Cinta itu tak pernah gagal untuk saling bersatu. Sejatinya, pengingkaran-pengingkaran kecil pada kenyataan, takkan bisa menyurutkan sebuah takdir.." ****
Jerman, 1960.
Seorang gadis muda menatap nanar pada jalanan di hadapannya. Permukaannya dipenuhi debu-debu tebal seperti bekas letusan gunung berapi, tapi sayangnya bukan itu penyebabnya. Masa perang. Semua akibat perang tak berperikemanusiaan yang kini hampir berakhir, ya masih hampir karena belum ada kejelasan kapan perang antara Jerman, Perancis, Amerika dan Inggris ini berakhir.
Matanya menyipit saat hembusan angin yang membawa serpihan-serpihan debu menelusup ke sklera matanya. Memaksanya memalingkan wajah dari sosok jangkung yang kian menjauh. Ke arah barat. Membawa luka, membawa cinta yang belum sempat dibalas oleh si gadis.
Dorr! Dorr!!
Letupan senjata api yang datang bertubi-tubi di kejauhan itu membuat siapa pun terlonjak, termasuk si gadis. Tentara Rusia sepertinya mengadakan patroli untuk mencegah migrasi besar-besaran–yang sebenarnya sulit dicegah mengingat kondisi ekonomi yang semakin memburuk–dari wilayah timur. Dilihatnya sosok itu sudah semakin menjauh bersama punggung-punggung lain.
“Selamat tinggal, Getwalds,” lirihnya sebelum berbalik lari dari tempat itu. Menahan sekuat tenaga air mata yang hendak menerobos kelopak matanya.
---------
Inggris, 1962.
“Berhenti memandangi foto itu, Bertram!” Suara rendah milik seorang wanita muda bertubuh sedikit tambun itu mengejutkan seorang pemuda dari kegiatannya. “Dia takkan bisa kita lihat lagi,” lanjutnya, “biarkan dia menjadi masa lalumu.” Wanita itu meneruskan kembali jalannya ke arah ruang tamu.
Pemuda yang dipanggil Bertram itu kembali menatap ke foto sekilas sebelum ia bersiap pergi dari perpustakaan rumahnya. Sejenak dipandangnya ruang itu; dindingnya dari kayu mahoni coklat, rak-rak buku sewarna yang dijajar rapi, lalu foto itu, di atas sebuah meja kecil yang menghadap kursi kayu berbusa yang baru didudukinya. Ia kemudian menutup pintunya, pergi.
“Aku pasti bertemu dengannya, Jennice.” Langkahnya mantap menuju pintu depan.
“Tidak. Tidak akan kubiarkan kau kembali ke tempat terkutuk di mana seluruh keluarga kita terbunuh!” raung Jennice.
“Kau bukan ibuku, Jennice! Kita ini yatim piatu dan aku sudah dewasa!” Sekejap mata, Bertram keluar dari rumahnya. Rumah peninggalan kakek neneknya yang kemudian jatuh ke tangan ayahnya, yang merupakan anak tunggal. Seseorang yang berjuang di medan perang. Entah masih bernyawa atau tidak.
Udara di luar begitu dingin. Langit sedikit mendung dan terselimuti kabut-kabut dari asap yang dihasilkan pabrik-pabrik di London. Siapa sangka, kota ini sudah semakin maju setelah bertahun-tahun Bertram dan keluarganya pindah ke Jerman.
Jerman.
Kilatan ingatan memenuhi kepala Bertram. Sudah hampir dua tahun. Dua tahun yang begitu menyiksa. Apakah pujaannya masih bertahan di sana? Tak ada satu pun yang mampu memastikannya.
-----------
Jerman, 1960.
“Kau yakin akan pergi?” Gadis bermata biru itu mengulang pertanyaan yang lima menit lalu telah ia lontarkan. Pertanyaan dengan berbagai harapan tertuang di dalamnya.
“Aku tak punya pilihan, Greta.”
Ia menatap lawan bicaranya, seorang pemuda yang selalu bersamanya sejak kecil dengan wajah lesu. Wajahnya si pemuda yang tampan juga tampak begitu tersiksa. “Maafkan aku, Greta. Aku ingin kau ikut denganku, kumohon?” bujuknya penuh permohonan.
“Tidak, aku tidak bisa. Bagaimana dengan nenekku jika aku ikut denganmu?”
“Kita bisa mengajaknya, Greta.”
“Tidak, Bert. Dia tak bisa berjalan. Bagaimana aku bisa membawanya pergi dari sini?”
Hening. Mereka sama sekali tak punya jawaban untuk itu. Tubuhnya sama-sama kurus. Tak mungkin untuk menggendong seorang perempuan tua yang fisiknya sudah lemah, apalagi dengan berlari demi berpacu bersama desingan peluru-peluru yang bisa saja menghadang jalan keluar ini.
“Tuhan, kuharap aku tak pernah hidup sekarang!”
Gadis itu menahan air mata yang akan jatuh dari sudut-sudut matanya. Menekan luka yang timbul karena perpisahan yang tak bisa mereka hindari. Matanya kemudian tertuju pada debu jalanan.
“Aku benci perang ini!”
“Aku juga, Bert.”
“Aku mencintaimu, Greta.”
Tiba-tiba pemuda itu berdiri begitu saja dan berlari. Gadis bernama Greta itu ikut berdiri, tapi belum sempat ia mengatakan isi hatinya pada pemuda itu, mereka sudah berpisah. “Aku juga mencintaimu, Bertram,” pekiknya dalam hati, disusul desingan peluru yang memekak telinga.
Kau telah pergi, Bertram.
--
Inggris, 1962.
“Sejak dibangunnya Berliner Mauer yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur tahun 1961, bangunan bak ular raksasa itu telah menelan jutaan nyawa penduduknya sendiri.”
Mata pemuda itu terpaku pada tulisan dari surat kabar yang dipegangnya. Hatinya riuh oleh rasa sakit akan kerinduan dan penyesalan. “Bagaimana kabarmu, Greta?” bisiknya parau.
“Apa yang sedang kau lakukan?” Tiba-tiba suara berat di belakang pemuda itu membuatnya mendongak.
“Hanya membaca koran, Harold.” Perhatiannya kembali pada berita yang menyuguhkan kondisi Jerman yang dilanda krisis ekonomi dan pembunuhan rakyat sipil besar-besaran sejak dibangunnya Tembok Berlin. Tembok yang memperkuat perpisahannya dengan Greta. Tembok yang menjadi saksi terakhir kebersamaan mereka sebelum semuanya menghilangnya ditelan waktu dan jarak.
“Lagi-lagi koran. Apa yang kau harap dari sebuah koran, Bert? Kau menunggu kabar seseorang muncul di koran?” Pemuda bernama Harold itu menaikkan alisnya penuh keingintahuan. Tangannya mengambil sebuah kamera mengkilap dari meja sepupunya itu.
“Ini Voigtlander Vitomatic milikmu?”
Bertram diam saja tak menghiraukannya. Pikirannya sibuk melanglang buana ke negeri yang telah ditinggalkannya bersama kenangan dan harapannya yang sirna.
Dukk!
Sebuah kertas yang diremas-remas menjadi bola meluncur tepat di atas kepala Bertram, membuat pemuda itu mengalihkan perhatiannya dari koran itu. “Iya. Sekarang kau puas dengan jawabanku?! Ambil saja, aku tak membutuhkannya.”
“ Baiklah, terima kasih. Dan itu, berita tentang siapa, huh? Biar kutebak. Ehmm… gadis di foto itu, bukan? Gadis Jerman-mu, Getswald?”
Bertram mendengus mendengar ucapan Harold yang terdengar seperti cemoohan. Harold mengangkat kedua tangannya seolah-olah menyerah, “Baiklah, itu urusanmu. Aku hanya sepupumu dan tak berhak menghakimi cintamu. Oke?”
--
Jerman, awal tahun 1990.
Seorang perempuan cantik keluar dari kamarnya. Peluh menetes dari dahinya yang tertutup sebagian rambut coklat khasnya. “Akhirnya, selesai juga,” katanya sambil mengedarkan pandang ke seluruh penjuru dinding rumah. Warna biru muda sudah menempel di dindingnya yang sejak belasan tahun lalu sudah tampak kusam. Ia sendiri yang mengecatnya seharian.
Dilangkahkan kaki jenjangnya mendekati perapian kayu. Di atas dindingnya tergantung foto-foto keluarga. Ayah, Ibu, Nenek, Kakek dan Adiknya. Mereka semua sudah tiada sejak dua puluh tahun yang lalu. Neneknya yang sakit-sakitan adalah seseorang yang terakhir menemaninya di rumah ini, sebelum akhirnya ia meninggal saat berumur tujuh puluh tahun sementara cucu perempuannya itu baru menginjak enam belas tahun. Tepat seminggu setelah pemuda bernama Bertram pergi dari sana. Selamanya.
Ingatan tentang Bertram tiba-tiba menohok hati perempuan itu. Membuka kembali luka lama hampir tiga puluh tahun lalu yang sudah dibalut rapat-rapat dengan kepasrahan. Ia sudah berjanji akan merelakan kepergian pemudanya itu tepat di hari kematian sang nenek. Takkan ada tangisan kerinduan. Takkan ada pula kegilaan yang membuat ia menanggung akibatnya sendirian.
“Bertram…” Tangannya meraih salah satu pigura yang membingkai sebuah foto dua orang anak remaja, mengelusnya pelan. Fotonya dan Bertram. Menggantung pada dinding di atas perapian dengan coretan nama, ‘Greta dan Bertram’.
Ting tong!!
Suara bel pintu mengejutkan dirinya. Bergegas, ia beranjak pergi sembari memastikan kesopanan pakaian yang dikenakannya.
“Hai, Sayang,” sapa seorang pria yang berdiri di depan pintu dengan senyuman tersungging di wajahnya yang tampan.
“Hai, masuklah.”
Pria itu terkejut begitu masuk ke dalam rumah, “Kau yang melakukannya?”
Greta mengangguk. Tersenyum senang karena membuatnya terkejut. “Bagaimana menurutmu? Aku sudah memesan cat ini sejak beberapa tahun lalu, mungkin belasan tahun dan baru sekarang aku benar-benar mendapatkannya.”
“Seharusnya kau benar-benar ikut denganku beberapa tahun yang lalu untuk pergi dari tempat ini, Sayang. Kau mungkin tidak perlu menunggu selama itu hanya untuk cat sialan ini!”
“Well, inilah Jerman.”
---------
Inggris, 1987.
“Apa kau benar-benar akan menjadi reporter perang? Tidakkah kau ingat sakitmu?!” Suara Bertram yang berat menggema di pelosok ruangan yang sebagian sisinya gelap tak tersinari mentari. Ia duduk di sudut ruang yang berseberangan dengan tempat sepupunya berdiri.
“Tentu aku ingat. Tapi kenapa tidak? Kau tahu ini menantang, Sepupu! Well, kamera yang kau berikan dulu sangat berguna untukku, yah, meskipun sudah cukup tua sekarang.” Itu Harold.
Kedua tangannya sibuk mengepak barang-barang yang akan ia bawa ke medan perang. “Kau berminat ikut?” tanyanya.
“Tidak!” Spontan Bertram menjawab sambil mengerutkan kedua alisnya, “Aku sudah bersumpah takkan mendekati tempat neraka itu.”
“Hentikan omong kosongmu, Bert! Ini bukan perang seperti beberapa tahun lalu.”
“Tidak. Perang tetaplah perang bagiku. Dulu atau sekarang takkan ada bedanya.”
“Kehilangan cinta karena perang bukan berarti kau harus begitu membenci segala sesuatunya, Sepupu. Ini sudah berakhir.”
Hari itu adalah hari terakhir kedua pria itu saling bercakap-cakap. Tanpa sepengetahuan Bertram, Harold pergi ke medan perang adalah demi melarikan diri dari tuntutan ayahnya yang akan menikahkan dirinya dengan gadis lokal yang tidak dicintainya.
“Ingatkan aku untuk memperkenalkan istriku padamu,” ujar Harold begitu ia dan Bertram sampai di depan pintu kamar.
“Siapa yang akan menjadi istrimu di umurmu yang sudah setua ini, bodoh!”
“Entahlah, lagipula kau juga sama lajangnya denganku. Jadi jangan menghinaku, Bert.”
Bertram terdiam. Sudah lebih dari tiga puluh tahun lamanya ia tak berpindah hati dari cinta lamanya, Greta. Mungkin wanita itu sudah menikah sekarang dan memiliki anak-anak di Jerman, pikirnya.
“Kau masih memegang teguh prinsip cinta sejatimu, huh?” ejek Harold.
“Aku percaya bahwa aku tercipta untuknya.” Bertram benar-benar mengamini apa yang baru saja diucapkannya sendiri.
Jerman.
Negara dengan dua kehidupan berbeda itulah yang menjadi tujuan Harold untuk melarikan diri. Ia sendiri tak punya alasan pasti mengapa ia memilih Jerman, tapi sesuatu mendorongnya untuk tetap bersikukuh ke negara yang dikuasai dua pihak berlawanan itu.
----------
Jerman, 1990.
“Greta, haruskah kukatakan padamu seribu kali bahwa aku benar-benar mencintaimu dan berharap kau menikah denganku?”
Greta berbalik. Matanya bersitumbuk dengan pria di hadapannya itu. Pria yang dikenalnya beberapa tahun yang lalu di depan gedung tua dan bobrok yang terletak sudut kota yang sepi ini.
“Kau tak pernah ingin menikah, ya?”
Pertanyaan itu membuat Greta teringat dengan Bertram. Ya, Bertram. Cinta pertama sekaligus cintanya hingga detik ini. Bahkan jarak dan waktu yang telah memisahkan dunia mereka terasa lebur di hadapan hati kecilnya. Ia masih merasa sulit untuk menerima kehadiran cinta yang lain. Greta begitu mencintainya. Bahkan jika kemungkinan besar ia sudah memiliki pasangannya sendiri di London.
“Sayang, umur kita hampir mendekati pertengahan abad. Apa kau tak mencintaiku? Atau kau ingin aku mengorbankan nyawaku sebagai bukti ketulusannya?”
Segera saja Greta menggelengkan kepalanya. Andai saja ia mampu berlaku jujur, ia jelas akan mengatakan pada pria itu siapa pemilik hatinya. Seseorang yang tak pernah lagi ditemuinya sejak tiga puluh tahun yang lalu. Namun hati nurani Greta tak bisa mengutarakannya begitu saja pada pria ini. Ia telah bersikap begitu baik.
“Tentu saja, kita akan menikah,” kata Greta akhirnya dengan senyum dipaksakan.
Perayaan pernikahan sederhana. Hanya ada Greta, pasangannya dan perangkat pernikahan seperti pendeta dan sebagainya di gereja itu. Mereka sama-sama sebatang kara–setidaknya itu yang dikatakan pria itu pada Greta. Pernikahan ini adalah bentuk penyatuan dari kesendirian mereka yang sebetulnya tidak pernah terpikirkan di benak Greta, bahkan dalam keinginan terdalamnya. Pernikahan impiannya hanya dengan Bertram.
Ia menangis saat itu. Bukan keharuan yang dirasakan. Bukan juga bahagia karena telah memiliki pasangan hidup.
Tidak! Bukan dia!
Pria itu tersenyum lembut. Matanya yang jernih seolah mengatakan ‘aku bahagia bersamamu’. Berusaha keras Greta tersenyum, seakan-akan merasakan kebahagiaan yang sama, namun tak kunjung terlintas di benaknya.
Apakah aku telah mengkhianati cinta Bertram?
Bagaimana kabarmu, Bertram?
----------
Jerman, 1992.
Perempuan itu menangis tersedu di sudut lorong rumah sakit. Ia bingung mencari sandaran untuk menangis. Suaminya tengah terbaring kesakitan di salah satu ruangan di tempat itu. Tubuhnya ringkih termakan kanker otak yang selama ini telah ia sembunyikan dari Greta.
Tuhan, mengapa kau harus mengambil orang-orang yang dekat denganku? Apakah ini hukuman karena aku tak jujur pada suamiku tentang cinta ini?
Ia masih sedikit terisak saat disadarinya seorang dokter sudah berdiri di hadapannya. Wajahnya penuh kecemasan. “Maafkan kami, Nyonya. Tuan Drenson tidak bisa kami selamatkan.”
Tangis Greta pecah kembali. Dokter itu memegang kedua pundaknya yang meluruh. Menguatkan. “Saya memiliki sesuatu yang menjadi pesan terakhir Tuan Drenson, Nyonya.”
Dokter itu mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan angka dan pesan singkat untuk menghubungi nomor itu. Setelah menyerahkannya, dokter itu meninggalkan Greta sendirian di sana. Dalam kesedihan yang mendalam.
Ia bahkan belum memiliki calon janin di dalam rahimnya, seseorang yang mungkin menemani di usia tuanya kelak, saat ia sendirian.
----------
Terburu-buru kaki besar itu dilangkahkannya menuju tempat yang disebutkan si penelepon misterius itu. Ia melanggar apa pun yang pernah ia sumpahkan pada dirinya sendiri untuk tidak kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya ini. Napasnya terengah-engah karena di umurnya yang tak muda lagi, ia harus berjalan membakar energinya. Memproduksi peluh di sekujur pori-porinya.
Jeblarr!
Pintu itu terbuka. Di sana, seorang wanita tengah memeluk tubuh sepupunya. Harold Drenson. Sepupu yang tiga tahun silam pergi ke medan perang dan tak kunjung kembali, pun memberi kabar setelah kepergiannya. Sekarang, pria itu sudah terbujur kaku tak bernyawa di salah satu ruang rumah sakit di Jerman. Kanker yang berpuluh-puluh tahun dideritanya, pada akhirnya harus membuatnya mengakhiri hidup di usianya yang menginjak empat puluh sembilan tahun.
“Harold…” Suara itu membuat perempuan yang sedari tadi menangis di samping Harold berbalik.
“Bertram….” Samar-samar perempuan itu mengamati wajah seorang pria yang berdiri di dekat pintu. Air mata membuatnya sedikit kesulitan untuk melihat dengan jelas. “Bertram Getswald?”
Sedetik kemudian mereka saling membeku. Mengamati lekat-lekat siapa lawan bicara mereka. “Greta… Benarkah itu kau?”
Jawaban itulah yang menyadarkan Greta, bahwa orang yang berdiri di hadapannya adalah Bertram. Cintanya yang pergi, cintanya yang menghilang.
---------
Sekeras apapun kau berjuang untuk melawan takdir, saat Tuhan menghendaki, kau takkan mampu berbuat apapun. Saat Tuhan berkata ‘dialah takdirmu’, maka itulah yang akan terjadi.
Sepasang mata biru menatap punggung di depannya. Ia berair dan terasa panas saat melihat kalender yang tergantung tak jauh dari tempat punggung itu berdiri. Agustus 1996.
“Bertram.” Selembut panggilan itu, tubuh gagah seorang pria di hadapannya pun berbalik.
“Kau kenapa, Greta sayang? Ini hari jadi keempat pernikahan kita. Kenapa kau menangis?” Pria itu tampak sedikit panik.
Kedua lengan Bertram memeluk tubuh Greta yang menua ditelan waktu.
“Aku mencintaimu, Greta.”
“Kau tahu, aku juga mencintaimu. Jangan pernah pergi lagi.”
“Tidak, sayang. Aku akan di sini, bersamamu, menghabiskan waktu. Di tempat kita bertemu untuk pertama kalinya… aku di sini, untukmu.”
--