Ridwan dan Fanya keluarga muda yang mapan. Rumah besar dengan kolam renang, mobil-mobil mewah yang berderet di garasi, liburan ke luar negeri dan barang-barang mewah yang mereka miliki sudah terlalu kenyang mereka nikmati. Ada satu hal yang tidak mereka miliki... seorang anak. Sudah satu tahun ini mereka menikah. Tapi, Ridwan memutuskan untuk tidak memiliki anak. Bukan karena gaya hidup. Itu semua karena Ridwan tidak ingin sampai harus kehilangan anak yang mereka miliki nantinya. Why?
Orang tua Ridwan adalah pelaku pesugihan. Dua tahun lalu sebelum meninggal, Ayah Ridwan menyampaikan bahwa pesugihan yang ia lakukan bagaimanapun harus diteruskan oleh Ridwan, agar seluruh bisnis yang ia miliki dapat dipertahankan dan tetap menjadi luar biasa seperti sekarang ini. Jika Ridwan tidak meneruskannya, maka menurut ayahnya bisnis mereka semua akan hancur dan mereka akan jatuh miskin. Yang lebih buruk dari itu ada satu hal yang disampaikan oleh Ayah Ridwan, bahwa setiap anak pertama dari anak keturunannya nanti akan diambil sebagai tumbal. Selain itu, setiap tahun harus ada tumbal nyawa orang untuk dikorbankan.
Mendengar hal itu, Ridwan hanya bisa mendengarkan dan memikirkannya. Ia tidak tahu harus bicara pada siapa. Ia malu dan kecewa dengan apa yang dilakukan oleh ayahnya. Di dalam hatinya, Ridwan sangat marah. Ridwan ingin berhenti, tapi bagaimana caranya?
Ridwan tidak tahu apakah ada hubungannya, antara kematian karyawan pabriknya yang cukup sering terjadi dengan pesugihan yang dilakukan ayahnya. Ia ingin hentikan semua ini. Ia blank. Satu-satunya orang yang bisa ia ajak diskusi mengenai ini adalah Ibu. Tapi Ibu sama saja dengan ayah. Ibu terus saja menyuruhnya mematuhi dan melaksanakan pesan ayah. Ridwan juga tidak mungkin bercerita pada istrinya mengenai pesugihan yang dilakukan ayahnya. Istrinya hanya tahu bahwa Ridwan tidak ingin mempunyai anak.
Ridwan sudah berusaha bagaimana caranya agar mereka tidak memiliki anak, termasuk dengan membohongi istrinya dengan mendatangkan ahli pijat yang membalik kandungan agar istrinya tidak bisa hamil. Fanya yang tidak tahu, menurut saja ketika dipijat. Setahun ini, semua berjalan sesuai rencana Ridwan. Tapi, jika memang Tuhan berkehendak lain. Apa yang harus dilakukan?
Fanya hamil. Hal ini mengejutkan Ridwan. Dan parahnya, karena Fanya tidak memperlihatkan gejala mual atau pusing seperti orang hamil biasanya maka mereka tidak tahu kalau Fanya hamil. Fanya hanya sakit gigi dan demam saja. Itupun baru diketahui setelah janin Fanya berumur sekitar 2 bulan..
Ridwan bingung. Bagaimana caranya untuk melindungi anaknya dari perjanjian ayahnya dengan setan? Sementara kehamilan Fanya mulai makin besar. Ridwan sangat mencintai Fanya dan calon anak mereka. Bagaimanapun ia harus berjuang menyelamatkan anaknya! Ridwan seorang Katholik yang taat.. Tidak berhenti Ridwan lakukan puasa dan sedekah. Ia terus berdoa pagi dan malam. Ia lakukan doa-doa khusus untuk memohon ampunan dan agar Tuhan berkenan membebaskan mereka dari perjanjian antara Ayahnya dengan setan.
Sejak mengetahui kehamilan istrinya, Ridwan selalu mimpi buruk. Ada makhluk besar bermata merah yang terus mendatanginya. Ia menagih makanannya. Pening sekali kepala Ridwan. Fanya sudah hamil 7 bulan dan sudah menjalani prosesi Tujuh Bulanan juga untuk bayinya. Ia tidak berhenti menghitung dan memperkirakan kelahiran putranya. Ah, November nanti anaknya akan lahir...
Memasuki awal November, Fanya sudah gendut dan susah bergerak. Bayi mereka sungsang menurut dokter. Perkiraan dokter, bayi akan lahir di minggu ketiga bulan November. Jadi, Fanya rencananya akan menjalani operasi Caesar di minggu kedua, sebelum perkiraan minggu ketiga kelahiran. Ridwan sangat cemas. Ia lebih nampak seperti Bapak yang tidak bahagia dengan kelahiran anaknya. Padahal bukan itu. Ia sangat takut calon anaknya akan jadi korban tumbal pesugihan ayahnya.
Malam itu, tanggal 11 November 2011... Ridwan menangis di kamarnya. Belum pernah ia sesedih itu. Ia mohon pada Tuhan untuk menyelamatkan anaknya. Tuhan, tolong... jangan terlambat... kasihanilah kami. Ridwan terus menggulirkan bulir-bulir Rosarionya sambil terus berdoa. Tiba-tiba ia mendengar Fanya berteriak kesakitan di kamar mandi. Ridwan berlari ke arah kamar mandi. Fanya jatuh! Ia melihat Fanya pingsan di lantai kamar mandi. Astaga, ada makhluk besar merah yang bertanduk di dekat Fanya! Segera ia hendak masuk ke kamar mandi. Tapi begitu hendak memasuki kamar mandi, pintu tiba-tiba tertutup dan terkunci sendiri dari dalam.
Blam!
Ridwan terpelanting terkena dorongan pintu. Ia merasakan darah mengalir dari hidungnya. Ugh! Ridwan berusaha bangkit dan membuka pintu kamar mandi, tapi tidak bisa dibuka. Ia gedor-gedor dan berteriak-teriak berusaha menyadarkan Fanya. Tapi tidak ada suara dari dalam. Ridwan segera menuju ke pintu dan hendak memanggil pembantu dan security yang berjaga di luar.. dan anehnya pintu tidak bisa di buka. Ridwan berusaha berteriak dan menggedor-gedor pintu, berharap ada yang mendengarkan teriakannya. Tapi percuma... tak ada satupun yang mendengarnya..
Ridwan segera berlari ke arah intercom kamarnya, tapi tempat tidurnya tiba-tiba bergerak dan menjepitnya di tembok. Ridwan tidak berdaya. Saat itu ia mendengar suara geraman dan hardikan...
"Penuhi janjimu!"
Makhluk itu tadi. Ia di depan Ridwan. Dengusnya sungguh menyeramkan. Tubuhnya merah seperti daging melepuh yang busuk dan berlendir...
"Aku ambil anakmu malam ini..."
Ridwan yang terjepit terus meronta dan menentang mata setan merah itu.
"Tidak! Aku tidak akan serahkan anakku! Sekarang ataupun nanti!" teriak Ridwan lantang.
"Tidak bisa, gerbang telah terbuka.. sebelas sebelas... !! Dia sudah kupilih dan kutandai! Dia sudah dipersembahkan untuk tuanku..."
Ridwan sungguh tak berdaya. Tapi ia harus menyelamatkan Fanya dan anaknya dengan cara apapun. Hampir ia lupa. Berdoa... ya... ia harus berdoa. Ridwan berteriak sekuat tenaga...
"Dalam nama Tuhan Yesus, tolonglah kami. Tutup bungkus kami dengan darahMu yang Kudus... Tuhan, aku mohon kirimkanlah malaikat pelindungMu. Bebaskanlah kami dari yang jahat.."
Begitu Ridwan selesai mengucapkan doa maka lampu tiba-tiba mati dan tempat tidur yang menjepitnya itu terpental. Ridwan langsung jatuh begitu lepas dari jepitan. Ia melihat setan merah itu tertawa dan masuk menembus pintu kamar mandi. Ridwan tidak mampu berdiri. Kakinya sangat sakit untuk digerakkan. Tapi ia tidak peduli. Ridwan merangkak dalam kegelapan sambil terus berdoa
"Tuhan, tolong kami.. Tuhan, tolong kami..."
Ridwan menggedor pintu kamar mandi dan memanggil-manggil Fanya.
Fanya mendengar suara Ridwan. Perlahan ia membuka matanya. Gelap... Perutnya sakit sekali... Astaga, ada yang mengalir di kakinya... Apakah ini darah? Ia hanya mencium bau anyir darah...
"Mas... Mas... aku kesakitan..." Fanya berusaha untuk berdiri...
"Bukain pintunya... cepat..." teriak Ridwan dari luar
Lalu ada teriakan dibarengin tangisan dari dalam kamar mandi...
"Aku keluar darah... anakku... anakku..." Fanya menangis...
Ridwan makin panik, ia berusaha mendobrak pintu kamar mandi. Apalagi mendengar istrinya menjerit lagi...
"Tolong... tolong... Mas... ada setan...! Dia menekan perutku... " Fanya menjerit ketakutan campur kesakitan...
Saat itu setan merah memegang perutnya dan seperti hendak merobeknya dengan cakarnya yang tajam. Tapi setan merah itu mendadak mengerang.. ia melepaskan tangannya dari perut Fanya. Ternyata setan merah itu terkena Rosario yang ada dalam kantong daster. Ia kepanasan seperti terbakar.
"Fanya! Kita doa bareng ya sayang... lawan! Doa Bapa Kami!!!!" Ridwan berteriak dari luar kamar mandi.
Lalu Ridwan dan Fanya dengan segenap kepasrahannya mendaraskan doa Bapa Kami bersama... terdengar erangan kesakitan dari setan merah itu... Di ruangan kamar mereka seperti ada badai. Barang-barang berterbangan.. Beberapa seperti berusaha menghantam Ridwan...
Dan setelah selesai mendaraskan doa Bapa Kami, lalu dengan kekuatan terakhirnya, Ridwan berdoa dengan suara keras "Tuhan... Ke dalam tanganMu kuserahkan hidupku, hidup istriku dan anakku.."
Seketika ruangan kamar bergetar.. barang yang berterbangan makin banyak menghantam Ridwan. Ada suara geraman marah yang keras dari dalam kamar mandi. Ia mendengar istrinya berteriak keras kesakitan... lalu Ridwan terjatuh begitu lampu meja terbang menghantam kepalanya... Lamat-lamat ia mendengar tangisan bayi saat jam di arlojinya menunjukkan pukul sebelas lewat sebelas malam.. dan setelah itu Ridwan tidak sadarkan diri.
Tiba-tiba Ridwan tersadar. Ia sudah ada di rumah sakit. Terbaring dengan banyak luka dan bebat. Seketika ia panik dan hendak mencari istrinya.
"Jangan bangun dulu Pak..."
Bastian, sopir Ridwan mencegahnya untuk turun dari tempat tidur.
"Bu Fanya... Anakkku... mereka di mana, Bas?"
Seakan tahu kegelisahan Ridwan, Bastian memberitahunya, jika Fanya sudah melahirkan dan anaknya laki-laki. Saat ini sedang dirawat di rumah sakit yang sama, hanya saja mereka ada di ruangan yang berbeda. Tapi, mereka baik-baik saja dan sehat.
Lega hati Ridwan mendengarnya..
"Bagaimana aku bisa di sini, Bas?" tanya Ridwan.
"Begini Pak, semalam rumah Bapak terbakar.. Kami berusaha mendobrak pintu kamar karena tidak ada respon dari dalam. Kami menemukan Bapak pingsan di lantai kamar dan ibu ada di kamar mandi sudah melahirkan... penuh darah. Langsung kami panggil ambulans dan bawa kesini.."
Bastian menjelaskan dengan pelan. Ia takut tuannya shock.
"Rumahku terbakar. Bagaimana bisa?" mata Ridwan terbelalak
"Jam sebelas lewat sebelas malam itu pabrik Bapak terbakar. Merembet sampai ke rumah.. Thinner dan cat di gudang meledak..."
Ridwan lunglai... ini saatnya ia menerima konsekuensinya. Ia harus memutuskan perjanjian antara Ayahnya dengan setan. Tepat tanggal sebelas... pukul sebelas malam lewat sebelas menit... 11-11..
Gerbang itu... kini ia telah menutupnya dan memutus perjanjiannya....
Ia memenangkan anaknya, memutus perjanjian.. dan dalam sekejap setan sudah mengambil kembali seluruh hartanya...
Kabar ini membuat kepala Ridwan pening kembali... matanya kabur... semua nampak begitu ringan... ia teringat Perjanjian Kredit Bank untuk pabriknya yang ia tandatangani bulan lalu...
Jam menunjukkan pukul 11.11 WIB saat itu... Ridwan lemas dan ia kehilangan kesadaran...