Pagi ini sekitar pukul 08:11, aku sudah bersiap-siap mengumpulkan peralatan hiking yang aku miliki. Hari ini tanggal 11 bulan 11, aku dan keenam temanku sudah sepakat untuk pergi mendaki Gunung Sawal. Ketika aku sedang memasukan beberapa barang-barang dan pakaian ke dalam ransel tiba-tiba saja ponselku berdering, di layarnya terlihat nama temanku, Frenda.
“Indra! Duh gawat nih!” seru Frenda hingga membuatku terkejut dengan suara nyaringnya.
“Ada apa sih Da? Bikin kaget saja,” tanyaku agak sedikit ketus.
“Itu Dra, Rima katanya nggak mau ikut. Gimana dong?” rengek Frenda.
“Lah kok bisa? Bukannya kamu dan Santi sudah membujuknya untuk ikut?” aku kembali bertanya. Jujur saja aku menjadi cemas karena pada dasarnya acara pendakian ini dilakukan sengaja untuk memperingati hari ulang tahun Rima yang jatuh pada esok hari.
“Aku juga bingung mau ngapain lagi, please dong bantu bujuk dia Dra, kamu kan deket banget sama dia,” rengek Frenda lagi. Aku menghela nafas dalam sebelum menjawab permintaannya.
“Oke. Aku akan coba bujuk dia, kamu siap-siap saja dulu. Jangan kelamaan dandan! Nanti ditinggalin kalo telat,” jawabku sambil sedikit memperingatkan Frenda.
“Beres!” jawab Frenda sambil mengakhiri panggilan telepon.
“Kacau!” umpatku sambil melempar ponsel ke kasur agar tidak rusak, lagipula itu adalah ponsel satu-satunya yang aku punya.
Aku menggaruk kepalaku karena bingung. Seingatku sudah sejak seminggu yang lalu kami membuat janji untuk pergi mendaki hari ini, semua peralatan yang dibutuhkan sudah disiapkan. Masa harus gagal begitu saja? Aku menghela nafas panjang sambil merebahkan tubuhku di kasur. Kemudian aku berniat untuk mencoba meyakinkan Rima lewat telepon.
“Halo Dra,” sapa Rima dengan suara lembutnya.
“Halo Rim, aku dengar katanya kamu nggak jadi ikut pendakian hari ini, kok tiba-tiba banget ya?” tanyaku.
“Iya Dra, Sejak kemarin Dodi, Bram sama Tino sikapnya dingin banget sama aku. Frenda dan Santi yang biasanya pergi ke kampus bareng juga kayak menjauh gitu. Kayaknya mereka nggak suka kalau aku ikut pendakian hari ini,” jawab Rima. Aku menghela nafas perlahan setelah tahu penyebabnya.
“Kenapa kamu berpikir begitu?” tanyaku.
“Habisnya mereka begitu, aku jadi ngerasa nggak nyaman,” jawab Rima.
“Aku yakin mereka nggak bermaksud begitu kok, mereka mungkin lagi punya masalah. Kamu ikut ya Rim, nggak seru kalau kamu sampai nggak ikut,” tuturku mencoba untuk membujuknya.
“Maaf Dra, aku kayaknya nggak ikut deh kalian berenam saja ya,” jawaban Rima itu menutup harapanku untuk bisa membujuknya.
Lagian kenapa sih dengan mereka itu, sudah tahu Rima itu sensitive tapi mereka malah kompak untuk ngejauhin dia. Aku paham sih kalau mereka sengaja buat Rima kesel biar kejutannya nanti malam semakin terasa surprise. Tapi kalau sudah gini gimana mau bikin kejutan.
“Hadeh!” umpatku dalam hati. Tidak ada jalan lain jika sudah seperti ini. Hanya ada satu jalan yang tersisa.
“Kamu ingatkan Rim hari ini tanggal berapa?” ucapku setelah agak lama merenung.
“Sebelas November, memangnya kenapa?”
“Besok kamu ulang tahunkan?”
“Eh? Jangan-jangan..” ujar Rima yang terdengar begitu terkejut ketika aku menyinggung hari ulang tahunnya. Tapi itu adalah reaksi yang aku harapkan.
“Siapa tahu mereka sengaja nyuekin kamu karena besok hari ulang tahunmu. Aku yakin pasti mereka sudah nyiapin sesuatu buat kamu nanti.”
“Serius nih? Nanti aku yang malah kepedean,” ucap Rima seakan masih ragu.
“Katanya sih gitu. Tapi kamu nggak akan tahu kalau kamu nggak ikut,” jawabku dengan semangat karena melihat ada secercah harapan.
“Hmm.. oke deh,” kata-kata Rima itu berhasil mengusir gundah gulana dari pikiranku.
“Gitu dong. Sekarang cepat siap-siap ya. Nanti Bram bakalan jemput kita satu-satu pakek mobilnya,” kataku dengan semangat. Panggilan telepon akhirnya berakhir dengan happy ending. Aku segera mengabari temanku yang lain perihal kabar bahagia ini.
Sekitar pukul 10:11 siang, Bram datang ke rumahku dengan mobilnya. Tampak Frenda dan Santi sudah ada di dalam mobil bersama Dodi. Setelah memasukan barang-barang, aku segera masuk ke dalam mobil Bram yang segera meluncur menuju rumah Tino. Setelah menjemput Tino kami langsung menuju rumah Rima.
Mobil yang dikemudikan Bram segera melaju cepat di jalan raya setelah semua orang yang akan mendaki gunung berada di dalam mobil. Santi berada di kursi depan bersama Bram, sedangkan Rima dan Frenda berada di kursi tengah. Aku, Dodi dan Tino terpaksa mengalah untuk duduk berdempetan di kursi belakang.
Pukul 12:11 siang akhirnya kami sampai di kaki Gunung Sawal. Tampaknya tidak ada pendaki lain yang datang hari ini selain kami. ini adalah kali pertama kami datang ke sini, suasananya serasa jauh berbeda dari yang kami kira.
“Kok sepi amat ya?” ujar Tino.
“Iyalah, orang ini adalah rute yang jarang dilalui para pendaki. Soalnya kurang seru kalau ketemu banyak orang,” jawaban Bram membuatku mengerti kenapa suasananya tidak seperti yang aku bayangkan.
“Bagus sih, lebih menantang nantinya,” timpal Dodi.
“Pantesan saja kamu menyuruh kami membawa bekal lebih banyak dari biasanya,” ucap Frenda.
“Katanya sih spot akhir dari rute ini lebih indah,” kata Bram sembari keluar dari mobil.
Kami bertujuh segera mengeluarkan barang-barang kami. lalu pergi menuju pos pendakian. Tampak seorang pria tua sedang bersandar di kursi dengan santainya. Sekilas pria itu lebih cocok disebut ‘kuncen’ daripada penjaga pos pendakian.
“Maaf pak, kami mau mendaki gunung dari rute ini,” ucap Tino.
“Kalian yakin?” tanya pria tua itu.
“Yakin pak,” jawab Bram sambil tertawa kecil.
“Kalau begitu tulis nama kalian di buku itu. Ingat! Kalian harus menjaga tatakrama kalian selama mendaki,” ujar pria tua itu dengan wajah serius. Entah kenapa rasanya dia menatapku. Kami hanya mengangguk sambil bergiliran mengisi data di buku yang terlihat sudah cukup usang.
“Satu hal yang perlu kalian ingat selama pendakian dari rute ini,” kata pria tua itu seraya menatap kami satu-persatu.
“Apapun yang terjadi, jangan menoleh ke belakang!” sambungnya dengan wajah serius. Kami hanya mengangguk sambil saling memandang satu sama lain.
Kami kemudian makan siang dahulu sebelum memulai pendakian. Pukul 01:11 siang barulah kami memulai pendakian. Rute yang kami lalui ini kelihatannya memang jarang dilalui pendaki lain, itu jelas terlihat dari jalan setapak yang kami ikuti hampir dipenuhi semak belukar seluruhnya. Meski medannya agak sulit namu itu sebanding dengan pemandangan indah yang dapat kami saksikan sepanjang perjalanan.
Pukul 04:11 sore barulah kami sampai di spot akhir rute pendakian kami. Sebenarnya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai ke titik akhir pendakian, namun kami sengaja berjalan santai dan beristirahat beberapa kali. Sejak awal tujuan pendakian ini memang membuat pesta kejutan untuk ulang tahun Rima besok. Jadi kami menghemat tenaga sebisa mungkin.
“Wah keren gila inimah,” ucap Dodi seraya merentangkan tangannya untuk menikmati hembusan angin sore.
“Wuih! Sayang banget spot segini indahnya jarang dikunjungi oleh orang-orang,” timpal Tino sembari menatap pemandangan yang terhampar indah di depannya.
“Sudah dulu woi! Pasang tenda dulu, nanti keburu malam,” tegurku sambil membuka peralatan kemah kami.
“Tapi suasananya serem juga ya, pohon-pohonnya juga besar-besar banget,” ucap Rima sambil melihat sekelilingnya.
“Justru tempat seperti ini yang layak disebut indah. Bukan tempat orang-orang banyak berkumpul sambil menebarkan sampah,” kata Bram sembari membantuku memasang tenda.
“Mungkin para pendaki lain juga takut kali,” celetuk Dodi.
“Itumah para pengecut doang. Takut apa di tempat seperti ini, sepanjang jalan kita juga nggak lihat hewan berbahaya,” jawab Bram.
“Iya bener, mereka mungkin langsung kabur pas ketemu pak tua penjaga tadi,” kata Tino sambil tertawa.
“Iya bener, aku juga sempet takut pas lihat pak tua tadi,” sela Santi.
“Hahaha, pantesan saja. Lagian pak tua itu kayaknya emang hobi nakut-nakutin orang, pakek bilang jangan menoleh ke belakang segala,” ucap Bram sambil tertawa puas. Aku hanya tersenyum masam mendengar obrolan mereka semua. Setelah selesai memasang tenda dan mencari kayu bakar barulah kami bisa beristirahat melepas penat.
Hari mulai beranjak malam, suara hewan-hewan liar terdengar sudah mulai ramai bersahut sahutan seakan menyambut datangnya kegelapan malam. Pukul 07:11 malam, kami berkumpul di depan api unggun sembari bernyanyi riang mengiringi alunan nada dari gitar yang sedang dimainkan oleh Bram.
Sesuai rencana, pukul 08:11 Santi dan Frenda segera mengajak Rima untuk tidur di tenda. Bram, Dodi, Tino dan aku langsung mengerti, kami segera mengeluarkan barang-barang untuk persiapan pesta kejutan Rima dari dalam ransel. Memakan waktu hingga dua jam lebih untuk kami menyelesaikan semua persiapannya.
“Kembang apinya lu bawa kan Dod?” tanyaku kepada Dodi yang ditugaskan membeli kembang api.
“Pastilah, gue ambil dulu ya,” ucap Dodi.
“Awas kalau lupa gue jitak pala lu,” ancam Tino. Kami sangat tahu kalau Rima itu suka banget dengan kembang api, maklum karena dulu di kampungnya sangat jarang ada kembang api.
“Ada nih, gue beli sepuluh dapet bonus satu,” ucap Dodi seraya menunjukan kembang api yang dibelinya.
“Gile ada yang besarnya juga,” kata Tino.
“Kita pasang tujuh di tanah. Nanti sisanya kita pegang,” usul Bram. Aku hanya menganggukan kepala tanda setuju.
“Lu berani pegang nggak? Nanti malah lu lempar lagi,” ledek Dodi sambil menatapku.
“Kembang apimah kecil, dulu lu tau siapa yang pegang meriam saat perang dunia kedua?” tanyaku sambil menjentikan jari.
“Elu?” tanya Dodi.
“Siapa?” tanya Tino.
“Gak tahu ya?” tanyaku kembali.
“Kakek lu ya?” tanya Bram.
“Yah, kirain gue ada yang tahu. Kalau ada nanti gue catet buat info tambahan di buku sejarah,” jawabku sambil tertawa.
“Brengsek,” ucap Dodi sambil menimpuk kepalaku dengan kembang api.
“Sekarang udah jam berapa nih?” tanya Tino.
“Jam 11:11 malam,” jawab Bram seraya melihat jam tangannya.
“Duh anter gue kencing yuk,” kata Dodi sambil melihat kami.
“Hahaha.. kencing sendiri saja nggak berani, apalagi megang kembang api,” kataku mencoba meledeknya.
“Dasar payah! Ayo gue anter sambil sekalian,” ujar Tino sambil mengambil dua senter.
Aku dan Bram hanya geleng-geleng kepala saja sembari tertawa. Angin semilir terasa begitu dingin menusuk tulang, padahal aku sudah mengenakan jaketku dengan baik. Suara anjing menggonggong terdengar begitu dekat, terdengar pula auman serigala yang bersahut-sahutan membuatku gelisah. Aku mencoba melihat jam tanganku yang masih menunjukan pukul 11:11 malam.
“Aaaarrrgggh..” seketika terdengar teriakan Dodi. Seketika saja aku dan Bram terkejut saling memandang. Angin dingin berhembus terus menerus membuat bulu kudukku berdiri, sekujur tubuhku terasa begitu merinding.
“Braam! Indraa..” panggil Tino dari kejauhan.
“Toloong..” ucapnya lagi, terlihat tangannya melambai.
Aku sontak menyorotkan senterku ke arah Tino. Aku dan Bram seketika tersentak kaget melihat tubuh serta wajah Tino penuh dengan darah, Tino terbaring di tanah sambil meronta-ronta. Tangannya melambai seolah meminta pertolongan. Tubuhnya entah kenapa terlihat tergusur ke semak belukar.
Jantungku berdetak sangat kencang. Keringat dingin mulai terasa keluar, nafasku mendadak tersengal-sengal. Aku dan Bram berdiri mematung tanpa bisa berkata apa-apa. Terdengar suara cekikikan seorang wanita dari kejauhan seiring dengan auman serigala yang tidak berhenti sejak tadi. Api unggun yang kami buat mendadak padam tertiup angin menambah cekam suasana yang tengah kurasakan.
“Gawat,” hanya itu yang bisa aku ucapkan setelah sekian lama mematung.
“Ada apa Dra? Bram?” tanya Santi yang keluar dari tenda bersama Frenda dan Rima.
“Kita harus segera pergi dari sini,” ucapku terbata-bata sambil berbalik menatap mereka bertiga.
“It.. itu..” perlahan terlihat Santi bergumam. Namun tiba-tiba senter yang dipegangnya jatuh ke tanah. Tatapannya melihat agak ke atas.
Jantungku semakin kencang berdetak ketika aku mendengar suara seorang wanita tertawa cekikikan cukup dekat. Aku segera menoleh ke belakang, mulutku ternganga karena tak jauh dari tempat kami berdiri ada sebuah kepala besar dengan rambut panjang dan mata menyala menatap kami. perlahan dia memperlihatkan giginya yang runcing. Tubuhku gemetar tak berdaya. Senter yang aku pegang tak terasa lagi jatuh ke tanah.
“Lari!” teriak Bram sambil menarik tangan Santi. Tampak nafasnya begitu memburu.
“Hihihihihi,” kembali terdengar cekikikan wanita menyeramkan tak jauh dari tempat kami berdiri.
Aku berusaha mengumpulkan tenaga untuk berbalik ke belakang sembari memungut senter. Tampak Frenda dan Rima ternganga dengan mata melotot, tubuh mereka bergetar hebat dengan nafas yang memburu. Aku tak mampu mengucap satu patah katapun. Tanganku segera menggenggam tangan Rima dengan niat mengajaknya pergi menuruni gunung.
“Ri..Rima.. Fre.. Frenda,” ucapku terbata bata. Mereka tampak sadar dan paham dengan tatapanku.
Kami bertiga sekuat tenaga segera berlari dari tempat itu untuk menyelamatkan diri. Aku berlari di depan sembari menggandeng tangan Rima, sekilas aku melihat bayangan putih dengan wajah menyeramkan terbang di atas kami, namun aku tak mempedulikannya. Nafasku tersengal-sengal. Rima terlihat pucat, dia berlari di sampingku dengan nafas tersengal-sengal. Frenda terlihat membuka mulutnya hendak berteriak namun tidak ada sedikitpun suara yang keluar.
Semilir angin serta suara auman serigala seolah mengikuti kami bertiga. Suara cekikikan wanita terdengar semakin banyak berada di sekeliling kami. Frenda tiba-tiba saja terjatuh, terdengar suaranya yang memilukan meminta pertolongan.
“Jangan menoleh ke belakang Rim,” ucapku sambil terus menggenggam tangan Rima.
“Ta.. tapi Fren-“
“Aaaakkkhhh,” terdengar jeritan penuh penderitaan Frenda memotong kata-kata Rima.
“Fre.. aaakkkkhhh,” Rima yang menoleh ke belakang tiba-tiba menjerit.
Cipratan darah terasa mengenai wajah dan tubuhku. Tangan Rima terasa bergetar. Aku segera menoleh untuk melihat Rima, namun tubuhku semakin gemetar ketika melihat tenggorokan Rima tertancap ranting pohon yang runcing. matanya membelalak, terdengar tenggorokannya mengeluarkan suara seiring darah yang semakin banyak keluar. Aku menutup mulutku dan melepaskan tangan Rima.
Ingin rasanya aku menangis namun tidak ada airmata yang keluar, mulutku bergerak memanggil nama Rima namun tak ada sedikitpun suara yang terdengar keluar. Tubuh Rima Menggelepar menjemput ajal sebelum akhirnya terkulai lemas. aku hanya terisak menangis tanpa airmata. Tubuhku mulai goyah, namun aku terus berusaha berjalan ke depan walaupun aku bingung harus kemana dan bagaimana.
Terdengar serigala mengaum tanpa henti. Tiba-tiba saja leherku terasa begitu dingin serasa ada yang menyentuhnya. Tubuhku gemetar saat di depanku tergeletak kepala Santi dan Bram dengan mata melotot bersimbah ddarah, entah datang darimana. Aku menoleh ke belakang, namun seketika tubuhku lemas karena di depan mataku ada sosok mahluk mengerikan. Kelopak matanya kosong, bau amis tercium menyengat di hidungku.
Tubuhku akhirnya ambruk dan berlutut di tanah. Entah kenapa tiba-tiba leherku serasa tercekik hingga mulutku menganga. Di kulit punggungku terasa ada banyak kelabang merayap hingga ke dekat leherku, namun aku tak bisa berbuat apa-apa. Kini tatapanku menatap jelas kepala mengerikan yang tidak memiliki tubuh itu. lidahnya terlihat sangat panjang mencekik leherku.
“Aaarrghhhh,” aku merintih kesakitan ketika sesuatu terasa menggigit leherku.
Di tengah rasa sakit dahsyat yang aku rasakan, aku hanya bisa menyesal karena telah berhasil membujuk Rima untuk pergi mendaki. Andaikan kami tidak berangkat mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi, andaikan aku tidak membujuk Rima mungkin saja kami masih bisa merayakan ulang tahunnya besok. Andai kami tidak pergi hari ini mungkin aku punya kesempatan untuk menyatakan cintaku kepada Rima.
“Arrrrgggkhhh,” tubuhku bergetar hebat seiring dengan rasa sakit yang aku rasakan, perlahan kelabang merayap di leherku hingga akhirnya masuk ke dalam mulutku yang terus menganga. Pada akhirnya airmataku keluar mengingat ajalku mungkin akan segera tiba. Jika bisa, aku ingin mengatakan pesan terakhirku di sini. ‘jangan menoleh ke belakang’.
TAMAT
#Horror
#1111