Memperhatikan ponsel. Sudah seperti memperhatikan diri sendiri, sering sekali hari ini orang-orang terlalu sibuk dengan ponselnya. Saking sibuknya, ada yang lupa kalau di depannya ada sebuah kendaraan yang sedang berjalan kencang ke arahnya. Terlalu dan selalu ada alasan untuk fokus, bahkan tenggelam bersama dunia ponsel yang penuh tipu-tipu.
Mulai dari orang tua yang juga kecanduan ponsel, bentar-bentar pegang ponsel. Padahal hanya mau lihat postingan akun tertentu. Jangan tanya juga anak-anaknya, tidak bisa bila tidak ada ponsel, apalagi ponsel tanpa jaringan internet. Yah udah ditebak ngapain aja kalau udah pegang ponsel. Main game dari baterai 5% sampai 5% lagi. Nongkrongin Instagram sampai berjam-jam, kenapa engga baca buku fisik aja lebih sehat dan aman dari radiasi.
Seorang gadis bernama Nera terlalu sering main ponsel, terlebih ketika dirinya dinyatakan positif covid 19. Tak henti-hentinya ke instagram, yotube, instagram, youtube lagi. Tidak terasa terus-terusan sampai larut seharian.
“Ner kok kamu bikin status kayak gitu?” Tanya Aren temannya melalui chat. “Emang status aku yang mana? Banyak kan status aku!” Balas Nera. “Ini lho yang, ‘huft… Covid covid covid terus yang digoreng media, lowongan kerja mah kosong! Negara ompong! Terlalu banyak omong!” “Oh itu ren, engga apa-apa lah, biar aja, daripada enggak dibikin status jadi gondok akunya. Biar lega lho ren.” Jelas Nera kepada Aren. “Kamu engga baca-baca buku gitu selama masa isolasi mandiri?” Tanya Aren. “Yah elah Ren baca buku! Dikata mau ulangan apa ya! Mending bikin status banyak-banyak! Haha lebih seru begitu, buat apa baca buku!” Balas Nera dengan begitu menohok dan asal jawab. “Oh ya udah, get well soon ya. Aku cuman bantu ngingetin aja, kan kita sudah di penghujung kelas 3 SMA. Aku si saranin aja jangan terlalu tenggelam dalam hal-hal yang unfaedah, sayang-sayang umur engga bisa kembali.” Jelas Aren. “Oh ya! Makasih banyak ya kata-kata motivasinya Ren.” Balas Nera dengan mimik kesal ia berujar, “enggak usah terlalu ikut campur ke dalam kehidupan gue deh.” Lirihnya. “Orang lagi asik bikin status biar menghibur orang, ha ha ha.” “Bikin status apa lagi ya, mumpung Bapak Emak lagi enggak di rumah.”
“Udah mandi, makan, dandan, minum vitamin, di rumah sendiri, ada ga yang mau nemenin gue, hihi.” Tulisnya di ig story. Teman sekelasnya membaca, “Ner lagi kenapa lu? Mendinding ratapkan hari yang elu alami? Emang lupa ngaca ya? Haha.” Tanya Reca dari instagram. “Iya! Emang kenapa Rec! Gue kan cewe, jadi wajar dong kayak gini!” Ketus Nera. “Yeeeh… Malah nyolot! Gue juga cewe tapi enggak norak gitu kayak elu, malu aja sama usia yang udah mulai kering, tapi masih aja bertingkah macam ABG! Get well son ya!” Balas Reca. Nera hanya membaca balasan ig dari temannya dan tidak membalas. Ia berpikir sejenak, “mengapa Aren, Reca pada enggak suka ya dengan tingkah laku gue?” Herannya.
Lalu Nera beranjak dari duduknya menuju kaca dekat lemarinya, kemudian ia berkaca sejenak, memperhatikan tubuhnya, muka, kepala, bahu. “Benar Aren dan Reca, gue sudah tak pantas mendinding ratapi semua yang gue rasa, sangat memalukan bila banyak orang yang tahu kegiatan pribadi gue!” Kesadaran baru menghampiri Nera.
“Aduh, mana banyak banget lagi status yang udah gue bikin, memalukan, memalukan, memang seharusnya tidak seperti itu!” Keluh Nera.
Tetiba dia membuka instagramnya lagi, ada sebuah postingan di ig yang bertuliskan, “Jangan jadikan medsosmu sebagai ratapan pribadimu, hanya do’alah sebaik-baik ratapan yang langsung sampai ke pencipta yang memiliki segalanya, bukan malah ke manusia yang tak berdaya.”
Sejak saat itu Nera tidak lagi meratapi hari-harinya melalui medsos. Hanya dengan berdo’a kepada pencipta hati akan menjadi tenang dan lapang, Sekarang itu yang diyakini Nera.
Cerpen Karangan: Halub Halub dari Cileungsi, tinggal di Masjid Darurrozaq sebagai pembantu masjid. “Pencipta Terima kasih atas segalanya” “Tangsel-Pamulang, terima kasih sudah bersama hingga lulus SD.” Blog: huzuryakindir.blogspot.com