" hallo namaku Yunna, maukah kau berteman denganku?"
Kataku sambil menjulurkan tanganku kepadanya. Dia hanya memandangku
dengan tatapan kosong. Rambutnya yang panjang tak terurus,
Poninya memanjang nyaris menutupi mata, dan wajahnya yang datar
Menatapku.
Mungkin saja dia habis kurang tidur. Batinku
Satu kata yang dia ucapkan " Tiara "
" Tiara nama yang bagus "
Tiara anak yang pendiam, serius, dan susah di ajak bicara.
Yah memang wajahnya agak sedikit muram, tapi Tiara adalah
Sahabat yang baik. Dia selalu ada di sampingku, menenangkanku
Saat suka dan duka, dan menghiburku.
Pertama kali kami bertemu saat kami menduduki kelas 6 sekolah
Dasar, saat saat dimana aku pertama kali merasakan kebahagiaan
Yang tidak pernah kurasakan. Berkat Tiara aku menjadi lebih suka sekolah,
Lebih suka keluar rumah, dan lebih suka keindahan.
Tiara mengajarkanku hal hal yang tidak pernah kualami sebelumnya
Senang rasanya memang. Tak terasa sudah 5 tahun lebih kami
Bersahabat, menikmati hari hari yang menyenangkan bersama.
Hingga pada suatu hari kejadian tak terduga terjadi.
Pulang sekolah Tiara mengajakku pergi ke pasar malam di hari minggu.
Aku senang bukan kepalang, ini pertama kalinya Tiara yang mengajak
Terlebih dulu sebelum aku mengajaknya sendiri.
Hari minggu pun tiba dimana kami akan bersenang senang menikmati
Keramaian pasar malam.
Tiara mengajak bertemu di depan wahana permainan biang lala.
Segera setalah aku melakukan kegiatanku,
Aku langsung pergi ke tempat yang di tujukan Tiara.
Tiara sudah berada di sana sambil memainkan hand phonenya.
" TIARA!!! "suara teriakanku membuat semua pengunjung kaget.
Tiara menoleh ke arahku. Segaris senyum manis terukir di bibirnya.
Kami bersenang senang bersama.
Menikmati wahana permainan yang sangat seru.
" kau adalah sahabatku yang terbaik, Tiara " kataku sambil meminum
Segelas soda.
” benar kah " jawabnya.
Kata kata itu membuatku terdiam sesaat.
" tentu saja kau selalu menemaniku, menghiburku, dan menghabiskan
waktu bersama " kataku penuh percaya diri.
" hmm mungkin saja kamu tak akan mau berteman denganku jika
Kamu melihat wujud asliku " ucapnya lirih.
" tunggu, apa katamu??" tanyaku sedikit terkejut.
" tidak, bukan apa apa " Tiara berdiri dan mengambil tasnya.
" tiba tiba ada urusan mendadak dirumah, aku pergi dulu ya "
Katanya sambil beranjak pergi.
Aku menganggukan kepala sambil tersenyum, tanda
Mengiyakan.
Setelah Tiara lenyap dari pandangan, aku bengong
Untuk waktu sesaat. Kata kata Tiara membuatku bingung.
" melihat wujud asliku " aku terus mengulang kata kata itu di dalam
Hati, mencoba untuk mencerna kembali, mencoba mengerti apa
Meksud dari perkataannya.
Keesokan harinya, Tiara tidak berangkat sekolah.
Aku khawatir mengenai itu.
" apa yang terjadi padamu?, apa kau sakit?, apakah kau baik baik saja?"
Hari ini sangat membosankan tanpa Tiara di sisiku.
Aku memutuskan untuk menjenguk Tiara malam ini.
Malam harinya aku datang ke apartemen dimana keluarga
Tiara tinggal. Aku sudah berada di depan pintu rumahnya.
Aku mengetuk pintu perlahan " permisi ".
Seorang wanita paruhbaya membukakan pintu.
" ya, ada apa " tanyanya
" apakah disini ada yang bernama Tiara " kataku ragu ragu.
" ah iya kau pasti temannya, tunggu sebentar ya "
Wanita paruhbaya itu masuk kembali ke rumahnya.
Di dalam rumah wanita paruhbaya itu menghampiri Tiara yang
Sedang membaca buku dikamarnya.
" apakah kau akan benar benar memberi taunya??" kata wanita
Paruhbaya itu dengan penuh kekhawatiran.
" ya ibu, aku akan memberi taunya keputusanku sudah bulat "
Jawab Tiara kepada ibunya.
" bagaimana jika temanmu itu membocorkannya, atau dia
Tidak mau berteman denganmu lagi??" katanya.
" tidak apa apa ibu, semuanya akan baik baik saja.
Aku sudah berteman dengannya selama lebih dari 5 tahun
Dia adalah orang yang tepat, percayalah "
Tiara keluar dari rumahnya, Tiara menghampiriku
Di depan rumahnya.
" apa kau baik baik saja?, apa kau sakit?" kataku penuh
Kekhawatiran.
" aku tidak apa apa, kau sudah jauh jauh kesini masuk lah
Dulu " kata Tiara sambil mempersilahkan aku untuk masuk.
Aku pun masuk ke rumahnya.
Aku di persilahkan untuk duduk di ruang tamu.
" aku tidak apa apa, kau tak perlu khawatir hanya sedikit
tidak enak badan " ucap Tiara menenangkanku.
" owh, syukurlah ku kira kamu sakit " kataku menarik nafas
Lega. Suasana menjadi canggung setelahnya, tidak ada
Topik yang enak untuk dibicarakan.
" emm, itu apa aku boleh tau apa maksud dari perkataanmu pada
Saat di pasar malam kemarin?" tanyaku ragu ragu.
" eh jika kamu tidak mau jawab juga tidak apa apa " sambungku.
" apakah kau sungguh ingin tau?" kata Tiara.
" yaa, jika kau tidak keberatan " .
Tiara berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya. Bebarapa menit
Kemudian Tiara keluar dan mengajakku ke suatu tempat.
" ikuti aku jika kau benar benar ingin tau " ajaknya.
Aku hanya menurut saja.
Kami berjalan dan berjalan. Aku penasaran
Dimana kau akan membawaku??
Apakah perlu, kau hanya perlu menjelaskannya saja kan??
Apa yang akan kau tunjukan kepadaku??
Tanyaku dalam hati.
Setelah beberapa saat, kami sampai di sebuah anak tangga
Di pojok apartemen. " ayo naik " kata tiara.
Aku pun mengangguk.
Kami menaiki anak tangga dan sampai lah kami di lantai paling
Atas apartemen.
Cahaya bulan menyinari kami berdua, angin malam membuat
Tubuhku agak menggigil.
" wow tempat yang unik " kataku
" ya, kau benar tempat ini menyenangkan bukan.
Sejak kecil jika aku ingin sendirian aku selalu datang ke sini "
Katanya. rambut panjang milik Tiara tertiup angin malam,
Di mandikan cahaya bulan purnama membuat paras cantiknya
Semakin bertambah.
" apakah kau sudah siap?" ucap Tiara.
" siap untuk apa??" tanyaku kebingungan.
" aku akan menunjukkan wujud asliku padamu, ku harap
Kau tidak pingsan saat kau melihatnya " jelasnya.
Tak lama setelah itu bulan bersinar lebih terang.
Tumbuh bulu bulu coklat dari tangan mungil Tiara.
Wajahnya yang cantik menjadi wajah seekor serigala liar.
Aku jatuh terjengkang ke bawah.
Aku kaget bukan kepalang, seluruh tubuhku kaku
Tak bisa betgerak sama sekali.
Angin menghembus semakin kencang.
Selang beberapa menit, tubuhku sudah bisa
Kukendalikan.
Disaat itu juga, aku berlari terbirit birit
Meninggalkan Tiara sendirian di lantai paling atas.
Aku bergegas untuk pulang.
Secercah trauma mulai membekas di benakku,
Aku tak menyangka bahwa Tiara bukan benar
Benar manusia.
Entah apalah itu, di saat ini yang kupikirkan
Hanyalah " cepat pulang, kau akan baik baik saja!!!".
Sejak saat itu Tiara tidak pernah menunjukan batang
Hidungnya sama sekali.
Seminggu sudah berlalu, aku masih tidak bisa
Menerima kenyataan bahwa Tiara bukan
Sepenuhnya manusia.
Satu hari lagi ku lewati tanpa Tiara.
Sepi rasanya, kini telah pukul 15.30, aku sedang terbaring
Di kasurku. Mulai memikirkan kejadian hari
Itu lagi.
" apa yang harus kulakukan??"
" bagaimana ini??" .
Cahaya mulai menyinari hatiku kembali.
" apa yang kulakukan selama ini??"
" akhh dasar bodoh, dasar pengecut. Apa yang terjadi padamu
Tiara??.apakah kau baik baik saja??"
Batinku.
Aku segera berlari menuju aparteman dimana Tiara
Tinggal. Aku berlari dan berlari, tak terasa air mata mulai
Membasahi pipiku menyesali semua yang ku perbuat.
Sesampainya aku di depan pintu rumah,
Aku mengetuk pintu tanpa ragu ragu.
Seorang wanita paruhbaya membukakan pintu.
Wanita itu membelalakkan matanya ke pada ku.
" semua itu gara gara kau, gara gara kau putriku menjadi
Anak yang pemurung. Dan karna kau bahkan putriku tidak mau
Makan sama sekali, kembalikan putriku yang dulu!!!"
Kata wanita paruhbaya itu.
" anda benar, aku adalah seorang pengecut yang tidak mau
Menerima kenyataan. Padahal Tiara sudah jujur
Kepadaku dan tapi apa yang kulakukan??.
Aku berjanji akan mengembalikan Tiara yang dulu!!"
Setelah aku mengatakan kata kata itu,
Aku bergegas pergi ke atap apartemen dimana Tiara sedang
Meringkuk disana.
Setalah sampai di sana, aku langsung memeluk Tiara.
Dengan nafas berat aku membisikan kata kataku kepadanya.
" maafkan aku Tiara, ini salahku yang bersifat pengecut
Tidak mau menerima kenyataan, bagaimana pun kau lah satu
Satunya sahabatku"
Tiara tertegun melihatku.
" tapi kau tau bukan, kalau aku ini monster
Buktinya kau lari terbirit birit pada waktu itu??"
Katanya.
" tidak kau bukan monster, kau adalah sahabatku
Sahabat yang selalu menamaniku, menghiburku, dan kita
Sudah melewati bertahun tahun bersama bukan?".
Aku mempererat pelukanku begitu juga Tiara.
Kami berpelukan sambil menangis bersama.
KAU PIKIR KARENA KAU JUJUR AKU AKAN MENINGGALKANMU??
TIDAK!! KAU BUKAN LAH MONSTER
KAU ADALAH SAHABATKU SATU SATUNYA
TAK ADA YANG BISA MEMISAHKAN KITA BERDUA
KAPAN PUN ITU
DIMANA PUN DIRIMU
SIAPA PUN DIRIMU
APA PUN WUJUDMU
DULU, SEKARANG, DAN SELAMANYA
KAU ADALAH SAHABATKU SEHIDUP SEMATI
END~