah gajinya dikurangin atau Maria tidak dapat makan siang, kata mereka Maria lebih baik pulang ke negeri Maria," oceh Maria lemas.
"Padahal kakek buyut Maria bahkan gak tau Indonesia. Kakek cuman rakyat miskin di Jepang. Setiap hari memungut makanan sisa dari restoran. Mana tau kalau asupan yang ia ambil dari sampah itu hasil paksaan dari rakyat Indonesia, kita cuman terima bekas piring mereka," keluh Maria. Ia meletakkan piringnya dan mulai menyantap kolak yang ia beli.
Adi yang dari tadi hanya mendengarkan beranjak ke dapur lalu mengambil 4 jus mangga dari kulkas, kemudian menyajikannya kepada masing-masing orang. Ia menepuk bahu bang Jon dan mengelus punggung Maria, lalu menyuruh mereka meminum jus tersebut agar kekesalan dihati dan pikiran mereka mereda. Di kosan tersebut, Adi adalah orang paling cuek namun paling dewasa dan perhatian diantara mereka. Dengan hanya melakukan hal tadi, Adi bisa menenangkan teman-temannya.
“Sekarang giliran gue cerita,” Adi menyeruput jusnya terlebih dahulu. Manda dan yang lainnya menyiapkan telinga mereka untuk mendengar cerita dari seorang Adi.
“Setiap hari setelah pulang dari kantor, gue bantu-bantu panti asuhan. Mayoritas anak-anaknya beragama Islam, tapi ada juga beberapa anak yang memilih untuk beragama selain Islam. Uniknya, panti asuhan ini juga menampung anak-anak yang berasal dari Jepang, US, Timur Tengah bahkan ada beberapa anak dari Palestina yang ternyata berhasil mereka sahkan hak asuhnya di Indonesia,”
“Saat anak-anak dan para pengasuh beribadah, gue satu-satunya orang yang cuman diem dan memperhatikan mereka. Setelah masing-masing anak selesai beribadah sesuai agama, mereka ngajak gue ke tempat ibadah mereka sampai berebutan. Gue ga bisa nolak. Dan begitu gue masuk ke tempat ibadah masing-masing ternyata sejuk banget tempat ibadah mereka. Setelah gue keluar dari sana, salah satu pengasuh panti nyamperin dan minta maaf atas kelakuan anak-anak karena khawatir gue gak nyaman,” Adi menghentikan ceritanya lalu menghela nafas.
“Tapi setelah itu pengasuh bilang gue gak perlu datang untuk bantu-bantu lagi,”
“Kenapa itu bang?” tanya Maria sambil membantu Manda yang mulai membereskan ruang makan.
“Katanya takut anak-anak ikut-ikutan gue yang gak punya agama ini. Padahal, jelas-jelas gue kesana bukan untuk cuci pikiran anak-anak biar mereka lepas dari agama,” jawab Adi santai, namun mereka tahu ia sedang berusaha menahan rasa kecewa.
“Kenapa orang gampang banget mendiskriminasi orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Padahal, manusia terlahir dengan banyak perbedaan dan banyak pemikiran. Bahkan mereka yang lahir dari satu rahim pun, belum tentu akan memiliki pandangan yang sama, apa sulitnya menerima dan menghargai perbedaan yang ada?” gerutu Adi.
Manda memandang Adi lalu menuliskan sesuatu di bukunya. Usai menulis, Manda menyerahkan buku tersebut kepada Adi.
“Sabar ya bang Adi, Manda tahu apa yang abang rasain sekarang. Mereka yang lebih suka menilai daripada mencari tahu lebih dalam. Tapi, abang punya kita disini yang tidak memaksakan harus memiliki satu jalan yang sama. Mungkin, pengasuh panti asuhan itu adalah 1 dari sekian banyak orang yang tidak bisa memandang indahnya menghargai satu sama lain. Kita cuman perlu tunjukkan ke mereka bahwa berbeda bukan berarti buruk,” katanya dalam buku tersebut.
Adi tersenyum ke arah Manda dan yang lainnya. “Padahal langit tempat kita bernaung sama ya Man? Tapi orang-orang seakan menciptakan langit mereka sendiri untuk mencurahkan pendapat mereka. Langitnya hanya satu tapi mereka membuatnya seperti terlihat beribu-ribu. Berbeda dan tak mungkin bersatu,”
Manda hanya diam sambil tersenyum yang mengisyaratkan bahwa ia setuju dengan ucapan Bang Adi.
“Iya bang, beribu-beribu sampai berjuta-juta,” celetuk Maria yang ternyata masih kesal. Sontak semuanya tertawa mendengar itu.
Setelah selesai membereskan ruang makan, mereka kembali ke kamar masing-masing sambil mengucapkan selamat tidur. Ternyata, memang bukan perbedaan saja yang menjadi penyebab manusia saling menjatuhkan. Tapi, ego mereka yang menginginkan dan memaksa pemikiran manusia lain agar sama dengan pemikiran yang ia miliki. Seperti langit yang sebenarnya hanya satu namun mereka membuatnya terlihat seperti beribu.