“Sekian materi pada hari ini. Kita lanjut pada pertemuan selanjutnya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Jelas dosenku, menutup perkuliahan hari ini. “Terima kasih, pak. Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.” Balas kami bersamaan.
Begitulah, rutinitasku semenjak pandemi datang. Pendidikan semua virtual. Sejujurnya aku nyaman dengan kegiatan online seperti ini Banyak perubahan yang aku rasakan semenjak kuliah online dan melakukan banyak hiburan lainnya, seperti scroll sosial media tiap hari, nonton drama korea, nonton anime, mencari kegiatan lain di luar rumah agar tidak terlalu berdiam diri di rumah saja. Semua itu untuk membuatku nyaman. Menghindari omongan orang mengenai diriku.
Ketika aku sedang asik sendiri di dalam kamar, tiba-tiba Mama memanggilku. “Sheila, tolong belikan pecel lele yang di depan masjid. Mama lagi males masak. Beli 2 porsi. Sekalian untuk makan kamu juga.” Pinta Mama kepadaku. “Oalah, kirain ada apa Ma. Oke.” Jawabku kepada Mama. Setelah itu, aku langsung bersiap-siap mengganti pakaianku untuk keluar rumah, terkadang aku malas menggunakan masker apabila jaraknya dekat. Lagipula, jarak dari rumah ke masjid tidak begitu jauh, jadi kuputuskan untuk tidak menggunakan masker.
Sejujurnya aku paling malas untuk ke luar rumah. Banyak hal yang terkadang membuat aku overthinking terutama mengenai hal-hal yang menyangkut kata “perempuan”. Setiap aku menyusuri jalan apalagi bila melewati segerombolan laki-laki seusiaku, pasti mereka selalu mencemoohku dengan ucapan seperti, “woahh.. badak baru keluar woe! Hahahaha…” atau apabila bertemu perempuan lain yang tidak aku kenal, pasti mereka berbisik-bisik dan terdengar seperti “Ih, dia jerawatan banget ya. Pasti gak pernah dirawat tuh wajahnya.” Dan sebagainya. bodyshaming. Ya, kata tersebutlah yang menggambarkan itu semua. Menggambarkan perilaku yang membuat psikologi seseorang terganggu dengan hanya mengucapkan satu kalimat ataupun pandangan tidak mengenakkan.
Setelah membeli pecel lele titipan Mama. Aku segera pulang secepat yang kubisa. Aku sudah membiasakan diri untuk tidak menanggapi omongan orang lain ataupun pandangan orang lain terhadapku. Aku benar-benar tidak peduli. Namun, banyak hal yang aku rasakan. lelah. Ingin berteriak. Tapi? Semua beban itu hanya bisa aku pendam sendiri. Begitulah bila tinggal di Ibu kota Jakarta. Semua orang yang selalu update hal-hal yang sedang hits atau trend masa kini. Standar kecantikan dimana-mana, beauty privilege dimana hanya perempuan yang dianggap cantiklah yang bisa hidup dengan nyaman, dimana mereka mudah mendapat pekerjaan dengan wajahnya, banyak orang yang menyukainya, dan sebagainya. Sedangkan aku perempuan yang bertubuh gendut, jerawatan, tidak mengenai fashion kekinian sama sekali. Ah, sudahlah. Aku mulai overthinking. Begitulah perempuan. Selalu jadi objek menyenangkan banyak orang.
Sesampai di rumah. Aku berikan titipan Mama. Kemudian, aku langsung kembali ke kamarku. Tempat paling nyaman dalam hidupku. Perlahan-lahan aku lelah dengan semua standar kecantikan. Hingga aku coba pelan-pelan selama pandemi ini merubah diriku. Aku jadi rajin olahraga, merubah pola makanku menjadi pola makan yang sehat, menonton beauty vlogger mengenal per-skincare an.
Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan terlewati. Banyak perubahan pada diriku. Aku merasa lebih ringan. Wajahku sudah membaik. Dan yang paling aku tidak sangka adalah perubahan diriku yang entah ini sudah memenuhi standar kecantikan atau tidak. Namun, aku sudah tidak pernah mendengar cemoohan orang lain kepadaku.
Perlahan-lahan aku mengubah diriku. Belajar fashion. Belajar make up. Semuanya kupelajari untuk mengisi kegiatan lain selain kuliah online. Aku pelan-pelan membuka instagramku yang sudah lama tidak kubuka selama aku memperbarui diriku. Aku coba meng-upload wajahku yang sudah kuhiasi make up. Tidak lupa dihiasi dengan outfit yang keren. Satu, dua foto yang kuupload ke instagram. Seketika aku tutup handphoneku. Aku tidak ingin melihat komentar dan respon teman-temanku di instagram. Aku masih terlalu takut. Padahal, seharusnya tidak harus takut. Aku sudah jadi orang yang baru. Beratku juga sudah turun dari 60 kg menjadi 50 kg. Semua itu butuh perjuangan. Butuh uang untuk mengubahnya. Untuk uang sendiri pun, aku mengumpulkannya dari pekerjaan paruh waktuku yaitu mengajar privat matematika. Alhamdulillah, ada pemasukan. Apabila tidak, mungkin semua ini tidak berhasil.
Aku benar-benar merasa terlahir kembali. Benar-benar merasakan hal-hal baik dalam diriku. Apabila teman Mama datang ke rumah. Mereka terkejut melihat perubahanku. Mereka mengatakan bahwa “Wah, ini beneran Sheila? Cantik sekali ya sekarang.”, “Wah, kamu kurusan ya sekarang. Cantik deh.” atau “Mau jadi menantu tante?” sampai ada yang mengatakan hal itu. Aku saja tidak pernah menyangka akan merasakan semua itu. Tetapi, entah kenapa aku jadi tidak cepat puas dengan apa yang sudah aku dapatkan. Aku menjadi lebih perfeksionis. Aku jadi lebih intens melihat diriku. Tumbuh jerawat satu saja aku panik setengah mati. Langsung searching cara menghilangkan jerawat dengan cepat tanpa menimbulkan bekasnya. Panik. Panik hanya karena ada omongan orang yang mengatakan, “Kok bekas jerawat kamu item gitu sih, Sheil?” atau “Kok jerawatan?” dan sebagainya. Hal-hal yang sebetulnya sepele. Namun, bagiku itu hal yang menyebalkan. Sangat menyebalkan.
Tring.. tring.. tring.. bunyi notifikasi handphoneku. banyak like dan komentar pada postinganku. Kebanyakan memberikan komentar, “MasyaAllah, cantik banget Sheila.”, “Gak nyangka ini kamu, cantik banget Sheil. Kukira model Shopee.” Atau ada juga yang bertanya “Kamu diet? Hahahah..” atau “kok bisa?” yang terkadang ada terdengar seperti sebuah ketidaksukaan mereka terhadap perubahanku. Entahlah. Semuanya membuatku tetap merasa kurang. Semua yang telah aku lakukan terasa harus mengikuti semua standar kecantikan yang telah dibuat oleh masyarakat. Begitulah, perempuan memang selalu menjadi objek paling menyenangkan, kan?
Apalagi bila dikaitkan dengan pendidikan. Perempuan pernah dianggap tidak perlu meraih pendidikan tinggi-tinggi, katanya nanti ujungnya juga ke dapur. Atau perkataan bahwa “jangan pinter-pinter jadi perempuan. Nanti susah dapat jodoh.” Semua stigma masyarakat yang mendominasi pikiranku lah yang membuat aku belajar memahami bagaimana menanggapi semua itu. Dari mulai perubahanku. Mulai memperbaiki pola pikirku. Mulai open minded lebih membuka pikiranku bahwa aku berubah bukan ingin mengikuti semua standar yang diberikan oleh masyarakat. Tetapi, aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin hidup lebih sehat, lebih teratur dan tidak ingin mendengarkan hal-hal sepele lainnya mengenai diriku.
Aku yang masih selalu ambisius mengenai nilaiku. Pendidikanku yang tetap aku jadikan hal nomor satu. Rasanya aku ingin mematahkan semua stigma tersebut. Kalau perempuan boleh sukses. Perempuan boleh meraih apa yang dia inginkan. Perempuan bebas. Perempuan boleh jadi terdepan. Perempuan boleh meraih pendidikan tinggi-tinggi. Semua itu menghiasi pikiranku sekarang.
Sheila yang sekarang sudah berubah. Sheila sekarang lebih kuat dari sebelumnya. Semuanya dimulai dan diakhiri dengan perjuangan, asam, manis, pahit. Semua kurasakan. Melewati semua stigma masyarakat. Aku bisa sukses. Sukses dengan caraku.
“Sheila Salsabila Putri, coba jelaskan materi yang telah bapak sampaikan.” Ucap dosenku menyadarkanku bahwa aku melamun. Aku terkejut. Ternyata aku hanya berkhayal. “Ah.. Eh.. Baik, pak. Saya Sheila Salsabila Putri akan menjelaskan mengenai materi hari ini…” jelasku panjang lebar. Untung saja aku sudah mempelajari materi ini sebelumnya. Jadi ketika kelas zoom tadi aku tidak begitu terlihat bingung sekali. Haduh.. karena gak fokus tadi tuh, membuat aku jadi dipanggil dosenku. Benar-benar memalukan.
“Sheila.. Sheila…” panggil Mamaku dari luar kamar. Aku segera menghampiri Mamaku. “Iya, Ma?” kataku di depan Mamaku. “Tolong jaga adikmu di rumah, ya. Mama dan Papa mau ada acara di Bogor. Jadi adik kamu ditinggal saja. Masih pandemi gini soalnya. Mending dia di rumah. Jangan berantem ya. Jangan lupa, makanan udah Mama masakin, kalian tinggal makan aja. Oke. Mama sama Papa pergi dulu. Assalamualaikum.” Jelas Mamaku yang diiringi anggukan kepalaku. Tak lupa aku mencium tangan Mamaku dan berkata, “Hati-hati, ya Ma, Pa. Kalau sudah sampai. Kabarin, Sheila. Oke.” “Oke, Sheila.”
Mobil yang dinaiki kedua orangtuaku sudah melaju dengan cepat. Adikku yang masih tertidur adalah kesempatanku merapihkan rumahku yang berantakan karena ulah adikku yang masih berusia 3 tahun. Begitulah bila memiliki adik kecil. Ada senangnya. Ada repotnya.
Setelah semuanya kurapihkan. Adikku terbangun. Aku masih menunggu adikku sepenuhnya sadar dari bangunnya agar ia bisa langsung dimandikan, kemudian makan. Semuanya selesai. Adikku juga tidak rewel. Kami bermain bersama. Menikmati kebagiaan singkat. Tertawa bersama dengan hal-hal kecil. Senang rasanya melihat anak kecil tertawa. Enak ya, jadi anak kecil. Mereka hidup tanpa adanya beban dalam hidupnya. Bisa tertawa lepas dengan nyaman. Tanpa paham bahwa hidup di dunia ini benar-benar tidak semenyenangkan kelihatannya. Menakutkan. Tapi harus dilalui dengan lapang dada. Aku yang baru masuk fase pendewasaan. Usiaku yang genap 20 tahun. Merasa bahwa hidup ini bisa terlihat menyenangkan apabila rasa cinta kita kepada diri sendiri besar. Self love itu penting. Diri sendiri adalah teman terbaik dalam hidupmu. Dia yang menjadi penyelamat pertama dirimu ketika kamu berada di titik terendah.
Benar kata salah satu influencer favoritku yang mengatakan bahwa, “Cintai diri kamu dulu. Baru orang lain.”, “Kamu gak akan paham artinya bahagia apabila kamu gak bisa mencintai diri kamu. Karena kebahagiaan itu sumbernya bukan dari orang lain saja. Sumber utama ya diri kamu. Gimana kamu memperlakukan diri kamu sebaik mungkin. Setelah kamu paham akan diri kamu. Kamu udah cintai diri kamu. Kamu akan benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dimana kebahagiaan kamu ya tidak tergantung orang lain.” semua perkataan itu menjadi motivasi dalam hidupku. Stigma masyarakat mengenai pendidikan, perempuan semuanya seketika hilang. Membuatku perlahan belajar percaya diri. Terima kasih diriku. Terima kasih kamu sudah kuat sampai di sini. Dan untuk semua perempuan di luar sana, kamu kuat lebih dari apa yang kamu kira.
Cerpen Karangan: Zarwanda Adani Viandri Saya merupakan Mahasiswa Universitas Negeri Padang, prodi Sastra Indonesia, semester 4.