Menjadi siswi terpopuler di sekolah adalah impian wajar setiap gadis, siapa sih yang nggak mau jadi artis di hati setiap penghuni sekolah? Tentunya, popular dalam hal positif ya seperti siswi tercantik di sekolah. Ya.. itulah cita-citaku, untuk meraih cita-citaku aku rela merogoh saku lebih dalam untuk perawatan wajah setiap minggu, selalu membeli majalah supaya tidak ketinggalan model pakaian dan tidak hanya itu aku juga mengikuti ekskul koreografi supaya makin lengkap deh kategori cewek cantik nan modis yang nempel di diriku.
“Met pagi Amira cantikku” ucap Brian di suatu pagi. Brian adalah cowokku, si ganteng yang tajir melintir. Coba banyangin, setiap hari dia berangkat ke sekolah mengendarai sepeda motor mewah seharga 1 unit mobil CR-V dan barang-barang yang digunakan Brian itu selalu barang branded. Jadi, wajarlah kalau aku jatuh kepelukannya. “Pagi Sayang, kamu udah lamaan nyampenya?” tanyaku “Enggak kok barusan aja aku nyampenya. Tadi kulihat kamu lagi sendirian di koridor, jadi ya aku samperin. Oh iya, kamu kok datang pagi banget apa dapat giliran piket?” Tanya Brian “Iya nih yang, tuh lihat tanganku sampai kotor begini gara-gara nyapu kelas” ucapku sambil menyodorkan kedua tanganku pada Brian. “Gak apa kok yang, kan bisa dicuci nanti. Oh iya, nyapunya udah selesai belum?” Tanya Brian “Udahan kok” jawabku “Kita duduk di sana yuk” ajak Brian
Seperti pagi-pagi sebelumnya, Brian selalu mengajakku mojok dulu sebelum masuk kelas. Ya .. harap maklum sih kami kan beda kelas. Di saat kami tengah menikmati indahnya kebersamaan tiba-tiba ada bola basket yang hampir saja mengenai kepalaku, untungnya aku bisa menghindar jadi kena tembok. Tapi di depan Brian aku harus manja dong.
“Aaah.. aduh siapa sih yang pagi-pagi udah gangguin aku?!” ucapku jengkel-jengkel manja “Kamu nggak apa-apa sayang?” Tanya Brian sambil memegang wajahku yang cantik “Enggak apa kok sayang cuman kaget aja, tapi tadi itu bener-bener ngagetin lo” ucapku manja “Udah.. yang penting kamu tidak apa-apa yang” ucap Brian sambil mengelus wajahku.
Beberapa saat kemudian datanglah seorang cowok tampan berwajah seperti peranakan Arab mencari bola. “Permisi, bolaku kelempar ke sini nggak? Maaf ya kalau ngenai kalian” ucap cowok tampan itu dengan tenangnya. “Oh.. jadi ini bolamu. Heh, kira-kira donk kalau main basket. Bisa main nggak sih? Kok bisa-bisanya bolanya kelempar sampai sini?!” makiku “Udahlah yang, mas ini jangan dimarahin gitu toh bolanya kelempar di sebelahmu kan. Maaf ya mas, dia cuman kaget aja tadi” ucap Brian “Waww, baru kaget saja sudah memaki-maki begini apalagi kalau kena ya? Caper amat sih!” celetuk cowok tampan itu. Cowok tampan itu kembali ke lapangan sambil membawa bola basketnya dan akupun masih tertegun dibuatnya. Kok bisa-bisanya sih, dia memaki cewek popular sepertiku? Apa dia nggak tahu siapa aku?
“Kamu kenapa? Masih dongkol sama cowok itu?” Tanya Brian “Iyalah yang, siapa sih dia itu? Berani-beraninya memarahi cewek popular seperti aku?” ucapku “Udahlah yang, lagian kamu tadi nggak terluka kok marahin dia begitu ya wajarlah kalau dia balik marahin kamu. Udah ah, yuk masuk ke kelas 5 menit lagi bel masuk lo” ajak Brian
Waktu istirahatpun tiba, seperti biasa sebagai cewek popular di sekolah sebelum aku pergi ke kantin terlebih dulu kulap dulu wajahku dengan puff bedak. Ya.. namanya juga cewek popular pastilah tak pernah ketinggalan bedak, sisir dan kaca dong. Tujuanku sih, supaya aku tetap jaga penampilan dan yang penting aku tu sejajar sama Brian, si cowok yang tajir melintir.
Sesampai di kantin jelaslah semua mata tertuju padaku, tentu itu semua karena kecantikan wajahku dan kemolekan bodyku. “Mir, nanti sepulang sekolah latihan koreo ya” ucap Maria, gadis berambut ikal salah satu anggota koreografi. “Kok mendadak amat Mar? Kan biasanya hari Kamis, ini kok tumben-tumbenan hari selasa?” tanyaku dengan gaya centilku yang khas. “Iya, kan buat acara pensi minggu depan. Hari ini kan hari terakhir Ujian Semester, jadi minggu depan udah ada acara pensi-pensi gitu” tukas Maria “Oke deh Mar, ntar aku hadir kok” jawabku “Oke” jawab Maria meninggalkanku membiarkanku menikmati roti bakar keju yang telah kupesan tadi.
Di saat aku tengah menikmati enaknya roti bakar, aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikanku, dengan segera aku mendongak menatap mata yang telah lancing memperhatikanku dan ternyata.. dia adalah cowok tampan yang tadi pagi kumaki-maki. Ganteng sih tapi dia itu nggak modis banget. Dandanannya itu loh membuatku enek litanya, jauh banget dari styleku tapi temannya banyak dan yang lebih anehnya lagi semua temannya itu segan banget ke dia. Emang ada apanya sih dia? Tapi aku udah siapin seluruh gaya dan kata-kataku kalau dia sampai berani nyamperin aku ke sini.
“Hai Zul! Udah dari tadi?” ucap seorang cowok yang nggak terlalu keren bagiku “Iya.. lumayan lah. Oh iya, kamu mau pesan apa?” Tanya cowok ganteng itu “Seperti biasa mie ayam. Heheh” ucap teman cowok ganteng itu “Dasar pecinta mie ayam. Heheh” kelakar cowok tampan itu. Kemudian cowok yang nggak terlalu keren itu memesan mie ayam dan tiba-tiba ada beberapa cowok yang nyamperin tu cowok ganteng. Akupun berusaha menenangkan diriku dengan berpura-pura main HP. Kukira beberapa menit lagi dia akan datang padaku tapi ternyata sampai bel istirahat usai dia sama sekali nggak nyamperin aku. Hihh gemes banget kan jadinya. Siapa sih dia itu? Apa nggak ngerasa ada cewek popular di depan mata? Awas kau, aku akan membalas kelakuanmu.
Pagi ini giliran teamku ngedance di acara pensi, sebagai cewek popular di sekolah aku sudah mempersiapkan diriku sejak kemarin sore karena aku ingin semua mata tertuju padaku. Giliran timkupun tiba, aku dengan sekuat tenaga mempertunjukkan skillku dalam hal ngedance. Gemulai, kekompakan dan juga keseimbanganku secara totalitas kutunjukkan semua dan hasilnya aku mendapat tepukan tangan yang meriuh. Huhh.. puas banget rasanya.
Seusai ngedance, aku ke kantin untuk menghilangkan rasa haus dan lapar tentunya dengan seluruh anggota timku. Setibaku di kantin, aku melihat cowok ganteng itu. otakkupun otomatis berfikir keras untuk mempermalukannya di hadapan seluruh siswa yang ada di kantin. Saat itu kulihat dia sedang memesan sebuah makanan, akupun dengan cepat menyandingnya. “Eh minggir! Cowok rendahan seperti kamu nggak layak ada di sini!” ucapku “Siapa kamu beraninya melarangku? Ini sekolah milik nenek moyangmu?” jawabnya dengan mata berkilat-kilat. “Ya.. bukan sih cuman aku tu mau bilang aja kalau anak orang miskin seperti kamu itu nggak pantes sekolah di sini” ucapku “Aku memang miskin belum bisa beli apapun karena selama ini apa yang aku miliki adalah pemberian dari orangtuaku tapi aku rasa yang rendahan itu bukan aku tapi kamu. Bagaimana bisa kedua orangtuamu membiarkanmu jadi cewek yang sok kaya dan pembohong, sudah gitu nggak punya akhlak lagi. Kamu boleh menghinaku tapi jangan orangtuaku, dengar anak kaya abal-abal!” ucap cowok ganteng itu. “Apa maksudmu bilang aku anak kaya abal-abal? Aku tuh kaya beneran ya” ucapku “Oh iya? Kalau kau memang benar-benar anak orang kaya lalu mengapa kau mengaku rumahku adalah rumahmu?” ucap cowok ganteng itu dengan matanya yang masih berkilat-kilat.
“Iya Mir, apa yang dikatakan Izul benar. Aku nggak nyangka Mir, kamu bisa berbuat seperti itu. Padahal, andai kamu jujur aku tetep mau kok jadi pacar kamu” ucap Brian tiba-tiba. “Apa maksud kalian? Aku nggak ngerti sama sekali” ucapku bingung
Beberapa hari yang lalu “Daripada nggak ngapa-ngapain mending aku ke rumah Amira ah” gumam Brian. Kemudian Brian pergi ke perumahan Cempaka Putih no. 52B dengan mengendarai motor mewahnya. Jarak perumahan Brian dengan Perumahan Cempaka Putih memang dekat, jadi sebentar saja sudah datang. “Selamat siang, pak apakah saya bisa bertemu dengan Amira?” Tanya Brian pada pak Satpam “Amira? Amira siapa ya Mas. Di sini nggak ada yang namanya Amira” tukas pak Satpam “Loh masa sih pak? Dia itu cewek saya, dia sekolah di SMAN 1 Batu” ucap Brian “Sebentar.. sebentar, SMA 1 Batu? Apa temannya mas Izul? Tunggu sebentar ya” ucap pak Satpam. Akupun setia menunggu di situ dengan penasaran sambil bingung. Sejak dulu jadian sama Amira, aku selalu nganter Amira pulang ke rumah ini.
Di tengah-tengah kebingunganku, kulihat cowok tampan pebasket itu berjalan keluar dari rumah mewah itu. “Ini mas, orang yang saya ceritakan tadi” ucap pak satpam “Loh kamu?” ucap Izul kaget “Kok kamu ada di sini?” Tanya Brian semakin bingung “Pak, dia adalah teman saya. Tolong bukakan gerbangnya ya” ucap Izul dengan tenangnya. Kemudian Izul dengan tenang mempersilahkanku masuk. Akupun memarkir sepeda motorku di halaman rumahnya yang megah.
“Silahkan duduk dulu, sebentar ya” ucap Izul mempersilahkanku duduk di beranda rumahnya yang sejuk nan mewah. Aku semakin bingung kok ada Izul di rumah megah ini, kalau memang benar Amira adalah saudara Izul maka tidak mungkin Amira memaki Izul seperti itu.
Beberapa menit kemudian Izul kembali dengan membawa segelas jeruk hangat dan setoples camilan. “Silahkan dinikmati” ucap Izul “Iya terimakasih, tapi Amiranya mana?” tanyaku “Kamu cowoknya dancer itu?” Tanya Izul “Iya betul aku cowoknya. Oh iya kenalin aku Brian” ucapku sambil mengulurkan tangan “Aku Izul” ucap Izul sambil membalas uluran tanganku.
“Kamu bicara dengan siapa Zul?” ucap seorang pria paruh baya dari dalam rumah “Ini Brian Pi, temanku sekolah” ucap Izul “Ooh nak Brian” ucap Pak Hendrik. Brianpun semakin kaget melihat papinya Izul. “Om, apa kabar?” ucap Brian sambil mencium tangan pak Hendrik “Kabar Om baik. Nak Brian rumahnya dimana?” Tanya pak Hendrik “Di PErumahan Mutiara Indah Om” jawab Brian “Dekat ya. ya sudah kalian lanjutin saja ngobrolnya” ucap Pak Hendrik
“Loh Zul, kamu itu anaknya advokat ternama ya?” Tanya Brian heran “Iya Bri, papiku memang Advokat ternama mankanya aku tuh selalu menyembunyikan identitasku. Kalau ada masalah di sekolah seperti ambil Rapor, rapat dll itu pasti mamaku yang datang. Kemudian kalau ada blangko data siswa pasti profesi papiku tak tulis wiraswasta bukan advokat dan mamaku PNS. “Mamamu PNS dimana Zul?” Tanya Brian “Beliau guru SD Bri. Oh iya, kok kamu nyari Amira ke sini?” ucap Izul “Jadi gini Zul, aku tuh tadi di rumah nggak ngapa-ngapain jadi aku mau ngapelin Amira gitu dan setiap kali aku nganter dia pulang sekolah ya ke rumah ini” ucap Brian “Masak? Kok nggak ketemu aku? Hahaha berarti dia pembohong dong. Ini rumahku Brian bukan Amira” tukas Izul “Kok Amira gitu sih Zul” tanyaku bingung “Udah nggak usah bingung. Gimana kalau besok kamu tetep nganterin Amira seperti biasa, ntar kita diam-diam ngikutin Amira pulang ke rumah yang sebenarnya” ucap Izul “Oke deh Zul” ucap Brian
“Dan kami diam-diam ngikutin kamu pulang ke rumahmu yang sebenarnya ternyata kamu anaknya pak Untung tukang sapu taman kota itu kan?!” ucap Izul Kalimat itu laksana petir di siang bolong bagiku, tanpa permisi air mataku jatuh terurai oleh kalimat 2 cowok itu. Aku benar-benar tak tahan dengan perlakuan mereka, aku ..aku menangis sejadi-jadinya.
“Mengangislah Mir, menangislah karena kebohonganmu sendiri dan ingat Mir aku tidak mau mempunyai pacar tukang bohong sepertimu” ucap Brian sebelum berlalu meninggalkanku. Oh tidaaakk! Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah peribahasa yang pantas untukku. Sudah dipermalukan diputusin pula.
Cerpen Karangan: Hamida Rustiana Sofiati Facebook: facebook.com/zakia.arlho