Genre : Fantasi, Horor, Thriller
Aku tersenyum senang tatkala melihat gadis kecil berusia 7 tahun itu menatapku ceria. Namanya adalah Violet. Dia adalah anak yang diadopsi oleh tetanggaku beberapa bulan yang lalu. Kudengar, dia sama sekali tak bisa bicara alias bisu. Pendengarannya pun tak begitu jelas. Malang sekali, padahal aku sangat penasaran dengan suaranya.
Itulah sebabnya一setiap aku menyiram bunga-bunga depan rumahku di pagi hari, Violet hanya bisa tersenyum tanpa bisa menyapaku. Begitupun dengan aku yang bingung harus menyapanya seperti apa selain kata "Halo". Selain itu, hal yang membuat aku sangat tertarik pada Violet adalah senyumannya yang terlihat ceria dan kebiasaannya yang senang memotret memakai kamera instan. Buktinya, kini ia tak berhenti memotret bunga-bunga yang sedang ku siram. Sepertinya memotret foto adalah kegemarannya, jadi kubiarkan saja dia memotret sesuka hatinya. Toh, aku tak dirugikan juga kok.
"Selamat pagi, Jessica," sapa ramah tetanggaku yang tak lain adalah Mamah angkat Violet. Ia baru saja keluar dari dalam rumahnya.
Aku tersenyum manis lalu menjawab, "Selamat pagi juga, Tante Rose."
"Wah, kau ini rajin sekali ya. Setiap pagi menyiram tanaman bunga milik Jeremy. Padahal Kakakmu itu tak pernah menyiram tanamannya sama sekali," kata Tante Rose seraya memperhatikan aku yang masih terus menyiram tanaman milik Kakakku menggunakan semprotan tanaman.
"Kak Jeremy hanya membeli bunga-bunga ini saja, Tante. Dia tak pernah mau merawatnya. Kebetulan aku juga suka bunga sih, jadi tak apa. Biar aku saja yang merawatnya hehehe."
Tante Rose tersenyum simpul mendengar jawabanku. Detik selanjutnya, ia menarik tangan Violet一anak angkatnya itu一agar mendekat padanya.
"Violet, kamera instanmu jangan terus-menerus dipakai. Bisa rusak lho kalau kau terus memotret tanpa jeda," ujar Tante Rose memperingati Violet sambil mencubit pelan pipi anak angkatnya itu.
Violet tersenyum riang. Bukannya menuruti ucapan Tante Rose, dia malah kembali memotret bunga-bunga yang sedang kusiram. Karena kamera yang ia pakai adalah kamera instan, jadi hasil fotonya langsung keluar begitu saja dalam beberapa detik.
"Kau ini ya, nakal!" seru Tante Rose tertawa sambil mengangkat tubuh kecil Violet lalu menggendongnya.
"Tuh, Violet. Kau harus dengar apa kata Mamahmu, ya," tambahku ikut tertawa.
Violet yang berada dalam gendongan Tante Rose langsung menatapku lama. Membuatku cukup bingung karena tatapannya berbeda dengan tatapan yang sebelumnya ia tampakkan padaku.
Saat sedang terheran-heran seperti itu, tiba-tiba Violet memberikan hasil jepretan kamera instannya padaku. Aku pun langsung menerima foto tersebut tanpa ragu.
"Ya sudah, kalau begitu, Tante dan Violet masuk ke dalam rumah dulu, ya. Soalnya Violet belum sarapan," jelas Tante Rose lalu dibalas anggukan mengerti olehku.
"Silahkan, Tante," balasku mempersilahkan sambil tersenyum manis.
Tante Rose pun berjalan pergi meninggalkanku一masuk ke dalam rumahnya yang benar-benar persis di samping rumahku. Sebelum masuk ke dalam rumahnya, hal terakhir yang ku lihat adalah Tante Rose tertawa sambil menciumi pipi putih Violet. Ah, dia terlihat benar-benar menyayangi Violet. Dan Violet beruntung mempunyai Mamah angkat seperti Tante Rose.
Aku kembali melanjutkan menyiram bunga yang belum selesai kukerjakan. Sambil menyiram, tanpa sadar pandangan mataku kini teralihkan pada hasil foto yang dijepret oleh Violet menggunakan kamera instannya tadi.
DEG!!!
Aku membelalakkan mataku kaget. Di dalam foto tersebut, terlihat tanganku yang tertangkap kamera sedang menyiram bunga. Namun, yang aneh adalah一ada kupu-kupu berwarna biru yang hinggap di tanganku. Aneh. Ini benar-benar aneh. Jelas-jelas tak ada kupu-kupu yang hinggap ditanganku tadi. Tapi kenapa hasil foto Violet seperti ini?
Rasa kagetku kian bertambah sekarang. Hingga sukses membuat jantungku terasa berhenti beberapa detik. Seekor kupu-kupu biru yang cantik hinggap di tanganku yang sedang memegang semprotan bunga. Mataku pun bergantian menatap kupu-kupu tersebut dan menatap foto yang diberikan Violet.
Ini...
Benar-benar persis dan sama seperti yang ada di foto.
Tunggu, tunggu, tunggu. Aku sebenarnya tak mengerti dengan hal aneh seperti ini. Apakah kamera instan milik Violet bisa mengetahui masa depan? Apakah hal yang difoto oleh kamera instan tersebut akan menunjukkan hasil yang berbeda dengan objek dan subjek aslinya? Ya, foto yang akan keluar dari kamera instan itu akan mengeluarkan hasil yang akan terjadi di masa depan.
Apakah benar begitu? Ah, aku benar-benar bingung.
*****
Malam ini, seperti biasa aku dan Kakak Laki-lakiku一Kak Jeremy一 makan malam bersama tanpa kedua orangtua kami. Ya, orangtua kami memang sibuk bekerja di Kantor hingga sering pulang larut malam. Sambil terus mengunyah, aku mencoba membuka pembicaraan dengan Kak Jeremy.
"Kak Jeremy, kakak percaya tidak dengan kamera yang bisa memotret masa depan?"
Kak Jeremy seketika tersedak makanan karena mendengar pertanyaanku. Dengan cepat ia mengambil gelas berisi air putih lalu meminumnya.
"Hah? Kamera yang bisa memotret masa depan?" Kak Jeremy bertanya dengan raut wajah heran.
"Iya. Jadi begini ceritanya. Kau tahu kan anak angkat tetangga kita, yang namanya Violet?"
"Iya, aku tahu. Ada apa dengannya?"
"Dia setiap hari sering memotret bunga-bunga milik Kakak yang sedang kusiram. Tapi, baru tadi pagi ia memberikan hasil jepretan fotonya padaku. Dan hasilnya benar-benar tak terduga," kataku seraya memberikan foto pada Kak Jeremy.
Kak Jeremy mengernyitkan dahinya sambil menatap foto tersebut, "Tak ada yang aneh, Jess. Ini hanya foto tanganmu saja yang sedang menyiram bunga milikku."
"Itu kau lihat dulu, Kak." Tanganku menunjuk kupu-kupu biru yang ada dalam foto tersebut, "Saat Violet sedang memotret ini, tak ada kupu-kupu yang hinggap di tanganku."
"Lalu?"
"Lalu, tak lama setelah aku memperhatikan foto tersebut, tiba-tiba ada yang hinggap di tanganku yang tak lain adalah kupu-kupu ini! Kupu-kupu yang hinggap ditanganku ini sangat persis dengan yang ada difoto, Kak! Bukankah itu artinya, kamera instan milik Violet bisa memotret masa depan? Kamera instan dia bisa memotret apa yang akan selanjutnya terjadi dengan objek yang ia foto?"
Kak Jeremy diam sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Terlihat sedang mencerna apa yang ku jelaskan tadi.
"Jessica, sepertinya kau harus banyak istirahat. Kebiasaanmu membaca novel dan komik fantasi membuatmu jadi aneh seperti ini," kata Kak Jeremy yang seketika membuatku kesal.
"Kak! Aku serius! Ini tak ada hubungannya dengan aku yang sering baca novel dan komik fantasi!" seruku tak terima.
"Ah, sudah, sudah. Daripada bicara yang aneh-aneh, sebaiknya kau tidur saja. Kakak juga mau tidur. Dah!"
Selesai berkata seperti itu, Kak Jeremy pergi meninggalkanku dengan rasa tak berdosa一pergi menuju kamarnya. Arrrghhh! Jika tahu begini, aku tak akan mau cerita padanya. Dia memang tak bisa diajak serius. Aku benar-benar kesal padanya.
"Aku akan membuktikannya malam ini bahwa kamera instan milik Violet bisa memotret masa depan!" batinku dalam hati dengan tekad yang kuat.
****
Jam menunjukkan angka 11 malam lewat 11 menit. Aku sedang berdiri di depan pintu rumah Tante Rose. Ya, aku benar-benar berniat untuk mengunjungi Violet dan memastikan apakah kamera instannya tersebut benar-benar bisa memotret masa depan atau tidak. Ah, tapi bagaimana caranya aku bisa bertemu Violet? Ini sudah sangat larut malam untuk anak kecil seusianya. Bagaimana kalau ternyata dia sudah tertidur dan aku mengganggu dirinya? Apakah Tante Rose juga akan ikut terganggu karenaku?
Ah, kalau bukan karena punya rasa penasaran yang tinggi, aku tak akan mungkin repot-repot memikirkan hal ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tipe orang yang tak akan bisa tidur dengan tenang jika ada sesuatu yang membuatku penasaran. Jadi, untuk membuat tidurku nyenyak malam ini, aku harus memastikan kamera instan Violet tersebut ajaib atau tidak.
Baru saja aku akan mengetuk pintu rumah Tante Rose, tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya. Menampakkan seorang gadis kecil berkepang dua yang memakai baju piyama berwarna pink. Ya, siapa lagi kalau bukan Violet?
Aku pun mencoba tersenyum ramah dan bersikap santai. Sedangkan ia menatapku dengan tatapan bingung. Mungkin ia bingung karena aku mengunjunginya malam-malam seperti ini.
"Violet, Mamahmu ada?" tanyaku memulai pembicaraan.
Violet menggeleng pelan.
"Hah? Mamahmu kemana?"
Violet menggigit bibir bawahnya. Ia terlihat tak nyaman dengan pertanyaanku. Ah, aku hampir saja lupa bahwa dia itu bisu! Ya ampun, aku benar-benar merasa bersalah tak sengaja sudah menyinggung dirinya.
"Maaf, Violet. Kakak sungguh minta maaf," ujarku lirih sambil mengusap kepalanya pelan.
Violet pun mengangguk sambil terus tersenyum. Syukurlah, ia tak marah dan bisa tersenyum ceria padaku seperti biasanya.
"Kak Jessica, aku boleh menceritakan sesuatu?"
DEG!!!
Usapan tanganku di kepala Violet terhenti seketika. Aku tersentak kaget sambil mengedip-ngedipkan mataku tak percaya. Eh? V-violet bisa bicara? Aku tak salah dengar, kan?
"Violet, ku kira kau tak bisa一"
"Bisa kok, Kak. Aku bisa bicara," ucapnya memotong ucapanku. Aku semakin kaget mendengar pengakuannya.
"Eh? Tapi kata Mamahmu, kau itu bisu dan pendengaranmu agak terganggu."
Violet menggeleng, "Mamah Rose berbohong pada semua orang. Dan menyuruhku untuk tak pernah berbicara apapun selain pada dirinya. Ini pertama kalinya aku berbicara pada orang lain, yaitu Kakak," jelas Violet yang membuat rasa kagetku bertambah.
"Apa-apaan maksud dari Tante Rose? Kenapa dia menyuruh Violet untuk pura-pura bisu? Dan kenapa Violet mau saja menuruti hal itu?" batinku kebingungan.
"Kak Jessica, apa aku boleh menceritakan sesuatu padamu?" tanya Violet membuyarkan lamunanku.
"S-silahkan, Violet. Kau mau cerita apa?"
"Sebenarnya, aku ini bukan diadopsi oleh Mamah Rose, Kak. Aku diculik olehnya saat aku terpisah dengan keluargaku di Taman hiburan," jelas Violet yang membuat rasa kagetku makin lama makin bertambah.
"Kakak bisa menolongku, tidak? Aku ingin pergi dari sini dan bertemu dengan keluargaku. Tapi, Mamah Rose bilang aku tak boleh kemana-mana."
Aku membungkukkan badanku lalu memeluk tubuh kecil Violet. Mencoba menenangkan gadis berusia 7 tahun itu. Ya ampun, tak kusangka Tante Rose tega berbuat seperti ini. Aku tahu Tante Rose itu tak punya suami dan tak punya anak. Tapi kenapa Tante Rose malah tega menculik gadis kecil seperti Violet? Apa itu tak keterlaluan namanya?
"Kakak akan membantumu, Violet. Tapi tidak sekarang. Mungkin besok Kakak akan membawamu kabur dari sini," ujarku sambil melepaskan pelukanku padanya.
"Terimakasih, Kak," balas Violet sambil tersenyum haru.
Aku mengangguk, lalu tersenyum hangat padanya, "Sama-sama, sayang. Oh iya, Kakak juga sebenarnya ada satu pertanyaan untukmu. Karena Kakak itu orangnya sangat penasaran, jadi kau harus jawab dengan jujur ya."
"Iya, Kak. Ada pertanyaan apa?"
"Kamera instanmu itu, apakah bisa memotret masa depan?"
Violet terlihat tertegun sebentar. Lalu detik selanjutnya, ia berlari ke dalam rumah lalu tak lama kembali menghampiriku dengan membawa kamera instan miliknya.
"Ini adalah kamera instan milik keluargaku turun-temurun, Kak. Kata orangtuaku, kamera ini memang bisa memotret masa depan," jelas Violet seraya memberikan kamera itu padaku.
Aku mengangguk-angguk sambil memperhatikan kamera tersebut. Sekilas, kamera instan ini memang terlihat biasa. Namun, bisa kurasakan kamera instan ini memiliki aura yang aneh. Benar-benar kamera yang luar biasa menurutku.
"Boleh ku coba, Violet?" tanyaku meminta izin.
Violet mengangguk mengizinkan. Tanpa berlama-lama, aku pun segera memotret Violet yang sedang berdiri. Latar yang ada di belakang gadis kecil itu一yaitu ruang tamu rumah Tante Rose juga ikut terfoto dalam kamera.
Hasil jepretan foto keluar sedikit demi sedikit. Membuatku tak sabar untuk segera melihat hasil fotonya.
"Eh? Ada Jessica? Ada apa malam-malam kesini?"
DEG!!!
Tiba-tiba saja, entah sejak kapan Tante Rose muncul dari belakang Violet sambil tersenyum dengan senyuman khasnya. Aku pun buru-buru memberikan kamera instan tersebut pada Violet dan mengambil hasil jepretan foto tadi.
"Tidak, Tante. Aku hanya ingin meminjam kamera instan milik Violet saja, hehehe," jawabku canggung.
Tante Rose tersenyum lalu menatap Violet dengan tatapan teduh layaknya seorang Ibu yang benar-benar menyayangi anaknya. Cih, melihatnya tersenyum seperti itu membuatku muak. Dia benar-benar merasa seperti malaikat padahal aslinya dia adalah iblis yang tega menculik gadis kecil seperti Violet.
"Vio mencari Mamah, ya? Tadi Mamah ada di dapur, sayang," ujar Tante Rose sambil mengusap pelan rambut kecoklatan Violet.
Violet diam. Terlihat ekspresi wajahnya tersenyum dipaksakan pada Tante Rose. Ah, aku benar-benar kasihan melihat dia harus berpura-pura bisu.
"Ya sudah, kalau begitu, aku pulang ya Tante. Selamat malam," ucapku pamit seraya membalikkan tubuhku. Berjalan perlahan meninggalkan Tante Rose dan Violet yang berdiri di depan rumahnya.
Namun, baru saja beberapa langkah, aku menghentikan langkahku. Pandanganku membulat seketika. Deru nafasku memburu, jantungku berdegup cepat, dan keringat dingin mulai bercucuran membanjiri pelipisku. Bagaimana tidak?
Mataku melihat hasil foto yang tadi aku ambil menggunakan kamera instan milik Violet. Dalam foto tersebut, terlihat aku yang berdarah-darah sedang diseret oleh Tante Rose untuk masuk ke dalam rumahnya. Di dalam ruang tamu, terlihat juga Violet yang menangis tersedu-sedu melihatku yang tengah sekarat diseret secara paksa oleh Tante Rose.
"Oh, tidak..." gumamku lirih dan menyesal sudah mengusik masalah Tante Rose dan Violet. Hal yang terakhir kuingat adalah sebuah benda tajam yang menancap tepat di belakang leherku.
Lalu...
Gelap.