Jam istirahat sudah dimulai sejak lima menit yang lalu.
“Bima,” panggil Raya dari sudut kelas. Rupanya ia masih duduk di tempat semula. “Apa, cantik?” Bima menyahut, centil menggoda Raya. Sayangnya itu nggak mempan, karena Raya sama saja dinginnya dengan Kutub Utara. Butuh pengorbanan ekstra supaya perempuan itu bisa meleleh pada siapa pun. Justru yang didapatkan Bima hanyalah tatapan sinis dari Raya. Lantas gadis itu membalas, “Najis.” Bima terkekeh, akhirnya tiba di hadapannya.
“Tapi Raya kan emang cantik. Mirip calon menantunya Mama,” cerocos lelaki itu, semakin menjadi-jadi. “Lo tuh bener-bener ya. Padahal gue udah nolak lo berkali-kali, jadi bisa gak sih lo stop ngejar gue lagi? Lo jangan bikin gue capek, Bim. Yang ada gue malah makin benci sama lo.” Raya ketus. “Iya deh iya, Ray. Terus lo manggil gue buat apa dong?” tanya Bima. “Nih,” Raya menyodorkan selembar uang berwarna ungu. “Beliin bakpau isi cokelat dua biji.” “Gitu doang? Yaelah, beli sendiri kan bisa. Gue bukan babu,” cibir Bima. “Jadi lo gak mau gue luluh?” Raya menatap Bima. Yang ditatap malah diam. “Gue beliin bakpau dua, satu buat gue dan satu lagi buat lo. Mumpung gue lagi sabar banget nih sama lo.”
“Kalo lo udah nyerah yaudah, gue beli sendiri aja. Keburu habis nih bakpaunya.” Raya hendak berdiri, namun Bima buru-buru mencegahnya. “Iya, iya deh. Bakpau cokelat kan?” Bima merebut uang itu dari Raya, memastikan. Raya mengangguk. Kemudian dengan secepat kilat, Bima lari-larian ke arah kantin sambil berteriak tidak tahu malu, “Makasih, Ray! I love you banget deh!”
Sementara di belakang, Raya hanya bisa melihat kelakuan cowok itu sambil geleng-geleng kepala. “Idih, dia kira gampang kali bikin gue luluh?” cibir Raya. Namun selanjutnya gadis itu tersenyum, “Ya udah deh, semangat berjuang ya, Bim.”
Cerpen Karangan: Zahra Kirana Blog / Facebook: Zahra Wirawan