Pada suatu hari aku dan teman teman bermain layangan di sumber air di desaku. Lalu aku dan teman teman bermain layangan seperti biasa sambil menikmati pemandangan sawah dan pegunungan yang indah. Tiba tiba ada angin besar yang datang menyambar layangan temanku, lalu layangannya patah karena disambar angin yang begitu besar dan temanku kecewa karena layangannya putus.
“Kamu gapapa kan layanganmu putus”, tanyaku “Iya kok ndak papa, asal jangan hubungan aku yang putus”, jawab faris “Coba mana liat?, layangannya tadi yang putus”, tanya daviq “Ini”, jawab faris “Wah udah parah nih mas kayaknya udah ga bisa terbang lagi”, jabwabku “Gapapa bisa kok ini diperbaikin lagi”, jawab faris “Ya tapi terbangnya sudah nggak stabil lagi karena udah rusak”, jawab daviq “Beli lagi aja mas”, kataku “Dimana?, aku gapunya uang”, tanya faris “Beli di padangan aja, pesen dulu yang layangan burung hantu”, kataku “Disitu aja ris, banyak juga orang yang beli di tempat itu”, jawab daviq “Aku tau tapi masalahnya uangnya ga ada”, jawab faris “Kita bantuin dehh”, kataku dan daviq “Emangnya sekarang kamu punya uang berapa?”,tanya daviq “Aku sekarang punya uang cumak 75k”, jawab faris “Emangnya kalian berdua punya uang berapa?”, tanya faris “Aku punya uang 40k mas”, kataku “Kalau aku 100k”, jawab daviq “Kalian beneran nih mau bantuin aku beli layangan baru?”, tanya faris “Iyaa beneran mas ris”, kataku dan daviq “Yaudah sekarang ayo berngkat pesen layangan yang baru, semoga cepet jadi layangannya biar bisa main bertiga lagi”, kataku “Yaudah kluarin sepeda kamu, ayo berangkat”, kata daviq Lalu aku dan teman temanku berngkat melewati hutan dan lembah, sambil merasakan angin yang sliwar sliwer di badan dan rasanya sangat sejuk sekli.
Singkat cerita aku dan teman teman bingung rumahnya yang mana. “Mas dimana rumah pengerajin layangannya?”, tanyaku “Dimana daviq aku ga tau diamana alamat rumahnyaa?”, tanya faris “Itu ada orang kita tanya aja dulu”, kata daviq
Terus kami bertiga bertanya dimana tempat kediaman pengerajin layangn tersebut kepada orang. Dan kebetulan sekali ada orang yang kluar dari rumah “Permisi mbak”, kata daviq “Iya, ada apa mas”, jawab mbaknya “Tau rumah pengerajin layangan di sekitar desa padangan nggak mbak?”, tanya daviq “Oh tau dek, lurus aja terus kamu belok kanan belok kiri lalu mentok”, jawab mbaknya “Iya mbak terimakasih”, jawabku
Lalu aku dan teman teman mengikuti omongan mbaknya untuk menuju ke tempat itu. Dan jujur aku dan temn teman sedikit bingung oleh omongan mbaknya. Lalu alhamdulilah aku dan teman teman menemukan rumah pengerajin layangan tersebut.
“Masa ini ya rumahnya?” tanyaku. “Gak tau coba diketuk aja pintunya,” jawab david. “Ini paling rumahnya, tuhhh ada layangan”, jawab faris “La iya mas, berati ini rumahnya coba ketuk aja”. Jawabku
Lalu mas daviq mengetuk pintu rumah pengerajin layangan tersebut. “Tok tok tok, asalamualaikum”, lalu pengerajin layangan itupun keluar “Waalaikumsalam, ada apa mas, mau beli layangan?”, jawab penjual layangan “Iya pakde”, jawab faris “Mau pesen layangan yang model apa kan model layangan itu banyak?”, tanya penjual layangan “Mau yang mana risss”, jawab david “Yang bebean aja”. Jawab ku “Yaudah iya yang itu aja pakde, tapi kapan ya pakde kira kira jadinya?”, tanya faris “Ya secepetnya mas, mumpung lagi sepi pesenan”, jawab pakde “Yaudah pakde itu aja, kabarin ya pakde kalau sudah jadi”, jawab dadiq “Iya mas siap!!!”, jawab pakde
Singkat cerita mas faris pun dichat sama pakdenya katanya layangannya udah jadi, lalu aku dan teman teman bergegas kesana ke tempat pakdenya. Singkat cerita aku dan teman teman udah sampai ke paadangan dan mengambil layangan tersebut
“Jadi berapa pakde layangannya”, tanya faris “Totalnya 200k mas kualitas premiun dan bahan impor dari plastik pilihan”, jawab pakde “Ini pakde uangnya, yaudah layangnya tak bawa ya pakde”, jawab faris “Iya mas ati ati di jalan”, jawab pakde “Iya pakde monggo”, jawabku bersama faris dan daviq
Lalu aku dan teman teman pulang sambil melihat glagat faris yang begitu senang dan pada sore hari langsung diterbangkan, dan kita bisa bermain layangan bersam sama lagi
Tamat
Cerpen Karangan: Aditya Blog / Facebook: aditya riski