Praaank... Suara pot jatuh dari lantai dua. Disusul dengan suara jeritan wanita yang mengaduh kesakitan. Rasa penasaranku yang sudah tidak bisa dibendung, membuatku menengadahkan kepala melihat ke arah sumber suara. Seperti adegan di dalam sebuah film, terlihat seorang pria dengan postur tinggi besar sedang mencekik wanita tadi. Tidak terlihat jelas karena tidak ada nyala lampu di sana. Hanya ada sedikit sorot lampu dari bangunan sebelah yang menerangi. Belum sempat aku mencari pertolongan. Bulu kudukku dibuat merinding kala pria itu menatap ke arahku. Tubuhku bergetar, aku merasa takut. Ingin rasanya ku berlari tapi mendadak kakiku kaku. Bahkan, untuk berteriak saja aku tidak mampu.
Terpaksa aku pulang malam karena menggantikan shift teman kerjaku yang harus menjaga ibunya di rumah sakit. Bukannya terpaksa karena aku tidak punya hati nurani. Tapi yang membuatku tidak mau pulang malam adalah aku harus melewati gang codet untuk sampai ke rumahku. Sebuah gang yang dikenal sebagai sarang penjahat. Entah itu mafia atau penjahat jalanan. Melewati gang kumuh ini memang jalan satu-satunya. Karena rumahku berada di sudut gang ini. Jalan begitu sepi, ditambah dengan minimnya pencahayaan membuat suasana semakin mencekam. Perasaanku sudah terasa tidak enak sejak memasuki gang ini. Dan semua akhirnya terjawab. Ternyata instingku kuat. Aku melihat dengan mata kepalaku, pria itu membunuh wanita tadi dengan sekali tusukan. Inginku berteriak tapi aku tak sanggup. Kupaksa kakiku untuk melangkah. Aku berusaha berlari dengan kaki terseok-seok untuk menyelamatkan diri.
"Tuhan... tolong selamatkan aku. Aku berjanji akan menerima semua takdirmu." Pekikku dalam hati.
Tanpa aku sadari pria itu sudah berada di belakangnya. Dan jreepp pisau itu sudah menancap di punggungku.
°°°
Aku tersentak terbangun dari tidurku. Segera aku meraih punggungku. Syukurlah tidak ada luka sedikitpun di sana. Tapi anehnya, semua itu terasa nyata. Benar-benar nyata bahkan punggungku masih terasa ngilu. Setelah berfikir cukup lama aku baru menyadari, jika aku sekarang tidak sedang berada di kamarku. Berbanding jauh, biasanya aku tidur diranjangku yang terbuat dari besi bekas. Dan sekarang ranjangnya saja berbalut emas. Belum furniture yang lainnya yang benar-benar terlihat mewah. Berkali-kali aku menampar pipiku. Memastikan apakah semua ini hanya mimpi.
"Sebenarnya mimpiku yang mana??"
Aku dibuat terkejut saat pintu yang berada lurus di hadapanku terbuka. Ada dua wanita yang masuk dengan penampilan yang aneh menurutku. Rambutnya dikepang ke belakang dengan pita besar terikat dikepalanya layaknya sebuah bando. Bukan itu yang aneh bagiku, tapi baju yang dipakainya. Sebuah gaun panjang mirip dengan baju maid di eropa yang pernah ku lihat di film.
"Nona Adel, Tuan besar meminta nona untuk memakai gaun ini."
"Adel??"
"Iya nona, lebih baik nona segera bersiap-siap sebelum tuan besar murka."
"Haa? Tuan besar?"
"Ayolah nona cepat. Nanti kami juga akan terkena amarah tuan besar."
Aku masih bingung dengan apa yang sedang terjadi. Dan kenapa mereka memanggilku dengan nama Adel. Lagi pula siapa juga yang mereka sebut Tuan besar. Dan kenapa tuan besar menungguku??? Aku sedang tidak bermain rumah-rumahan kan?? Menjadi tuan putri yang dinanti pangeran. Gila, sepertinya aku benar-benar gila.
"Nona berhenti memukuli kepala nona."
"Ah iya maaf."
Aku benar-benar diperlakukan layaknya tuan putri. Semua kebutuhanku disiapkan. Bahkan aku tidak boleh menyisir rambutku sendiri. Mereka melarang apapun itu yang inginku lakukan sendiri. Dan entah mengapa aku benar-benar menikmatinya.Tapi ada satu hal yang paling aku tidak suka. Aku tidak perlu dibantu saat mandi, itu benar-benar memalukan.
Aku membelalakkan mataku seperti tidak percaya saat melihat bayanganku sendiri di cermin. Kenapa aku bisa secantik ini?? Apakah ini benar-benar aku? Bukankah aku sering dipanggil cupu saat sekolah maupun saat bekerja. Memang penampilanku sehari-hari bisa dikatakan biasa. Menguncir rambut ke belakang dengan make up ala kadarnya sudah menjadi tampilanku sehari-hari. Disamping sayang jika uangnya untuk hal-hal yang kurasa kurang perlu. Aku juga merasa kurang percaya diri dengan penampilan make up yang tebal seperti yang lainnya. Aku lebih percaya diri dengan diriku sendiri.
Brakk..Suara pintu terbuka dengan keras. Membuatku tersadar dari lamunan. Pandanganku tercuri oleh sesosok pria yang melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar. Tubuhnya tinggi tegap, terlihat jelas otot-otot tubuhnya meskipun tertutup baju yang mirip jubah itu. Apalagi wajahnya, rahang yang tegas, garis hidung yang lurus dan matanya yang indah seperti elang. Semua terlihat sempurna. Baru kali ini aku melihat mahakarya Tuhan sejelas ini.
"Wah maha karya apa ini?? Apakah aku bermimpi??"
Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tanganku. Dua pelayan yang berada di sisi kiri dan kananku melangkah mundur perlahan sambil menahan tawa karena mendengar ucapanku tadi.
Pria itu berjalan mendekat ke arahku. Aku terkejut saat pria itu tiba-tiba mencium bibirku. Aku berusaha keras untuk melepas, karena lengannya yang besar itu sudah mencengkeram tubuhku kuat-kuat. Membuatku tidak bisa melakukan apa-apa. Spontan aku terbatuk-batuk saat dia melepas ciumannya. Aku kehabisan nafas. Pasokan udara di paru-paruku habis. Dan dia hanya terkekeh saat melihatku.
"Itu hukuman untukmu karena sudah membuatku menunggu." Tangannya memegang daguku lalu menengadahkan wajahku lurus dengan wajahnya.
"Itu saja hukumanmu saat ini. Karena kamu hari ini terlihat sangat cantik aku akan meringankan hukumannya."
Ingin rasanya aku marah. Memakinya dan melayangkan tinju ke wajahnya. Dia sudah bersikap kurang ajar kepadaku. Menciumku seenaknya. Aku memang jelek tapi aku punya harga diri. Namun apalah daya, tatapannya benar-benar menyihir. Entah mantra apa yang dibacanya hingga aku benar-benar dibuat tunduk olehnya.
"Apa?? Kau tersenyum padaku Queen?"
Apalagi ini? Kenapa dia memanggilku Queen. Aku mengernyitkan dahi kebingungan. Dan lagi kenapa dia bisa sesenang itu saat melihatku tersenyum. Apakah ada yang aneh dengan senyumku? Perasaan aku tersenyum seperti biasa.
"Aku ingin kau mengulanginya."
"Ha?"
"Aku ingin melihatmu tersenyum lagi atau...."
Tanpa bisa menolak akhirnya aku mengembangkan bibirku perlahan. Sangat berat tapi apa boleh buat. Sampai pada akhirnya bibirku melengkung sempurna membentuk sebuah senyuman. Melihatku tersenyum membuatnya terlihat puas. Bahkan dia memintaku mengulangnya beberapa kali hingga bibirku kaku, senyum yang tadinya sedikit tulus sekarang sudah berubah menjadi tidak ada lagi ketulusan sedikitpun.
Kapan semua ini akan berakhir, aku sangat lapar. Tapi kenapa pria ini terus menerus menyuruhku untuk tersenyum. Sepertinya dia layak untuk dites tingkat kewarasannya. Dan dia juga sangat layak untuk dinobatkan sebagai maniak senyum.
Kruyuuuk....
"Mas?..eh Tuan apakah aku bisa mendapatkan makanan?"
Lagi-lagi pria itu hanya tergelak. Tanpa menjawab pertanyaanku dia langsung menarik tanganku. Ternyata dia mengajakku ke makan. Terlalu besar untuk dijadikan ruang makan. Dan untuk kedua kalinya aku dibuat terperangah. Sekarang aku sudah duduk menghadap ke meja makan berukuran besar berbentuk oval. Dengan berbagai menu makanan terhidang di atasnya. Dilihat dari banyaknya hidangan. Awalnya aku berpikir akan ada acara makan keluarga. Tapi setelah beberapa saat, tidak ada seseorangpun yang datang. Hanya ada aku dan pria yang disebut Tuan besar itu dan beberapa pelayannya saja.
Aku mulai meneguk air liur yang sudah membanjiri mulutku. Bagaimana tidak? melihat begitu banyak hidangan yang teelihat lezat dengan keadaan perut kosong. Membuat otakku tidak berjalan dengan normal. Ayam dihadapanku terlihat seperti sedang menari-nari merayu minta dimakan, begitu juga dengan udang, lobster, sayur dan makanan lainnya. Tanpa fikir panjang akupun langsung menangkap paha ayam yang melayang ke arahku. Hap...
"Queen..apa kau baik-baik saja??"
"Ah...iya aku baik-baik saja." Jawabku terkejut.
Aku menenggelamkan wajahku kedalam kedua telapak tanganku. Rasa malu terasa di sekujur tubuhku. Wajahku terasa panas. Aku tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajahku. Sampai-sampai aku tidak berani mengangkat wajahku.
"Queen apa kau baik-baik saja?" Dia mengulangi pertanyaannya lalu berjalan ke arahku. Akupun mengangkat wajahku perlahan.
"Tuan, bolehkah aku menikmati hidangan ini di kamar?"
"Apa kamu sedang tidak enak badan?" Tanyanya dengan nada panik.
"Tidak, hanya saja aku ingin menikmatinya di sana."
"Baiklah kalau begitu, aku juga akan menikmatinya di sana."
Tanpa diberikan perintah para pelayan dengan sigap segera memindahkan makanan dari ruang makan ke kamar.
"Aduh aku sudah tidak tahan lagi." Ucapku lirih.
Nyuuut.. tiba-tiba kepalaku terasa sakit, penglihatanku kabur, semua terlihat berputar. Kakiku terasa lemas bahkan untuk menyangga tubuhku sendiri saja tidak kuat. Aku mencoba menggapai apapun sebagai pegangan. Tapi terlambat kakiku sudah tidak kuat menahannya lagi. Kini aku bisa melihat langit-langit dengan lampu krystal yang indah dan perlahan semua terlihat gelap.
°°°
Terdengar samar-samar seseorang memanggil namaku. Suaranya terdengar tidak asing. Suara berat dan serak yang biasa membangunkanku saat pagi. Iya, ini adalah suara ayah. Aku membuka mataku perlahan, mengerjapkan beberapa kali mencoba beradaptasi dengan pencahayaan di sana. Yang terlihat hanya ruangan serba putih dengan aroma desinfektan yang menusuk hidung. Aku mengalihkan pandangan ke arah kanan. Tengah berdiri seorang pria yang tidak asing bagiku. Tapi kali ini berbeda, dia terlihat sangat normal. Memakai kemeja biru langit dengan model rambut undercut yang tengah populer sekarang ini.
"Tuan.." Reflek bibirku saat aku melihatnya.
"Syukurlah, mbak sudah siuman. Tadi, saya menemukan mbak tergeletak tak sadarkan diri di gang codet."
"Iya untung ada nak Nathan yang menolongmu." Sahut ayah Nai.
"Ayah aku sedang tidak bermimpikan?" Nai bertanya dengan wajah bingung.
"Mata ayah tidak akan sembab jika ini hanya mimpi Nai."
Aku kembali mengarahkan pandanganku ke langit-langit. Jujur aku masih bingung untuk membedakan mana dunia nyata dan mana dunia mimpi, semua terasa nyata. Kejadian penusukan, Aku berada di mansion dengan pria tampan dan sekarang aku tergeletak di rumah sakit. Dan lagi kenapa Pria tampan yang mirip dengan tuan besar itu bisa ada di sini? Aku bisa gila dibuatnya.
Terserah ini dunia nyata atau bukan. Yang pasti terima kasih Tuhan, engkau telah memberiku kesempatan dan inilah takdir yang engkau berikan. Tanpa pertolongan-Mu pasti aku tidak akan bisa melihat ayahku lagi.
Aku kembali teringat dengan pria di sampingku tadi. Aku melirikkan bola mataku ke arahnya mencuri pandang. Ternyata dia menyadari itu dan membalasku dengan senyuman. Senyuman manis itu menyerang jantungku. Jantungku berdetak cepat tidak karuan. Aku menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkan dari mulut mencoba meredam. Tak lupa aku bersyukur karena Tuhan telah mengizinkanku melihat maha karya-Nya dengan nyata.